
Tiba di sumber suara , Lily dan Haruki melihat pemandangan yang
mengejutkan. Seorang Saintess sedang dikejar oleh sekelompok orang yang
tampaknya merupakan kesatria. Saintess itu, terlihat terdesak dan kelelahan.
Lily dan
Haruki merasakan bahwa mereka harus segera bertindak. Dengan sigap, Lily
memimpin kereta kuda mereka mendekati situasi tersebut sambil berteriak,
"Hentikan semua ini!" Suaranya, penuh dengan otoritas, membuat para
kesatria terkejut, dan mereka memutuskan untuk memperlambat langkah mereka.
Haruki
melompat dari kereta kuda dan berdiri di antara Saintess dan para kesatria yang
mengejar. Dengan tenang, dia berkata, "Apa yang terjadi di sini?"
Orang-orang yang mengejar Elina tampak terkejut melihat
kedatangan Haruki yang tiba-tiba. Salah satu dari mereka, yang tampak sebagai
pemimpin kelompok, berbicara dengan sinis. "Ini bukan urusanmu, jadi
pergilah, anak muda. Kami hanya mengejar seorang penjahat."
Elina, yang masih terengah-engah, mencoba menjelaskan, "Mereka
salah paham, saya bukan penjahat. Saya seorang Saintess yang pergi untuk
mengambil tugas dari Kuil Suci."
Haruki
menatap Elina sejenak, lalu menoleh kembali ke orang-orang yang mengejarnya.
"Apakah kalian memiliki bukti bahwa dia benar-benar seorang penjahat?"
Pemimpin
kelompok itu terlihat ragu, dan melihat bahwa Haruki tidak berniat mundur, dia
mulai merasa cemas. Namun, salah satu dari anak buahnya berusaha keras untuk
memprovokasi situasi dengan berteriak, "Kami tidak butuh bukti! Dia pasti
bersalah!"
Lily
melihat situasinya semakin memanas, dan dia siap untuk bertindak jika
diperlukan. Sementara itu, Elina tetap berdiri di tempatnya dengan tatapan
cemas.
“Kalian tau aku tidak ingin membuat kerusuhan dimalam yang indah
seperti ini~” Udara di sekitar tangan Haruki berubah menjadi seperti partikel
partikel logam menciptakan sebuah belati yang cukup tajam.
“Sepertinya harus ada sedikit kekerasan disini.” Lanjut Haruki
dengan nada mengancam.
Merasa terancam para kesatria itu mengeluarkan pedang mereka
dari sarungnya dan bersiap untuk menyerang.
“Kau menantang kami dengan belati kecil seperti itu bocah, sepertinya
kamu sudah siap untuk pergi dari dunia ini.” Ucap pemimpin kelompok sebelum
akhirnya melesat cepat ke arah Haruki.
“Bersiaplah mati bocah!”
Pemimpin itu melayangkan serangannya ke arah Haruki. Haruki
masih dalam posisinya melihat pergerakan musuh yang terlihat lambat,
menyeringai.
Trang...
Senjata mereka beradu menciptakan percikan api, Haruki menahan
serangannya dengan santai. Sedangkan ekspresi pemimpin itu terlihat sangat
berusaha keras.
“Lumayan juga kau bocah!” Teriak pemimpin itu sebelum
melancarkan serangannya yang sangat cepat. Masih dengan wajah datar Haruki
__ADS_1
menahan semua serangannya dengan mudah, hanya tangannya saja yang bergerak
sedangakan dia masih berdiri diposisi yang sama.
Trang...
Trang...
Pertarungan itu berlangsung sangat cepat, hingga membuat
hempasan angin, dan membuat tanah hancur yang mana membuat sedikit tabir asap
yang menutupi mereka.
Trang...
Pemimpin itu menghentikan serangannya, karena kelelahan. “hosh..
hosh..” Perlahan tabir asap itu menghilang, Haruki masih berdiri di posisi yang
sama tanpa bergeming sedikitpun.
“Apa kau sudah selesai pak tua?” Tanya Haruki yang merasa bosan
karena dia mengira akan menjadi pertarungan hebat, tapi sepertinya dia
berekspetasi terlalu jauh.
Haruki bergerak sangat cepat dan kini telah berada di depan
pemimpin itu. Pemimpin itu terkejut dan terlambat bertahan.
Zrass..
Serangan Haruki berhasil memotong salah satu tangannya.
“Aargghh.. dasar brengsek kau bocah.” Umpat Pemimpin itu dengan
memegang tangannya yang terpotong, merintih kesakitan.
“Bukankah kau ingin membunuhku pak tua?” Tanpa basa basi Haruki
langsung menebas leher pemimpin itu menggunakan belatinya.
Kepala pemimpin itu menggelinding ke arah para kesatria yang
lain, hal itu membuat para kesatria takut karena pemimpin mereka di kalahkan
semudah itu oleh seorang bocah. Para kesatria berlarian menjauh karena mereka
melihat musuh yang akan dengan mudah membunuh mereka.
megarahkan tangan kearah para kesatria yang sedang lari.
