
Pagi itu, matahari
mulai terbit di langit Eclipteria saat Haruki dan Lily sibuk mengangkat
barang-barang mereka ke dalam sebuah kereta kuda yang sudah disiapkan sejak
pagi. Lily, yang memiliki pengalaman dalam mengendalikan kereta kuda, mengambil
alih kendali sementara Haruki duduk dengan tenang di bangku belakang.
Haruki memutuskan
untuk memanfaatkan waktu perjalanan ini untuk berlatih lebih dalam. Dengan mata
terpejam, dia memasuki alam bawah sadarnya. Di dalam alam ini, waktu terasa
berjalan berbeda, dan setiap detik terasa seperti berjam-jam, memungkinkan
Haruki untuk benar-benar merasakan dan merenungkan berbagai hal.
Di dunia alam bawah sadarnya terlihat seperti tempat yang sangat luas dengan lantai seperti awan,
membuat Haruki merasa dirinya berada di atas awan.
[Ilustrasi alam bawah sadar Haruki]
Haruki berlatih dengan
membayangkan sesuatu seperti petir, tanah, air, cahaya, dan kegelapan. Dia
membayangkan hal itu berdasarkan pemahaman akan unsur-unsur partikel seperti
H2O dan lain sebagainya, lalu digabungkan dengan pengalaman saat bermain game
VR lain.
Tiba-tiba, notifikasi muncul di benaknya:
[Kekuatan Anda meningkat]
[Pemahaman Anda tentang sihir meningkat, meningkatkan mana Anda]
[Anda mendapat skill baru, “Elemental Mastery”]
[Karena mendapat skill dari usaha sendiri, Anda menerima 20 Skill Point]
“Tidak sia-sia juga ternyata,” ucap Haruki senang dengan hasil yang diperoleh.
Pemahaman Haruki
tentang sihir sudah sangat tinggi, kini dia bisa mengendalikan semua elemen
seperti api, air, tanah, angin, es, petir, cahaya, dan kegelapan.
Haruki merasa senang
karena merasakan peningkatan dalam kekuatannya. Dia terus berlatih, menguasai
skill-skillnya dengan lebih baik dan mendalam. Setiap gerakan yang dia lakukan
di dalam alam bawah sadarnya tampak sangat nyata, dan dia bisa merasakan kekuatannya
bertambah dengan cepat.
Di sisi lain,
Lily terus memacu
kereta kudanya, melintasi hutan yang gelap dan berbahaya. Hutan ini, yang oleh
warga setempat disebut "Hutan Angin Serigala," terkenal sebagai
tempat yang penuh dengan monster berbahaya. Namun, Lily telah memutuskan untuk
melewati hutan ini karena dapat memangkas waktu perjalanan mereka.
Saat matahari sudah
berada di puncak langit dan siang hari berganti sore, kereta kuda mereka masih
terus berjalan di dalam hutan yang lebat. Lily mendengar suara-suara yang
mencurigakan di sekitar mereka. Suara-suara itu semakin mendekat, dan Lily tahu
bahwa ada monster yang mendekati mereka.
"Haruki, kita mungkin punya masalah. Aku mendengar suara-suara aneh di sekitar kita,"
ucap Lily khawatir.
__ADS_1
Haruki masih dengan mata terpejam tidak memberikan respon.
Saat matahari semakin merendah, keheningan terjadi. Haruki masih dalam alam bawah sadarnya, masih
tidak bereaksi.
"Haruki, mereka
ada di dekat kita! Aku tak tahu berapa banyak, tapi mereka datang!" ucap
Lily khawatir.
Monster-monster itu
muncul dari semak-semak, menyergap kereta kuda mereka. Goblin-goblin itu
tampaknya lebih agresif, mungkin karena goncangan dari dungeon besar membuat
perubahan pada monster-monster. Lily melihat Haruki masih dalam mata terpejam
dan tidak memberikan tanda-tanda akan bangun. Lily akhirnya memutuskan untuk
bertarung sendirian.
Lily turun dari kereta
kuda dan bergerak dengan cepat menuju salah satu goblin yang berada di
dekatnya.
“Slash.”
Lily berhasil menebas
goblin itu, tetapi tebasannya kurang dalam sehingga goblin tersebut menjadi
marah dan menyerang Lily. Lily berhasil menghalau serangan, tetapi goblin lain
mulai mengeroyok Lily. Lily terus memberikan serangan dan menahan serangan
goblin.
