
Lily, Kira, Sera, Aiko, dan anggota yang lain melanjutkan perjalanan mereka di lantai 30 yang penuh dengan pegunungan dan lembah. Mereka berjalan melewati jalan yang cukup terjal, dengan lembah-lembah dalam yang membentang di sebelah mereka, menciptakan pemandangan yang megah dan indah.
Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin tenang suasana di sekitar mereka. Lily merasa ada yang aneh. "Teman-teman, apa kalian tidak merasa aneh?" tanyanya, mencermati lingkungan sekitarnya yang sangat tenang.
Kira mengamati sekitar dengan seksama, merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. "Kau benar, terasa sangat tenang. Sudah 18 menit kita berjalan dari pintu, tapi belum satu pun monster yang datang."
Perasaan khawatir mulai menyelimuti mereka. Di dungeon ini, keheningan seringkali merupakan tanda bahaya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan waspada, siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin menanti di depan.
Mereka menemukan diri mereka berada di area yang agak luas. Berbeda dengan lembah-lembah tadi, di sini mereka tidak perlu khawatir tentang terjatuh dari tebing.
"Fiuh, akhirnya bisa meredakan jantung sebentar," ucap Lily sambil menghela nafas, merasa lega bahwa mereka sekarang berada di area yang lebih aman.
"Kau benar, sekarang kita bisa sedikit lebih santai," tambah Sera, yang akhirnya bisa melepaskan rasa takut akan jatuh dari tebing.
Namun, ketenangan mereka terganggu ketika kondisi area tersebut mulai membaik dari kabut yang menyelimuti. Perlahan, kabut menghilang dan memperlihatkan pemandangan yang mengejutkan - banyak sisa monster.
Aiko tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Apa ini? Siapa yang bisa menghancurkan monster-monster ini?"
Kira mendekati sisa-sisa monster tersebut, memeriksa mereka dengan cermat. Dia melihat banyak inti monster yang tampaknya tidak diambil.
"Apakah ada monster yang lebih kuat yang menyerang mereka?" tanya Lily, merasa khawatir.
"Sepertinya tidak," kata Kira sambil menyilangkan tangannya. "Lihat, ada bekas tebasan." Kira menunjukkan bekas-bekas luka pada sisa-sisa monster.
Lily mengangkat inti monster yang cukup besar. Namun, Kira tiba-tiba menyadari sesuatu yang membuatnya terkejut. Dia memperhatikan inti monster yang dipegang Lily.
‘Itu bukan inti monster biasa, itu inti monster elit! Siapa yang bisa melawan mereka?" batin Kira dalam keheranannya.
Lily melihat Kira dengan bingung. "Hey, apakah kita bisa mengambil inti monster ini?" tanya Lily sambil mengangkatnya.
Sera segera memberikan peringatan, "Mungkin kita sebaiknya tidak mengambilnya. Siapa tahu pemiliknya akan datang kembali untuk mengambilnya."
"Mungkin tidak apa kita mengambilnya," ujar Kira dengan nada percaya diri. "Itu adalah kesalahannya karena meninggalkan sesuatu yang berharga di tengah jalan."
Setelah mendengar persetujuan dari Kira, Aiko juga setuju, dan anggota lainnya yang ada di sana mulai mengumpulkan inti monster yang berharga tersebut dan membawanya bersama mereka.
__ADS_1
"Ayo kita lanjutkan perjalanan!" ucap Lily dengan semangat yang membara.
Mereka melanjutkan perjalanan ke bawah, dan permukaan danau mulai terlihat dengan jelas. Perjalanan mereka terasa aman karena mereka telah membersihkan semua monster dan mengumpulkan inti monster yang berharga. Walaupun sesekali berhenti untuk mengambil inti monster, tas mereka kini penuh dengan hasil jarahan mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan ceria, membahas berbagai hal dari petualangan mereka di lantai 30 hingga rencana masa depan. Beberapa di antara mereka mengenang pertempuran sengit melawan Sandscale Goliath, sementara yang lain membagikan cerita lucu yang terjadi di lantai sebelumnya.
Kira mencoba memecahkan ketegangan dengan tanya, "Ada yang punya tebakan lucu? Seringnya di lantai ini begitu serius, sepertinya kita butuh sedikit humor."
Lily tersenyum, "Baiklah, aku punya satu. Kenapa monster di dungeon ini tidak pernah menangis?"
Semua anggota kelompoknya menatapnya dengan rasa penasaran. "Kenapa?" tanya Aiko.
Kira menjawab, "Karena mereka takut akan air mata mereka mengubah pasir menjadi lumpur!"
Semua orang tertawa mendengar lelucon sederhana itu, membantu meredakan ketegangan setelah pertempuran sengit yang mereka alami.
Sera berbicara tentang rencana mereka setelah menyelesaikan lantai ini. "Ayo, kita akan terus mencari artefak yang Sera cari. Dan jika kita beruntung, mungkin kita bisa bertemu dengannya di lantai berikutnya."
