PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 32


__ADS_3

Candra memeluk erat Tini yang sudah tak berkutik lagi.


"Maafkan aku yang terlambat menyelamatkan mu," ucapnya terisak


Ia kemudian membaringkan tubuh wanita itu ke atas Tikar dan membersihkan darah yang masih mengucur dari hidungnya.


Sementara itu Ki Santa menempelkan tangannya di kening gadis itu.


"Tubuhnya masih hangat, dia bahkan masih berkeringat seperti orang hidup?"


Candra menatap lekat pria itu.


"Apa Tini masih hidup?" tanya Candra


"Secara medis dia sudah meninggal, namun secara spiritual dia mungkin saja masih hidup. Ada yang mengatakan jika para tumbal pesugihan bisa dikatakan belum mati sepenuhnya. Ruhnya masih tergadai di tempat ia mencari pesugihan. Jadi dengan kata lain ruhnya masih bergentayangan," terang Ki Santa


"Lalu apa yang harus kita lakukan dengan jenazahnya?" tanya Candra


"Tetap saja kita harus menguburnya, toh jantungnya sudah tak berdenyut lagi," jawab Zain


"Benar, tapi tidak ada salahnya jika kita menunggu sampai tujuh hari,"


"Maksudnya?" tanya Candra dan Zain bersamaan


Kedua pemuda itu tampak penasaran dengan penjelasan Santa.


"Kita bisa menunda pemakamannya hingga tujuh hari. Jika memang dalam tujuh hari tidak ada perubahan berarti Tini memang sudah meninggal dan kita harus menguburnya," terang Ki Santa


"Bagaimana jika mayatnya mulai membusuk?" tanya Zain


"Jika memang Tini belum meninggal maka mayatnya tidak akan pernah membusuk. Tentu saja harus ada seseorang yang bersedia menjaganya siang dan malam agar mayatnya tidak di dekati oleh kucing,"


"Kalau begitu aku akan menjaganya bergantian dengan Zain," jawab Candra


"Tidak boleh dua orang, harus satu orang saja,"


"Kalau begitu biarkan aku saja," jawab Candra


Malam itu juga Ki Santa meminta seorang wanita untuk membersihkan tubuh Tini dan mengganti pakaiannya seperti layaknya wanita pada umumnya.


Selesai mengganti pakaiannya, Santa mempersiapkan makan malam untuknya yang di sajikan diatas baki seperti sebuah sesaji.


Ia juga tetap mengadakan tahlilan bersama warga kampung untuk mendoakan Tini.


Sementara itu Candra mulai menjaga Tini sambil mengikuti tahlilan.


Saat selesai tahlilan dan semua orang sudah pulang, Candra mulai merasakan sesuatu yang ganjil. Pemuda itu seperti merasakan kehadiran Tini yang tersenyum menatapnya.


Entah kenapa kali ini bulu kuduknya berdiri saat menatap sosok Tini yang terbaring di depannya.


Ia segera membuka kitab suci saat merasakan ketakutan yang luar biasa. Candra berusaha menghilangkan rasa takutnya dengan membaca ayat-ayat suci Alquran. Namun baru saja ia akan membuka mulutnya tiba-tiba lampu padam.

__ADS_1


"Astaghfirullah," Candra terlihat panik, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya


Meskipun ia berusaha tenang, namun tetap saja ia tak bisa menyembunyikan rasa takutnya.


*Brakkk!!


Hampir saja jantungnya melompat keluar saat mendengar suara pintu rumahnya tiba-tiba terbuka.


Angin kencang berhembus memasuki ruangan itu hingga menyingkap kain yang menutupi tubuh Tini.


Candra segera bangun dan mengambil kain yang menutupi wajah Tini.


"Arrghhhh!!" seketika ia terjatuh saat melihat Tini membuka matanya.


Denyut jantungnya terus memburu saat melihat wanita itu bangun dan menoleh kearahnya.


"Ti...ti...ni!" serunya terbata-bata


Tini menyeringai menatapnya tajam, wanita itu mendekati Candra.


Ia kemudian mengusap wajah Candra yang tampak memucat.


Namun sentuhan itu berubah saat Tini menyentuh mata sendu Candra.


Tiba-tiba ia menusukkan jarinya ke bola mata Candra hingga membuat pria itu menjerit kesakitan.


"Arrghhhh!!"


Ia tampak ketakutan dengan nafas yang terengah-engah.


"Nyebut!" seru Ki Santa menepuk-nepuk pundaknya


"Astaghfirullah," ucapnya sambil mengusap dadanya yang terus berdebar hebat.


