Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria

Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria
Chapter 25 : Malam Kegelapan dan Kebencian II


__ADS_3

Di tengah kekacauan dan suhu panas yang tercipta oleh eruption Belial, pertempuran antara Carres dan Belial terus berlanjut. Carres, Sera, dan Aiko telah berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapi Belial yang sudah terpojokkan.


Belial tersenyum sinis saat Carres tiba, merasa yakin bahwa dia telah menjebak lawannya. "Kau masuk dalam jebakanku, bodoh!" serunya dengan nada sombong.


Tanpa ampun, Belial mengaktifkan serangannya. Sejumlah pilar api besar tiba-tiba muncul di sekeliling Carres, mengurungnya dalam api yang melahap tanah di sekelilingnya.


Carres terjebak di tengah pilar-pilar api yang semakin mendekat. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat. Dengan keberanian dan kecepatan, dia memfokuskan kekuatannya. Pedang besarnya menyala dengan energi yang memancar, dan dengan gerakan yang cepat, dia mengayunkan pedangnya menuju salah satu pilar api.


Kontak antara pedang Carres dan pilar api menciptakan ledakan kecil. Pilar api itu terpotong menjadi dua dan menghilang. Carres terus bergerak dengan kecepatan kilat, menghancurkan pilar api demi pilar api.


Namun, Belial tidak akan begitu saja mengalah. Dia merasa semakin marah dan mulai melepaskan serangan- serangan api lainnya ke arah Carres. Pertempuran sengit di antara api dan pedang terjadi di dalam perangkap api Belial, dan nasib Carres bergantung pada keberaniannya dan keahliannya dalam menghadapi serangan ini.


Belial memutuskan untuk mengeluarkan serangan pamungkasnya, "Inferno Nova." Serangan ini adalah salah satu yang paling mematikan yang dimilikinya.


Dengan gerakan dramatis, Belial mengumpulkan energi api di sekitarnya. Sebuah bola api raksasa dengan inti yang berkilat-kilat muncul di atas kepalanya. Api di sekitar mereka menjadi semakin ganas dan membara.


Carres, yang terjebak di dalam jebakan api, merasa panik saat melihat serangan ini terbentuk. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat atau akan terpulih dalam serangan ini. Dengan tekad dan keberanian yang besar, dia melanjutkan serangannya untuk menghancurkan pilar api yang tersisa.


Saat bola api raksasa mencapai ukuran penuhnya, Belial melemparkannya ke arah Carres dengan cepat dan penuh kebencian. Bola api itu membentuk jejak mematikan saat meluncur ke arah Carres.


Carres berusaha keras untuk menghindari serangan tersebut. Dia bergerak secepat kilat dan dengan tepat menghancurkan pilar api terakhir yang mengurungnya. Namun, serangan "Inferno Nova" Belial sudah terlambat untuk dihindari sepenuhnya.


Bola api raksasa itu meledak dengan kekuatan luar biasa di sekitar Carres. Ledakan dahsyatnya menghancurkan tanah dan membuat ledakan panas yang memekakkan telinga. Carres terpental oleh gelombang panas yang kuat.


Namun, Carres tidak menyerah begitu saja. Meskipun terluka dan terpental, dia masih memiliki tekad untuk melawan. Dia melompat keluar dari pusaran panas yang masih tersisa dan berdiri di tengah-tengah kehancuran.

__ADS_1


“Sera, beri aku heal!” Carres berteriak memohon bantuan kepada Sera, yang dengan cepat merapalkan mantra sihir penyembuhnya. Cahaya penyembuhan menyelimuti Carres, membantu mengurangi rasa sakit akibat serangan sebelumnya.


Namun, Belial tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk bernapas. Dengan kejam, dia menyerang Sera, berusaha untuk menghentikan penyembuhan yang sedang dilakukannya. Belial mengeluarkan serangan mematikan lainnya.


Carres melihat bahaya itu dan dengan cepat menghalangi serangan Belial. Dia melompat di depan Sera, menggunakan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi temannya. Serangan Belial menimpa Carres, membuatnya terpental.


Carres terdorong beberapa langkah mundur oleh serangan tersebut, tubuhnya terluka. Namun, dia tetap berdiri tegak dan bersiap untuk meneruskan pertarungan. Darah mengalir dari luka-lukanya, tetapi tekadnya tidak goyah.


Sera, meskipun terkejut oleh serangan tiba-tiba Belial, tidak berhenti dalam upayanya untuk memberikan penyembuhan yang diperlukan kepada Carres. Cahaya penyembuhan terus mengalir, meredakan sebagian rasa sakit dan memulihkan sedikit kekuatan Carres.


Pertarungan terus berlangsung, Belial merasakan sesuatu yang kuat sedang datang membuat dirinya lengah. Carres memanfaatkan kelemahan yang ditunjukkan oleh Belial, menyerangnya dengan ganas. Pedang besarnya menyambar udara, menebas tembok api Belial, dan menimbulkan luka-luka lebih dalam di tubuh iblis itu.


