Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria

Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria
Chapter 7 : Perjalanan Menuju The Abyssal Spire (2)


__ADS_3

Tiba di sumber suara , Lily dan Haruki melihat pemandangan yang


mengejutkan. Seorang Saintess sedang dikejar oleh sekelompok orang yang


tampaknya merupakan kesatria. Saintess itu, terlihat terdesak dan kelelahan.


Lily dan


Haruki merasakan bahwa mereka harus segera bertindak. Dengan sigap, Lily


memimpin kereta kuda mereka mendekati situasi tersebut sambil berteriak,


"Hentikan semua ini!" Suaranya, penuh dengan otoritas, membuat para


kesatria terkejut, dan mereka memutuskan untuk memperlambat langkah mereka.


Haruki


melompat dari kereta kuda dan berdiri di antara Saintess dan para kesatria yang


mengejar. Dengan tenang, dia berkata, "Apa yang terjadi di sini?"


Orang-orang yang mengejar Elina tampak terkejut melihat


kedatangan Haruki yang tiba-tiba. Salah satu dari mereka, yang tampak sebagai


pemimpin kelompok, berbicara dengan sinis. "Ini bukan urusanmu, jadi


pergilah, anak muda. Kami hanya mengejar seorang penjahat."


Elina, yang masih terengah-engah, mencoba menjelaskan, "Mereka


salah paham, saya bukan penjahat. Saya seorang Saintess yang pergi untuk


mengambil tugas dari Kuil Suci."


Haruki


menatap Elina sejenak, lalu menoleh kembali ke orang-orang yang mengejarnya.


"Apakah kalian memiliki bukti bahwa dia benar-benar seorang penjahat?"


Pemimpin


kelompok itu terlihat ragu, dan melihat bahwa Haruki tidak berniat mundur, dia


mulai merasa cemas. Namun, salah satu dari anak buahnya berusaha keras untuk


memprovokasi situasi dengan berteriak, "Kami tidak butuh bukti! Dia pasti


bersalah!"


Lily


melihat situasinya semakin memanas, dan dia siap untuk bertindak jika


diperlukan. Sementara itu, Elina tetap berdiri di tempatnya dengan tatapan


cemas.


“Kalian tau aku tidak ingin membuat kerusuhan dimalam yang indah


seperti ini~” Udara di sekitar tangan Haruki berubah menjadi seperti partikel


partikel logam menciptakan sebuah belati yang cukup tajam.


“Sepertinya harus ada sedikit kekerasan disini.” Lanjut Haruki


dengan nada mengancam.


Merasa terancam para kesatria itu mengeluarkan pedang mereka


dari sarungnya dan bersiap untuk menyerang.


“Kau menantang kami dengan belati kecil seperti itu bocah, sepertinya


kamu sudah siap untuk pergi dari dunia ini.” Ucap pemimpin kelompok sebelum


akhirnya melesat cepat ke arah Haruki.


“Bersiaplah mati bocah!”


Pemimpin itu melayangkan serangannya ke arah Haruki. Haruki


masih dalam posisinya melihat pergerakan musuh yang terlihat lambat,


menyeringai.


Trang...


Senjata mereka beradu menciptakan percikan api, Haruki menahan


serangannya dengan santai. Sedangkan ekspresi pemimpin itu terlihat sangat


berusaha keras.


“Lumayan juga kau bocah!” Teriak pemimpin itu sebelum


melancarkan serangannya yang sangat cepat. Masih dengan wajah datar Haruki

__ADS_1


menahan semua serangannya dengan mudah, hanya tangannya saja yang bergerak


sedangakan dia masih berdiri diposisi yang sama.


Trang...


Trang...


Pertarungan itu berlangsung sangat cepat, hingga membuat


hempasan angin, dan membuat tanah hancur yang mana membuat sedikit tabir asap


yang menutupi mereka.


Trang...


Pemimpin itu menghentikan serangannya, karena kelelahan. “hosh..


hosh..” Perlahan tabir asap itu menghilang, Haruki masih berdiri di posisi yang


sama tanpa bergeming sedikitpun.


“Apa kau sudah selesai pak tua?” Tanya Haruki yang merasa bosan


karena dia mengira akan menjadi pertarungan hebat, tapi sepertinya dia


berekspetasi terlalu jauh.


Haruki bergerak sangat cepat dan kini telah berada di depan


pemimpin itu. Pemimpin itu terkejut dan terlambat bertahan.


Zrass..


Serangan Haruki berhasil memotong salah satu tangannya.


“Aargghh.. dasar brengsek kau bocah.” Umpat Pemimpin itu dengan


memegang tangannya yang terpotong, merintih kesakitan.


“Bukankah kau ingin membunuhku pak tua?” Tanpa basa basi Haruki


langsung menebas leher pemimpin itu menggunakan belatinya.


Kepala pemimpin itu menggelinding ke arah para kesatria yang


lain, hal itu membuat para kesatria takut karena pemimpin mereka di kalahkan


semudah itu oleh seorang bocah. Para kesatria berlarian menjauh karena mereka


melihat musuh yang akan dengan mudah membunuh mereka.


megarahkan tangan kearah para kesatria yang sedang lari.


