
Di suatu tempat yang sangat jauh...
Lelaki dengan jubah kebangsaannya duduk dengan anggun di singgasananya. Seorang
individu berpakaian hitam, seluruh tubuhnya tertutup oleh jubah gelap,
menyampaikan sebuah surat kepada lelaki itu.
Setelah membaca surat tersebut, wajah lelaki itu terpampang dengan ekspresi kekesalan.
"Jadi dia gagal dibunuh, dan ada orang yang membantunya pula," gerutu
lelaki itu dengan nada gusar. Dia menghela nafas panjang, berusaha meredakan
kemarahannya.
"Telusuri informasi tentang orang ini, dan kita akan menyewa jasa dari anak kecil itu
untuk menyelesaikan tugasnya," perintah lelaki itu kepada individu yang
mengantarkan surat. Dalam sekejap, sang individu menghilang bagai angin.
"Orang ini benar-benar menarik," ujar lelaki itu sambil menggelengkan kepala,
lalu dengan hati-hati, dia membakar surat itu. Surat itu perlahan-lahan menjadi
abu, menggantikan gambar seorang individu dengan rambut putih dan mata merah
yang tertulis di dalamnya.
Di depan pintu masuk Abyssal Spire...
Lily dengan semangat membara berteriak, "Haru, Sera, ayo cepat!" Dia
berlari menuju pintu masuk dungeon dengan wajah yang berseri-seri, penuh
antusiasme seperti matahari pagi yang bersinar terang.
Sera, yang berusaha mengejar Lily, sedikit terengah-engah. "Jangan terburu-buru,
Lily."
Sementara Haruki hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Meski dirinya sangat antusias,
dia tak bisa melupakan pembicaraannya semalam dengan para petualang dan
peneliti. Di dalam dungeon ini, strukturnya bisa berubah sewaktu-waktu, membuat
semua peta menjadi tak berharga.
Saat mereka mendekati pintu dungeon, suara panggilan yang dikenal mereka memecah
hening. "Haruki!" Teriak seorang perempuan dengan rambut coklat
panjang yang diikat ke belakang, mengenakan pakaian coklat resepsionis. Itu
adalah Elina, yang tak lain adalah seorang resepsionis, berlari mendekati
mereka.
"Hai, kalian tiba di sini kapan?" Tanya Elina dengan nada ramah.
"Kami tiba kemarin," jawab Haruki.
"Apa yang membuatmu ada di sini?" Balas Haruki, penasaran.
Elina tersenyum, "Aku ada di sini karena tugasku. Setelah kalian pergi, aku
diperintahkan untuk bertugas di sini."
Haruki tak bisa menahan keheranannya, "Tapi perjalanan dari Kota Astronia ke sini
cukup lama, bukan?"
Elina mengangguk, "Benar, tapi kami memiliki sihir teleportasi. Itu yang
memungkinkan aku tiba lebih awal dari kalian."
Haruki, kini lebih penasaran, merenung. "Menggunakan sihir teleportasi sepertinya
menarik. Apakah aku juga bisa?"
__ADS_1
Haruki memeriksa "Shop" untuk melihat apakah ada skill teleportasi yang
tersedia. Kemampuan teleportasi mungkin mahal, tapi cukup menggoda.
[SHOP]
[Elemental Mastery]
[Weapon Mastery]
Teleportasi: 100 SP
-Tampilkan Lebih Banyak-
'Tampaknya ada, meskipun sedikit mahal.' Haruki menutup panel hologram dan berjalan bersama
Elina menuju pos di dekat pintu masuk.
Di tempat terpencil yang sangat tinggi...
Sosok misterius yang mengenakan jubah hitam menatap dari tempat yang jauh.
"Target terlihat, dan ada seseorang sesuai dengan informasi,"
bisiknya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Saya siap menerima
perintah kapan saja."
Suara misterius yang datang dari dalam keheningan memberikan perintah tegas,
"Cepatlah menyelesaikan tugasmu."
Tanpa suara apa pun, sosok berjubah hitam itu segera menghilang, tanpa menyisakan
jejak ataupun angin.
Di tempat lain...
Empat dari mereka mendekati sebuah bangunan kecil di dekat pintu masuk dungeon.
"Selamat datang," sambut seorang resepsionis.
ramah.
"Baiklah, ini tiga Return Stone. Totalnya 30.000 koin emas." Elina membayar dan
memberikannya kepada Haruki, Lily, dan Sera.
