
Mata cantik itu mengerjap beberapa kali. Suasana ruangan ini sudah tidak asing baginya. Ini kamarnya. Iya, kamarnya di rumah, bukan apartemen di Jerman.
Tiara mengangkat kepalanya yang terasa berat, perlahan duduk dan menyandarkan diri di headboard ranjang. Dia menarik napas dalam, mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.
Dia baru tiba dari bandara, pulang ke rumah dan mendapati suaminya sedang menelepon mesra seorang wanita.
Ya Tuhan.
Kepalanya kembali berdenyut. Rasanya sekeliling kamar jadi berputar, dan baru menyadari bahwa dia sendirian di kamar ini.
Di mana Bisma?
Di mana Devan?
Di mana yang lainnya?
Saat hendak turun, dia mendengar pintu dibuka. Suaminya masuk dengan cepat dan langsung mendekatinya.
"Jangan bangun dulu. Kamu istirahat aja, ya." Bisma membantunya duduk kembali ke ranjang. Lelaki itu mengambilkan bantal untuk menyangga kepala.
"Ini kenapa, Mas?" tanya Tiara.
"Kamu pingsan. Tadi dokter udah ke sini meriksa." Dia mendekatinya, mengambil posisi duduk disebelah Tiara. Mengusap helai rambut wanita yang dia kasihi.
__ADS_1
"Devan mana?"
"Di kamarnya. Main sama bibik. Kamu ga usah mikir macem-macem. Makan dulu, ya. Tadi perutnya kosong." Bisma mengambilkan semangkuk bubur dan menyuapi istrinya, dengan sabar dan telaten. Senyum menghiasi bibirnya saat melihat wanita itu makan dengan lahap dan cepat.
"Laper, ya?" godanya.
Tiara tersipu malu. Dia dan Devan baru saja tiba. Jangankan makan, mereka bahkan belum sempat berganti pakaian.
"Itu tadi, siapa yang mas telepon?"
Bisma membuang muka. Sejenak tertunduk dan mengatur emosi. Tenang. Jangan panik. Dia tidak akan curiga jika kamu bisa membuat alibi yang sempurna.
"Itu temen. Rekan kerja," jawabnya.
Oh My God!
"Kamu kan tahu, kadang ya ada beberapa yang udah deket dan aku manggilnya sayang."
"Mas bohong." Matanya penuh curiga. Wanita ini merajuk. Kebiasaan yang sering di lakukan oleh kaum hawa jika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Bohong? Oh, memang iya. Dia telah membohongi istrinya.
Demi apa?
__ADS_1
Demi wanita lain yang juga di kasihi.
"Nanti mas jelaskan. Kamu sekarang tidur lagi. Minum obat. Kata dokter tadi, tensi-nya drop. Gula darah rendah." Dia menarik selimut, membetulkan letak bantal di kepala, agar istrinya merasa lebih nyaman saat berbaring.
Bisma hendak keluar kamar saat Tiara menarik tangannya.
"Kenapa?"
"Mas ga kangen sama aku?"
"Kangen, lah. Masa sama istri sendiri ga kangen sih." Lelaki itu meraih tubuh mungil di hadapannya. Tiara memasrahkan diri saat lengan itu merengkuhnya kuat. Membawanya ke dalam dekapan yang hangat.
Debar-debar jantung bergema di dada mereka. Sesuatu yang intim mulai merasuk. Lama mereka tak bersua, apa salahnya jika saat ini ingin melepas kerinduan.
Bisma menarik wajah cantik itu mendekat. Embusan napas mereka terdengar bersahutan. Tangannya bergerak membelai pipi, mencubit hidung, dan berhenti di bibir merah merekah. Mengusapnya lembut sebelum menyentuhkan bibirnya sendiri.
Dua insan ini saling berpangutan. Melepas semua rasa sesak di dada. Tiara sudah tidak perduli dengan kondisinya yang masih lemah. Mungkin, percintaan dengan suaminya bisa memulihkan kondisinya seperti sedia kala.
Bisma menarik pinggangnya, merapatkan tubuh mereka, kemudian dengan cepat dia membalikkan tubuh Tiara, sehingga posisinya kini berada di atasnya.
Tak menunggu waktu lama, mereka menuntaskan hasrat yang ada. Tiara tertidur lelap setelah semuanya berakhir.
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.
__ADS_1