“Hell Fire.” Sebuah serangan api hitam yang sangat panas keluar


dan langsung menyambar kearah para kesatria  yang sedang berusaha kabur. Para kesatria itu


hangus tanpa meninggalkan setitik abu.


“Haruki...” Panggil Lily karena merasa khawatir, karena


sebelumnya Haruki belum pernah bertindak sekejam ini pada musuhnya.


Haruki menoleh, cahaya bulan yang tadinya tertutup awan kini


dapat memancarkan cahayanya lagi, menampakan mata Haruki yang merah terlihat


bersinar, sejenak terlihat sangat indah seperti bulan merah tapi semakin lama


memandangnya akan membuat orang yang menatapnya lama seolah akan tenggelam


dalam mimpi buruk.


Haruki yang melihat Lily dengan wajah cemas dan takut, akhirnya


tersadar.


“Maaf kan aku, telah memperlihatkan tontonan yang seperti  itu.” Ucap Haruki dengan nada yang lebih


bersahabat, mengurangi tekanan yang ada disekitarnya.


Haruki merasa bersalah, dan kini pikirannya kosong. Entah kenapa


hal tadi membuat dirinya mengingat sesuatu yang akhirnya memicu amarahnya.


Lily yang melihat itu mencoba untuk mencairkan suasana.


“Sudahlah, semua sudah berakhir bukan.” Lily menepuk bahu


Haruki, membuatnya kini kembali berpikir jernih. Sebelum akhirnya mendekat pada


sang saintess.


“Um... Boleh aku tanya kamu siapa dan kenapa kamu dikejar oleh


mereka?” Tanya Lily pada saintess.


Saintess, yang masih dalam keadaan cemas, menjawab pertanyaan

__ADS_1


Lily, "Saya datang ke sini untuk mengambil tugas penting dari Kuil Suci.


Tugas ini melibatkan pengambilan artefak suci yang sangat berharga. Namun,


ketika saya tiba di kota, saya segera dikejar oleh kelompok ini, dan aku


berlari menuju hutan ini."


Lily dan


Haruki bertukar pandang, lalu Haruki menyapa Elina dengan senyum hangat,


"Saya Haruki, dan ini teman saya, Lily. Kami sebenarnya juga sedang menuju


ke Abyssal Spire, sebuah dungeon besar di daerah ini. Namun, jika artefak itu terkait


dengan misi kamu, kita bisa bekerja sama."


Saintess,


yang merasa bersyukur atas pertolongan mereka, tersenyum, "Saya Seraphina


Whitecloud. Kalian benar, artefak itu berada di dalam Abyssal Spire, dan saya


hampir saja berhasil mengambilnya. Namun, ada pengkhianatan dalam Kuil Suci,


dan seseorang mencoba menghentikan saya. Saya tidak tahu siapa yang bisa


dipercaya lagi."


Haruki


mendengarkan dengan serius. "Kami akan membantu kamu mendapatkan artefak


itu dan mengungkap siapa yang berusaha menghalangi kamu. Tetapi kita harus


berhati-hati dan waspada. Abyssal Spire bukan tempat yang aman."


Sementara


itu, Haruki mulai memeriksa mayat pemimpin kelompok yang telah dia kalahkan.


Dia menemukan sebuah bungkusan yang tampaknya berisi dokumen dan surat perintah


untuk menangkap Seraphina. Setelah membaca dengan seksama, Haruki menunjukkan


surat tersebut kepada Lily dan Seraphina.


"Sepertinya


mereka diberi perintah untuk menangkapmu," ucap Haruki. "Namun, ini


aneh. Surat ini tidak memiliki tandatangan atau cap resmi dari Kuil Suci. Ini


bisa saja palsu."


Seraphina


terlihat semakin khawatir. "Saya tidak mengerti mengapa seseorang ingin


menghalangi saya dalam tugas suci ini. Artefak yang harus saya ambil sangat


penting untuk keamanan Eclipteria."


Haruki dan


Lily bertukar pandang. Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang janggal dalam


situasi ini dan mereka ingin mencari tahu lebih lanjut.


"Seraphina,


kami akan membantumu menyelesaikan tugasmu," ucap Haruki dengan tegas.


"Tetapi pertama-tama, kita harus mengetahui siapa yang berusaha


menghalang-halangi kamu. Kami harus mencari tahu mengapa artefak itu sangat


penting”


‘Dan


semoga saja ini bukanlah dari pihak kuil yang ingin membuang mu.’Batin Haruki saat


selesai membaca keseluruhan surat. Dan membakarnya habis, tanpa meninggalkan


abu sama sekali.


Seraphina


mengangguk, merasa lega bahwa dia tidak sendirian dalam misinya. Ketiganya


kemudian memutuskan untuk beristirahat karena sudah semakin larut dan tidak lah


aman ditengah hutan seperti ini.


END OF CHAPTER


[Ilustrasi Seraphina Whitecloud]

__ADS_1



__ADS_2