
Haruki memindahkan tubuh gadis yang ada di
atas tubuhnya perlahan, berusaha tidak membangunkannya. Setelah berhasil
memindahkannya dia melihat sekitar, dan menyebarkan kesadarannya kesekitar
untuk melihat struktur dari lantai ini.
Langit-langit gua penuh dengan
cabang-cabang seperti sarang semut, menciptakan struktur yang rumit. Di
sana-sini, tetesan air merayap turun dari langit-langit, menambahkan kelembaban
di lingkungan yang sudah gelap.
Haruki membuka matanya dengan hati yang
berdegup kencang. "Struktur ini mirip dengan lantai 38, tapi di mana
Lukas?" Dia memeriksa sekitar, tetapi tak ada tanda Lukas. Hanya dirinya sendiri
dan gadis yang tertidur.
Haruki mulai berjalan melalui labirin cabang-cabang
seperti sarang semut, mencari tanda-tanda keberadaan Lukas. Tak jauh dari sana,
dia mendengar suara gemuruh yang datang dari langit-langit gua.
"Kratak…."
Monster semut muncul dari langit-langit,
bukan satu atau dua, tapi ratusan. Monster-monster ini meluncur ke bawah dengan
gerakan lambat yang menyeramkan. Mereka mulai mendekati Haruki, dan niat mereka
sangat jelas: mereka ingin memakannya hidup-hidup.
Tetapi Haruki tetap tenang. Dengan perasaan
yang mantap, ia mengarahkan tangannya ke arah para monster dan memanggil elemen
api dengan kata ajaibnya, "Ignite." Api membara meluas dengan cepat,
mengelilingi monster-monster itu dan membakar mereka menjadi abu.
Meski monster-monster itu masih mencoba
mendekatinya, api yang berkobar memastikan mereka menjadi abu sebelum bisa
mencapai Haruki. Dia tetap tenang, tanpa ekspresi ketakutan di wajahnya,
meskipun dalam hatinya dia masih bertanya-tanya tentang Lukas yang menghilang misterius.
Haruki terus menjelajahi
cabang-cabang labirin gua ini. Saat dia menjelajah lebih dalam, dia menemukan
potongan tubuh Lukas yang mengerikan. Hanya bagian bawahnya yang tersisa, dan
di sekitarnya ada sebuah pintu, mirip dengan pintu yang akan membawa mereka ke
ruangan boss.
"Apakah ini ruangan bossnya?" gumam Haruki.
Sementara itu, gadis yang telah terbangun dari tidurnya, mulai menyadari bahwa dia berada di tempat yang
sangat asing. Dia menguap lebar, dan tudung jubahnya yang terbuka
memperlihatkan wajahnya yang cantik dan rambut putihnya yang panjang.
"Di mana aku?" Tanyanya pada dirinya sendiri, bingung.
Gadis itu melihat jejak sihir yang baru saja digunakan oleh Haruki, dan dia memutuskan untuk mengikutinya.
Dengan keahliannya dalam skill stealth, dia mampu bergerak tanpa terlihat atau
dirasakan oleh Haruki. Dia melanjutkan untuk mengikuti Haruki melalui
__ADS_1
pertempuran melawan monster semut dan saat Haruki akhirnya tiba di tempat Lukas
yang terpotong, dia masih terus mengawasi dari kegelapan.
Haruki, yang menyadari bahwa dia telah diikuti sejak awal, berhenti dan dengan tegas berkata,
"Bisakah kau tunjukkan dirimu, penguntit." Suaranya tenang, tetapi
penuh dengan ketegasan.
Gadis itu tetap diam, merasa bahwa perkataan Haruki tidak ditujukan padanya. Dia melihat Haruki
mendekat dan akhirnya meraih tangannya, membuatnya kembali terlihat.
"Siapa kamu, dan mengapa kamu terus mengikutiku?" tanya Haruki dengan tegas.
"Aku tidak bermaksud untuk mengikuti," kata gadis itu dengan canggung, memalingkan wajahnya
yang merah padam.
"Siapa kamu?" tanya Haruki dengan tegas.
"Aku... Aku Kira," jawab gadis tersebut, wajahnya semakin merah. Di dalam hatinya, dia
berpikir, 'Tanganku sedang dipegang oleh Haru,' dan perasaannya campur aduk
antara malu dan kebahagiaan.
"Kira ?" tanya Haruki untuk memastikan.
Kira mengangguk dengan wajah yang semakin memerah. Dia merasa gugup tetapi senang karena dia sedang
berada di dekat orang yang membuatnya jatuh cinta.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Haruki dengan nada datar.
Kira gugup ketika menjelaskan tugasnya. "A-aku tadinya disuruh untuk membunuh saintess dan
orang yang membantunya. Ta-tapi, aku sudah tidak ingin melakukan tugas itu lagi,
karena aku berpikir saintess dan orang yang membantunya bukanlah orang jahat."
