PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 30


__ADS_3

Hari H


Tini tampak baik-baik saja. Wanita itu terlihat membersihkan rumahnya. Ia juga tak lupa menyirami tanamannya seraya berpamitan dengan mereka.


"Jika memang ini hari terakhir aku menyiram kalian maka doakan aku agar bisa mati dengan layak seperti orang lain pada umumnya," ucap Tini tersenyum kecut


Sebagai seorang pemuja setan ia memang pesimis bisa secara normal seperti orang biasa.


Ia kemudian duduk di depan kolam ikan dan memberi makan ikan-ikannya.


Selesai melakukan pekerjaan rumahnya, ia menuju ke meja makan dan menikmati sarapan terakhirnya.


Tini mengajak Zain dan Candra sarapan bersama.


"Maafkan aku ya A, jika selama ini aku hanya merepotkan mu saja," ucap Tini kemudian mencium punggung tangan Zain


Ia kemudian menoleh kearah Candra yang tampak menikmati makanannya.


"Jika ada orang yang paling banyak menderita karena aku, dia adalah Candra. Meskipun aku tahu kau sangat membenciku, tapi kau masih saja mau menolong ku. Maafkan aku Ndra," Tini mengulurkan tangannya namun Candra masih asyik menikmati sarapannya.


"Hmm," Candra hanya berdehem tanpa meraih tangan Tini


Tak mau diabaikan oleh Candra Tini merebut sendok pemuda itu dan menaruhnya.


Ia tak peduli meskipun Candra melotot kearahnya. Wanita itu kemudian membuka telapak tangannya dan menyalami pemuda itu.


"Aww!!" Seperti biasa Tini selalu kepanasan saat menyentuh telapak tangan Candra..


Candra segera melepaskan tangannya dan saat melihat Tini kesakitan.


"Kenapa aku masih saja kepanasan saat menyentuh tanganmu. Sebenarnya kau ini siapa sih. Bahkan aku sudah bersalaman dengan beberapa orang dukun aku tidak pernah kepanasan. Begitupun dengan orang alim, juga ustadz seperti Aa Zain aku tidak merasa kepanasan. Sebenarnya kamu ini siapa sih Ndra?. Apa kamu punya dendam pribadi denganku?" Tini terlihat mengernyitkan keningnya menatap pemuda di depannya


"Anggap aja aku ini orang aneh," jawab Candra


Ia kembali mengambil sendok dan melanjutkan makannya.


Zain yang penasaran kemudian menjabat tangan Candra. Namun pemuda itu harus menelan kekecewaan karena tak merasakan apapun saat menyentuh tangan sahabatnya itu.


"Kenapa aku tidak merasakan apapun?" ucap Zain tampak kecewa


"Apa kau ingin antara kita terjadi sesuatu?" ucap Candra dengan ekspresi wajah tak senangnya


Zain terkekeh melihat ekspresi wajah sahabatnya itu. Ia kemudian menepuk-nepuk pundak Candra.


"Pasti seru jika terjadi sesuatu antara kita berdua," goda Zain


"Gak lucu," jawab Candra kemudian berlalu pergi


Sementara itu, Tini segera kembali ke kamarnya.


Ia memilih pakaian terbaik hari itu dan berdandan sangat cantik.


Ia tak lupa mengambil gambar dirinya untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Ia kemudian meminta Zain untuk memakai foto itu sebagai foto saat pemakaman nanti.


"Kenapa fotonya cantik sekali,"


"Aku gak mau terlihat jelek di hari terakhir ku A, jadi aku mau di kenang sebagai Tini yang cantik," jawab gadis itu


"Baiklah kalau itu maumu," Zain segera bergegas pergi untuk mencetak foto tersebut.


Tini yang merasa sudah memenuhi kewajibannya itu kini memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasurnya.


Meskipun ia tahu jika kematiannya akan tragis namun Tini tampak tenang. Ia berusaha pasrah dan ikhlas menerima takdirnya seperti yang disarankan oleh Ki Santa.


Suasana rumah menjadi sunyi, Candra memilih duduk di ruang tengah.


Ia memilih bekerja dari rumah demi menjaga Tini seperti pesan Ki Santa.


*Ting tong!


Candra segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu.


Seorang wanita cantik datang berkunjung.


"Apa Tini ada di rumah?"


