
*Buugghh!!
Melihat tubuh Candra roboh ke lantai, Zain segera menangkapnya.
*Grep!!
Ia mengguncang tubuh pemuda itu dan berusaha menyadarkannya.
"Candra, bangun Ndra, Candra!" seru Zain sembari menepuk-nepuk pipinya
Namun Candra tak kunjung membuka matanya membuat Zain segera memeriksa denyut nadinya.
"Dia masih hidup, tapi kenapa ia tak bereaksi. Apa dia pingsan atau koma, atau jangan-jangan dia sudah ada di dunia lain??"
Zain kemudian membaringkan tubuh Candra di atas sofa dan menutupinya dengan kain berwarna putih.
Sementara itu ia masuk ke kamar Tink untuk mengetahui kondisi gadis itu.
"Tini, bangun Tin!" serunya sambil menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu
Meskipun Tini tertidur namun ia tak kunjung membuka matanya. Tentu saja hal itu membuat Zain semakin panik. Ia kemudian menghubungi Ayahnya Santa untuk membantunya menyembuhkan Tini dan juga Candra.
"Hallo ayah, cepat datang ke sini, kondisinya gawat!" seru Zain
Ia menceritakan bagaimana kondisi Tini dan Candra selepas ia pergi meninggalkan mereka.
Santa bersedia datang ke tempat Tini untuk menyembuhkannya.
Pria itu bahkan berpesan kepada Zain untuk memanggil beberapa orang ustad atau orang alim untuk membantu menyadarkan Candra dan Tini.
Zain segera mengikuti perintah ayahnya.
Ia memanggil beberapa orang tetangganya untuk mengaji di kediaman Tini.
Suara tahlil terdengar menyeruak di kediaman Tini. Zain tampak memimpin tahlil bersama para tetangga dan sahabat-sahabatnya.
Tini masih terpejam tanpa membuka matanya sedikitpun. Keringat dingin tampak muncul di sekitar kening dan Leher Candra membuat Zain berhenti mengaji dan membersihkannya.
Kini tubuhnya mulai terasa hangat, setelah ada pengajian di rumah itu. Berbeda dengan Tini yang masih tertidur cantik seperti putri dongeng.
Pukul sembilan malam Ki Santa tiba, Zain segera menyambut kedatangan Ayahnya tersebut dengan mencium punggung tangannya.
"Bagaimana keadaan adikmu?" tanya Santa
"Dia masih belum berubah ayah,"
Zain mengantar Ki Santa menghampiri Tini.
Pria itu mengusap wajah Tini, "Bangun nduk, cepatlah pulang. Rumah kamu di sini bukan di sana,"
Santa kemudian mengambil segelas air putih dan membacakan sesuatu. Ia mengambil sendok dan memasukan air itu ke mulut Tini. Santa juga mengusap wajah gadis itu menggunakan air yang sudah dibacakan doa tersebut.
__ADS_1
Tak lupa ia membisikkan sesuatu di telinganya. Tepat pukul dua belas malam Tini membuka matanya.
Semua orang tampak terkejut saat melihat gadis itu terbangun.
Ia bangun dari tidurnya dan mengambil teko air kemudian menghabiskan isinya.
Nafasnya tersengal-sengal setelah menghabiskan air satu teko. Namun ia masih mengambil teko air lainnya dan menumpahkan airnya ke tubuhnya.
Melihat hal itu Santa menghampirinya dan mengajaknya duduk. Ia menyuruh Zain mengambilkan handuk dan mengeringkan rambut Tini yang basah.
"Apa kamu masih haus?" tanya Santa
Tini mengangguk. Lelaki itu kemudian mengambil sebuah air kemasan dan membacakan doa sebelum memberikan minuman itu kepadanya.
*Glek, glek, glek!!
Tini menghabiskan minuman itu kemudian menyeka mulutnya.
"Bagaimana, apa masih haus?" tanya Santa lagi
Tini menggelengkan kepalanya kemudian mendekati Candra yang masih terbaring di tikar.
Wanita itu menatapnya sendu. Tini mendekati Santa dan meminta pria itu memberikan minum untuk Candra.
"Kenapa kau ingin memberinya minum?" tanya Santa
"Dia pasti kehausan setelah memberikan minumannya untukku. Dia bahkan rela memberikan hidupnya untukku. Aku benar-benar merasa bersalah padanya," Tini tampak berkaca-kaca hingga air matanya menetes membasahi pipinya.
