
Belial, dalam wujud manusianya yang tampan, duduk dengan anggun di singgasananya. Rambut hitam panjangnya terurai di atas bahu dan matanya yang memerah menyala menyoroti kecantikan mengerikan yang dimilikinya. Dia mengenakan pakaian mewah yang melambangkan statusnya sebagai penguasa iblis.
Seorang pelayan mendekatinya, menyampaikan berita yang membuat senyum misterius muncul di bibir Belial. Pelayan itu berlutut dengan hormat, takut akan kemarahan tuannya.
"Tuan Belial, ada berita baik. Lelaki berambut putih yang dikenal sebagai Haruki sudah tidak bersama dengan sang priestess," ucap pelayan itu dengan suara getar.
Senyum Belial semakin lebar, dan matanya yang membara menyala penuh antusiasme. "Bagus, hambatan terbesar sudah tidak ada. Jalankan rencana itu sekarang," perintahnya dengan nada tegas, memerintahkan untuk melanjutkan rencana jahatnya. Kini, tidak ada yang bisa menghalangi ambisi jahatnya untuk menguasai dunia.
Disisi lain
Dwarf menyerahkan artefak yang telah diperbaiki kepada mereka. Haruki dan Yuki melihat dengan hati senang saat artefak tersebut dipulihkan menjadi keadaan yang prima. Artefak tersebut, yang berbentuk tongkat seperti yang biasa digunakan oleh para pendeta, kini bersinar dengan keindahan yang mengagumkan.
Yuki mengambil artefak itu dan mengayunkannya dengan anggun. Sorotan cahaya memantul dari permukaan tongkat, menciptakan aura magis yang mempesona. Yuki terlihat sangat bahagia dan terkesima.
"Wah, cantik sekali," ucap Yuki, sambil menunjuk tongkat itu pada Haruki. Sorotan kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Haruki hanya tersenyum, bahagia melihat Yuki begitu gembira.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Haruki dengan kepala yang sedikit condong.
Yuki berpikir sejenak, merenungkan rencana selanjutnya. "Mungkin kita bisa langsung menyerang Belial. Kau tahu, dia sangat mengganggu Nyonya Hana."
"Baiklah, jika begitu," jawab Haruki. Mereka berdua meninggalkan toko penempaan, Yuki masih tetap menggandeng erat lengan Haruki.
Sementara itu,
“Nona Viametta, mereka berdua kini sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tuan Belial.” Ucap seorang succubi dari balik tirai.
Viametta Lovell, dalam balutan pakaian mewah yang merah muda, tersenyum dengan senang ketika mendengar berita bahwa Haruki dan Yuki sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Belial. Matanya yang memikat berkilat-kilat, dan senyum nakalnya mengisyaratkan ketertarikan dan antisipasi terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kira-kira apa yang akan dilakukan olehnya, ya~" ucap Viametta dengan suara lembut, hampir seperti sedang meramal masa depan. Dia tampak tidak sabar dengan perkembangan yang akan datang.
__ADS_1
Tidak jauh dari Viametta, ada sebuah surat yang sudah terbuka, tampaknya baru saja dia baca. Surat itu adalah undangan untuk sebuah perayaan yang diadakan oleh Belial. Itu menunjukkan bahwa Belial memiliki rencana besar yang akan diungkapkan dalam perayaan tersebut. Viametta mulai merenung, mencoba untuk mengerti apa yang sedang bermain di pikiran iblis tersebut.
Kembali ke sisi Haruki,
Haruki dan Yuki melanjutkan perjalanan mereka, kali ini dengan menumpang sebuah kereta kuda yang disediakan oleh seorang pedagang. Yuki yang nampak lelah, bersandar pada bahu Haruki, mencari kenyamanan di dalam pelukan Haruki.
"Haru~" ucap Yuki dengan nada manja, wajahnya tampak mengantuk.
Haruki tersenyum lembut dan mencoba membuatnya nyaman. "Jangan khawatir, kita akan segera sampai. Kamu bisa tidur sebentar jika kamu mau."
Yuki mengangguk dan menutup mata, bersandar pada bahu Haruki, yang membiarkannya beristirahat. Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan menuju tujuan mereka, dalam kesejukan senja yang tenang.
Tak lama, Haruki juga memejamkan matanya, mungkin dia sangat lelah karena dia sendiri belum istirahat dengan baik sejak bertemu dengan Hana.
Haruki, dalam alam bawah sadarnya, berjalan melalui lanskap yang gelap dan mencekam. Suasana di sini sangat berbeda dari kenyataan, menciptakan atmosfer yang penuh misteri dan ketidakpastian. Dia merasa ada sesuatu yang memanggilnya, menariknya ke dalam kedalaman alam bawah sadarnya.
Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Bayangan Haruki di dalam cermin mulai bergerak secara independen darinya. Matanya menatap dengan tajam, menciptakan rasa ketidaknyamanan yang mendalam. Ada kehadiran aneh yang mengelilingi kolam, sebagai entitas yang berada di dalam alam bawah sadar Haruki.
“Hei,” ucap entitas di dalam kolam dengan senyum yang mengerikan, "Apa tujuanmu?" lanjut entitas itu.
Haruki memandang entitas itu dengan waspada, merasa sensasi yang mencekam mengitari tempat ini. "Aku tidak yakin," jawabnya, "Aku merasa seperti aku sedang bermimpi."
Entitas itu tertawa, suaranya menggema di dalam alam bawah sadar Haruki. "Mimpi, ya? Atau mungkin ini adalah kenyataan yang tersembunyi."
Haruki merasa semakin bingung. "Siapa atau apa kamu?"
Entitas itu hanya tersenyum misterius. "Aku adalah bagian dari dirimu, Haruki. Bagian yang tersembunyi di dalam dirimu sendiri."
Haruki merenung sejenak, mencoba memahami kata-kata entitas itu. "Apa yang kamu inginkan dariku?"
__ADS_1
Entitas itu menjawab, "Aku ingin kamu menyadari potensimu yang sejati, Haruki. Kekuatan yang belum kamu sadari."
Haruki merasa kebingungan semakin dalam. "Apa yang kamu maksud? Aku hanyalah seorang manusia biasa."
Entitas itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Haruki. Kamu adalah lebih dari itu. Kamu memiliki kekuatan di dalam dirimu yang bisa mengubah takdir. Tetapi pertama-tama, kamu harus belajar mengendalikannya."
Haruki mencoba mencerna kata-kata entitas itu. "Bagaimana caranya?"
Entitas itu tersenyum kembali, kali ini dengan lebih ramah. "Semuanya akan terungkap pada waktunya, Haruki. Tetapi ingatlah, kekuatan itu ada di dalam dirimu."
Haruki merasa semakin penasaran dan juga bingung oleh apa yang dia dengar. "Apa ini berarti bahwa aku harus percaya padamu?"
Entitas itu menghilang secara perlahan, suaranya terdengar samar. "Percayalah pada dirimu sendiri, Haruki. Itulah kunci untuk mengendalikan kekuatanmu. Jika kau menyerah, aku akan mengendalikan tubuhmu sepenuhnya, tidak seperti sebelumnya."
Kemudian, kolam tersebut kembali menjadi cermin yang hanya mencerminkan bayangan Haruki.
Haruki tersadar dari perjalanannya dalam alam bawah sadarnya dan mendapati dirinya hampir tiba di wilayah yang dikuasai oleh Belial. Dalam kereta kuda yang mengayuh ke tujuannya, dia juga melihat Yuki yang masih tidur dalam pelukannya.
Dengan lembut, Haruki mencoba membangunkan Yuki. "Yuki, kita hampir sampai. Ayo bangun."
Yuki yang masih dalam tidur mendengus pelan, dan telinga rubahnya bergerak-gerak. Kemudian, dia menggeliat sejenak sebelum akhirnya membuka mata dengan perlahan. Dia tersenyum ketika melihat wajah Haruki. "Haru..." ucapnya, masih agak mengantuk.
Haruki mengelus rambut Yuki dengan lembut. "Kita sudah hampir sampai. Persiapkan dirimu."
Yuki mengangguk dan bersiap. Mereka turun di dalam kota, dan segera terasa atmosfer yang berbeda. Lantai ini jelas sangat berbeda dari yang sebelumnya. Sebagian besar tertutup oleh awan hitam yang sangat tebal, menyebabkan kegelapan yang hampir total. Hanya beberapa cahaya remang-remang yang berasal dari sumber-sumber yang tidak diketahui yang menerangi jalan-jalan dan bangunan-bangunan.
Kondisi kota sangat ramai, seperti akan diadakan sebuah pesta perayaan. Terdapat berbagai macam ras demon yang berkerumun di sini, menciptakan suasana yang penuh kehidupan. Meskipun lantai ini terasa sangat berbeda, keindahan dan kemegahan yang ditampilkan oleh demon-demon ini begitu mengesankan.
Viametta, yang berdiri tak jauh dari mereka, tersenyum dengan senang melihat Haruki dan Yuki tiba. Dia memiliki senyum yang memancarkan daya tarik dan kegirangan. "Akhirnya kalian tiba,"
__ADS_1