PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 23


__ADS_3

Candra menggerakkan tangannya membuat tubuh Zain tiba-tiba terangkat ke udara.


Zain membulatkan matanya saat mengetahui tubuhnya tiba-tiba terangkat dan melayang di udara.


Candra tak membiarkan Zain lepas dari cengkeramannya. Ia membenturkan tubuh pemuda itu ke dinding berulangkali.


Zain berusaha bangun namun tubuhnya kembali melayang dan menempel di tembok.


Ia berteriak keras saat tubuhnya mulai berputar seperti baling-baling.


*Brakkk!!


Zain merasakan kepalanya pusing, dan mual yang luar biasa hingga membuatnya muntah-muntah.


Candra mendekatinya dan menjambak rambutnya.


"Sekarang mari kita akhiri semuanya, cah Bagus!"


Candra meletakkan tangannya diatas kepala Zain.


Zain mulai merasa tubuhnya terasa panas dan perih seperti dikuliti.


Dalam keadaan sekarat ia membaca ayat-ayat suci, namun tiba-tiba dadanya terasa sesak seperti ada kekuatan gaib yang menghalaunya sehingga tak satupun kata keluar dari mulutnya.


Zain tak mau menyerah, meski bibirnya seperti terkunci tapi ia yakin masih bisa melantunkan ayat-ayat suci meskipun hanya dalam hati.


Ia memejamkan matanya mencoba pasrah dan meminta bantuan sang pencipta.


*Bruugghhh!!


Seketika tubuh Candra jatuh lunglai ke tanah.


Zain membuka matanya dan melihat Candra mulai sadar.


Sementara itu keduanya terkejut saat mendengar suara jeritan Tini yang meraung-raung meminta tolong.


"Tolong, tolong aku, jangan bunuh aku, tolong!"


Kedua pria itu segera mendekatinya dan menjegal tangannya yang hendak mencekik lehernya sendiri.


Zain kembali melantunkan ayat-ayat suci dibantu Candra yang berusaha mengobati Tini menghubungkan kekuatan supranaturalnya.


Tini mulai tenang dan kedua pria itu langsung melepaskan tangannya.


Tini merebahkan tubuhnya keatas ranjang, dan menarik nafas panjang.


Candra bangun dari duduknya, ia merasakan tubuhnya seperti remuk redam pasca kerasukan.


Ia meninggalkan kamar itu menuju ke dapur. Setelah mengisi kerongkongannya yang terasa kering ia pun kembali lagi dengan membawa segelas air putih.


Ia memberikannya kepada Tini yang tampak lesu.


"Minumlah,"


Tini segera meraih gelas dari tangannya dan meneguknya hingga habis.


"Terimakasih,"


Tini beranjak dari turun dari ranjangnya menuju ke kamar mandi.


Sementara itu Zain dan Candra keluar dari kamar Faaz.


Keduanya merebahkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Sepertinya teror sudah di mulai, kita harus ekstra hati-hati dua malam terakhir ini," ucap Zain


Candra menceritakan pengalamannya pergi ke alam gaib setelah menyentuh kening Tini. Pria itu melihat beberapa orang pria mengenakan gaun pengantin di tempat itu.


"Apa kau menemukan orang yang kau kenal?" tanya Zain


Candra mengangguk, "Aku bertemu dengan kakakku di sana. Ia tampak sangat tersiksa di tempat itu. Meskipun aku berusaha mengeluarkannya dari tempat itu namun aku tak bisa melawan kekuatan Nyi Ratu seorang diri,' ucapnya lirih


"Jangan khawatir, aku pasti akan membantumu," jawab Zain


"Thanks Zain."


Sementara itu Tini tampak menuruni tangga satu persatu mendekati Zain dan Candra yang memilih merokok di luar.


Melihat tak ada makanan di rumah itu, Tini pun membuka kulkas dan mencari sesuatu untuk di masak.


Perutnya yang sudah keroncongan membuatnya terpaksa memasak mie instan untuk mengganjal perutnya.


Mencium aroma wangi mie instan membuat kedua pemuda itu masuk dan menuju meja makan.


"Sebaiknya kalian mandi dulu sebelum makan!" cibir Tini saat mengendus bau tak sedap dari kedua pria itu.


Zain segera mencium pakainya, "Bau apa gak ada bau apapun," gerutunya


"Baiklah aku akan mandi duluan,"


Candra segera menuju kamar mandi dan mulai membuka pakaiannya.


