PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 39


__ADS_3

Candra mengelak ucapan Zain. Ia kembali mengingatkan Zain jika niatnya tulus membantu Sari yang sedang kesusahan.


"Kalau kau tulus membantunya, kenapa kau tinggalkan dia sekarang!" seru Zain


"Karena aku tak bisa menyelamatkannya sendirian itu lah kenapa aku minta bantuan mu!" sahut Candra


"Bukankah kau bisa menelpon ku, jadi kau tidak perlu repot-repot datang kemari," jawab Zain


"Ah sial!!!, kenapa aku selalu salah dimata mu!" teriak Candra kemudian bergegas pergi


Saat ia memalingkan wajahnya terdengar suara berat yang begitu familiar.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," jawab kedua pemuda itu serentak


"Ayah!"


Zain dan Candra tampak bergantian mencium telapak tangan pria itu.


"Aku dengar dari kejauhan kedua putraku bertengkar. Sebenarnya ada masalah apa hingga membuat kalian tiba-tiba bermusuhan," ujar Santa


Zain menampik ucapan Santa. Ia mengatakan jika dirinya hanya tak suka dengan sikap Candra yang berusaha membantu seseorang tapi dengan cara yang tidak benar.


Ia mengatakan jika tak sepantasnya ia menyuruh seseorang tinggal di rumah Tini apapun alasannya.


Mendengar penjelasan Zain Santa mulai memahami kenapa kedua sahabat itu tiba-tiba bertengkar.


Candra tak mau kalah, ia juga menjelaskan alasannya kenapa menyuruh Sari tinggal di kediaman Tini. Ia juga menceritakan kondisi Sari hingga membuatnya terpaksa menemui Zain.


"Kalau begitu kita tak boleh lama-lama di sini, kita harus segera bergegas menyelamatkan gadis itu," ucap Santa


Mereka kemudian segera masuk ke mobil Candra dan melesat menuju ke diaman sari.


Hanya butuh waktu setengah jam mereka sudah tiba di kediaman Sari yang memang tak jauh dari kosan Zain.


Santa segera turun begitupun dengan Zain dan Candra yang langsung menyusulnya.


Kehadiran ketiganya di sambut dengan lemparan gelas dari Sari.


*Prang!!


Sari melemparkan beberapa gelas kearah mereka hingga pecahan beling berserakan dimana-mana.


Ki Santa berusaha membaca tasbih Untuk menyadarkan Sari.


Ia kemudian melemparkan tasbihnya saat melihat Sari hendak melempar kursi kearahnya.


Sari tertawa dan melepaskan tasbih itu dan memutuskannya hingga butiran bulat tasbih berserakan di lantai.


"Kalau kalian memang peduli dengan Tini, maka kalian harus menggali perpustakaan itu dan mengambil benda pusaka yang ada di sana!" ucap Sari dengan suara berat.


Ia kemudian duduk di meja tamu dan mempersilakan ketiga pria itu menuju ke perpustakaan.

__ADS_1


Zain dan Santa tercengang melihat perubahan rumah Tini.


Candra segera menjelaskan kenapa ada perpustakaan di rumah itu.


Ia sengaja memusnahkan kamar khusus tersebut.


"Aku hanya ingin menghilangkan kesan horor di rumah ini saja. Seperti keinginan Tini sebelum dia meninggal, tapi jika ternyata apa yang aku lakukan salah aku mohon maaf," terang Candra


"Sebenarnya maksud kamu baik Ndra, hanya saja kenapa kau tidak berdiskusi dengan ayah, aku kan bisa mencarikan jalan terbaik untuk merombak kamar ini," jawab Santa


Santa kemudian memerintahkan Candra dan Zain untuk menggali lantai kamar.


Keduanya sempat tercengang saat menemukan sebuah gaun pengantin yang terkubur di sana.


Santa segera mengambil gaun itu dan meletakan baju itu diatas meja.


"Kalian harus mengembalikan gaun itu kepada pemiliknya," ucap Sari


Tatapan mata ketiga pria itu kembali tertuju kepada gaun pengantin sederhana yang tergeletak diatas meja.


