
“Permisi pak” ucap mugi sambil membuka pintu
“Dari mana saja kalian? Sudah lewat 10 menit ini” teriak pak arif
*masuk kedalam kelas
“I-itu pak, s-sebenarnya” ucap mugi gugup karena ketakukan
“Tadi saya meminta Mugi dan Tania menemani saya ke toilet sebentar” sambung naisa
“Kenapa sampai 10 menit-an? Lama sekali” tanya pak arif
“Biasa pak, cewek pada umumnya” jawab naisa
“Yasudah duduklah kalian” ucap pak arif
“Baiklah, hari ini kita akan belajar materi tentang…”
3 jam telah berlalu.....
“Naisa, Mugi, mau ikut ke Mall nggak?” tanya tania
“Ngapain?” tanya naisa
“Jalan-jalan, makan, sama ada yang mau aku beli” jawab tania
“Ehm, kalau aku ikut aja” jawab mugi
“Kamu gimana Nai? Ikut?” tanya tania
“Ya” kata naisa
“Gitu dong, oke bentar lagi kita berangkat yak” ucap tania
“Baiklah” jawab mugi
*naisa hanya diam sambil memainkan handphonenya
__ADS_1
2 jam kemudian………
“Udah mesan?” tanya naisa
“Belum, tapi aku mau pesan nasi ayam geprek”
“Kalau si Mugi katanya mau nasi ayam kecap aja” ucap tania
“Kalau gitu, aku kwetiau pedas aja” ucap naisa
“Oke” kata tania
“Mugi kemana?” tanya naisa
“Toilet bentar katanya” jawab tania
“Oh” ucap naisa
“Silahkan dinikmati hidangannya” ucap sang pelayan
“Terimakasih” ucap tania
15 menit kemudian..........
“Ehh, makanannya udah dari tadi ya?” tanya mugi sambil duduk
“Iya, ayok cepat makan” ajak tania
“Hmp, mwakwanlah” ucap naisa sambil mengunyah makanan
“Iya” ucap mugi
“Abis ini kita ke tempat kemeja ya, aku mau beli beberapa” ucap tania
“Hm” jawab naisa dan mugi
Menghabiskan waktu begitu lama untuk kami makan, walaupun sebaiknya kalau makan tidak banyak berbicara namun Tania, emang begitu anaknya. Setelah ini kami berniat untuk berbelanja mungkin si Tania ingin membeli kemeja untuk pacarnya, dan aku juga berniat untuk membeli satu atau dua. Tetapi mengapa suatu hal sering tidak berjalan lancar, inilah yang membuatku malas.
__ADS_1
Ketika selesai makan, kami langsung menuju ke salah satu toko kemeja yang menjadi tempat langganan Tania, ku lihat-lihat ternyata kemejanya bagus juga. Karena toko kemeja otomatis banyak yang membeli adalah laki-laki, dan benar sesaat kutinggalkan Tania dan Mugi untuk pergi mencari model kemeja yang kuinginkan mereka digoda oleh laki-laki tua yang umurnya sekitar 35 tahun dan aku benar-benar kesal melihatnya.
“Oya, ada ribut-ribut apa ini?” tanya naisa
“Hahaha tidak ada apa-apa” jawab om-om itu
“Sedang berbelanja dengan anaknya ya, Om?” tanya naisa
“Hahaha iya, iya kan nak?” tanya om itu kepada tania dan mugi dengan wajah mengintimidasi
“Wah, apakah baik jika seorang ayah menatap anaknya begitu? Atau emang begitu cara pandang ayah kepada sang anak?” tanya naisa yang sudah begitu kesal
“Ini memang wajah saya kepada anak-anak saya, hahaha” jawab om-om tersebut
“Kalauu begitu, saya ajak main anak Om ya” ucap naisa menarik tangan tania dan mugi
“Kebetulan seragam kami dari sekolah yang sama” ucap naisa meninggalkan om itu
“Hei! Kamu asal-asal membawa anak saya saja!” teriak om tersebut
“Ada apa ini?” tanya salah satu pelayan baju disana
“Tolong anda periksa cctv saja” ucap naisa menarik tania dan mugi
“Tidak punya sopan santun kah?!” teriak om-om gila itu
“Hah?!” ucap naisa sambil melihat kebelakang dengan tatapan mata yang tajam
“Terimakasih atas pelayanannya” teriak naisa
“Nai, belanjaanku belum” ucap tania
“Dah ganti tempat aja” jawab naisa
“Nai, kamu baik-baik saja?” tanya mugi
“Ha? Oh baik kok” jawab naisa
__ADS_1
Aku tidak tau kenapa aku begitu kesal dengan Om-Om tadi, hah ini benar-benar mengingatkan masa lalu. Mungkin kelihatan kekanak-kanakan dimata orang kali ya, setidaknya aku sudah ngerasa bisa ngendaliin emosi kali ini. Kuharap Kouta bisa masuk besok aku ingin cerita kepadanya, begitu lemahnya perempuan satu ini.
Selanjutnya............