Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria

Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria
Chapter 10 : Pembuat Onar


__ADS_3

Di Abyssal Spire Ketika Haruki, Lily, dan Sera tiba di lantai


10 dan memasuki area peristirahatan, mereka merasa lega dapat melepaskan lelah


setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Ruangan ini dipenuhi dengan


pengunjung lain yang juga sedang beristirahat, menjual barang jarahan, atau merencanakan


petualangan berikutnya.


Sebagai langkah pertama, mereka memesan kamar


untuk beristirahat sejenak. Meskipun suasana di luar terasa aman, tetap


bijaksana untuk beristirahat di dalam kamar yang aman.


Setelah mengatur kamar mereka, Haruki, Lily,


dan Sera berkumpul di tempat makan yang tersedia di lantai bawah penginapan.


Mereka duduk di salah satu meja dan mulai merencanakan apa yang akan mereka


lakukan selanjutnya.


“Haru, apa yang akan kita lakukan dulu di


sini?” Tanya Lily akan rencana mereka di sini.


“Untuk sementara, kalian pulihkan dulu stamina


kalian. Setelah itu~” Ucap Haruki.


Brak… Terdengar suara kegaduhan dari seberang


mereka.


“Hei, apa yang kalian lakukan di sini, huh?!”


Ucap seorang laki-laki dengan tubuh besar.


“Apa kalian tidak tahu bahwa ini adalah tempat


kami?!” Lanjut teman laki-laki bertubuh besar.


Haruki melirik mereka dengan wajah kesal


karena merasa terganggu. "Apa yang terjadi di sana?"


Lily mengangkat bahunya. "Entahlah,


mungkin perbedaan pendapat. Tapi itu bukan urusan kita."


Karena geram dengan orang itu, Haruki berdiri


dari meja mereka dan mendekati kedua kelompok itu. "Hei, kenapa kalian


harus merusuhkan suasana di sini?"


Para petualang yang berseteru menghentikan


perdebatan mereka dan menoleh pada Haruki. Salah satu dari mereka, pria yang


tampak lebih tua, berkata dengan nada bermusuhan, "Ini bukan urusanmu,


jadi pergilah!"


Haruki tetap tenang. "Aku tahu ini bukan


urusanku, tapi ini adalah tempat orang-orang menikmati makanannya. Apakah


kalian tidak melihat mereka merasa tidak nyaman?" Haruki menunjuk


pengunjung yang sedang duduk, memandang mereka dengan ketakutan yang jelas


tergambar di wajah mereka.


Sebelum Haruki bisa merespons lebih lanjut,


pria itu dengan cepat melangkah maju dan melayangkan pukulan yang kuat ke arah


Haruki.


Dengan mudah, Haruki berhasil menghindari


serangan yang sangat lambat dalam pandangannya. Pukulan pria berbadan besar itu


menghantam dan merusak meja.


“Jadi kau ingin membuat ini menjadi kekerasan


ya?” ucap Haruki dingin.


Pria berbadan besar itu hanya mengejek.


"Jangan menghindar, dasar bocah."


Pria itu kembali memberikan serangan-serangan


membabi buta, tetapi Haruki dengan cekatan menghindari semua serangan tersebut,


seolah-olah ia bisa membaca gerakan pria tersebut dengan mudah.


Dengan gerakan yang cepat, Haruki memberikan


pukulan yang sangat keras tepat ke perut pria itu, membuatnya tumbang seketika,


menghentikan serangan-serangannya.

__ADS_1


“Lemah,” ucap Haruki dengan nada dingin dan


tatapan merendahkan, sebelum melirik anggota kelompok pria itu yang lain.


“La-lari!!!” Teriak para petualang yang


sombong itu dengan ekspresi ketakutan.


Para pembuat onar itu melarikan diri dari


penginapan, meninggalkan para pengunjung yang sebelumnya menatap mereka dengan


takjub. Ruangan itu kembali hening, meskipun sekarang ada meja yang rusak.


Haruki kembali duduk di kursinya. “Merepotkan


sekali, jadi mari lanjutkan pembicaraan kita.”


Tidak lama kemudian, keadaan area makan


menjadi normal kembali. Pegawai penginapan juga membersihkan kekacauan. Lalu,


seorang pelayan datang.


“Mohon maaf, tuan, atas ketidaknyamanannya,


dan terima kasih karena telah mengusir mereka. Sebagai balasannya, Anda tidak


perlu membayar makanan untuk hari ini,” kata pelayan dengan nada ramah.


“Tidak masalah,” kata Haruki sambil menerima


permintaan maaf itu.


Tapi yang tak mereka sadari, di sudut ruangan,


terlihat sosok berjubah hitam yang terus mengawasi mereka.


“Menarik sekali, dia sangatlah kuat,” ucap


sosok itu dengan tersenyum licik.


Disisi lain...


Para petualang pembuat onar itu berlari menuju


sebuah bangunan yang terletak di dalam gang sempit, membuat tempat itu terlihat


lebih tersembunyi.


"Boss!!!" ucap salah satu pembuat


onar sambil bernapas terengah-engah.


Terlihat dua orang sedang berbicara di dalam


tampak berpengalaman dan berwibawa, seakan menjadi pemimpin kelompok ini.