Dia berusaha menjelaskan bahwa dia tidak memiliki niat jahat walau pada
"Siapa yang menyuruhmu melakukan tugas itu?" tanya Haruki tegas.
"Aku disuruh oleh seorang majikan," jawab Kira, menjelaskan siapa yang menyuruhnya.
"Apa tujuannya?" tanya Haruki dengan penasaran.
Kira menggelengkan kepala. "A-aku tidak tahu, aku hanya diberi tugas untuk membunuh Saintess
dan orang yang membantunya."
"Kenapa kamu berhenti dari tugas itu? Bukankah seorang pembunuh tidak akan melalaikan
tugasnya?" tanya Haruki dengan nada curiga.
Kira ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Hanya alasan pribadi."
Haruki berpikir sejenak. 'Jadi, orang yang merencanakan ini akhirnya menggunakan cara lain dengan
mengirim pembunuh bayaran.'
"Jadi, apakah kamu itu teman atau musuh?" tanya Haruki dengan tegas, sementara mata dan
wajahnya memancarkan ketegasan. Jika Kira menjawab dengan cara yang salah,
Haruki tidak akan ragu untuk menghadapinya.
Kira menjawab dengan cepat, "Aku bukanlah musuh."
"Jika begitu, ikut aku." Haruki menarik lengan Kira dan membawanya masuk ke dalam ruangan
boss, yang bisa menjadi kunci untuk keluar dari lantai ini.
DI lantai 10, pandangan Lily dan Sera.
Lily dan Sera bangun dari tidur mereka di kamar dan saling menyapa. Mereka kemudian mencoba membangunkan
Haruki yang berada di kamar sebelah.
__ADS_1
"Tidak ada respon dari dalam kamar," kata Sera, merasa agak khawatir. Mereka menunggu
beberapa saat, mencoba memberikan waktu pada Haruki.
Namun, ketika mereka tidak mendengar suara apa pun dari kamar Haruki, mereka menjadi semakin cemas.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuka pintu kamar Haruki yang tidak
terkunci.
"Apakah dia sudah bangun?" gumam Lily, mencoba mencari tahu apa yang mungkin sedang terjadi.
"Mungkin dia sedang mempersiapkan sesuatu," kata Sera, mencoba meredakan kekhawatiran Lily.
Mereka berdua tidak ingin bergegas membuat asumsi yang buruk.
Namun, saat mereka berdua berjalan keluar dari kamar Haruki, mereka merasakan guncangan kuat yang
mengguncang seluruh dungeon.
"Apa yang sedang terjadi?" ucap Lily dan Sera bersamaan, keduanya sama-sama bingung dan
khawatir. Mereka memutuskan untuk pergi ke lantai bawah dan bertanya akan apa
yang terjadi.
30 menit sebelum goncangan, dalam sudut pandang Haruki.
Haruki melihat sosok monster semut raksasa yang muncul di hadapannya. Bentuknya begitu menyeramkan,
dengan tubuh yang besar dan dilapisi oleh kerapatan cangkang seperti besi. Mata
monster itu, yang terlihat seolah-olah menyimpan kejahatan tak berujung,
memandang Haruki dengan nafsu untuk memangsanya.
Monster ini memiliki sepasang rahang yang besar dan kuat, yang tampak siap untuk menghancurkan
segalanya yang berani mendekat. Cakar-cakar tajam seperti belati menonjol dari
kaki-kaki monster ini, siap untuk mengoyak apapun yang menjadi mangsanya.
"Coba lawan dia," ucap Haruki dengan nada tegas, seolah-olah dia memberikan perintah
kepada Kira, yang berdiri di sampingnya.
Kira, yang pada awalnya terlihat polos dan terkejut oleh ukuran monster yang mengerikan itu, mencoba
mengungkapkan ketidaksetujuannya. "Kau menyuruh seorang gadis yang sangat
cantik ini untuk melawan monster yang sangat mengerikan itu sendiri, apa
kau-"
Namun, ucapan Kira terhenti saat ia melihat wajah Haruki yang tiba-tiba menunjukkan ekspresi yang
menyeramkan. Wajah Haruki yang biasanya kalem dan tenang sekarang tampak penuh
dengan ketegasan dan rasa berbahaya.
"Aku tidak mau mati, tau..." lanjut Kira dengan nada pasrah, menyadari bahwa dia tidak punya
pilihan lain. Dengan hati-hati dan penuh ketakutan, dia bersiap untuk melawan
monster semut raksasa itu.
Kembali 12 jam sebelumnya, di luar dungeon.
Terlihat seorang gadis dengan rambut pirang, berdiri di depan pintu dungeon dengan sekelompok orang
yang menemaninya.
"Aiko, jangan terburu-buru," kata salah satu anggota kelompok dengan nada khawatir,
sementara anggota kelompok yang lain sedang berdialog dengan yang lain.
Aiko menoleh pada temannya. "Maaf, aku hanya ingin segera menyelesaikan tugas dari sang Dewi
dan kembali ke dunia nyata."
[Ilustrasi Kira Shadowstrike]
__ADS_1