
*Brakkkk!!
Candra berusaha mengendalikan mobil mereka namun tetap saja mobil hilang keseimbangan hingga menabrak sesuatu dan terbalik.
Candra yang masih sadar berusaha keluar dari dalam mobil. Begitupun dengan Zain yang langsung merayap keluar sembari menarik Tini.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Candra
Zain segera bagun dan duduk. Ia meli Tini masih belum sadarkan diri.
"Lihatlah dia masih belum sadarkan diri," Zain menatap sekelilingnya
Ia kemudian merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
Tidak lama sebuah mobil ambulance datang dan membawa Tini ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Zain mengajak Candra keluar.
"Apa tidak papa kita meninggalkannya di sini sendirian?"
"Untuk sementara dia aman di sini. Sekarang kita harus bicara," Zain menarik Candra keluar.
Ia sengaja mengajak pria itu ke sebuah warkop agar bisa berbicara dengan nyaman.
"Sebenarnya aku baru tahu kalau ada pesugihan seperti ini. Bisakah kau jelaskan kepadaku lebih detail, agar aku bisa tahu apa yang harus aku lakukan jika nanti terjadi sesuatu dengan Tini," tutur Zain
Candra kemudian menjelaskan semuanya kepada Zain secara rinci dan detail. Bagaimana pelaku pesugihan mencari tumbal dan bagaimana nasib pelaku pesugihan jika baju yang ia buat diselesaikan orang lain.
"Jadi dia akan mati karena aku?" tanya Zain tampak menyesali perbuatannya.
"Tentu saja tidak. Hanya saja aku penasaran kenapa kau menyelesaikan gaun itu. Aku yakin kau punya alasan sendiri kenapa menyelesaikan haun itu. Bahkan aku terlalu takut menyentuh gaun iblis itu," jawab Candra
Candra terlihat salah tingkah. Pria itu tak bisa menyembunyikan rasa raut wajah paniknya.Ia berpikir keras bagaimana menjelaskan kepada Chandra yang sudah dilakukannya.
"Dari pertama kali aku melihat mu aku begitu penasaran dengan sosok mu. Sebagai seorang yang baru dikenal Faaz mustahil kau bisa begitu peduli dengannya. Bahkan sedekat-dekatnya seorang sahabat mereka pasti tidak tertarik jika harus menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan mistis. Apalagi jika itu bisa membuat nyawanya terancam, sebenarnya siapa kamu?. Kenapa kau begitu tertarik dengan kasus kematian Faaz dan gaun pengantin itu?"
Zain mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.
"Aku hanya tak mau ada seseorang yang menjadi tumbal lagi. Bagiku menjadi tumbal itu menyakitkan. Bagaimana orang bisa begitu tega menjadikan seseorang yang tak bersalah demi mendapatkan harta," jawab Zain
Ia menghembuskan asap rokoknya perlahan-lahan sembari netranya menerawang ke langit-langit.
Zain menceritakan jika dirinya adalah seorang yatim piatu karena ibunya di jadikan tumbal pesugihan oleh pamannya. Namun setelah kedua orang tuanya meninggal sang paman tak mau mengasuhnya. Ia dibesarkan di sebuah panti asuhan. Namun saat SMA ia memilih keluar dari panti dan menjadi seorang marbot masjid.
Zain remaja banyak belajar agama dari seorang kyai yang menjadikannya sebagai anak angkatnya.
Ia juga menceritakan jika dirinya menjadi seorang Indigo setelah melihat kematian ibunya yang mengenaskan.
"Apa ayahmu juga menjadi tumbal pesugihan?" tanya Candra
"Kata Ibu ayahku sudah meninggal saat ia mengandung ku,"
__ADS_1
Candra menghela nafas menatap lekat wajah pria di sampingnya.
"Kalau kau seorang Indigo berarti kau sudah tahu siapa Tini saat pertama bertemu dengannya bukan?"
Zain mengangguk.
"Aku memang merasa ada yang aneh dengannya tapi aku tidak tahu jika ia seorang pemuja pesugihan," jawab Zain
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah aku memberitahu semuanya?"
"Mendatangi dukun yang membantu Tini melakukan pesugihan itu. Aku yakin dia tahu bagaimana cara mengakhiri perjanjian itu,"
"Tentu saja tidak mungkin, seorang juru kunci hanya bertugas mempertemukan si pelamar pesugihan dengan Jin yang akan memberikan pesugihan. Dia tidak bisa membantunya melepaskan diri dari perjanjian gaib itu," jawab Candra
"Kalau begitu kau pasti punya rencana bukan?"