Belial terpental dan membentur tembok, membuat lubang yang besar pada kastilnya. “Sial, aku lengah.”Belial yang terluka berusaha bangkit, saat dia ingin berdiri, dia kehadiran seseorang di sisinya. Ketika dia berbalik, dia melihat Haruki, seseorang yang selama ini menjadi musuh besarnya. “Butuh bantuan?” Ucap Haruki menawarkan bantuannya.


"Tentu saja," ucap Belial akhirnya. Ia tahu bahwa dalam situasi ini, pertarungan adalah prioritasnya. Dengan bantuan Haruki, mereka mungkin bisa menghentikan serangan Carres dan kawan-kawan yang semakin kuat. Mereka bersama-sama mempersiapkan serangan balasan yang lebih kuat.


“Haruki, kenapa kau membantu musuh!?” Teriak Aiko.


Haruki hanya menoleh dengan ekspresi acuh tak acuh. Ketika Aiko menyebutnya sebagai musuh, Haruki tersenyum sinis, hampir seolah merasa kasihan pada mereka.


"Musuh?" Ucap Haruki dengan nada menghina. "Dari yang aku tahu, kalian adalah musuh." Kata-katanya terasa dingin, penuh dengan kemarahan yang membara. Haruki mengeluarkan aura dingin yang mencekam, dan ruangan yang sebelumnya terbakar panas kini berubah menjadi es yang beku.


Haruki mengibaskan tangannya dengan anggun, menghasilkan gelombang es yang menjalar ke seluruh ruangan. Suhu yang sebelumnya panas seketika turun drastis, dan bahkan udara terasa seperti terbekukan.


Aiko dan rekan-rekannya merasa kedinginan, terutama setelah pertempuran sengit yang sebelumnya membuat mereka berkeringat. Mereka menggigil, dan beberapa di antara mereka bahkan kesulitan untuk bernapas di dalam ruangan yang kini dipenuhi es.

__ADS_1


Haruki melangkah maju, tetap dengan ekspresi dingin dan tegas. Tindakan ini memperlihatkan pada semua orang di sana bahwa dia telah berubah menjadi sosok yang tak dikenal, seorang yang siap untuk melindungi penghuni tower.


Carres, yang tengah terperangah oleh perubahan drastis Haruki, tak henti-hentinya membebaskan serangan pamungkasnya menuju Haruki. Pedang besarnya bersinar dengan kekuatan yang luar biasa, dan dia melesat menuju Haruki dengan kecepatan kilat.


Namun, sebelum serangan Carres bisa mencapai sasaran, Haruki berhenti dengan satu tangan yang mengangkat. Saat Carres dan pedangnya mendekati Haruki, suatu hal yang tak terduga terjadi. Kekuatan es yang memancar dari Haruki merembes keluar dengan cepat.


Pedang Carres yang mendekati Haruki tiba-tiba membeku seketika. Pedang yang kuat itu berubah menjadi jimat es yang rapuh dan pecah dengan suara berdenting. Carres terperangah oleh kekuatan luar biasa yang telah menghancurkan senjatanya.


Haruki hanya melihat Carres dengan tatapan tajamnya. Ada rasa kebingungan dalam ekspresi Carres, ketidakpercayaan akan apa yang baru saja terjadi.


“Mustahil, pedang yang dengan mudah membunuh Kraken di lantai 20, dihancurkan begitu mudahnya!” Ucap carres, sebelum akhirnya dipukul dengan keras oleh haruki, membuatnya terpelanting jauh.


Haruki menatap Carres dan rekan-rekannya dengan dingin, rasa kekuatan yang dipancarkannya menjadi lebih mendalam. Carres, yang telah terpental oleh pukulannya, merasa betapa besar perbedaan kekuatan di antara


mereka.


"Sekarang apa kalian tetap akan menyombongkan kekuatan kecil kalian," ucap Haruki dengan nada sombong.


Rekan-rekan Carres yang lain merasakan putus asa yang mendalam. Mereka, yang sebelumnya telah menganggap Haruki sebagai teman, sekarang melihatnya sebagai musuh yang tak terbantahkan. Perbedaan kekuatan yang sangat jauh menjadi nyata, dan mereka menyadari bahwa pertarungan ini takkan berakhir dengan kemenangan mereka.


Kira dan Lily tiba di saat yang kritis, melihat keputus asaan yang melingkupi Carres dan yang lainnya. Lily segera mengambil tindakan, berteriak pada teman-temannya, "Tutup mata kalian!"


Dengan cepat, dia melemparkan sesuatu yang meledak dengan cahaya terang, menyilaukan mata semua orang yang ada di ruangan. Sinar terang itu membuat mereka harus menutup mata untuk melindungi penglihatan mereka.


Setelah sinar terang tersebut meredup dan penglihatan kembali normal, Haruki menyadari bahwa Carres dan rekan-rekannya telah melarikan diri. "Mereka kabur, ya," ucap Haruki dengan nada dingin, mengetahui bahwa kekuatannya telah membuat mereka merasa putus asa.

__ADS_1


__ADS_2