Santa segera mengambil segelas air putih dan memberikan kepadanya.


"Jangan tertidur saat menjaganya. Karena kalau kau tertidur maka kau tidak akan pernah bangun untuk selamanya," jawab pria itu


"Maafkan aku," jawab Candra


"Jangan meminta maaf padaku, aku hanya mengingatkan mu saja. Aku tidak mau gara-gara menjaga seorang jenazah kau malah menjadi jenazah," Ki Santa kemudian duduk dan merapikan kain yang menutupi tubuh Tini


Lelaki itu kemudian merapikan sesaji yang ada di samping gadis itu.


"Bunganya hilang satu?" lelaki itu menatap lekat 6 bunga yang tersisa di piring kecil dalam baki sesaji.


"Apa itu artinya Aki?" tanya Candra


"Artinya ada mahluk gaib yang baru saja mendatangi tempat ini,"


"Apa itu karena aku tertidur?"

__ADS_1


Ki Santa mengangguk. Lelaki itu kemudian menjelaskan jika ia tertidur maka ada makhluk gaib lain yang berusaha mengambil sukma Tini yang tergadai. Jika jumlah bunga yang diambil lebih dari tiga maka sudah dipastikan Tini tidak akan pernah kembali lagi dan harus segera dimakamkan.


"Meskipun kau tidak boleh ditemani saat menjaganya, tapi kau tidak perlu khawatir aku akan mengawasi mu dari rumah depan. Jadi tetaplah menyalakan lampu dan jangan pernah mematikannya, apapun yang terjadi,"


"Tapi aku tidak mematikan lampunya, tiba-tiba saja lampunya mati," jawab Candra


"Aku tahu. Lebih baik kau sekarang berwudhu dan rileks saja. Jangan pernah menganggap Tini akan bangun ataupun berandai-andai sesuatu yang mustahil, karena itu bisa jadi kenyataan. Jadi bersihkan pikiranmu dengan berdzikir!"


Setelah memastikan Candra baik-baik saja, Santa kemudian meninggalkannya.


Kali ini Candra memilih berdzikir sambil mengerjakan pekerjaan kantornya yang mulai menumpuk.


Meskipun rasa ngantuk mulai menyerangnya, ia berusaha terjaga dengan meminum kopi.


Namun tetap saja rasa kantuk semakin menyerangnya apalagi saat menjelang pagi hari.


Bunyi suara seseorang mengingatkan waktu subuh dari masjid membuat Candra terjaga.


Hari pertama menjaga Tini dilalui Candra dengan baik.


Zain mengunjungi Candra di hari kedua, pria itu memberikan beberapa makanan ringan dan juga kopi serta minuman kemasan untuknya.


"Kenapa aku melihatmu seperti seorang tahanan sekarang, kau bahkan tak boleh keluar atau ditemani kecuali di siang hari. Semoga saja semuanya akan berakhir dengan baik,"


"Aamiin, thanks Zain atas dukungannya," jawab Candra


Lelaki itu tampak merebahkan tubuhnya di sofa.


Sementara Zain mendekati Tini yang terbaring di Tikar.


"Jika dilihat-lihat kamu memang tak terlihat seperti mayat. Tapi kau juga tak terlihat seperti orang hidup. Sebenarnya kau ini sudah mati atau masih hidup, sebaiknya kau cepat kembali jika memang masih hidup jangan pernah menyusahkan orang lain. Dan jika kau sudah mati maka berilah kami tanda," ucap Zain.


Saat menjelang magrib Zain berpamitan pulang.


Candra mengantar sahabatnya itu hingga bibir pintu.


"Aku pulang dulu, ingat kalau kau ngantuk telpon aku. Aku pasti akan menemanimu meski hanya bisa mengobrol via telpon," ujar Zain


"Iya, thanks ya,"


Hari kedua berjalan normal tanpa ada apapun.


Di hari ketiga, Candra mulai terlihat begitu lelah. Ia bahkan nyaris tertidur saat magrib menjelang. Beruntung suara Adzan membuatnya kembali terjaga.


Ia segera mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadah sholat magrib.


Ada sesuatu yang berbeda saat ia sedang sholat.


Ia melihat seorang wanita berdiri dibelakangnya dan menjadi makmumnya.


"Assalamualaikum," Saat Candra menoleh kearah kanan ia masih melihat wanita itu mengikuti gerakannya, namun saat ia menoleh ke kiri wanita itu sudah menghilang.

__ADS_1


__ADS_2