
"Hari ini aku mau pulang ke Jakarta?"
Ucapan Tini tiba-tiba membuat ketiga pria dihadapannya melotot. Bagaimana tidak, hidupnya sedang diujung tanduk tapi ia malah ingin kembali ie sarang harimau.
"Tentu saja, aku senang akhirnya kau bisa menentukan pilihan yang tepat," ucap Santa menepuk-nepuk pundak gadis itu
Lelaki itu memberikan sebuah tasbih kepadanya.
"Hidup, mati seseorang tidak ada yang tahu jadi tetaplah berpegang teguh pada keimanan mu. Apapun yang terjadi kau harus mati dalam keadaan beriman,"
Tampak Tini berkaca-kaca saat mendengar ucapan pria tua itu.
"Iya ayah, doakan saja aku bisa Istiqomah," jawab Tini
"Meskipun aku tidak bisa mengantarmu, tapi doaku selalu menyertaimu putriku,"
Santa kemudian meraih lengan Zain dan meletakkannya diatas tangan Tini.
"Sebagian putra ku yang tertua kau harus melindungi adikmu, apapun yang terjadi tetaplah bersamanya,"
Lelaki itu juga mendekati Candra dan meraih lengannya. Sama seperti Zain, ia juga meletakkan lengan pemuda itu di tangan Tini
"Melihat Aura keberuntungan yang ada dalam dirimu, aku yakin kau bisa membantu Zain menjaganya. Meskipun kau selalu memperlihatkan ketidak sukaan mu terhadap Tini tapi aku yakin sebenarnya kau adalah satu-satunya orang yang peduli dengannya,"
"Tapi Aki, aku tidak memiliki kekuatan apapun, aku juga bukan seorang ahli ibadah seperti Zain yang bisa menghalau makhluk gaib,"
"Suatu saat kau akan menemukan kekuatan yang ada pada dirimu sendiri,"
Ketiganya kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan pondok Ki Santa.
Perjalanan dari Banten ke Jakarta terasa begitu lama. Tini tampak terlelap di dalam mobil sedangkan Candra bergantian dengan Zain menyetir mobil.
Candra sengaja mengajak Zain berbincang agar pria itu tak mengantuk.
Tiba-tiba Candra terdiam saat mengendus bau menyengat.
"Apa kau mencium bau aneh di mobil ini?"
Zain menggeleng. Karena penasaran Ia menoleh ke belakang. Raut wajahnya seketika berubah pucat saat melihat Tini memakai gaun pengantin yang telah di bakar.
Ia mengucek-ucek matanya untuk memastikan jika ia tidak salah lihat.
"Ada apa?" tanya Zain penasaran
"Tidak ada apa-apa, aku hanya mengantuk hingga berhalusinasi gaun itu kembali,"
Zain kemudian memperhatikan Tini dari kaca spion.
"Sebaiknya kau tidur saja, nanti aku bangunkan jika aku kecapean,"
Adzan dhuhur berkumandang dan Zain memilih beristirahat di rest Area.
Ia memarkirkan mobilnya dan mencari mushola untuk sholat.
Tini pun terbangun dan mengikuti kedua lelaki itu menuju ke sebuah masjid.
__ADS_1
"Bismillahi rahmani rahim...." Tini tampak membersihkan tangannya untuk berwudhu
Ini adalah kali pertama gadis itu kembali menyentuh air wudhu setelah hampir dua tahun tak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Tini seketika terkesiap saat air keran. berubah menjadi darah. Ia segera mematikan keran dan menatap sekitarnya.
Tiba-tiba wajah semua orang yang ada di tempat itu berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
Ia segera bergegas pergi saat mereka mulai mendekat dan menyerangnya.
"Pergi!" seru Tini berusaha mendorong salah satu dari mereka yang berhasil menangkapnya.
Saat ia berhasil melepaskan diri darinya seorang lainnya menjambak rambutnya dan menyeretnya hingga ia terjatuh di lantai. Ia berusaha menjauh, kemudian mencoba bangun.
Tanpa di duga seseorang menarik salah satu kakinya hingga ia kesulitan untuk pergi.
Gadis itu tak menyerah ia menggunakan sisa tenaganya merangkak dan menggapai sesuatu.
