PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 28


__ADS_3

H-1


Tini masih terbaring di ranjangnya. Tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Hanya bola matanya yang bergerak saat ia menginginkan sesuatu. Zain dan Candra bergantian menjaganya.


Siang itu Zain menjaga Tini sembari melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an selepas menjalankan ibadah sholat dhuhur. Mendengar lantunan kalam illahi membuat Tini tampak berkaca-kaca. Tumpukan kristal bening mulai mengumpul di sudut matanya hingga perlahan turun membasahi pipinya.


Melihat kesedihan Tini, Zain menghentikan bacaannya. Ia mengusap air mata gadis itu. Matanya kini berkedip seolah meminta sesuatu.


"Kamu mau apa?" tanya Zain


"Apa kau haus?" tanya Zain lagi


Kembali Tini mengedipkan matanya, Zain mengambilkan segelas air dan membantunya minum.


Tini terus menatap mukena yang tergantung di balik pintu.


Zain mengikuti bola mata gadis itu dan pandangannya tertuju pada sebuah mukena yang tergantung di balik pintu.


Ia beranjak dari duduknya dan mengambil mukena itu. Sekilas mukena itu terlihat sangat bagus dan mewah namun sayangnya bau apek nampak tercium darinya.


Mungkin karena lama tak dipakai menyebabkan mukena itu bau. Zain menyemprotkan wewangian sebelum memakaikan mukena tersebut kepada Tini.


Ia membantu mendudukkan Tini dan membantunya berwudhu. Selesai itu Zain memakaikan mukenanya perlahan-lahan.


"Kamu mau sholat?" tanyanya lirih


Tini mengedipkan matanya. Zain kemudian menuntun gadis itu mengerjakan sholat dhuhur.


Saat Tini menjalankan sholat dhuhur, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas di depannya membuat wajah gadis itu seketika memucat. Ia segera membatalkan sholatnya fan bersembunyi di belakang Zain.


Zain yang merasakan kehadiran makhluk halus mulai membacakan sesuatu. Tini berusaha mengikuti bacaan Zain dan mencoba khusuk lagi hingga bayangan hitam itu sedikit mulai menghilang.


Saat Tini menoleh ke kanan untuk salam tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran sosok Arga yang muncul tepat di depan wajahnya. Begitupun saat ia menoleh ke kiri wajah Faaz menatapnya bengis.


Seketika nafasnya mulai tak beraturan membuat Zain langsung membaringkan gadis itu.


Ia mencoba menuntun Tini untuk melafazkan dua kalimat syahadat.


"Asyhadu anlaa illaha illallah...."


Darah segar mengalir dari hidung dan telinganya membuat Zain segera mengambil tisu dan menyekanya.


Karena tak kunjung berhenti, Zain sengaja memberikan kapas untuk menyumbat hidung dan telinganya.


Setelah pendarahan di hidung dan telinganya kini Tini mulai mencoba menyakiti dirinya sendiri.


Zain terpaksa mengikat tangannya agar ia tak mencekik lehernya sendiri.


Dengan tatapan mata yang kosong gadis itu tertawa dan mengeluarkan sumpah serapah dalam bahasa Jawa yang sulit di mengerti oleh Zain.


Lelaki itu berusaha menghubungi ayahnya Santa dan memberitahukan tentang kondisi Tini yang mulai tak terkendali.


"Tetaplah berada di sisinya dan jangan lupa untuk terus membacakan ayat-ayat suci Alquran. Aku akan membantumu dari jauh," ucap Santa


Zain kembali mendekati Tini. Ia mengusap wajah gadis itu.


"Aku capek A, aku mau tidur A... tolong aku A, bantu aku agar bisa tidur," ucap Tini dengan tatapan mengiba

__ADS_1


Zain mengangguk kemudian membisikkan sesuatu padanya.


Tini berusaha mengikutinya namun entah kenapa suaranya tak bisa keluar. Ia merasakan seseorang mencekiknya hingga ia tak bisa berkata-kata.


Melihat Tini kesulitan berbicara Zain mengucapnya lebih pelan.


"Assalamualaikum,"


Zain menoleh saat mendengar kedatangan seseorang.


"Waalaikum salam,"


"Maaf aku baru pulang," ucap Candra menghampiri Zain


"Bagaimana keadaan Tini?" tanyanya lirih


"Belum ada kemajuan," jawab Zain lirih


Candra mendekati gadis itu dan melepaskan ikatan tangannya.


