
Lantai 70, sebelum mereka mulai mencari artefak yang mereka butuhkan, Hana memberi mereka kesempatan untuk berkenalan lebih dekat.
"Haruki, mungkin kalian berdua bisa berjalan-jalan bersama, agar bisa lebih akrab," kata Hana, sambil mendorong Yuki ke arah Haruki. Terlihat sekilas seutas senyum licik yang terpancar dari wajah Hana.
Wajah Yuki memerah saat melihat Haruki, dan dia merasa malu. "H-Hai, n-namaku Matsunaga Yuki. K-kamu bisa m-memanggilku Yuki," ucapnya dengan menggumam, sambil membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
Haruki tersenyum mendengar perkenalan Yuki yang sopan. "Nama yang bagus, Yuki. Namaku Haruki Nakamura, kau bisa memanggilku Haruki."
Hana memberi Yuki sebuah misi sambil memberikan dukungan, "Yuki, kenapa kamu tidak membawa Haruki berkeliling dan menceritakan tentang apa yang kamu inginkan darinya?"
Yuki mengangguk sambil masih merasa malu, "Tentu, aku akan lakukan yang terbaik, Nyonya Hana."
Taman di lantai 70 adalah tempat yang memikat. Bunga-bunga dengan warna-warni yang mempesona bertebaran di sekitar area ini, menciptakan lanskap yang penuh warna. Taman ini dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dan rimbun yang memberikan naungan sempurna dari sinar matahari, menciptakan atmosfer yang nyaman dan sejuk. Jalan setapak yang berliku-liku mengarah ke arah kolam renang kecil yang dikelilingi oleh batu-batu besar dan bunga-bunga air yang melayang di permukaan. Taman ini juga dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang akan menyala saat malam tiba, memberikan nuansa romantis yang mempesona.
Sambil berjalan-jalan di taman yang indah ini, Haruki bertanya pada Yuki tentang dewi yang menyuruhnya bertemu dengan mereka. Yuki terlihat ragu dan gugup, tapi dia tahu bahwa saatnya untuk menceritakan lebih banyak tentang tower ini.
"T-tentang itu," kata Yuki, "s-sebelumnya, m-mungkin aku a-akan menceritakan tentang kami yang berada di tower ini lebih dahulu."
"Tidak masalah," ucap Haruki dengan lembut, memberi dukungan pada Yuki untuk melanjutkan ceritanya.
Yuki pun melanjutkan, "S-semua berawal dari ratusan tahun yang lalu. Kami, para ras rubah, tinggal di dunia yang kami sebut sebagai 'Kitsune-no-Sato,' disana kami hidup dalam kedamaian, dan semua orang sangat bahagia."
Yuki menggambarkan dunia mereka yang damai, di mana para rubah hidup bersama dengan harmoni. Keindahan dan ketenangan yang mereka nikmati adalah sesuatu yang sangat dihargai.
Di Kitsune-no-Sato, 300 tahun yang lalu, Yuki dan temannya, seorang gadis yang berbakat bernama Akari, bersiap- siap untuk pelatihan mereka dengan Nyonya Hana, seorang figur penting dalam kehidupan mereka.
"Hai, Yuki, sudah siap untuk pelatihan dengan Nyonya Hana?" tanya Akari dengan penuh semangat.
Tubuh Yuki penuh semangat saat dia menjawab, "Tentu saja!"
Yuki memang terkenal di antara para penduduk Kitsune-no-Sato karena bakatnya yang luar biasa. Dia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berbagai hal, dan kecerdasan yang tajam. Sejak kecil, dia telah menunjukkan kecenderungannya yang istimewa. Meskipun begitu, Yuki memilih untuk mengabdikan dirinya untuk pelatihan dengan Nyonya Hana, merasa bahwa tugas yang diemban oleh Nyonya Hana sangat mulia dan penting bagi kelangsungan komunitas mereka. Yuki sangat bersyukur atas kesempatan ini, dan dia telah menjadi inspirasi bagi banyak penduduk di Kitsune-no-Sato.
Saat Yuki dan Akari sedang dalam sesi pelatihan yang intens, tiba-tiba ada suara misterius yang menggema dari langit. Suara itu terdengar begitu kuat dan memenuhi seluruh desa Kitsune-no-Sato.