"Awalnya aku mengira dengan memakai ajian pengasihan pada Faaz bisa menolak pesona Tini. Namun semuanya sia-sia karena kekuatan gaun pengantin itu begitu kuat. Bahkan saat aku mengatakan semuanya kepada Faaz dia tetap tak mempercayai ku," Candra terlihat frustasi saat menceritakan bagaimana usahanya membantu Faaz melepaskan diri dari jerat Tini
"Tapi Faaz berhasil mengambil gaun itu, jadi sebenarnya kau sudah berhasil membuatnya mempercayai mu meskipun persentasenya hanya 30 persen," jawab Zain
Yang jelas aku harus menemui dukun itu untuk tahu lebih banyak tentang pesugihan gaun pengantin," imbuh Zain
"Jangan lakukan itu karena sangat berbahaya. Sekarang jaman sudah canggih kau bisa mencari semuanya melalui internet," jawab Candra
"Tidak semua informasi dalam internet itu benar jadi jangan percaya begitu saja. Malam ini aku akan membawa gaun pengantin itu, aku harap kau bisa menjaga Tini,"
Candra langsung melarang Zain membawa gaun itu pergi. Ia mengatakan banyak resiko yang akan ia hadapi saat membawa pergi gaun itu.
"Faaz mati karena mencuri gaun itu, aku tak mau kau juga mati sepertinya,"
Candra menggelengkan kepalanya,
"Jika ia mati sebagai tumbal ia akan mati di tempat yang jauh dan tak bisa melihat Tini. Seorang tumbal akan mati mengenaskan dengan kondisi yang sulit diterima nalar, tapi itu tak terjadi dengan Faaz," kenang Candra
"Kalau Faaz tidak mati sebagai tumbal maka Tini yang akan menjadi tumbal menggantinya?"
Candra mengangguk pelan.
"Sial, kenapa baru sekarang kau mengatakannya,"
Zain mematikan rokoknya dan membayar semua makanannya.
Ia kemudian bergegas keluar dari tempat itu dan menuju ke rumah sakit.
Keduanya terkejut saat melihat Tini tak ada di kamarnya. Zain bertanya kepada perawat dimana keberadaan Tini,
"Pasien sudah pulang, setelah dokter mengijinkannya pulang," jawab seorang perawat
Zain dan Candra buru-buru berlari keluar untuk mengejar Tini. Namun keduanya tak melihat Tini dimanapun.
Keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah Tini. Mereka yakin gadis itu pasti akan kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Setibanya di rumah Tini, mereka tak menemukan wanita itu di sana. Seperti saat pergi, rumah itu masih terkunci dan tak ada bekas jejak Tini pulang ke rumahnya.
Kedua pria itu tampak frustasi saat tak menemukan Tini.
Sementara itu Tini terlihat begitu sedih setelah mendengar jawaban Ki Jaka.
"Dasar brengsek, beraninya kau mencuri gaun pengantin ku. Aku tidak mau mati menggantikan mu. Aku harus mencari tumbal baru dan membuat gaun pengantin baru. Meskipun waktunya tinggal tiga hari tapi aku pasti bisa mencari tumbal baru untuk menggantikan Faaz!"
Tini segera bangkit dan mengusap air matanya. Wanita itu kemudian pergi ke salon kecantikan untuk mempercantik diri.
"Aku yakin dengan wajahku yang cantik tidak sulit mendapatkan seorang pria,"
Tini menatap wajahnya lekat-lekat di cermin.
"Perfect mbak Tin, memang mau ada acara apa sampai tampil cetar gini," ucap seorang MUA
"Aku hanya ingin menemui seseorang," jawab Tini
"Pasti dia sangat spesial hingga kamu tampil maksimal gini,"
Tini tersipu mendengar pujian wanita itu. Ia kemudian meninggalkan salon dan menuju ke sebuah pusat kebugaran.
Ia segera mengganti pakaiannya dan mendekati seorang pria yang sedang berlari diatas treadmill.
Tini naik ke treadmill sebelahnya dan mulai mengatur kecepatan larinya.
Ia sengaja menjatuhkan diri saat sedang lari membuat pria di sebelahnya langsung menghampirinya.
"Apa kamu baik-baik saja,"
Pria itu mengulurkan tangannya dan membantunya berdiri.
"Gak papa, hanya sedikit keseleo," jawab Tini
Pria itu segera memanggil seorang trainer untuk membantunya.
Seorang tariner datang dan pria itu kembali naik keatas treadmill.
Tini sedikit kecewa karena usahanya gagal.
"Bagaimana aku bisa gagal, apa pesonaku sudah luntur?"
Tini segera mengambil cermin dalam tasnya dan memandangi wajahnya.
"Bahkan wajahku masih cantik tapi kenapa aku gagal!"
Tini kembali mendekati seorang pria, namun reaksi pria itu lebih dingin dari pria sebelumnya ia bahkan tak mau membantunya saat ia butuh bantuan.
Gagal mendapatkan mangsa di tempat gim, Tini memilih meninggalkan tempat itu.
Kali ini ia sengaja pulang ke rumah naik Transjakarta. Kondisi bus yang penuh membuat wanita itu harus berdiri. Ia memilih berdiri didepan para pria yang mendapatkan tempat duduk. Jika biasanya pria langsung tertarik dengannya kini semuanya berubah. Tak satupun pria yang memandangnya. Bahkan mereka tak memberikan tempat duduk padanya.
__ADS_1
Tini menangis tersedu-sedu setibanya di rumah.
"Inikah balasannya atas semua perbuatan ku?"