PESUGIHAN GAUN PENGANTIN

PESUGIHAN GAUN PENGANTIN
Bab 34


__ADS_3

"Tini??" seketika Candra merasa wanita itu adalah Tini.


Ia meminta Sarita untuk menjelaskan ciri-ciri wanita itu.


Sarita menjelaskan jika wanita itu begitu mirip dengan Tini. Karena penasaran Candra menunjukkan foto Tini kepadanya.


"Apakah dia yang kau lihat?" tanya Candra


Sarita mengangguk.


Tidak mungkin, bagaimana bisa Tini selalu mengikuti ku.


"Lalu bagaimana dengan kontrak kerja ku Pak?" tanya Sarita saat melihat Candra mulai bengong.


"Oh...maaf aku lupa. Mulai besok kau akan tetap bekerja di sini. Tapi kau tidak akan bekerja sebagai tim marketing lagi. Mulai besok kau akan bekerja menjadi sekretaris ku," jawab Candra


"Alhamdulillah, terimakasih Pak,"


Gadis itu segera pergi meninggalkan ruang kerja Candra. Sementara itu Candra masih termenung mengingat ucapan gadis itu. Meskipun ia sedikit tak percaya, namun tak bisa dipungkiri jika Candra memang masih memikirkan Tini.

__ADS_1


"Jika benar Tini selalu ada di sisiku kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya,"


Candra mengeluarkan sebuh bunga Kantil yang tampak sudah menghitam. Ia meletakkan bunga itu diatas meja kerjanya.


"Jika kau benar-benar ada di sisiku maka berikan tanda kehadiran mu," tukas Candra


Cukup lama ia memperhatikan bunga itu, berharap ada sebuah tanda yang diberikan oleh Tini untuk memberitahukan kedatangannya.


Namun hingga waktu coffee break berakhir, bunga itu tetap diam dan tak bergerak.


Sepulang kerja Candra sengaja mengunjungi kediaman Ki Santa bersama Zain. Ia berencana menikmati akhir pekan dengan menginap di rumah ayah angkatnya tersebut.


Santa menyambut gembira kedatangan dua anak angkatnya.


"Tentu saja kami masih ingat dengan ayah. Terutama Candra yang sangat penasaran dengan yg kabar Tini," jawab Zain


Santa tampak mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Zain.


"Tini??, memangnya orang mati masih bisa mengirimkan kabar?" tanya Santa

__ADS_1


Candra yang malu segera menepis ucapan Zain dan mengatakan itu hanya kelakar Zain saja yang selalu menggodanya.


Santa tersenyum saat mendengar pembelaan dari Candra. Pria tua itu cukup mengerti jika Candra masih belum bisa melupakan Tini.


Ia kemudian masuk kedalam kamarnya dan tak lama kembali dengan membawa sebuah potongan kain putih yang didalamnya berisikan bunga tujuh rupa.


"Ini adalah bunga terakhir yang aku letakan di samping Tini sebelum hari kematiannya. Sebenarnya aku tak ingin membicarakan hal ini kepada kalian, karena aku tak mau kalian akan terus memikirkan Tini, dan tak bisa mengikhlaskan kepergiannya. Terutama kamu Candra,"


"Memangnya kenapa dengan bunga itu?" tanya Candra


"Menurut kepercayaan orang jawa jika kita hendak memanggil Sukma seseorang yang berada di alam gaib maka bunga ini adalah sebagai penghubung mereka. Jika bunga ini jumlahnya tidak berkurang dan masih segar maka itu berarti pemanggilan arwah berhasil. Sebaliknya jika bunga berubah menghitam dan jumlahnya berkurang maka pemanggilan arwah gagal," terang Ki Santa


Candra kemudian membuka bungkusan tersebut, seketika netranya membulat saat melihat tujuh bunga itu masih terlihat segar dan jumlahnya tidak berkurang.


"Seperti yang kau lihat jumlah bunga milik Tini tak berkurang dan bunganya juga masi segar,"


"Apa ini berarti Tini masih hidup?" tanya Candra


"Harusnya seperti itu jika kita berpatokan pada teori diatas. Tapi kenyataannya Tini telah meninggal. Jadi dengan kata lain , teori tak berarti." terang Santa

__ADS_1


"Tapi ada yang bilang jika Tini selalu mengikuti ku,"


"Tidak mungkin, tidak ada orang mati yang bangkit dari kubur. jika memang itu benar berarti yang mengikutimu itu kantini tetapi jin atau iblis yang menyerupai Tini,"


__ADS_2