
Di lantai 40, Haruki dan Yuki melangkah dengan hati-hati, menatap pemandangan kota yang ramai dari ketinggian.
Yuki, dengan suara yang memikat dan manja, mendekati Haruki dari belakang, memeluknya erat. "Haru~" ucapnya, suaranya mengandung sentuhan erotis yang membuat Haruki sedikit tercengang.
Namun, Haruki segera kembali fokus pada tujuan mereka. "Dwarf itu tinggal di sini, bukan?" tanya Haruki.
Yuki mengangguk. "Iya, dia tinggal di sini," jawabnya, sambil tetap memeluk Haruki dengan erat.
"Semoga dia bisa memperbaiki artefaknya," ucap Haruki, sambil mengelus lembut kepala Yuki. Wajah Yuki pun terpancar perasaan bahagia, menikmati momen mereka berdua dalam perjalanan ini.
Yuki membenamkan wajahnya pada tubuh Haruki, menutupi perasaan senangnya dalam pelukan lembutnya.
"Ayo kita berangkat," ucap Haruki, mengajak Yuki untuk melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berdua berjalan menuju kota yang kini mulai terlihat di kejauhan.
Kota ini sangat mirip dengan distrik Kabukicho (bisa search sendiri), tetapi dengan sentuhan alami yang membuatnya terasa cocok dalam dunia fantasi ini. Aroma alkohol menyergap indera penciuman mereka begitu mereka mendekati kota yang semakin ramai.
Yuki mengepalkan tangannya pada lengan Haruki, khawatir bahwa Haruki mungkin akan tergoda oleh pesona para succubi yang berkeliaran di sana. "Haru, kamu jangan tergoda oleh mereka," ucapnya dengan nada khawatir. Kekhawatiran Yuki tentang reaksi Haruki terhadap succubi di kota ini sangat wajar, mengingat daya tarik alam mereka yang kuat.
Mereka berdua terus berjalan, melewati jalan-jalan sempit dan gelap di antara gedung-gedung yang menjulang. Pada akhirnya, mereka tiba di depan sebuah bangunan dengan logo yang menunjukkan itu adalah tempat penempaan artefak. Bangunan itu terlihat tua dan megah, menciptakan aura misterius yang membuat orang-orang merasa ragu untuk mendekatinya.
Mereka berdua memasuki bangunan itu dan disambut dengan bunyi lonceng pada pintu, yang memberi tahu pemilik toko bahwa ada pelanggan yang masuk. Bagian dalam bangunan tampak sangat berbeda dengan fasadnya yang tua. Interior bangunan ini menampilkan dekorasi yang megah dan mewah. Dinding-dindingnya dilapisi dengan kain sutera merah marun, dan lantainya terbuat dari ubin hitam mengkilap yang bersih.
Di sekitar ruangan, terdapat berbagai jenis artefak dan peralatan ajaib yang terpajang di rak-rak kayu mewah. Setiap artefak tampak unik dan penuh misteri. Ada peralatan bercahaya yang menjalani proses penempaan dan perakitan oleh para penempa yang ahli, mengisi ruangan dengan bunyi-bunyi halus dan gemerisik logam yang dikerjakan dengan cermat.
Pemilik toko, seorang dwarf yang berjenggot panjang, sedang berbicara dengan pelanggan lain di balik meja penerimaan. Ia memiliki tatapan tajam dan kehadirannya mencerminkan keahlian dan pengetahuan dalam seni menempa artefak. Suasana dalam toko ini hangat dan penuh semangat, tetapi tetap memancarkan aura kehati-hatian dan ketenangan.
Haruki dan Yuki melanjutkan melangkah menuju meja penerimaan, menunggu giliran mereka untuk berbicara dengan pemilik toko. Itulah tempat mereka akan mencari bantuan untuk memperbaiki artefak berharga yang mereka bawa.
“Permisi, kami ingin memperbaiki artefak ini.” Haruki meletakkan artefak yang didapatkannya dari leviathan, artefak ini rusak karena sempat terkena serangan Haruki yang kuat sebelumnya.
Pemilik toko, dwarf berjenggot panjang itu, mengangkat kepala saat mereka berdua mendekati meja penerimaan. Dia mengamati artefak yang ditempatkan Haruki di atas meja dengan raut wajah yang serius. Matanya yang tajam menyelidiki artefak itu, mengidentifikasi kerusakan yang terjadi.
Dengan suara seraknya yang penuh pengalaman, dwarf tersebut menjawab, "Ah, sebuah artefak yang cukup unik. Terlihat seperti Anda telah menggunakannya dengan sungguh-sungguh. Apa yang terjadi padanya?"
Haruki menjelaskan, "Aku hanya mengambil artefak yang menancap pada kepala Leviathan. Saat aku mencoba mengambilnya, terjadi kecelakaan yang membuatnya tidak bisa digunakan. Kami butuh bantuan untuk memperbaikinya."