"Wahai penghuni dunia Kitsune-no-Sato, kalian yang dipilih, mendengarkanlah!" suara itu berkata dengan hikmat, meraih perhatian semua yang mendengarkannya.
__ADS_1
Yuki dan Akari menghentikan latihan mereka dan saling bertatap, kebingungan menghiasi wajah mereka. Apa arti dari panggilan ini? Siapa yang berbicara kepada mereka?
"Sudah saatnya, kalian akan diuji," suara misterius itu melanjutkan. "Saat kalian mendengar panggilan ini, kalian akan ditempatkan di dalam Tower of Eclipteria, sebuah menara yang berada di dunia yang sedang dalam bahaya. Tetapi, hal itu bisa dicegah dengan keberadaan kalian yang menghuni dan menahan kekuatan jahat yang berada di sana."
Yuki dan Akari saling memandang dengan campuran perasaan kebingungan, takut, dan juga keingintahuan. Mereka tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Kalian akan menjadi wadah, masing-masing mewakili elemen yang berbeda," suara itu terus berkata. "Kalian akan bertanggung jawab untuk memelihara keseimbangan dalam Tower of Eclipteria dan menghentikan ancaman yang mengintai. Ingatlah, kalian adalah harapan terakhir."
Panggilan itu berakhir, dan desa Kitsune-no-Sato terdiam dalam keheningan. Yuki dan Akari merasa takut,
Nyonya Hana yang bijaksana, pemimpin Kitsune-no-Sato, juga telah mendengar panggilan misterius itu. Yuki dan Akari segera menghampirinya dengan perasaan bingung dan cemas yang mereka rasakan.
"Nyonya Hana, apa Anda juga mendengar suara itu?" tanya Yuki dengan suara gemetar.
Nyonya Hana mengangguk, wajahnya penuh dengan kekhawatiran. "Iya, aku mendengarnya juga. Sepertinya kita semua harus mempersiapkan diri untuk apa yang akan datang. Suara itu pasti memiliki makna yang mendalam."
Akari, yang juga tidak kurang khawatir, bertanya, "Apa kita harus mengikuti panggilan itu? Apa arti dari menjadi wadah elemen?"
Nyonya Hana memandang kedua muridnya dengan penuh kebijaksanaan. "Aku tidak memiliki jawaban pasti, tetapi aku percaya ini adalah panggilan takdir. Kita harus mematuhi perintah dan bersiap menghadapi ujian yang akan datang. Aku yakin kita akan menemukan jawabannya seiring berjalannya waktu."
"Dimana kita?" tanya Akira, tetapi tak ada yang tahu jawabannya. Mereka berdiri di lantai 70 Tower of Eclipteria, tempat yang mereka tidak pernah dengar sebelumnya.
Kebingungan mereka terputus oleh suara keras dari pintu yang menghubungkan lantai 69 dan 70. Pintu itu terbuka dengan kasar, dan dari dalamnya keluar ras iblis yang mereka belum pernah lihat sebelumnya.
Para iblis itu langsung menyerang, tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Pertempuran pun meletus di depan pintu yang terbuka lebar, dan para penghuni Kitsune-no-Sato harus segera bersiap untuk menghadapinya. Mereka merasa terkejut, terdampar di dunia yang asing, dan sekarang harus menghadapi musuh yang sama sekali tidak mereka kenal.
Ketika pertempuran di lantai 70 semakin intens, suara misterius yang sama muncul kembali. Suara itu memperingatkan mereka untuk tidak saling bertarung.
"Jangan bertarung," desis suara itu dengan keras. "Kalian adalah harapan terakhir dunia ini, kalian harus bersatu dan bekerja sama."
Panggilan tersebut membuat para penghuni Kitsune-no-Sato dan ras iblis yang tadi saling berhadapan menjadi terdiam. Meskipun masih penuh kecurigaan, mereka mulai menyadari bahwa mereka harus mendengarkan peringatan ini.
"Kita harus bekerja sama," kata Yuki dengan tegas. "Ini adalah misi kita sekarang, menghentikan ancaman yang mengintai Tower of Eclipteria."
Para penghuni Kitsune-no-Sato dan ras iblis merasa terdorong untuk mencari cara bekerja sama. Meskipun awalnya mereka saling curiga, kehadiran suara misterius itu memberi mereka petunjuk bahwa mereka memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan dan melindungi dunia ini.