Ia melemparkan beras kuning di sekitar tempat tidur Tini, dan juga meletakkan kembang telon di setiap sudut kamar.


Tini tersenyum melihat kedatangan Candra.


Wanita itu kemudian memintanya untuk mengantarnya ke kamar mandi.


"Aku mau mandi kembang. Aku ingin terlihat cantik saat bertemu dengan Nyai nanti," ucap Tini


"Tunggu sebentar, biar aku siapkan airnya,"


Candra menyiapkan air mandi lengkap dengan kembang setaman ditambah wewangian khas.


Terdengar suar wanita bersenandung.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Zain


"Dia hanya ingin mandi,"


"Bagaimana jika ia menyakiti dirinya lagi?" tanya Zain


"Tidak mungkin, aku sudah memasang pagar gaib agar tidak ada makhluk gaib yang bisa mendekatinya,"


"Syukurlah,"


Kedua pria itu kemudian menuju ruang tengah.


Sementara itu terdengar suara pintu kamar mandi di gedor-gedor.


"Buka pintunya, buka!"


*Dor! dor! dor!


Zain menyuruh Candra untuk membukakan pintu untuknya.


"Biarkan saja, itu bukan Tini," jawab Candra


*Praangg!!

__ADS_1


Benar saja tiba-tiba terdengar suara seseorang melemparkan perabot dapur.


"Apa Nyi Ratu tengah murka?" tanya Zain


"Entahlah, aku tidak tahu itu siapa, yang jelas dia tak suka melihat kita melindunginya,"


Candra menatap erat kamar kosong di depannya.


"Aku yakin dia pemilik kamar itu?" tunjuk Candra


Lelaki itu berjalan menuju kamar itu. Saat ia hendak membuka pintunya Tini menghentikannya.


"Jangan pernah mendekat apalagi masuk ke dalam kamar ini kalau kamu tak mau celaka," ucap gadis itu memperingatkannya


Candra melepaskan tangannya dan kembali duduk dengan Zain.


Hari itu Tini tampak cantik menggunakan sebuah kebaya. Ia bahkan meminta Candra menyisir rambutnya.


Saat pria itu menyisir rambutnya Tini bersenandung membuat bulu kuduk Zain berdiri. Hanya Zain yang merasakan jika Tini sedang mengundang sesuatu dari alam gaib.


Suasana rumah yang hening tiba-tiba berubah mencekam saat lampu rumah mendadak padam.


Selesai mengikat rambut Tini Candra kemudian beranjak dari duduknya untuk memeriksa sekring listrik.


Namun Tini mencegahnya.


"Jangan keluar, biarkan saja rumah ini gelap gulita. Lagipula itu akan lebih baik daripada rumah yang terang namun membuatku selalu gamang," ucap Tini


Ia mengambil sebuah selendang kemudian menggerakkan tangannya seperti seorang yang sedang menari.


Pintu rumah tiba-tiba terbuka, membuat Zain dan Candra terkejut.


Angin berhembus kencang menghempaskan semua benda-benda di tempat itu.


Zain dan Candra terlempar menghantam dinding rumah.


Tini terus menari tanpa menghiraukan Candra dan Zain yang kini terangkat ke plafon rumah.


Kedua pria itu berusaha melepaskan diri dari mahluk gaib yang menyerangnya.


"La hawla wala qu wata illah billah!"


*Bruugghhh!!


Zain jatuh tersungkur ke lantai. Lelaki itu segera bangun dan berdiri.


Sementara itu Candra tampak memejamkan matanya.


Ia melihat puluhan tentara gaib memasuki ruangan itu.


Mereka membawa sebuah gada di tangannya dan bersiap membawa Tini pergi.


Mereka segera memberikan jalan saat sebuah kereta berhenti di depan rumah itu.


Seorang wanita turun dari dan berjalan dengan gemulai mendekati Tini yang masih menari menyambut kedatangannya.


Mengetahui seorang pria memperhatikannya, wanita itu menoleh kearahnya.

__ADS_1


Kini bola matanya tampak bertemu dengan bola mata Candra.


Ia tersenyum menatapnya, "Apa kamu mau menggantikan Tini?"


__ADS_2