PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 29


__ADS_3

"Jika aku bisa menggantikan dia, maka bawalah aku dan lepaskan Tini," tutur Candra


"Kau terlalu baik anak muda, apa kau tahu apa yang akan terjadi padamu jika kau menjadi tumbal pengganti?"


Candra menganggukkan kepalanya.


Mendengar ucapan Candra, Zain segera mendekatinya.


"Jangan bodoh Candra, meskipun kau menjadi tumbal menggantikan Tini, dia tidak akan pernah melepaskan Tini begitu saja!"


*Buugghh!!


Sebuah Kursi melayang menghantam tubuh Zain saat berusaha melarang Candra.


"Jangan ikut campur cah bagus," ucap Nyai kemudian menggerakkan tangannya


Seketika tubuh Candra bergerak maju mendekatinya. Bak sebuah magnet, pria itu tak bisa menghentikan langkahnya.


Zain berusaha melafazkan ayat-ayat suci untuk mencegah wanita itu membawa Candra.


Melihat Zain mulai beraksi, Tini melangkah mendekatinya.


Wanita itu mengalungkan selendangnya ke leher Zain dan menariknya.


Ia melenggak-lenggokan tubuhnya mengajak pria itu menari bersamanya. Namun Zain tak bergerak ia tetap khusuk membaca kalam illahi guna melepaskan mereka berdua.


Kini Tini menarik selendangnya hingga membuat Zain kesulitan bernafas. Wanita itu terkekeh melihat Zain dengan wajah memerah karena tak bisa bernafas.


"Astaghfirullah, nyebut Tini. Ini aa, apa kamu tak mengenalku?" tanya Zain

__ADS_1


Tini menarik semakin keras selendangnya membuat Zain tak bisa bernafas hingga pingsan.


Saat Tini hendak menyeret tubuh pria itu, seorang lelaki muncul dihadapannya dan memegang ubun-ubun kepalanya hingga Tini jatuh pingsan.


Candra berusaha melepaskan diri dari jerat makhluk gaib yang berusaha membunuhnya.


Ia tampak sekarat dan kejang-kejang. Seorang pria menghampirinya. Ia mengusap wajah pria itu.


Candra seketika membuka matanya, " Ayah??"


Lelaki itu tersenyum menatapnya, "Syukurlah kau sudah kembali," jawab pria itu.


Zain merasa lega saat melihat Candra selamat. Ia segera bangun dan mendekat kearahnya.


"Syukurlah kau selamat," ucap Zain


Tiba-tiba Candra merasakan dadanya sesak.


"Huekk!!"


Ia memuntahkan isi perutnya di hadapan Zain.


Zain segera memijat lehernya untuk membantu mengeluarkan semua isi perutnya. Ia memapah Candra dan membaringkannya di sofa.


"Apa kau masih merasa sakit?" tanya Zain


"Sudah mendingan," jawab Candra


Zain kemudian masuk ke dapur untuk mengambil minum untuknya.

__ADS_1


Candra terbangun dan duduk bersebelahan dengan Tini. Zain tak percaya melihat pemandangan di depannya.


Ia mengucek-ucek matanya untuk memastikan jika ia tidak salah lihat


Ia menghampiri mereka berdua dan memberikan segelas air putih untuk Candra.


"Tadi aku dengar kau memanggil ayah, dimana dia?" tanyanya lirih


Candra menunjuk kearah seorang pria yang tengah berdiri di depan pintu.


Lelaki itu menoleh kearah Candra dan tiba-tiba wajahnya berubah menyeramkan.


Ia berjalan mundur menghindari pria itu. Zain yang segera mendekatinya. Pria itu seketika menarik lengannya.


Saat keduanya hendak pergi, lengan pria itu memanjang dan menarik kedua oria itu.


Zain dan Candra berusaha melepaskan tangan pria itu. Namun kekuatan pria itu lebih besar hingga keduanya tak mampu melepaskan diri darinya.


Ia melemparkan kedua pria itu hingga menghantam dinding.


Melihat keduanya sudah tak berkutik ia mendekati Tini dan membawanya pergi.


Candra merangkak mencoba menghentikan pria itu. Ia meraih kaki pria itu dan menahannya dengan erat.


pria itu mengeluarkan sebuah bunga dan melemparnya kearah Candra. Seketika Candra pingsan saat bunga itu jatuh di wajahnya.


Zain yang ketakutan berusaha menghindar namun siapa sangka seorang wanita justru mendekati Candra dan membawanya pergi.


.

__ADS_1


__ADS_2