PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 24


__ADS_3

Candra melajukan motornya meninggalkan kediaman Faaz. Is membawa Tini ke kediaman seorang ustadz yang merupakan ayah angkat Zain.


Selama perjalanan Zain tak berhenti melantunkan ayat-ayat suci Alquran untuk mencegah Tini kesurupan.


Pukul 4 pagi mereka tiba di desa tempat kelahiran Zain.


Candra segera turun dan membantu Zain membawa Tini keluar.


Seorang pria tua berjanggut putih keluar membukakan pintu untuknya.


Mereka membaringkan Tini di sebuah kamar yang sudah di siapkan pemilik rumah.


Melihat wajah letih Zain dan Candra lelaki itu menghidangkan secangkir teh panas untuk mereka.


"Silakan diminum, maaf ayah gak punya makanan jadi hanya air saja,"


"Terimakasih,"


Kedua pemuda itu langsung meneguknya hingga habis.


"Alhamdulillah," ucap Zain merasa lebih baik


"Kalau kalian lelah, sebaiknya istirahat saja, nanti ayah bangunkan saat adzan subuh," ucap pria itu


"Baik ayah, titip Tini ... tolong jaga dia," jawab Zain


"Iya,"


Sementara itu Zain mengajak Candra tidur di kamarnya. Sementara itu ayah Zain memilih tadarus sambil menunggu waktu subuh.


Mendengar suara ayahnya bertilawah membuat Zain merasa aman meninggalkan Tini dengan ayahnya.


Pukul lima pagi ayah Zain membangunkan kedua Pemuda itu dan menyuruhnya untuk sholat subuh.


Sementara itu Tini mengerjapkan matanya saat mendengar suar gaduh.


Gadis itu segera bangun dan keluar kamarnya.


Ia melihat seorang lelaki tua tengah memasak di dapur sendirian.


"Dimana ini, kenapa tadi berisik sekali tapi tak ada siapapun kecuali seorang pria tua,"


Tini kemudian duduk sambil memandangi pria itu memasak sembari bersenandung.


Pria itu tersenyum saat melihat Tini duduk memperhatikannya.


"Sudah bangun kamu nduk?"


"Sudah, maaf kalau boleh tahu bapak siapa dan kenapa saya ada di sini?" tanya Tini sedikit bingung


"Kamu ada di rumah ayahnya Zain atau lebih dikenal dengan nama Mbah Santa tanpa Claus," jawab pria itu berkelakar


Tini tertawa mendengar nama pria itu.

__ADS_1


"Santa??"


"Iya Santa," jawab pria itu memberikan KTP nya kepada Tini


"Bener namanya Santa tanpa N,"


"Hahahahaha!"


"Pasti seneng punya ayah lucu kaya pak san," ucap Tini tampak menerawang


"Memangnya ayah kamu gak lucu?" tanya Santa


"Ayah saya sudah gak ada Pak,"


"Maaf ya nduk, jadi bikin kamu sedih,"


"Gak kok Pak," jawab Tini mengusap air matanya


"Syukurlah kalau gitu,"


Santa kemudian memindahkan makanan hasil olahannya ke meja makan, melihat pria itu bekerja sendirian Tini pun membantunya menyiapkan piring dan sendok.


Tidak lama Zain dan Candra bergabung dengan mereka.


"Alhamdulillah akhirnya ketemu nasi juga," ucap Zain tampak sumringah


"Memangnya kenapa, apa selama ini kau tidak pernah makan nasi?" tanya Santa mengernyitkan keningnya


"Kasian sekali, kalau begitu makanlah yang banyak," Santa mengisi piring Zain dengan nasi hingga penuh


Bukan hanya Zain, Santa juga mengisi piring Tini dan Candra.


"Anggap saja aku sekarang memiliki anak tiga jadi jangan merasa kalau aku hanya menyayangi Zain," ucap lelaki itu mencoba menghilangkan rasa cemburu kedua tamunya


Selesai sarapan Zain menceritakan maksud kedatangannya. Santa terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.


"Jadi gimana Yah, apa kau bisa membantunya?" tanya Zain


Santa menarik nafas dalam-dalam dan menatap lekat Tini.