Sementara seorang lagi, mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya,


berdiri di sampingnya dengan sikap yang tenang.


"Ada apa?" tanya sang bos dengan


nada tenang.


Salah satu dari pembuat onar tersebut


menggelengkan kepalanya, masih terengah-engah. "Kami... kami diserang di


penginapan oleh seorang pemuda tadi. Dia sangat kuat, Boss."


Bos tersebut tersenyum sinis. "Kalian


tidak bisa menangani seorang pemuda? Apakah kalian benar-benar begitu


lemah?"


Pembuat onar yang lain mencoba memberikan


penjelasan. "Tidak, Boss, dia... dia seperti monster. Kami tidak bisa


mengenainya sama sekali."


Bos itu berpikir sejenak, lalu menatap sosok


berjubah hitam di sisinya. "Bagaimana menurutmu, Lukas?"


Orang berjubah hitam yang dikenal sebagai


Lukas mengangguk. "Dia mungkin memiliki kekuatan yang cukup untuk menjadi


ancaman, Tuan. Saya akan mengurusnya."


Bos itu tersenyum. "Baiklah, berikan dia


pelajaran."


Lukas hanya mengangguk dan segera meninggalkan


ruangan. Dia tahu bahwa tugasnya adalah menghadapi pemuda kuat yang telah


mengalahkan para pembuat onar itu.


Di sudut pandang Haruki, setelah mereka


selesai membuat strategi, Haruki memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri

__ADS_1


sebentar. Ruangan peristirahatan mulai memadati pengunjung, dan Haruki ingin


merasakan atmosfir tempat ini. Melihat Haruki yang berjalan keluar, orang


berjubah hitam itu juga mengikutinya dari belakang.


Namun, ketika Haruki berjalan-jalan, dia


merasa bahwa ada yang mengikuti dirinya. Dia memperhatikan gerakan bayangan


yang bergerak di antara kerumunan pengunjung. Tanpa menunjukkan tanda-tanda


kecurigaan, Haruki berhenti dan berbalik tiba-tiba.


Namun, yang muncul di depannya bukanlah


seseorang yang sebelumnya ada di penginapan, melainkan Lukas, sosok berjubah


hitam yang telah diperintahkan oleh bos pembuat onar untuk memberikan pelajaran


pada Haruki.


Haruki menatap Lukas dengan ekspresi datar, menyadari


bahwa ini adalah pertemuan yang tidak diinginkannya. "Kau adalah orang


yang mengikuti ku, bukan?"


Lukas tetap tenang. "Benar, aku adalah


Lukas. Dan aku telah diberi tugas untuk menghadapimu."


Haruki mengangkat alisnya. "Jadi, mereka


mengirimmu untuk membungkamku?"


Lukas tersenyum tipis. "Tepat sekali.


Tapi jangan salah, aku bukanlah tukang pukul sembarangan. Aku hanya akan


memberikanmu pelajaran agar tidak lagi mencampuri urusan mereka."


Haruki melangkah maju dengan sikap siap


tempur. "Aku tidak suka ketika orang-orang mencoba mengintimidasi yang


lemah."


“Kau sangat menarik,” ucap Lukas.


Pertempuran pun dimulai. Muncul aura kegelapan


yang mengelilingi Lukas saat dia melancarkan serangan pertamanya, melemparkan


pisau hitam dari tangannya dengan cepat menuju Haruki.


Namun, Haruki adalah seorang yang sangat


terlatih dalam pertempuran. Dia dengan mudah menghindari serangan Lukas dan


merespons dengan serangan balik yang cepat. Kedua mereka saling bertukar


serangan dengan kecepatan yang luar biasa.


Pengunjung yang berada di sekitar mereka hanya


merasakan hempasan angin yang tiba-tiba.


“Angin apa ini?” ucap salah satu pengunjung.


Di tengah pertarungan sengit, Haruki mulai


merasakan bahwa Lukas adalah lawan yang tangguh. Kekuatan dan kecepatannya


sebanding dengan dirinya. Tapi Haruki tidak berniat menyerah begitu saja.


Lukas terlihat sudah kelelahan dan terluka


cukup parah. “Se-sepertinya aku akan kalah di sini,” ucap Lukas dengan memegang


perutnya yang tertembus oleh pukulan Haruki.


Haruki mendekatinya perlahan, ingin segera


membunuhnya. Saat Haruki sudah sangat dekat dengannya, Lukas menyeringai licik.


“Dasar bodoh.” Lukas segera mengaktifkan sebuah batu teleportasi, membuat


lingkaran sihir yang akan membuat Haruki berpindah entah kemana.


“Kita akan mati bersama, bocah,” ucap Lukas


licik, dengan memegang erat Haruki, tidak membiarkannya pergi.


“Sial,” kata Haruki. Dia tidak bisa menghindar


karena hal itu terjadi sangat cepat. Bahkan ketika dia mencoba bereaksi, dia


tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman orang yang merepotkan ini.


Dengan hitungan detik,


mereka menghilang. Namun, sebelum benar-benar menghilang, sosok berjubah hitam


yang ada di penginapan melompat masuk ke dalam lingkaran sihir dan ikut


terteleportasi.

__ADS_1


__ADS_2