Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria

Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria
Chapter 23 : Malam Kegelapan dan Kebencian I


__ADS_3

Haruki yang menyaksikan kedatangan mereka menjadi sedikit marah, melihat pertumpahan darah yang terjadi. Yuki merasa situasi semakin memanas dan mengajak Haruki untuk pergi dari sana, merasa bahwa ini adalah pilihan terbaik untuk tidak terlibat dalam pertempuran yang tak perlu.


Aiko, meskipun merasakan sosok yang tidak asing, tidak dapat mengidentifikasinya dengan pasti di tengah kerumunan. Banyak pengunjung pesta yang berhamburan keluar dalam kekacauan tersebut.


Sementara itu, pria berzirah berbicara dengan antusias, "Saatnya menaklukan lantai ini, bukan?" Rekan-rekannya setuju, dan bersama-sama mereka melancarkan serangan terhadap ras-ras yang mereka temui di dalam pesta. Mereka dengan cepat menghancurkan dan membunuh para penghuni lantai ini, menciptakan kekacauan yang semakin besar.


Belial, yang tidak senang dengan tindakan mereka, merasa terprovokasi. Dengan marah, ia menyerang pria berzirah yang memimpin serangan. Pertempuran pun meletus di tengah pesta yang sebelumnya begitu meriah.


Belial marah dan merasa terancam oleh serangan pria berzirah dan rekan-rekannya. Dalam amarahnya, ia mengeluarkan kekuatannya yang mematikan. Dengan gerakan tangan yang dramatis, Belial melepaskan sebuah eruption, menciptakan gelombang panas yang menyelimuti sekitarnya.


Suhu di sekitarnya seketika melambung, dan beberapa benda mulai meleleh menjadi api. Kekuatan Belial menciptakan kekacauan di dalam pesta tersebut, dan para tamu yang sebelumnya bersenang-senang sekarang berusaha menyelamatkan diri dari amukan api yang melelehkan segala sesuatu di sekitarnya.


Carres, pria berzirah, berusaha untuk menyerang Belial dengan pedang besarnya. Namun, Belial dengan kecepatan yang luar biasa menghindari serangan tersebut. Dalam sekejap mata, ia balas menyerang Carres dengan pukulan kuat yang membuatnya terpental.


Carres tetap tangguh, meskipun terkena serangan hebat Belial. Ia bangkit kembali, tampak tegar dan siap untuk meneruskan pertarungan.


Dari kejauhan, Sera dengan cepat merapalkan sihir penyembuhnya, mengirimkan cahaya ke arah Carres yang membutuhkan pertolongan. Carres merasakan energi penyembuhan mengalirinya dan merasakan kekuatannya kembali pulih.


"Makasih," ucap Carres sambil tersenyum singkat pada Sera, sebelum kembali melesat ke arah Belial, bersiap untuk memberikan serangan yang lebih kuat.


Belial semakin terdesak oleh kekuatan gabungan Carres, Aiko, dan Sera. Setiap upayanya untuk menyerang Sera yang memberikan buff dan penyembuhan kepada Carres selalu digagalkan. Serangan-serangan kuat Carres terus mengancamnya, dan Belial merasa kekuatannya mulai menipis.

__ADS_1


Namun, Belial adalah seorang iblis yang licik. Ketika dia merasa semakin terpojok, dia mencoba mengambil jalan pintas. Dengan cepat, dia menciptakan bayangan palsu dari dirinya sendiri, mengalihkan perhatian Carres dan yang lainnya. Bayangan itu menyerang Carres, sementara Belial sendiri mencoba mundur ke sudut ruangan dan merencanakan langkah selanjutnya.


Disisi lain,


Haruki merasa amarah mendalam yang membakar dalam dirinya ketika dia melihat kota lantai 65 yang hancur dan pasukan manusia menyerang penghuni iblis. Nada dingin dalam suaranya mencerminkan ketidakpuasan dan kemarahannya terhadap manusia.


"Manusia," ucap Haruki dengan suara yang penuh dengan nada dingin. Sorot matanya berubah menjadi merah gelap, mengisyaratkan perubahan dalam dirinya.


Yuki mencoba menghentikan Haruki, khawatir akan reaksi kerasnya, tetapi Haruki menolak untuk mundur. "Yuki, kau pergilah duluan," ucap Haruki dengan dingin. Dia mengambil sikap siap bertarung, siap untuk membersihkan pasukan manusia yang menyerang. Dalam sekejap, dia melesat dengan cepat ke tengah pasukan manusia, menciptakan ledakan besar yang menghasilkan lubang besar, dengan Haruki berada di pusatnya.