“Haruuu, ayo bangun,” teriak Lily karena dia mulai kelelahan.
Lily tersudutkan, walaupun jumlah goblin yang kini tidak banyak, tetapi stamina Lily tidak akan
bertahan lama. Salah satu goblin yang membawa busur menembakkan anak panah yang
Di sisi lain,
‘Sudah berapa lama aku
di sini ya,’ batin Haruki karena dia merasa sudah terlalu lama dalam alam bawah
sadarnya.
“Haruuu, ayo bangun.”
Haruki mendengar Lily
yang teriak dengan khawatir. Dia membuka mata perlahan.
Di sisi lain,
Anak panah melesat dengan cepat mengarah pada Haruki. Lily yang melihat ini terlambat memberikan
respons karena dirinya yang juga sudah kelelahan menjadi takut bahwa ini adalah
akhir dari mereka berdua.
Haruki, yang tiba-tiba diberikan tantangan menarik seperti ini, dengan refleks supernya langsung menangkap
anak panah yang hampir saja menembus kepalanya.
“Wah, kalian sepertinya sangat bersenang-senang ya,” ucap Haruki seraya mematahkan anak
panah yang baru saja ditangkapnya.
“Haru, kenapa kamu tidur begitu lama?” ucap Lily khawatir, terlihat dia sedikit berkaca-kaca
karena takut bahwa Haruki mengalami sesuatu.
“Tenang saja, Lily, aku ada di sini sekarang. Bukankah kau sudah melakukan hal yang cukup hebat?”
Haruki melihat banyak mayat goblin terkapar karena Lily yang berjuang sendirian.
“Tapi~” ucap Lily
terpotong oleh suara teriakan goblin yang masih ada di sekitar mereka.
Lily mengangguk, dia terlalu lelah untuk berbicara.
__ADS_1
Haruki menangkis serangan goblin menggunakan tangan kosong, dia mencoba untuk bertarung
menggunakan beladiri dan teknik senjata, karena mungkin akan ada saat dia tidak
akan bisa terus mengandalkan kekuatan sihirnya.
Matahari telah sepenuhnya tenggelam, dan pertarungan pun berakhir. Lily mengumpulkan kembali
energinya, lalu membawa mereka berdua menuju tempat yang agak jauh dari
mayat-mayat goblin agar mereka bisa beristirahat.
Haruki melihat panel statusnya, dia telah naik 3 level setelah melawan para goblin.
"Status," pinta Haruki.
[Haruki Nakamura]
Level: 28
Ras: Manusia
Kelas: -
HP: 3.500/3.500
Serangan: 210
Pertahanan: 150
Kecepatan: 170
Intelegens: 100
Mana: 850/850
Skill Point: 35
Gelar: Penakluk Monster dan 5 lainnya
Skill: Blink, Sihir Es, Sihir Angin, dan 9 lainnya
Lily, yang masih dalam
keadaan letih, tersenyum dan berkata, "Haruki, kamu memang luar biasa.
Tapi, aku harap kita tidak akan menghadapi lagi monster sebanyak ini."
Haruki tersenyum, "Kita harus tetap waspada. Perjalanan kita ke The Abyssal Spire belum
berakhir."
Haruki menyalakan api unggun dan membakar beberapa makanan.
“Kamu benar, mungkin akan ada musuh yang lebih berbahaya, yah walau bukan kata ‘mungkin lagi sih’
tapi memang.” Lily mendengus kesal karena merasa dirinya masihlah sangat lemah.
Haruki yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum sembari membalik makanan yang sedang dipanggang.
“Lily, nama hutan ini Hutan Angin Serigala kan? Tapi kenapa belum ada serigala yang muncul?” Tanya
Haruki penasaran karena dia belum mendegar maupun merasakan keberadaan sosok
serigala ini.
“Karena sekarang sudah mau musim dingin, biasanya serigala melakukan migrasi.” Jelas Lily.
Mereka melanjutkan perjalanan setelah makan malam, kini dengan penuh kewaspadaan, menyadari bahwa
petualangan mereka di hutan ini belum berakhir. Tiba-tiba, mereka mendengar
suara minta tolong yang datang dari arah depan.
“Tolong aku!!!” terdengar teriakan seorang perempuan, membuat Haruki dan
Lily menjadi waspada.
\======================================================
[Ilustrasi Aiko Tanaka]
[Elina Suzuki]
\=====================================================
Author: Jangan lupa like dan berkomentar...
__ADS_1