
Sampai di Rumah Sakit Kouta menjemputku didepan katanya biar aku tidak kesasar, benar-benar minta dipukul. Orangtuanya sedang tidak ada di lokasi dikarenakan harus kerja, dan Kouta tidak keberatan dengan hal itu sama sekali. Adiknya masih terbaring tapi saat kuajak bicara dia benar-benar banyak omong, adik dan kakak sama saja.
Begitu lama aku menghabiskan waktu di Rumah Sakit sampai aku tidak sadar sudah sangat malam, ya aku sampai lupa karena aku berbicara tentang apa aja yang terjadi di sekolah, ingin aku menyampaikannya singkat saja tetapi karena dia banyak nanyak tidak ada pilihan lain selain memberitahunya.
Esok harinya ketika aku sedang menuju ke kantin, Arsenio berlari ke arahku dia bertanya kepadaku
“Nai!” teriak arsenio
“Kenapa?” tanya naisa
“Alamat rumah sakitnya dimana?” tanya arsenio
“Di ********, mau kesana?” tanya naisa
“Niatnya hari ini, tapi orangtuaku menyuruh untuk pulang lebih cepat” jawab arsenio
“Senin aja kesananya, si Kouta juga bilang hari ini adiknya di oprasi jadi ya mungkin kalau lu nyampai sana kagak ada yang peduli” ucap naisa
“Ha? Adiknya yang masuk?” tanya arsenio terkejut
“Iya, emang aku nggak bilang ya?” tanya naisa
“Nggak” jawab arsenio
“Yaudah tolong bilangin ke Kouta ya, aku nggak bisa kesana hari ini begitu juga sabtu mi-“ ucap arsenio terputus
“Udah ni voice note aja” ucap naisa sambil memberi handphonenya
*arsenio sedang mengirim pesan suara
“Udah ni, makasih” ucap arsenio mengembalikan handphonenya
“Oh ya, ikut aku bentar ke kantin bisa nggak?” tanya naisa
“Ngapain?” tanya arsenio balik
__ADS_1
“Ada yang mau aku tanyakan” ucap naisa
*arsenio mengikuti naisa yang sedang mencari tempat duduk
“Disana aja, kosong sampingnya” ucap naisa sambil menunjuk
“Ya, serah mu aja” jawab arsenio
*berjalan menuju tempat duduk yang ditunjuk
“Kau itu siapa sebenarnya?” tanya naisa
“Cepat juga ternyata sadarnya” jawab arsenio
“Ya, aku ngerasa kita pernah bertemu, kemarin aku sempat berfikir bahwa Kouta akan mengenalimu juga tapi semakin dipikirkan tidak mungkin anak seperti dia akan mengingatnya” ucap naisa
“Hahaha, masih tampak kah tampang playboy ku?” tanya arsenio
“Jelas, terpancar” jawab naisa
“Nggak, begitu banyak kejadian yang terjadi” jawab naisa
“Baiklah, aku ini teman kalian saat kelas 1 SMP” ucap arsenio
“Aku hanya 1 tahun aja disana, wajar kalau kau nggak ingat”
“Hah? Serius? Bentar-bentar” ucap naisa sambil mengingat
*berusaha mengingat
“Oh iya!, kau yang paling play boy dari semua play boy kan” teriak naisa yang berhasil mengingatnya
“Begitukah kau mengingatnya” ucap arsenio
“Terus kenapa kau akhir-akhir ini suka deketin Kouta?” tanya naisa
__ADS_1
“Oh, hanya ingin mengetes apa dia masih ingat sama aku atau nggak” jawab arsenio
“Yaudah, lu tau apa yang terjadi waktu itu kan?” tanya naisa
“Ya, masih benar-benar jelas” jawab arsenio
“Kalau begitu tolong jangan sampai dia kenapa-napa” ucap naisa
*arsenio hanya mengangguk
“Bagi nomor telfonmu” minta naisa
“Ini” arsenio memberikan handphonenya
“Sifat lu agak berubah ya” ucap arsenio
“Ya, makin besar makin berubah” jawab naisa
“Baguslah, mohon bimbingannya ya” ucap arsenio
“Hm?” tanya tania yang kebingungan
“Nggak ada” jawab arsenio
*naisa mengembalikan handphonenya
“Kalau begitu aku balik ke kelas dulu ya” ucap arsenio sambil berdiri
“Nomor Kouta nggak mau?” tanya naisa
“Nggak usah, biar dia yang minta duluan saja” jawab arsenio
“Oke”
Selanjutnya...............
__ADS_1