Dwarf itu terus memeriksa artefak dengan teliti, menjalankan jari berjenggotnya di sepanjang goresan dan kerusakan yang terlihat pada permukaan artefak. Setelah beberapa saat, dia menatap kembali Haruki dan Yuki.
"Mengesankan," kata dwarf itu, "Artefak ini memiliki tingkat kerusakan yang cukup tinggi. Namun, saya mungkin bisa memperbaikinya. Harganya tidak murah, tentu saja. Tapi mengenai bahannya-“
"Ada masalah apa dengan bahan-bahan itu?" tanya Yuki dengan khawatir.
__ADS_1
Dwarf itu menjawab dengan suara seraknya, "Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memperbaiki artefak ini adalah bahan langka. Mereka muncul di beberapa tempat di wilayah yang dikuasai oleh succubi. Ini adalah bahan yang sangat sulit didapatkan, dan masalahnya adalah bahan-bahan tersebut baru saja dibeli oleh seorang succubi yang datang ke toko ini beberapa bulan lalu. Dia adalah seorang pedagang yang sangat sulit dihadapi, dan dia membeli semua stok kami."
Yuki bertanya, "Apakah ada cara untuk mendapatkan bahan-bahan ini sekarang? Kami benar-benar membutuhkannya."
Dwarf itu menggelengkan kepala. "Sayangnya, bahan-bahan ini hanya muncul beberapa bulan sekali, dan kita tidak bisa memaksanya untuk muncul lebih cepat. Succubi yang membeli bahan-bahan itu, dia adalah salah satu dari mereka yang menguasai wilayah tersebut, dan dia tidak akan melepaskan bahan-bahan itu dengan mudah."
Haruki merenung sejenak, mencoba untuk mencari solusi. "Ada cara lain untuk mendapatkan bahan-bahan itu? Atau mungkinkah kami bisa berbicara dengan succubi yang bersangkutan?"
Dwarf itu tertawa kecil. "Menghadapi succubi yang bersangkutan adalah tugas yang sulit, bahkan untuk manusia yang berani. Mereka sangat sulit diajak bekerjasama. Namun, saya memiliki ide. Anda mungkin bisa mencoba berbicara dengan teman kami, Viametta. Dia adalah seorang succubus yang biasanya membantu para pelanggan yang memiliki masalah dengan sesama succubi, dan mungkin saja dia juga punya beberapa."
Haruki dan Yuki merasa harapan kembali menyala. "Di mana kami bisa menemukan Viametta?" tanya Yuki.
Dwarf itu memberi mereka alamat lokasi tempat tinggal Viametta, dan mereka berterima kasih padanya sebelum meninggalkan toko penempa.
Haruki dan Yuki tiba disebuah bangunan yang terlihat seperti rumah bordil mereka berdua terdiam beberapa saat, tapi Haruki memutuskan untuk masuk tanpa pikir panjang
Melihat hal ini Yuki menahan lengan Haruki “Tu-tunggu, kamu mau masuk begitu saja ke bangunan ini?!” Ucap Yuki gelagapan, wajahnya menjadi merah seperti tomat.
Haruki memandang Yuki dengan bingung ketika Yuki menahan lengannya dengan wajah yang merona merah. Tampaknya Yuki terkejut dengan tindakan Haruki yang langsung memasuki bangunan ini.
"Memangnya kenapa?" tanya Haruki dengan nada penasaran. "Kita harus bertemu dengan Viametta, bukan?"
Haruki mencoba meyakinkan Yuki dengan suaranya yang lembut. "Tidak akan terjadi hal aneh, tenang saja."
Meskipun masih merasa khawatir, Yuki merangkul erat lengan Haruki, mencari kenyamanan dalam kehadirannya. Akhirnya, mereka berdua masuk ke dalam bangunan tersebut, siap untuk bertemu dengan Viametta.
Di dalam, mereka melihat banyak jenis ras yang berbeda-beda. Namun, yang paling dominan adalah para succubus. Terlihat bahwa succubus adalah ras yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan para ras lain. Suasana di dalam bangunan ini terasa unik, di antara mosaik budaya dan interaksi antarras yang beragam. Haruki dan Yuki harus tetap berhati-hati dan berusaha mencari Viametta di tengah keramaian yang begitu beragam ini.
Haruki merasa sedikit terganggu ketika seorang succubi mendekatinya dan mencoba menggoda. Meskipun wanita itu cantik, Haruki tetap setia pada Yuki. Ia menjawab dengan sopan, "Maaf, tapi saya sedang mencari seseorang."
Yuki, yang merasa khawatir, merapatkan diri lebih erat ke Haruki, menunjukkan bahwa dia tidak senang dengan tawaran succubi tersebut.
“Yah, sayang sekali jika begitu.” Ucap succubi itu sebelum pada akhirnya pergi mencari mangsa lain.
Haruki dan Yuki terus mencari di antara kerumunan succubi yang ramai, mencari tanda-tanda karakter dengan ciri-ciri yang mereka butuhkan. Setelah beberapa saat, mata Haruki akhirnya menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti.
