PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 22


__ADS_3

Tini berjalan gontai menuju ke rumahnya.


Ia tampak lesu dan duduk lemas di lantai. Tini melepaskan semua aksesoris mahal yang ia pakai dan melemparnya satu persatu.


Tangisnya mulai pecah saat tahu usahanya sia-sia hari ini. Ia mengeluarkan cerminnya dan menatap wajahnya.


"Apa sekarang mereka melihat ku dengan wajah yang buruk?"


*Praanng!!


Ia melempar cerminnya hingga pecah.


Ia kemudian masuk ke kamar khususnya.


"Tidak akan terjadi sesuatu padaku bukan?" ucapnya menatap gaun pengantin pemberian Ki Jaka


"Apa aku akan mati seperti Bude Arsih ??"


"Arrghhhh!!"


Selesai mengobrak-abrik kamar kosong itu, ia berniat menemui Zain.


"Aku yakin dia bisa menyelamatkan aku. Ia bahkan pernah menyelamatkan aku saat hampir mati di tangan Nyi Ratu malam itu,"


Ia buru-buru meninggalkan ruangan itu dan membawa tas kecilnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah menemui Zain dan meminta pertolongannya.


"Halo A, kamu dimana?"


"Ada di kosan," jawab Zain dari ujung telpon


"Ok, aku kesana!"


Tini bergegas masuk kedalam mobilnya dan melesat menuju kosan Zain.


Setibanya di sana, ia termangu melihat bekas kosannya yang masih kosong dan tak berpenghuni.


"Bahkan kosan ini jadi sial gara-gara aku tempati," Tini kemudian menuju ke Blok E tempat dimana Zain tinggal.


*Ting!


Tini segera membuka ponselnya saat melihat pesan dari Zain. Pria itu menyuruhnya masuk karena ia sedang ada urusan.


Tini berdecak kagum saat tahu kosan Zain begitu bersih dan rapi.


"Dia benar-benar pria idaman, harusnya aku terima saja tawarannya saat itu. Aku yakin dia sangat menyukai aku waktu pertama kali bertemu hingga ia terus datang ke kosanku,"


Tini mengambil foto Zain yang tergeletak diatas meja kecil dan tersenyum tipis menatapnya.


"Semoga saja kau bisa menolong ku A, aku masih ingin hidup. Aku janji akan bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik jika kau bisa menyelamatkan aku,"


Tini segera meletakan foto itu saat mendengar suara sepeda motor berhenti di depan kosannya.


Ia segera keluar untuk melihat siapa yang datang.


Matanya tak berkedip saat melihat sosok pria di depannya.


"Ki Jaka??"


Seketika ia segera berlari dan menutup pintu kosannya.


Ia berdiri di balik pintunya seraya menahan nafasnya yang mulai terengah-engah.

__ADS_1


"Bagaimana ia bisa tahu aku di sini,"


*Dreet, dreet, dreet!!


Netranya seketika membulat sempurna saat melihat


Tini segera mematikan ponselnya.


*Tok, tok, tok!


Keringat dingin mulai membasahi wajahnya saat Ki Jaka menggedor-gedor pintu kosan.


"Tini, buka pintunya!"


Ya Tuhan apa tolong aku, apa yang harus aku lakukan??


Wajah gadis itu seketika memucat bak mayat saat menatap pria itu kini berdiri di depannya.


"Kau tidak bisa lari dariku Tin, sekarang ayo kita pulang,"


***********


*Kediaman Candra


Dari ujung telpon seorang tampak berbincang dengan Candra.


"Bagaimana apa kau menemukannya?"


"Belum," jawab Candra


"Kalau begitu kita bertemu di kediaman Faaz, aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya datang," jawab Zain


Malam itu Zain kembali mendatangi kediaman Faaz. Candra sudah menunggunya di ruang tamu.


Ia mengeluarkan gaun pengantin itu dan membakarnya di dalam kamar.


Tentu saja hal itu membuat Candra terkejut dan marah.


"Apa yang kau lakukan, kau bisa celaka karena ini!" Candra berusaha mematikan api yang melalap gaun itu


Namun Zain menghentikannya.