"Masing masing dari Kalian hanya bisa memiliki satu, maaf, teman-teman," ucap Elina, terlihat sedih
karena tidak bisa membeli lebih banyak.
Lily khawatir tentang kondisi keuangan Elina. "Apakah kamu yakin tentang ini?
Harganya cukup tinggi."
Elina tersenyum licik. "Tidak apa-apa, aku tahu kalian semua sangat hebat.
Kalian pasti bisa mengembalikan uang itu dalam sekejap."
Haruki tersenyum, merasa tertipu oleh Elina yang kelihatannya baik hati.
Setelah selesai dengan basa-basi dan peringatan akan bahaya di dalam dungeon, Haruki,
Lily, dan Sera memasuki dungeon.
Setelah memasuki dungeon, mereka mendapati diri mereka berada di dalam ruangan yang
cukup besar. Cahaya matahari terbenam memancar melalui celah-celah di dinding
tinggi dan langit-langit yang menjulang. Beberapa pintu masuk lain tersebar di
sekeliling mereka, dan beberapa kelompok petualang dan peneliti terlihat sibuk
bersiap-siap untuk menjelajahi dungeon.
Seraphina melihat satu kelompok petualang yang tampak bingung dengan peta dungeon. Dia
mendekati mereka dan menawarkan bantuan.
"Halo, apakah kalian mengalami kesulitan?" Tanya Sera kepada kelompok petualang
__ADS_1
tersebut.
Pemimpin kelompok adalah seorang pria berperawakan besar dengan perisai besar di punggungnya.
"Ya, kami baru pertama kali masuk ke dungeon ini untuk mencari uang, tapi peta yang
kami miliki dari teman kami yang pernah masuk tampaknya tidak sesuai dengan
kondisi sekarang," jelaskan pemimpin kelompok tersebut.
"Ya, memang begitulah, struktur dungeon ini bisa berubah, dan jenis monster yang
muncul juga berubah dari waktu ke waktu," jelas Sera dengan ramah.
"Paham. Jadi begitu ya. Terima kasih, gadis muda. Jika bukan karena penjelasanmu, kami
mungkin akan tetap mengikuti peta lama ini," kata pemimpin kelompok itu
dengan tulus. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan lebih
yakin.
Di dalam dungeon ini, suasana ramai dari berbagai kelompok petualang yang berbeda
terasa. Beberapa dari mereka sedang merencanakan strategi, yang lain memeriksa
peralatan mereka, dan beberapa tampaknya sedang dalam perjalanan keluar setelah
menjalani eksplorasi.
"Jadi, apakah kalian sudah siap menuju lantai berikutnya?" Tanya Haruki kepada
rekan-rekannya.
"Siap!" jawab Sera dan Lily dengan semangat.
Mereka bertiga melanjutkan ke lantai atas, tetap dalam keadaan siaga meskipun mereka
masih berada di lantai awal. Di sini, monster-monster masih lemah, bahkan
Haruki belum perlu menggunakan senjatanya. Hanya dengan mengeluarkan sedikit
aura, monster-monster tersebut sudah tumbang karena merasakan tekanan yang
kuat.
Namun, mereka tetap waspada. Di lantai awal pun, masih ada area yang belum mereka
eksplorasi, dan perubahan dalam struktur dungeon bisa menyebabkan jebakan yang
semula rusak menjadi aktif kembali.
Perjalanan mereka cukup lancar, terutama karena aura yang dikeluarkan oleh Haruki.
Beberapa kelompok petualang yang lain juga terlihat sedang bertarung melawan
monster, membuat mereka tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi.
Akhirnya, mereka tiba di lantai 10, sebuah zona aman di mana struktur dungeon tidak akan
berubah, dan beberapa bangunan telah didirikan oleh petualang sebagai tempat
jual beli dan peristirahatan.
Di lantai ini, suasana berbeda dari lantai sebelumnya yang minim pencahayaan. Di langit-langit
lantai 10, terdapat batuan yang dapat memancarkan cahaya, memberikan penerangan
yang cukup terang.
"Yay, akhirnya kita bisa istirahat," kata Lily dengan gembira karena mereka bisa
beristirahat setelah perjalanan yang panjang.
"Iya, setelah perjalanan yang sangat lama," tambah Sera setuju. Mereka bertiga
memutuskan untuk pergi ke area peristirahatan dan memesan sebuah kamar. Tanpa
disadari, sosok berjubah hitam masih mengawasi mereka dari kejauhan, menunggu
kesempatan untuk bertindak.
__ADS_1