"Ada, sebentar saya panggilin,"


Candra segera naik keatas untuk memanggil Tini. Sementara wanita itu duduk di ruang tamu.


*Tok, tok, tok!!


Tini kemudian membuka pintu kamarnya dan keluar. Gadis itu segera menemui tamunya.


Candra memilih duduk di beranda sambil mengawasi keduanya.


Tini tak menduga jika tetangganya dari kampung akan datang mengunjunginya.


"Ada perlu apa Yu datang ke sini?" tanya Tini


"Aku cuma mau nganterin ini," ucap wanita itu memberikan sebuah amplop coklat kepadanya.


"Dari siapa?" tanya Tini lagi


"Lihat saja di dalam, katanya dia sudah menulis namanya," jawab wanita itu kemudian pamit pulang.


"Kenapa buru-buru?" tanya Candra berusaha menghentikan wanita itu.


"Waktunya tidak lama lagi, kalau aku tidak buru-buru aku takut tidak bisa melihat mu lagi,"


*Deg


Seketika Candra merasa seluruh tubuhnya bergetar mendengar ucapan wanita itu.


Ia hanya diam melihat wanita itu pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Tini segera membuka amplop coklat yang diterimanya. Seketika wajahnya memucat saat melihat isi amplop tersebut.


Melihat Tini jatuh ke lantai Candra segera berlari menghampirinya.


"Apa isinya?" tanya Candra


Tini segera memberikan sebuah bunga kantil kepada pria itu.


"Bunga ini yang selalu ada di setiap tumbal pesugihan ku," ucap Tini parau


Tubuhnya seketika membeku seperti es. Ia bahkan tak mampu menggerakkan kakinya untuk berdiri.


Candra segera menggendongnya dan meletakkannya di sofa. Ia memberikan segelas air putih padanya.


"Jangan takut, semuanya tak seperti yang kau bayangkan. Bunga itu bukan simbol kematian, tapi bisa jadi sebaliknya," ucap Candra berusaha menenangkan Tini


"Jangan sok tahu!" seru Tini


"Meskipun aku bukan seorang paranormal ataupun ustadz tapi aku sedikit tentang bunga-bunga keramat itu," jawab Candra


"Kau tidak tahu apa-apa Ndra. Hari ini adalah hari terakhir ku, meskipun tanpa bunga itu aku tetap akan mati. Hanya tinggal menunggu waktu saja," jawab Tini


Gadis itu kemudian menuju kamar khusus yang ia segel. Ia membuka segel kamar itu dan membuka pintunya.


Bau busuk menyeruak saat pintu ruangan itu terbuka.


"Karena hari ini aku akan mati, aku juga harus menghancurkan ruangan ini. Aku tak mau lagi memberikan fasilitas VIP kepada iblis itu untuk menemui para tumbalnya,"


Tini mengamuk dan membanting semua benda-benda yang ada di kamar itu. Ia bahkan merobek-robek kasur yang ada di kamar itu dan membakarnya.


"Kamu yakin tak apa-apa menghancurkan semuanya?"


"Kalaupun ada apa-apa, tetap saja gak ngaruh wong aku juga bakal mati juga," jawab Tini pasrah


Candra menghampiri gadis itu dan mengusap kepalanya.


"Jangan putus asa, karena maut itu hanya Allah yang tahu. Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang tahu,"


"Meskipun aku tahu itu, tetap saja aku ketakutan apalagi ini mengenai tumbal pesugihan," jawab Tini getir


Ia kemudian menumpahkan kesedihannya di bahu Candra. Pria itu mencoba menghibur Tini.


Terlalu lama menangis membuat Tini mengantuk dan tertidur.


Candra membaringkan gadis itu ke kamarnya.


"Akhirnya tidur juga," Candra kemudian keluar dari kamar itu.


Candra menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu menggerayangi tubuhnya.


Ia menangkap seekor kelabang yang merambat di lengannya.


Keningnya mulai mengernyit saat ia merasakan tubuhnya terasa panas. Ia melihat beberapa binatang berjalan di dalam dari perutnya hingga ia memuntahkan ribuan kelabang.

__ADS_1


Bukan hanya keluar dari mulutnya, binatang itu mulai keluar dari telinga dan hidungnya.


"Astaghfirullah!" teriak Zain segera menghampiri Candra


__ADS_2