Kira menambahkan, "Kita harus tetap waspada, tidak tahu apa yang akan kita temui di lantai selanjutnya. Tapi satu hal pasti, kita siap menghadapinya bersama."
Saat mereka duduk di tepi danau, Sera berkomentar, "Pemandangan ini sangat luar biasa. Siapa sangka bahwa sebuah dungeon seperti ini bisa memiliki tempat seindah ini?"
Lily setuju, "Benar, terkadang petualangan kita membawa kita ke tempat-tempat yang benar-benar menakjubkan."
Mereka duduk bersama, menikmati keindahan dan ketenangan di lantai 30 ini, sambil merenungkan apa yang mungkin menanti mereka di lantai berikutnya.
Seperti biasa, dungeon ini memberikan kejutan kepada mereka yang terlalu santai. Tiba-tiba, di tengah basa-basi mereka, terdengar dentingan pedang dan ledakan hebat yang membuyarkan keheningan.
"Trang, Duaaarr!" Suara itu membuat mereka langsung terjaga dan tegang.
"Suara apa itu?" tanya Lily dengan wajah waspada, tangan siap memegang pedangnya.
Aiko mengernyitkan kening, mencoba memahami asal suara. "Sepertinya ada yang sedang bertarung di depan sana."
Lily langsung berpikir yang terburuk. "Jangan-jangan itu orang yang mengalahkan monster-monster tadi! Dia tidak boleh mengambil jarahan kita!"
__ADS_1
Kira menenangkan mereka, meski dalam hati dia juga merasa waspada. "Tenang, kita harus melihat siapa dia terlebih dahulu. Ayo, kita cari tahu."
Mereka mengangguk setuju dan merasa tegang. Dengan hati-hati, mereka mengikuti suara pertarungan menuju sumbernya.
Mereka bergerak menuju sumber suara yang tajam, dengan perasaan waspada. Setiap langkah mereka hati-hati, siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin menanti.
Saat mereka mendekati sumber suara, pemandangan yang mereka saksikan membuat mereka kagum. Di tengah area lapangan yang datar, seorang pemuda berambut putih dengan pakaian seperti samurai tampak berdiri dengan
gagah. Dia mengayunkan dua pedang hitamnya dengan gesit, berhadapan dengan makhluk besar yang menyerupai naga batu.
Monster itu adalah 'Stone Wyrm,' makhluk raksasa yang terbuat dari batu. Kulitnya keras dan bersisik, dan matanya bersinar ganas. Dalam pertarungan yang sengit, pemuda berambut putih itu berhasil menghindari serangan monster itu dan menyerangnya dengan cepat.
Pemuda itu adalah Haruki, yang sedang berusaha mengalahkan monster ini untuk mendapatkan artefak yang dicarinya. Ia belum menyadari kehadiran Lily, Kira, Sera, Aiko, dan anggota kelompoknya yang lain.
Mereka semua memandang pertarungan yang berlangsung dengan kagum. Haruki adalah petualang yang sangat berbakat, dan itu terlihat dari caranya mengendalikan pedangnya dengan lihai. Tetapi mereka juga tidak bisa mengabaikan kekuatan dari Stone Wyrm yang sangat mematikan.
"Haruki benar-benar luar biasa," bisik Sera dengan kagum.
Kira mengangguk, "Dia benar-benar kuat. Tapi pertarungan ini terlihat sulit."
Lily menambahkan, "Kita harus memberinya bantuan."
Mereka bertiga sudah siap untuk melompat masuk ke pertempuran, senjata mereka siap sedia. Namun, Kira tiba- tiba menghentikan langkah mereka. "Tunggu, lihat, ada seseorang tak jauh dari sana."
Aiko menunjuk ke arah yang ditunjukkan Kira. Di tengah pertempuran dan badai debu akibat ledakan, mereka melihat seorang gadis yang berdiri dengan anggun dalam pakaian kimono. Yuki, begitulah gadis itu dinamai, tampak tenang di tengah kekacauan, seolah-olah pertempuran hebat ini hanyalah rutinitas biasa baginya.
Tiba-tiba, telinga rubah Yuki bergerak, menyadari kehadiran dan suara Lily, Kira, Aiko, dan teman-temannya. Dengan gerakan yang halus, Yuki menoleh ke arah mereka dan tersenyum licik, matanya yang berkilauan emas menyapu pandang mereka seolah-olah dia tahu persis siapa yang telah datang.
Yuki dengan tenang berbicara lirih, "Kalian adalah tamu-tamu yang sangat tidak diundang dalam pertempuran ini." Suaranya tenang dan halus, namun penuh kepercayaan diri.
Lily, Kira, Sera, Aiko, dan teman-teman mereka melihat Yuki dengan keterkejutan dan kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus diharapkan selanjutnya, tetapi satu hal pasti, sosok ini bukanlah orang baik.
[Ilustrasi Yuki Matsunaga ]
__ADS_1