“Kalian akan mendapat resikonya.” Ucap Haruki dingin. Sekujur tubuhnya diselimuti oleh petir, dan dia bergerak dengan kecepatan kilat, memusnahkan para pasukan manusia dengan kekuatan petirnya.


Setiap langkah yang dia ambil diiringi oleh suara guntur yang bergemuruh, dan setiap sentuhan petirnya memusnahkan pasukan manusia. Mereka mencoba mempertahankan diri, tetapi mereka tidak mampu menghadapi kekuatan luar biasa Haruki.


Pertempuran berlanjut, dan kehadiran Haruki yang penuh amarah dan kekuatan luar biasa menimbulkan kebingungan dan ketakutan di antara pasukan manusia. Haruki bersumpah untuk melindungi dunianya yang baru dan teman-temannya, bahkan jika itu berarti harus menghadapi manusia yang menjadi musuhnya.


Situasi semakin kacau ketika beberapa pasukan manusia mencoba untuk melarikan diri, menyebut Haruki sebagai "monster." Tanpa ampun, Haruki mengeluarkan tombak es dan dengan cepat melesatkannya ke arah mereka. Tombak es itu menembus tubuh mereka dengan cepat, dan perlahan-lahan dingin dari tombak itu menyebar ke seluruh tubuh mereka, membuat para pasukan yang terkena tombak itu membeku dan akhirnya hancur.


Tinggal puing-puing pasukan yang kini menjadi patung es yang rapuh. Haruki tidak punya belas kasihan pada mereka yang telah menyerang dunianya. Ini adalah pertahanan terakhirnya untuk memastikan bahwa penghuni iblis tidak terganggu oleh manusia.


Haruki semakin termakan oleh emosi, emosinya membuatnya benar-benar kacau, dan dia mulai menyerang siapa pun yang berani mendekat, bahkan termasuk para iblis.

__ADS_1


Dengan penuh keberanian, Yuki mendekati Haruki yang sedang dalam keadaan yang sangat berbahaya. Dia tahu bahwa jika dia tidak berbuat sesuatu, situasi bisa semakin buruk. Yuki memeluk tubuh Haruki yang terselimuti petir, meskipun dia merasakan rasa sakit dari ledakan petir yang masih melingkupi Haruki.


Dengan suara lembut, Yuki mencoba menenangkan Haruki, "Haru, sudah cukup. Manusia itu sudah mati." Yuki meraih wajah Haruki dan menatapnya dengan penuh kasih sayang, berusaha membuatnya sadar. Haruki sempat meronta dan mengeluarkan aura yang mematikan, tetapi Yuki tetap memeluknya erat, bahkan jika itu berarti dia juga terluka.


Perlahan, Haruki mulai mereda. Aura yang mematikan yang melingkupinya kembali surut, dan dia kembali sadar akan sekitarnya. Dia melihat Yuki yang masih memeluknya erat dan wajah penuh cemas. Haruki merasa bersalah karena hampir saja dia menyakiti Yuki lebih parah.


"Yuki..." gumam Haruki dengan suara yang lembut, penuh penyesalan. Dia meraih tangan Yuki. "Maafkan aku, aku hampir saja..."


Yuki hanya menggelengkan kepala dan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Haru. Aku di sini untukmu, selalu."


“Maaf...” Dengan lembut, dia mengelus kepala Yuki dan mencium keningnya. Kemudian, Haruki menggunakan sihir penyembuh untuk memulihkan luka-luka kecil yang dialami oleh Yuki selama insiden itu.


Yuki merasa nyaman dengan kehadiran Haruki dan penyembuhannya. Dia tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Haru. Tidak apa-apa sekarang. Yang penting, kau kembali seperti biasa."


Disisi lain,


Setelah mengalahkan bayangan Belial, Carres segera menggunakan kemampuannya, Detection, untuk melacak keberadaan asli Belial. Ini adalah kemampuan yang luar biasa dalam mengidentifikasi keberadaan dan posisi lawan, yang sangat berguna dalam situasi seperti ini.


Setelah beberapa saat berlalu, Carres merasakan aura kuat yang sesuai dengan Belial. Dia memimpin rekan-rekannya menuju Belial. Perjalanan mereka menuju keberadaan Belial berlangsung dengan cepat.


Ketika mereka sampai di lokasi Belial, mereka bersiap-siap untuk pertarungan yang akan datang. Belial mungkin kuat, tetapi mereka adalah tim yang terampil, dan mereka telah menunjukkan ketangguhan mereka selama pertarungan sejauh ini.

__ADS_1


Carres, dengan mata penuh tekad, berseru, "Ini saatnya untuk mengakhiri ini. Belial, pertarungan ini akan menjadi akhir dari semua ini!"


__ADS_2