"Semua perbuatan pasti ada ganjarannya. Makanya kita tidak boleh buru-buru memutuskan segala sesuatu. Kalau nasi sudah menjadi bubur seperti ini mau gimana lagi. Meskipun setahuku tidak ada pelaku pesugihan yang selamat namun setidaknya kita berusaha dulu. Apapun hasilnya nanti, semoga itu yang terbaik." jawab Santa


"Apa aku akan mati?" tanya Tini dengan wajah gusar


"Semua orang pasti akan mati nduk, semuanya hanya menunggu waktu saja. Jadi yang terpenting hadapilah semuanya dengan ikhlas. Andaikata kau memang harus mati dalam kasus ini maka matilah sebagai seorang Tini, bukan sebagai tumbal pesugihan, apa kau tahu maksudku?"


Tini menggelengkan kepalanya, air matanya mulai berderai membasahi pipinya.


"Dua hari yang tersisa ini lakukanlah hal-hal baik seolah kau memang akan mati dua hari ini. Dekatkan dirimu dengan Tuhan dan banyak-banyaklah beristighfar," imbuh Santa


"Melawan atau mengusik mahluk gaib bukanlah solusi untuk membebaskannya. Ikhlas dan berdamai dengan keadaan itu adalah pilihan terbaik yang harus kau jalani jika ingin mati sebagai Tini, seperti Faaz yang berjuang agar tidak mati sebagai tumbal, kau pun harus melakukan hal yang sama,"


Mereka terdiam mendengar ucapan Santa. Hanya Tini yang terus menangis tersedu-sedu mengingat hidupnya hanya tinggal dua hari.

__ADS_1


Santa kemudian masuk kedalam dan tidak lama ia kembali lagi membawa sebuah Hijab dan memberikannya kepada Tini.


"Mulailah dengan merubah penampilan mu. Aku yakin kau akan terlihat cantik jika menutup aurat mu. Meskipun sudah terlambat namun Allah tak pernah mengabaikan seorang hamba yang tulus ingin berubah,"


Tini kemudian membawa hijab itu masuk. Ia masih shock saat mengingat ucapan Santa. Namun bagaimanapun juga ia tahu benar jika ucapan pria itu tidak ada yang salah.


Bahkan Ki Jaka sudah pernah mengultimatum dirinya jika tidak ada pelaku pesugihan yang bisa lolos saat ia lalai memberikan tumbal persembahan.


Setelah memantapkan hatinya, ia mengambil gunting yang tergeletak di meja.


Ia menatap wajahnya di cermin.


"Hari ini Tini sudah mati dan terlahir kembali sebagai putri Pak Santa,"


Tini mengambil beberapa helai rambutnya dan kemudian memotongnya.


Ia kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


..."Bismillah," ucap Tini saat mengguyur kepalanya....


Meskipun hatinya masih pilu, namun ia berusaha tegar untuk memulai kehidupannya yang baru meski hanya dua hari.


Selesai mandi ia kemudian mengganti pakaiannya dengan baju yang sudah disiapkan oleh Santa.


Wanita itu menatap lekat sebuah foto yang terpajang di dinding kamar itu.


"Semoga aku bisa menjadi Seperti dirimu,"


Tini melangkah keluar menemui Santa, Zain, dan Candra.


Ketika pria itu terperanjat melihat penampilan terbaru Tini.


"Masya Allah cantik sekali, hampir saja aku tak mengenalimu," ucap Santa menghampirinya


"Terimakasih ayah," jawab Tini membuat pria itu seketika berkaca-kaca


"Kau mengingatkan aku kepada almarhum putriku, jika dia masih hidup mungkin akan seumuran denganmu,"


"Jika anakmu meninggal masih kecil lalu baju yang aku pakai ini milik siapa?" tanya Tini


"Itu punya mantanku pacarku, kebetulan aku tak bisa melupakannya makanya aku masih menyimpan semua miliknya. Terutama fotonya yang masih ku pajang di dinding kamarku,"


Seketika Tini mengernyitkan keningnya.


"Astaghfirullah,"


Sementara itu Zain dan Candra justru menertawakannya


"Jangan terlalu diambil hati Tin, ayahku memang begitu orangnya. Suka alay sesekali, namun ia orangnya asik kok,"


"Iya gak papa, aku sih santai saja. Hanya saja aku gak enak kalau dia mengira aku mantannya," jawab Tini


"Mantan pacar ayah ya Umi, dan Umi sudah meninggal Tin, jadi jangan khawatir!" sahut Zain

__ADS_1


__ADS_2