PERTARUHAN

PERTARUHAN
KETAHUAN


__ADS_3

Sedikit tergesa-gesa wanita itu menarik lengan anaknya menuju travel yang sudah menjemput kedatangan mereka. Tidak ada rencana pulang ke tanah air, hanya hatinya berkata, ada sesuatu yang harus dia ungkap. Beberapa bulan terakhir ini, ada yang mengganjal dari hubungan pernikahan mereka.


"Ayo, Devan. Cepat sedikit." Langkahnya yang panjang, tidak bisa diimbangi oleh kaki kecil itu.


"Ma, pelan-pelan jalannya." Anak itu bersungut-sungut, bibirnya menekuk.


"Maaf, Nak. Mama ngejar waktu. Harusnya kita udah sampai sebelum papa pulang kerja."


Wajah anak itu berbinar saat mamanya mengucapkan kata-kata itu. Sudah sekian bulan mereka berpisah, dia rindu kepada papanya. Biasanya mereka bermain apa saja. Namun, karena dia harus mengikuti mama bertugas, kebersamaan dengan papanya menjadi hilang.


Mobil travel itu melaju membelah jalanan ibu kota. Pemandangan gedung bertingkat dan hilir mudik kendaraan yang berlalu lalang, sudah menjadi ciri khas-nya.


Saat memasuki sebuah perumahan elite, wanita itu membuka kaca, menunjukkan diri kepada security yang bertugas, agar mereka bisa masuk ke dalam.


"Pulang, Bu?" Salah seorang menyapanya.


"Iya, Pak. Ini ada keperluan."


"Kirain sampai tahun depan di Jerman." kata yang lainnya.

__ADS_1


"Sebentar saja, Pak. Nanti pulang lagi." Dia melambaikan tangannya saat melewati mereka.


Mobil berhenti di depan sebuah rumah. Tidak terlalu wah, design-nya minimalis, namun asri dan tetap elegan. Pintu mobil terbuka. Si pengemudi membantunya menurunkan barang.


Tak banyak yang dia bawa, hanya satu koper berisi baju seadanya dan sedikit buah tangan untuk suaminya. Setelah menyelesaikan transaksi, dia menggandeng lengan anaknya untuk masuk ke dalam.


Pagarnya tinggi dan terkunci. Wanita itu memencet bel untuk bisa masuk. Seorang lelaki membukakan pintu. Matanya terbelalak saat mendapati siapa gerangan tamu yang datang.


"Ibu?" Dia setengah tak percaya bahwa nyonya rumah datang secepat ini. Mereka yang bekerja di rumah itu tahu bahwa, Tiara tidak akan pulang sampai menyelesaikan sekolahnya.


"Bapak ada, Mang?" Dia menanyakan keberadaan suaminya kepada lelaki yang dipanggil mang tadi.


Tiara menghempaskan tubuhnya di sofa. Devan, juga berlaku sama seperti mamanya. Perjalanan jauh membuat mereka lelah.


"Ibu!" Seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang tamu.


"Bibik!" Devan memeluk wanita itu.


"Mas Devan. Kok pulang? Kangen sama bibik, ya?" Dia menggendong anak majikannya.

__ADS_1


"Kangen bibik, kangen mamang, kangen papa," jawabnya polos.


Tiara yang melihat kemesraan itu tersenyum bahagia. Harusnya Devan tidak ikut di bawa ke Jerman. Putranya itu nampak senang saat pulang. Di sana dia juga mempunyai baby sitter sendiri, tapi sepertinya Devan kurang cocok. Bibik juga tidak mungkin di bawa karena tidak ada yang mengurus rumah mereka.


"Devan istirarat di kamar ya. Nanti abis ini kita makan. Oke?" Di mengulurkan tangannya. Tos!


Anak itu mengangguk. Menuruti apa yang diperintahkan oleh mamanya.


"Ayo ke kamar. Ganti baju dulu." Bibik membawa Devan naik ke lantai atas. Berdua mereka bersenandung sambil bertepuk tangan. Sesekali anak itu melompati anak tangga, yang membuat wanita itu berteriak ketakutan.


Tiara mengambil ponselnya. Men-dial satu nama dan menunggu panggilan dijawab. Nihil. Berkali-kali teleponnya tidak diangkat. Kemana suaminya? Apakah dia sesibuk itu di kantor?


Tiba-tiba saja dia menjadi resah. Pikirannya melayang entah kemana. Perasaannya semakin tidak nyaman.


Ada apa dengan Bisma?


Ada apa dengan suaminya?


Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.

__ADS_1


__ADS_2