PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 27


__ADS_3

Candra mengambil segenggam beras kuning yang ada di dalam saku celananya dan melemparnya kearah bocah itu.


Gadis kecil itu tersenyum simpul kepadanya.


"Om tidak bisa mengusir ku karena aku bukan mahluk gaib," jawab gadis kecil itu


Candra memasukkan kembali beras kuning ke saku celananya. Ia tersenyum menatap gadis kecil didepannya. Ia mendekatinya dan duduk didepannya


"Hmm, kau memang cerdas. Bagaimana kau bisa membawaku ke tempat seperti ini?" ucapnya lirih


"Itu karena aku tidak mau kau ikut campur dalam urusan wanita itu," jawab gadis kecil itu dengan nada kesal


Ia kemudian duduk di emperan rumah sembari memainkan permainan congklak. Candra mengikutinya dan duduk disampingnya


Tidak lama beberapa anak kecil muncul dan menemaninya bermain.


Melihat banyaknya anak-anak kecil yang tiba-tiba mengerumuninya membuat Candra bertanya-tanya.


"Sebenarnya siapa dirimu, dan kenapa kau menahan ku di sini?" tanya Candra


Gadis itu menghentikan permainannya.


"Aku bukan siapa-siapa, aku hanya tak mau melihat orang sebaik dirimu mati sia-sia. Kau harus tetap hidup agar bisa menyelamatkan ku suatu hari nanti," jawab gadis itu


"Memangnya apa yang akan terjadi denganmu?" tanya Candra lagi


"Aku tak bisa memberitahu mu, hanya saja aku merasa suatu saat kau akan menjadi penyelamat ku, untuk itulah aku perlu menjagamu mulai sekarang," jawab gadis itu


Melihat gadis kecil itu asyik bermain , Candra memejamkan matanya mencari jalan keluar.


Saat ia membuka matanya ia terkesiap melihat ia berada di tengah hutan.


Ia berjalan menyusuri jalan setapak agar bisa keluar dari hutan itu.


Meskipun tak ada sesuatu yang janggal di hutan itu, namun tetap saja Candra terlihat kesulitan mencari jalan pulang.


Sementara itu Tini mulai merasa gerah. Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamarnya dan membuka pakaiannya.


Saat pakaiannya sudah terbuka, ia terkejut melihat sosok seorang wanita yang sangat mirip dengannya.


Wanita itu berjalan mendekatinya membuat Tini mundur dan menjauh darinya.

__ADS_1


Ia tak lupa membacakan sesuatu untuk mengusir makhluk gaib tersebut.


Semakin ia mempercepat bacaannya semakin ia merasa tubuhnya terasa panas.


"Ada apa ini kenapa tubuhku yang terasa sangat panas, bukan makhluk itu!" seru Tini terus menggaruk-garuk tubuhnya.


Karena begitu nikmat, Tini terus menggaruk-garuk tubuhnya yang terasa gatel hingga tak sadar jika ia sebenarnya tengah menyakiti dirinya .


Kulitnya mulai mengelupas dan darah segar mengalir dari tubuhnya. Ia yang masih tak sadar terus menggaruk-garuk tubuhnya hingga saat kukunya tanggal ia baru menyadari ada sesuatu yang tak beres dengannya.


Tini seketika menjerit histeris saaat menyadari jika tubuhnya di penuhi luka. Ia membuka tangannya yang sudah menggaruk tubuhnya. Darah segar tampak mengucur dari telapak tangannya membuat Tini semakin ketakutan. Ia berlari keluar dari kamarnya untuk meminta pertolongan.


Namun tak satupun tetangganya yang keluar menolongnya.


Bukan hanya dari telapak tangannya, kini seluruh tubuhnya mengeluarkan darah membuat wanita itu jatuh terduduk di lantai.


"Tolong aku, tolong!' ucapnya dengan suara parau


Ia terlihat shock dan ketakutan saat melihat tubuhnya yang dipenuhi darah.


Tak lama Zain muncul di sana, pria itu terkejut saat melihat Tini bersimbah darah.


Ia kemudian mengajaknya duduk di sofa sambil mengobati lukanya


Melihat darah di tubuhnya yang tak berhenti mengalir, pria itu mulai menggerakkan bibirnya untuk membaca kalam illahi.