"Dia ada di lantai dua," ucap Haruki kepada Yuki, menunjuk ke arah seseorang yang memenuhi deskripsi karakter yang mereka cari. Mereka menuju lantai dua dengan hati-hati, tetap berusaha untuk tidak terlalu terganggu oleh godaan di sekitar mereka.
“Permisi, apakah kau Viametta Lovell?” Tanya Haruki pada seorang succubi dengan rambut merah muda dengan pakaian erotisnya.
Succubi itu, yang dikenal sebagai Viametta Lovell, menoleh saat mendengar suara Haruki yang tegas. Dia memiliki rambut merah muda yang mempesona dan tatapan mata yang memikat.
__ADS_1
"Ya, aku Viametta Lovell. Ada yang bisa aku bantu?" jawabnya dengan suara yang lembut dan sedikit menggoda.
Haruki menjawab dengan sopan, "Kami butuh bantuanmu. Kami memiliki artefak yang perlu diperbaiki, dan kami diberitahu bahwa kau mungkin memiliki bahan yang diperlukan."
Viametta tersenyum dengan manis. "Tentu saja, aku bisa membantu. Tapi bahan untuk memperbaiki artefak itu sulit didapat. Mereka hanya muncul beberapa bulan sekali, dan aku baru saja menjualnya kepada seorang pelanggan."
Haruki mengangguk serius. "Kami akan membayar apa pun yang Anda minta. Artefak ini sangat penting bagi kami."
Viametta melihat dengan penuh minat ke arah Haruki, memberinya tatapan yang sangat merangsang. "Oh, saya yakin Anda akan membayar harganya." Dia bergerak sedikit lebih dekat ke Haruki, menyentuhnya dengan lembut. "Tapi pembayaran kami tidak selalu harus dalam bentuk uang, kan?"
“Apa yang kau inginkan!” Ucap Yuki merasa pembicaraan ini mengarah menuju hal yang tidak baik.
Viametta menggoda sambil tersenyum, menatap Yuki dengan tatapan nakal. "Oh, rubah kecil, bukannya kau tidak berbeda jauh dengan diriku~"
Yuki, meskipun cemburu dan marah, mencoba untuk menjaga sikapnya. " A-apa maksudmu! Haru adalah milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun merayunya!"
Viametta tertawa sekali lagi, menggoda Yuki. "Kamu cukup berani, ya? Aku suka itu." Dia kemudian berpaling ke Haruki. "Namun, kesenangan tidak datang secara gratis, sayang. Kami bisa memberikan bahan itu, tetapi~" Viametta tersenyum penuh gairah “Akan ku berikan gratis jika kau meminjamkan Haru-mu itu padaku~” Ucap viametta mendekatkan wajahnya pada Haruki dan menatap Yuki
Yuki merasa marah mendengar tawaran Viametta. Hatinya dipenuhi kecemburuan, tetapi dia tidak ingin menunjukkannya di depan Viametta. Dengan suara yang dingin, dia menjawab, "Tidak perlu. Kami hanya membutuhkan bahan tersebut untuk memperbaiki artefak kami. Kami tidak tertarik pada tawaranmu."
Viametta tersenyum dengan santai. "Ah, sayang sekali. Kau melewatkan kesempatan yang sangat menyenangkan." Dia lalu memberikan bahan yang mereka butuhkan. "Terserah padamu. Tapi ingat, tawaran ini tidak akan berlaku lagi di masa depan."
Haruki dan Yuki mengambil bahan tersebut dengan cepat, merasa lega bahwa mereka akan segera meninggalkan tempat ini.
Viametta hanya tersenyum dan melambaikan tangan saat mereka pergi. "Sampai jumpa lain waktu, sayang-sayangku~" Ucap Viametta dengan nada merayu sebelum membiarkan mereka pergi.
Setelah Haruki dan Yuki keluar, Viametta pergi menuju ruangannya. Disana terlihat seorang succubi yang terlihat seperti pelayan pribadinya.
“Cepat ikuti pria tadi, jangan sampai kehilangan jejaknya.” Perintah Viametta pada pelayannya itu.
Pelayan succubi itu dengan cekatan mengangguk dan segera pergi mengikuti jejak Haruki dan Yuki, berencana untuk mengintai mereka tanpa sepengetahuan mereka.
Sementara itu, Viametta Lovell, dikelilingi oleh kemewahan kamar pribadinya, merasakan sensasi dari pertemuan sebentar tadi mengalir dalam dirinya. Dia mendesah dengan kenikmatan, memikirkan Haruki dan sepenuhnya terbuai oleh fantasi yang menghantui pikirannya. Dalam keadaan seperti itu, dia tenggelam dalam dunianya yang penuh dengan keinginan dan kepuasan pribadi.
[Ilustrasi Viametta Lovell]
*Untuk Ilustrasi lainnya kalian bisa kunjungi :
IG : @rzawsm_
__ADS_1