"Ih....aku tidak boleh menyerah!" seru Tini
Tangannya terus menggapai gagang pintu.
*Grepp!!
Seketika Tini mengernyitkan dahinya saat melihat Candra yang meraih tangannya.
Seperti ada kekuatan magic, para hantu itu menghilang saat pri itu muncul.
Tini seketika memeluk pemuda itu erat. "Jangan pergi, tetaplah di sini agar mereka tak datang lagi," ucap Tini dengan nafas memburu.
Candra melepaskan pelukannya saat semua mata menatap kearahnya.
Candra kemudian menyuruh gadis itu untuk berwudhu
Ia tetap menemani Tini hingga gadis itu selesai berwudhu.
Tini menggelar sajadah di depan masjid dan memakai mukenanya.
Ia menoleh kebelakang dan melihat Candra yang duduk di tangga menunggunya.
Ia tersenyum sinis melihat kali pertama pria dingin itu peduli padanya.
Selesai sholat Dhuhur Zain mengajak mereka makan di sebuah saung tradisional.
Ketiganya tampak lahap menikmati makanannya.
Tini sampai menghabiskan tiga porsi nasi membuat Zain menertawakannya.
"Pelan-pelan saja makannya, selama kami di sini kamu aman," jawab Zain membuat Tini seketika tersedak
Kedua Pemuda itu segera memberikan air putih kepadanya hingga membuatnya kebingungan untuk memilih minuman siapa yang akan diambilnya.
Tini memilih mengambil minuman kemasan yang tergeletak di depannya.
*Glek, glek, glek!!
__ADS_1
"Arrghhhh!"
Tini tampak malu saat dirinya tiba-tiba bersendawa.
Kedua pria itu tersenyum tipis menatapnya.
Candra segera mengeluarkan dompetnya dan pergi ke kasir untuk membayar makanannya.
"Biar aku saja yang bayar," ucap Tini menghentikan langkahnya
Setelah mengisi perutnya ketiganya melenggang menuju ke mobil.
Seorang gadis kecil tampak berlari menghampiri Candra dan menggandengnya.
"Om, aku tersesat, boleh aku ikut Om?" tanya bocah tujuh tahun itu
"Tersesat, memangnya dimana ibumu?" tanya Candra
Gadis kecil itu menunjukkan sebuah mobil yang keluar dari rest Area.
"Ah kasian sekali, apa kau tahu nomor ponsel ibu atau ayah mu?" tanya Zain
Gadis cilik itu menggelengkan kepalanya.
"Dimana rumahmu?" tanya Candra
"Jakarta Om,"
"Jakarta itu luas, dimana tepatnya!"
"Pasar Minggu,"
"Ok, kalau gitu ikut Om," Candra mengajak gadis kecil itu masuk kedalam mobil.
Namun melihat wajah Tini gadis itu tak mau duduk di sebelahnya.
"Om aku takut, aku tidak mau duduk dengan tante itu, dia menyeramkan," jawab bocah itu
Melihat bocah itu mencengkram tangannya dengan erat, Candra yakin gadis itu benar-benar ketakutan.
Ia mengalah duduk di belakang bersama Tini, sedangkan bocah itu duduk di samping Zain.
Mobil melaju meninggalkan rest area pukul dua siang. Perjalanan lebih lancar dari perkiraan hingga mereka tiba dengan cepat di kediaman Tini.
Gadis kecil itu tak meu turun saat melihat rumah Tini.
"Aku mau pulang Om, aku gak takut!" rengeknya
"Jangan takut, ada om dan tante yang akan melindungi kamu. Sekarang ayo masuk dulu, nanti abis magrib kita mencari rumah kamu,"
"Rumah ini menyeramkan Om, aku takut dengan wanita itu!" seru gadis itu menunjuk kearah Tini
"Sebaiknya kalian antar saja bocah itu pulang, aku gak papa kok di rumah sendirian," jawab Tini dengan wajah dongkol
Ia segera masuk kedalam rumahnya dan membanting pintunya.
__ADS_1
"Kalau begitu kita bagi tugas saja, kau menjaga Tini aku akan mengantar bocah ini pulang," ucap Zain
"Gak mau aku mau sama Om ini!" seru bocah itu menggandeng lengan Candra