Dari bibirnya mulai mengalun suara merdu membaca ayat-ayat suci Alquran yang membuat Tini sedikit tenang dan relaks.


Namun tiba-tiba Tini berusaha membungkam mulut pria itu. Ia bahkan berusaha menyerangnya saat wanita yang mirip dengannya keluar dan menghampiri mereka.


Kini bukan hanya dua wanita itu yang menyerang Zain, namun beberapa wanita lain bermunculan dan menyerangnya.


Semakin banyak jumlah wanita berdatangan semakin deras darah segar yang mengucur dari tubuh Tini hingga membuat wanita itu kemudian ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri.


Zain mengambil sorbannya dan melemparkannya kearah para wanita itu hingga mereka seketika menghilang dari pandangannya.


Mengetahui para makhluk astral itu sudah pergi, Zain segera memapah Tini dan memindahkannya ke kamarnya.


Ia menutupi tubuh Tini dengan kain putih. Ia kembali membacakan ayat-ayat suci Alquran untuk membantu agar sukma Tini segera kembali ke tubuhnya.


Namun usahanya sia-sia, bahkan hingga tengah malam Tini masih belum sadarkan diri juga.

__ADS_1


Zain menghubungi ayahnya Ki Santa dan menanyakan tentang hal ini padanya.


Pria itu menjawab dengan santai, jika Tini sedang melakukan perjalanan spiritual. Ia menyarankan agar Zain tetap membimbingnya pulang dengan membaca ayat-ayat suci Alquran yang ia sebutkan.


"Sampai saat waktunya tiba, ia akan seperti itu, tak ada yang bisa menyembuhkannya kecuali dirinya sendiri. Itulah karma yang harus dia terima karena sudah bersekutu dengan Iblis," jawab Santa


"Bukankah kau sudah bilang akan membantunya, tapi kenapa sekarang kau malah lepas tangan!" seru Zain


"Siapa yang bisa melawan kehendak Gusti Allah le. Apapun yang kita lakukan semuanya kembali kepada kehendak Gusti Allah. Jadi tetaplah membantunya apapun yang terjadi," jawab Santa


Zain menutup telponnya dan menangis menatap kearah Tini yang sudah seperti mayat hidup.


Ia yang sudah menganggap Tini seperti adiknya sendiri kembali membacakan ayat-ayat suci seperti saran ayahnya. Ia berharap dengan begitu ia bisa membantu sukma Tini untuk kembali lagi ke tubuhnya.


Tidak lama Candra tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Tini.


Pemuda itu benar-benar tak menyangka jika ia bisa kembali ke rumah itu.


Ia duduk di lantai dan bersandar di pintu. Bak seorang yang telah melakukan perjalanan jauh, Candra tampak begitu kelelahan dan rasa dahaga mulai menyerangnya.


"Haus, aku haus sekali, bisakah kau ambilkan aku minum Zain,"


Zain segera mengambil segelas air putih dan memberikan kepadanya.


"Terimakasih,"


"Darimana saja kau, kenapa kau baru pulang sekarang?" tanya Zain


"Ceritanya panjang Zain, aku bersyukur masih bisa kembali dengan selamat," jawab Candra dengan nafas terengah-engah


Sambil menunggu kondisi Candra membaik, Zain menceritakan apa yang terjadi kepada Tini.


Candra segera bangun setelah mendengar cerita Zain. Ia kemudian menghampiri Tini yang tergeletak di ranjangnya.


Melihat tubuh Tini terbaring di ranjang membuat Candra melihat sosok Arga terbaring bersamanya.


Seketika matanya berkaca-kaca melihat Arga yang memeluk erat Tini seolah tak mau kehilangan wanita itu. Begitupun dengan Faaz yang terus memegangi kaki Tini.


Candra menangis tersedu-sedu melihat Tini yang di kelilingi para pria yang menjadi tumbalnya.


Zain bertanya kepadanya kenapa ia menangis. Candra mengatakan jika ia melihat Tini terluka karena para tumbalnya mencoba mengajaknya pergi ke alam baka.

__ADS_1


__ADS_2