
Cheers!
Suara dentingan gelas berisi minuman beralkohol terdengar bersahutan. Lima orang pria mature sedang bersulang merayakan sesuatu. Gelak tawa dan perbincangan hangat memenuhi ruangan itu.
Kali ini tidak ada wanita penghibur diantara mereka. Hanyalah berhamparan berbagai makanan dan minuman sebagai teman mereka berpesta.
"Gila Bisma! Lu bikin gue ngiri banget dah. Keren, keren, keren, Men!" Arthur menepuk bahu lelaki di sampingnya.
"Gue gitu loh." Lelaki itu meletakkan sebuah foto bekas darah di seprai sebuah ranjang. Temannya yang lain, berebutan ingin melihatnya. Satu per satu bergantian dan berusaha meyakinkan.
Untunglah lelaki ini pintar. Dia hanya memfoto bekasnya. Dia tidak mungkin mengabadikan istrinya yang sedang tertidur pulas. Bagaimana juga, kehormatan Celine harus dia jaga. Kehormatan istrinya merupakan kehormatannya juga. Timbullah rasa sayang dalam hatinya. Ah, persetan dengan pertaruhan itu.
Pulang dari bulan madu, dia segera membuat janji dengan mereka semua. Meminta bertemu dan menyerahkan bukti. Selesai. Setelah ini, dia tidak akan bertaruh apa pun. Dia harus berhati-hati dalam mengambil langkah apa pun.
Dia sudah dewasa, ada banyak hal yang harus dijaganya. Tanggung jawabnya kini bertambah. Menikahi Celine, itu berarti juga harus menjadi bapak asuh bagi puluhan anak lainnya. Dia harus pintar mengatur keuangan.
__ADS_1
Memikirkannya, rasanya dia tidak ingin pernikahan ini hanya berlangsung setahun saja. Dia ingin untuk selamanya. Tidak bolehkan lelaki hidup berdampingan dengan istri-istrinya. Selam dia adil, kenapa tidak.
Pertanyaannya. Apakah dia bisa berlaku adil? Sedangkan pernikahan ini dilangsungkan tanpa sepengetahuan istri pertama. Sesungguhnya engkau telah mendzoliminya.
"Sungguh beruntung sekali dikau!" Bahunya ditepuk, semakin jumawalah dia. Berasa paling hebat sedunia. Sementara puja puji dari teman-temannya membuat hatinya menjadi melambung tinggi.
"Gue juga ga nyangka ternyata semulus ini jalannya." Bisma tertawa kegirangan. Sebotol minuman tak lepas sejak tadi dari tangannya. Entah botol yang ke berapa. Ia ingin merayakan kemenangannya malam ini.
"Gimana reaksi si Celine waktu lu bobol dia?" Dave sangat serius menyimak. Dia tidak habis pikir, segampang itukah sahabatnya yang satu ini menaklukan wanita. Padahal sejak masih kuliah dulu, Bisma adalah tipe lelaki yang cukup baik-baik. Sekarang malah berani berpoligami. Hal yang paling diinginkan oleh banyak lelaki tapi paling ditakuti juga untuk dilakukan.
"Gila gila gila parah bener lu. Ckckckck!"
"Ah biarin istri gue sendiri juga. Serah gue dong mau ngapain."
"Inget-inget Tiara, sama anak lu. Ntar ketahuan baru tau rasa."
__ADS_1
"Ingetlah, men. Ini kan lain cerita. Lagian mereka musim semi ntar baru pulang. Sekarang masih winter."
"Lo ga khawatir sama keadaan mereka di sana?"
"Ntar gue nyusul. Masih mau kelarin proyek yang ini dulu. Itu bekas rumah panti kan udah berpindah tangan jadi mau dibongkar. Udah mau di bangun dalam waktu dekat."
"Terus si Celine sama anak-anak panti gimana nasibnya? Sayang banget sama anak jalanan, sampai rela jual diri sama lu."
"Gue urusin jugalah, kan sesuai perjanjian. Biar gini juga, gue ga tega kalau mereka sampai terlantar. Masih tangung-jawablah."
"Lu ngasih mereka makan?"
"Ya iyalah. Pemiliknya kan istri gue, pastilah gue jadi donatur tetap. Lagian ga seberapa kok biaya hidup mereka sebulan. Masih gede'an biaya hidup Tiara."
"Celine lu umpetin dimana sekarang?"
__ADS_1
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.