“Hell Fire.” Sebuah serangan api hitam yang sangat panas keluar
dan langsung menyambar kearah para kesatria yang sedang berusaha kabur. Para kesatria itu
hangus tanpa meninggalkan setitik abu.
“Haruki...” Panggil Lily karena merasa khawatir, karena
sebelumnya Haruki belum pernah bertindak sekejam ini pada musuhnya.
Haruki menoleh, cahaya bulan yang tadinya tertutup awan kini
dapat memancarkan cahayanya lagi, menampakan mata Haruki yang merah terlihat
bersinar, sejenak terlihat sangat indah seperti bulan merah tapi semakin lama
memandangnya akan membuat orang yang menatapnya lama seolah akan tenggelam
dalam mimpi buruk.
Haruki yang melihat Lily dengan wajah cemas dan takut, akhirnya
tersadar.
“Maaf kan aku, telah memperlihatkan tontonan yang seperti itu.” Ucap Haruki dengan nada yang lebih
bersahabat, mengurangi tekanan yang ada disekitarnya.
Haruki merasa bersalah, dan kini pikirannya kosong. Entah kenapa
hal tadi membuat dirinya mengingat sesuatu yang akhirnya memicu amarahnya.
Lily yang melihat itu mencoba untuk mencairkan suasana.
“Sudahlah, semua sudah berakhir bukan.” Lily menepuk bahu
Haruki, membuatnya kini kembali berpikir jernih. Sebelum akhirnya mendekat pada
sang saintess.
“Um... Boleh aku tanya kamu siapa dan kenapa kamu dikejar oleh
mereka?” Tanya Lily pada saintess.
Saintess, yang masih dalam keadaan cemas, menjawab pertanyaan
__ADS_1
Lily, "Saya datang ke sini untuk mengambil tugas penting dari Kuil Suci.
Tugas ini melibatkan pengambilan artefak suci yang sangat berharga. Namun,
ketika saya tiba di kota, saya segera dikejar oleh kelompok ini, dan aku
berlari menuju hutan ini."
Lily dan
Haruki bertukar pandang, lalu Haruki menyapa Elina dengan senyum hangat,
"Saya Haruki, dan ini teman saya, Lily. Kami sebenarnya juga sedang menuju
ke Abyssal Spire, sebuah dungeon besar di daerah ini. Namun, jika artefak itu terkait
dengan misi kamu, kita bisa bekerja sama."
Saintess,
yang merasa bersyukur atas pertolongan mereka, tersenyum, "Saya Seraphina
Whitecloud. Kalian benar, artefak itu berada di dalam Abyssal Spire, dan saya
hampir saja berhasil mengambilnya. Namun, ada pengkhianatan dalam Kuil Suci,
dan seseorang mencoba menghentikan saya. Saya tidak tahu siapa yang bisa
dipercaya lagi."
Haruki
mendengarkan dengan serius. "Kami akan membantu kamu mendapatkan artefak
itu dan mengungkap siapa yang berusaha menghalangi kamu. Tetapi kita harus
berhati-hati dan waspada. Abyssal Spire bukan tempat yang aman."
Sementara
itu, Haruki mulai memeriksa mayat pemimpin kelompok yang telah dia kalahkan.
Dia menemukan sebuah bungkusan yang tampaknya berisi dokumen dan surat perintah
untuk menangkap Seraphina. Setelah membaca dengan seksama, Haruki menunjukkan
surat tersebut kepada Lily dan Seraphina.
"Sepertinya
mereka diberi perintah untuk menangkapmu," ucap Haruki. "Namun, ini
aneh. Surat ini tidak memiliki tandatangan atau cap resmi dari Kuil Suci. Ini
bisa saja palsu."
Seraphina
terlihat semakin khawatir. "Saya tidak mengerti mengapa seseorang ingin
menghalangi saya dalam tugas suci ini. Artefak yang harus saya ambil sangat
penting untuk keamanan Eclipteria."
Haruki dan
Lily bertukar pandang. Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang janggal dalam
situasi ini dan mereka ingin mencari tahu lebih lanjut.
"Seraphina,
kami akan membantumu menyelesaikan tugasmu," ucap Haruki dengan tegas.
"Tetapi pertama-tama, kita harus mengetahui siapa yang berusaha
menghalang-halangi kamu. Kami harus mencari tahu mengapa artefak itu sangat
penting”
‘Dan
semoga saja ini bukanlah dari pihak kuil yang ingin membuang mu.’Batin Haruki saat
selesai membaca keseluruhan surat. Dan membakarnya habis, tanpa meninggalkan
abu sama sekali.
Seraphina
mengangguk, merasa lega bahwa dia tidak sendirian dalam misinya. Ketiganya
kemudian memutuskan untuk beristirahat karena sudah semakin larut dan tidak lah
aman ditengah hutan seperti ini.
END OF CHAPTER
[Ilustrasi Seraphina Whitecloud]
__ADS_1