Santa mengambil air kemasan dan memberikannya kepada Tini.
Tini mengambil air itu dan menyuapi Candra menggunakan sendok.
Suapan pertama Candra terlihat tak bereaksi. Begitupun dengan suapan kedua dan ketiga. Namun di suapan ke empat Candra mulai menggerakkan tangannya.
Melihat jari jemari Candra, Tini segera meraihnya dan menggenggam jemarinya.
Meskipun ia harus kepanasan saat menyentuh telapak tangan pemuda itu tapi kali ini Tini tak peduli.
Ia merasa bersalah melihat kondisi pria itu. Ia tahu jika dirinya bisa lolos sebagai tumbal karena Candra yang rela menggantikannya.
Air matanya tiba-tiba menetes dan mengenai wajah Candra.
Seketika pria itu membuka.
"Candra!" Zain bergegas menghampirinya saat tahu pria itu.
Zain tersenyum sembari menatapnya.
"Akhirnya kau kembali sobat," ucapnya lirih
Dari semua orang Tini yang tampak begitu bahagia melihat Candra kembali membuka matanya.
__ADS_1
Senyumnya tak henti mengembang saat menatap pria di depannya itu. Meskipun selama ini Candra selalu dingin padanya, namun tak bisa dipungkiri jika Candra lah yang begitu peduli dengannya.
"Maafkan aku," ucap Tini
Gadis itu terlihat begitu sedih saat melihat Candra yang masih belum bereaksi meskipun sudah sadar.
Tangisnya seketika pecah saat melihat darah keluar dari hidung dan telinga pria itu.
Semua orang kembali berdoa saat melihat kondisi Candra.
Ki Santa memerintahkan Zain untuk menenangkan Tini yang tampak menggila.
Zain berusaha membawanya pergi meninggalkan Candra, namun gadis itu bersikukuh tak mau meninggalkannya.
"Aku tak bisa meninggalkannya kali ini. Meskipun aku sangat ingin hidup tapi aku tak bisa membiarkannya mati. Sekarang aku bisa merasakan cinta sesungguhnya. Dia yang mengajariku apa artinya cinta. Dia tidak mencintai gadis cantik, kaya, ataupun pintar. Tapi dia mengajariku bagaimana mencintai orang yang sudah membuatnya terluka," jawab Tini
Gadis itu melepaskan tangan Zain dan kembali menggenggam erat jemari Candra.
"Bertahanlah, aku akan datang menolong mu,"
Angin berhembus kencang mengibaskan rambut Tini yang terurai.
Tini terkejut saat ia tak merasakan panas lagi saat menyentuh jemari Candra.
"Sekarang aku bisa merasakan betapa hangatnya dirimu,"
*Krekk!!
Tini tiba-tiba membelakakan matanya saat ia merasakan tubuhnya begitu kesakitan seolah sesuatu menggerogoti tubuhnya.
Darah segar keluar dari mulutnya dan ia mulai melukai dirinya.
Ia mengambil pisau dan menusukkannya ke tubuhnya. Meskipun Zain sudah memeganginya Tini tetap saja berhasil melukai dirinya.
Ia bahkan menyayat lengannya hingga sekarat.
Saat Tini sekarat, Candra mulai sadar pria itu beranjak dari ranjangnya.
Tini tersenyum melihat Candra berjalan kearahnya. Ia mengulurkan tangannya, dan Candra langsung meraihnya.
"Aku yakin suatu saat kau akan menyukaiku, meskipun aku terlambat menyadari perasaanku, tapi aku bahagia karena kau begitu peduli padaku bahkan di ujung usiamu,"
"Berhentilah berbicara, dan tetaplah hidup jika kau ingin tetap bersamaku,"
Candra mengambil sebuah kain dan mengikat lengan Tini yang berlumuran darah.
Ia mengeluarkan bunga Kantil dalam saku celananya dan memberikannya kepada gadis itu.
"Aku harap perjuangan ku tak sia-sia jadi tetaplah hidup. Biarkan aku saja yang mati,"
"Kau tidak boleh mati, sampai kapanpun kau harus hidup. Aku tidak rela menjadikan orang sebaik dirimu sebagi tumbalku,"
__ADS_1
Tini mengembalikan bunga itu dan seketika lampu hias terjatuh mengenai gadis itu.
"Innalilahi wa innailaihi Rojiun,"