__ADS_1
"Sejak saat itu, kami bekerja sama dan berbagi cerita. Terdapat 7 ras yang mendominasi Tower of Eclipteria Elf, Demon, Kitsune, Dragon, Succubus, Dwarf, dan Dokkaebi. Masing-masing ras ditempatkan di lantai yang berbeda.
Lantai 40-50 dihuni oleh Succubi dan Dwarf. Lantai 51-60 ditempati oleh ras Elf. Lantai 61-69 adalah rumah bagi ras Demon. Lantai 70-75 dihuni oleh ras Kitsune. Lantai 76-80 adalah milik Dokkaebi. Sementara Lantai 81-99 adalah tempat tinggal para ras Dragon.
Kami semua pernah bertemu satu sama lain, tetapi ada satu lantai yang belum pernah kami ketahui siapa yang menghuninya, yaitu Lantai 100. Sayangnya, lantai tersebut terkunci, dan kami tidak memiliki kunci untuk membukanya. Kami hanya bisa menduga apa yang ada di sana." Jelas Yuki.
"Kami juga pernah keluar dari tower untuk melihat dunia Eclipteria ini, terutama untuk memantau bagaimana perkembangan manusianya. Namun, selama 100 tahun terakhir, kami telah mencatat bahwa manusia jarang mendekati tower ini. Mereka telah berkembang dan berkembang dengan cara mereka sendiri.
Sayangnya, manusia telah lupa tentang penghuni tower ini dan telah merubah sejarah. Mereka bahkan memberi tower ini julukan 'Abyssal Sphere' dan meyakini bahwa itu adalah sumber malapetaka. Padahal, sebenarnya, tujuan
kami adalah menjaga keseimbangan dan mencegah ancaman yang mengintai di dalamnya."
Yuki merasa sedih dan bingung dengan keadaan ini, tetapi dia yakin bahwa ada cara untuk memperbaiki kesalahpahaman manusia tentang tower mereka.
Haruki mendengarkan dengan serius dan menyadari betapa rumitnya situasi para penghuni tower. "Pasti cukup berat," ucapnya.
Yuki dengan cepat menambahkan, "Tidak juga, karena kami sangat kuat. Tapi masalahnya adalah manusia sering kali datang, dan bahkan jika kami berhasil mengalahkan mereka, mereka akan kembali. Saat ini, mereka bahkan berhasil menguasai lantai 10."
"Apa kalian membiarkannya begitu saja?" Tanya Haruki karena selama di lantai 10 dia memang tidak merasakan ancaman.
Yuki menggelengkan kepala, "Kami sebenarnya diperintah untuk tidak menyerang mereka selama mereka tidak melewati batas tertentu. Kami ingin mencegah pertumpahan darah yang tidak perlu dan menjaga perdamaian, tetapi kami khawatir karena situasinya semakin sulit."
Haruki merasa empati terhadap perasaan Yuki. "Aku bisa merasakan betapa sulitnya keputusan ini bagi kalian. Terutama jika hal itu mengakibatkan kehilangan teman-teman kalian."
Yuki mengangguk, matanya terlihat sedih. "Ya, salah satu temanku, Akira, dia... dia meninggal dalam pertempuran melawan manusia. Itu adalah momen yang sulit bagi kami semua."
Haruki meraih tangan Yuki dengan lembut dan mengatakan, "Kalian sudah berjuang dengan baik selama ini. Aku akan mencoba membantu kalian, jika kalian mengizinkan."
Yuki tersenyum, terharu oleh tawaran Haruki. "Terima kasih, Haruki. Kami sangat menghargainya."
Yuki merasa detak jantungnya berdegup kencang, dan wajahnya memerah saat ia menyadari tangannya dipegang oleh Haruki. Tanpa bisa menahan kegugupan, Yuki segera menarik tangannya dari genggaman Haruki.
"S-sudah hampir malam, lebih baik kau istirahat saja," ucap Yuki sambil berbalik, wajahnya tersembunyi dari pandangan Haruki. Dia merasa wajahnya masih membara, dan perasaannya begitu campur aduk. Dengan perasaan yang aneh, Yuki pergi menjauhi Haruki.
*note: dungeon diganti tower
__ADS_1