Begitupun dengan Zain yang menuju kamar mandi.


Melihat Zain yang sudah naik ke lantai dua wanita itu kemudian mengambil pisau dapur dan menatapnya tajam.


"Aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Waktunya tinggal dua hari," Tini berjalan mendekat kearah kamar mandi


Candra yang tak menaruh curiga duduk di sampingnya.


"Apa ini untukku?" tanyanya


Tini mengangguk pelan.


"Thanks," ucap Candra kemudian menikmati mie di depannya


Tini menyeringai melihat Candra begitu lahap memakan makanannya.


Ia beranjak dari duduknya dan mengambil pisau yang tergeletak disampingnya.


*Aarrgghhh!!


Candra berteriak keras saat Tini membacokkan pisau ke punggungnya.


Darah segar mengalir membasahi punggung lelaki itu.


Melihat wajah Tini yang berubah, Candra yakin benar jika gadis itu kesurupan lagi.


Ia segera bangun dari duduknya dan menghindari Tini yang terus mendekat kearahnya.


"Sadar Tin!" serunya sembari tangannya merogoh saku celananya.


Ia kemudian mengeluarkan bunga setaman dari sakunya dan melemparnya kearah Tini.


Namun bukannya sadar Tini justru tertawa terbahak-bahak.


"Kabeh tumindak pasti ana balasane , awakmu wis gawe aku kecalan tumbal persembahan, mulo saiki kowe kudu dadi gantine ( Semua perbuatan pasti ada akibatnya. Kamu sudah membuat ku kehilangan tumbal persembahan, jadi kamu harus menjadi penggantinya)"

__ADS_1


Candra berusaha kabur, namun dari depan seorang wanita lain datang menggunakan gaun pengantin yang sudah di bakar.


"Zain tolong aku!" seru Candra kemudian berlari menaiki tangga


*Grepp!!


Candra menjerit ketakutan saat seseorang meraih kakinya. Ia di seret menuruni tangga.


Ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Tini yang menyeretnya menuruni tangga. Namun jangankan untuk melepaskan diri, bahkan ia tak mampu menggerakkan tangannya.


"Aarrgghhh!!!"


Zain yang baru mematikan keran air, segera memasang telinganya lebar-lebar saat mendengar suara teriakan.


Ia buru-buru keluar dan segera turun ke lantai bawah.


Susana seketika menjadi hening. Ia tak menemukan Tini ataupun Candra di ruang makan.


"Dimana mereka??"


Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Candra.


Ia mengikuti arah bunyi getar ponsel Candra yang terdengar tak jauh darinya.


Ia menghentikan langkahnya di saat suara dering ponsel semakin keras. Ia sudah mencarinya di mana-mana namun tak menemukannya.


*Tes!


Zain segera menoleh keatas saat setetes darah menetes di lantai.


Ia begitu terkejut saat melihat Candra di gantung di atasnya.


"Siapa yang melakukannya!" seru Zain


Candra tidak dapat menjawab pertanyaannya karena mulutnya diikat lakban.


Zain mengambil kursi dan naik untuk menurunkan Candra.


Tiba-tiba Candra memberikan isyarat kepada pria itu untuk segera berhenti melepaskan ikatannya.


"Hmm, hmmm!!" seru Candra berusaha memberi tahu Zain untuk menyingkir.


Tini menyeringai saat melihat Zain tak menggubris peringatan dari Candra.


Saat Tini mengayunkan pisaunya, Zain reflek menghindar Ia segera melepaskan tendangan keras dan berhasil menjatuhkan pisau itu dari tangan Tini.


Tini yang geram berusaha menyerang menyerang kaki gadis itu hingga Tini terjatuh.


Ia segera membekuknya dan membacakan ayah kursi saat Tini mulai meronta-ronta.


Zain memegangi ubun-ubun Tini, membuat gadis itu berusaha mencakarnya.


"La hawla wala qu wata illah billah!"


Seketika Tini seketika tumbang ke lantai.


Zain buru-buru memotong tali pengikat Candra dan membantunya turun.


"Rumah ini sudah tidak aman, sebaiknya kita pergi dari sini!" seru Candra


"Hmm," jawab Zain mengangguk setuju


"Lalu bagaimana dengan dia?" tanya Candra

__ADS_1


"Kita bawa dia,"


__ADS_2