Zain teringat sesuatu dengan gaun itu. Ia memberitahu Ki Santa jika baju itu adalah gaun pengantin yang selalu dijadikan sebagai acuan saat Tini hendak membuat gaun pengantin untuk dirinya.


"Bisa di bilang mungkin gaun ini adalah benda pusaka, atau semacamnya yang diberikan oleh juru kunci saat ia melakukan ritual pesugihan," ucap Zain


Santa mengamati secara seksama gaun itu.


"Tapi kita harus mengembalikan kemana gaun ini, secara kita tak tahu siapa pemiliknya,"


Tiba-tiba gadis itu tak sadarkan diri setelah memakai gaun itu.


*Pov Sari


Sari terkejut saat mengetahui dirinya berada di sebuah rumah tua.


Ia segera bangun dan berjalan keluar dari sebuah ruangan yang gelap.


Wanita itu mendengar suara rintihan orang-orang yang menjerit kesakitan.


Karena penasaran ia mengintip dari balik celah pintu yang terbuka.


Betapa terkejutnya ia saat melihat puluhan pria yang terlihat memotong anggota tubuhnya sendiri berkali-kali hingga membuat ruangan itu digenangi darah segar.


Sari yang tak kuat melihat pemandangan itu seketika pingsan.


Tiba-tiba ia merasakan seseorang mengguncang tubuhnya.


"Sari, bangun, Sar!"


Perlahan ia membuka matanya dan menatap sendu pria didepannya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya pria itu


"Para pria yang menyiksa dirinya sendiri dengan memotong anggota tubuhnya," jawab Sari

__ADS_1


"Jadi benar, Gaun ini adalah sebuah pusaka pesugihan,"


Santa kemudian memerintahkan Sari untuk melepaskan gaun itu.


Malam itu juga Ki Santa melakukan ritual untuk mengembalikan gaun itu kepada pemiliknya.


Puluhan lilin menyala mengelilingi gaun pengantin yang ditaburi bunga tujuh rupa diatasnya.


Tak lupa Santa menggunakan keris saktinya untuk memanggil sukma sang pemilik benda pusaka.


Saat pria itu mulai memejamkan matanya mendadak lilin-lilin itu padam.


Hembusan angin kencang seolah memberitahukan kehadiran seorang pemilik kekuatan supranatural di ruangan itu.


Ki Santa segera berdiri dan memberikan hormat kepada sosok gaib yang sudah berdiri di depannya.


Ia kemudian menyerahkan gaun pengantin itu kepadanya.


"Karena pemilik gaun ini sudah meninggal saya sebagai walinya akan mengembalikan benda pusaka ini kepada pemilik sebenarnya, jadi tolong bantu Tini agar bisa tenang di alamnya," ucap Santa


Tidak lama lilin-lilin kembali menyala, dan gaun pengantin itu seketika lenyap.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga ritualnya," ucap Ki Santa


Saat itu juga mereka bisa melihat Tini dihadapan mereka.


"Terimakasih," ucap Tini kemudian menghilang


"Sekarang semuanya sudah selesai. Tapi jika kau masih ingin menempati rumah ini sebaiknya jangan sendirian," ucap Ki Santa


"Saya tidak mau tinggal di sini kok, aku takut," jawab Sari


"Kalau begitu sebaiknya rumah ini dijual saja, uangnya bisa di pakai untuk membantu orang yang kekurangan hitung-hitung shodaqoh atas nama Tini. Mudah-mudahan dengan begitu bisa membantu Tini bahagia di alam sana,"


"Baik ayah," jawab Candra


**********


Malam itu juga mereka memutuskan untuk bermalam di kediaman Tini.


Keesokan harinya, Candra mengantar Sari kembali ke kosannya.


Sari begitu bahagia karena akhirnya bisa kembali lagi ke kosannya.


"Meskipun kumuh, dan sebenarnya kurang layak tapi tetap saja aku lebih nyaman tinggal di sini daripada tinggal di rumah mewah namun penuh hantu, home sweet home," ucap Sari


Ia kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi iapun bersiap-siap untuk pergi kerja.


Namun Sari begitu terkejut saat menemukan gaun pengantin Tini ada di lemari pakaiannya.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2