"Tentu saja untuk memanggilnya datang, aku harus membakar miliknya yang berharga," jawab Zain


"Krek, krek, krek!!


Keduanya menoleh kearah gorden kamar yang mulai bergerak-gerak meski tak ada angin.


Candra segera mundur, "Dia sudah datang!"


*Brakk!!


Pintu kamar tiba-tiba tertutup, dan lampu mulai padam.


Zain segera mengikat kepalanya dengan kain putih yang ia bawa.


Pria itu duduk dengan santai di sofa seolah bersiap menyambut kedatangan seseorang.


*Prang!!


...Candra seketika melompat kesamping saat sesuatu melayang kearahnya dari jendela....

__ADS_1


Nafasnya tersengal-sengal dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya.


Sebuah peti tergeletak di lantai.


Zain segera bangun dan menghampiri peti mayat yang tergeletak di depan pintu.


Ia membuka peti itu dan seketika Candra memekik keras saat melihat sosok Tini dalam peti mati itu.


"Aku sering menghadapi kasus seperti ini, tapi menurutku ini yang paling menakutkan," ucap Candra menunjukkan wajah piasnya.


"Dia hanya menggertak saja, aku yakin ini bukan kelakuan jin atau setan, ini adalah ulah manusia!" seru Zain


Candra berdecih mendengar ucapan Zain.


"Siapa orang iseng yang ingin menakuti kita, lagipula bagaimana ia tahu kita berhubungan dengannya, yang benar saja!"


Zain memeriksa kondisi Tini.


"Dia masih hidup,"


Zain menggendong Tini dan membaringkannya ke tempat tidur.


Ia memberikan bau-bauan yang menyengat untuk membangunkannya. Namun Tini tetap tak membuka matanya.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit, apa ku tidak lihat luka di pelipisnya!" Candra menunjukkan darah yang mengering di pelipis gadis itu


"Jika ini ulah manusia, mana ada yang bisa melempar peti mayat dengan cepat dan kekuatan penuh. Itu hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang, dan jika memang harus dilakukan oleh satu orang maka itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki kekuatan supranatural,"


"Kau benar, aku hampir lupa," Zain segera mencari sesuatu dalam diri Gadis itu.


"Apa yang kau cari?" tanya Candra


"Ponsel Tini?"


Candra segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor ponsel Tini.


*Dreet, dreet, dreet!!


Zain segera merogoh saku celana wanita itu dan mengeluarkan ponselnya.


Ia segera memeriksa pesan singkat do ponsel tersebut.


"Ini dia, Ki Jaka... aku yakin dia orangnya,"


"Apa kau yakin dia pelakunya?" tanya Candra


"Hanya dia yang sering di hubungi oleh Tini. Dan kalau melihat riwayat pembicaraan mereka, sepertinya Ki Jaka adalah orang yang membantunya melakukan pesugihan gaun pengantin," terang Zain


Ia kemudian menunjukkan pesan bergambar yang di kirim oleh Ki Jaka.


"Tapi dari kata-katanya dis bukan tipe orang yang ikut campur dalam urusan orang lain meskipun itu kliennya," tutur Candra


"Bisa saja ia berubah karena kasusnya berbeda kali ini,"


"Jangan terlalu dini menyimpulkan sesuatu. Seorang dukun atau juru kunci dilarang ikut campur dalam masalah si pelaku pesugihan. Dia hanya bertugas sebagai perantara yang mempertemukan si pelamar dengan jin pesugihan saja, selebihnya tidak ada lagi," sahut Candra


Pria itu kini mendekati Tini. Ia menyentuh keningnya sembari memejamkan matanya.


Seketika matanya membulat dengan bola mata yang berubah memutih. Ia menyeringai dan berjalan mendekati Zain.


"Ojo seneng melu-melu urusane wong liyo cah bagus, (Jangan suka ikut campur urusan orang lain ganteng)," ucap Candra dengan logat jawa yang kental

__ADS_1


"Kalau begitu mari kita selesaikan urusan kita baik-baik Nyai?"


__ADS_2