
Tabrakan angin yang berteriak membelah padang pasir,
mengangkat butiran emas ke udara sebelum melepaskannya lagi dengan angkuh.
Lantai 29, lantai gurun yang tandus dan tanpa akhir, adalah dunia tempat
matahari tampaknya meleleh di langit biru yang tak berawan.
Pasir emas membentang sejauh mata memandang, gemerlap dan
panas di bawah teriknya sinar matahari yang menggulung, menciptakan kilauan
emas yang mencerahkan lanskap padang pasir yang tidak ada akhirnya. Dune-dune
pasir yang menjulang seperti bukit pasir memberikan sedikit teduh di tengah
terik, sementara langit biru yang bening membentang tanpa rintangan di atas.
Angin berdebu yang menerpa dari selatan mengangkat butiran
pasir ke udara dalam tarian yang tak ada hentinya. Mereka terlihat seperti awan
kecil yang melayang, menjelajahi langit gurun sebelum jatuh kembali ke bumi dan
menambah penampilan tanah ini yang tandus.
Kini, dalam cahaya terik gurun yang tak kenal ampun,
pertempuran hebat berkecamuk. Monster gurun yang menakutkan, seperti makhluk
pasir yang tersembunyi dalam pasir, scorpion raksasa yang menggigit, dan golem
pasir yang tak henti mengejar, menyerang dengan marah. Delapan petualang yang
berani berdiri bersama di antara puing-puing pasir, menghadapi ancaman ini
dengan senjata dan sihir mereka.
“Sera beri aku ‘Heal’.” Pinta Lily selagi mundur dari
serangan golem pasir, dan bertukar posisi dengan Aiko.
Sera mengangguk cepat, dan dengan cepat dia mengarahkan
tangannya ke arah Lily ’Heal’. Energi penyembuhan meleleh dari tangan Sera dan
membanjiri tubuh Lily, meredakan luka-luka kecil yang didapatnya selama
pertempuran. Rasa segar menjalari tubuh Lily ketika cahaya penyembuhan meresap.
Sambil menerima penyembuhan dari Sera, Lily berbicara dengan
Aiko yang telah mengambil posisinya. "Aiko, siap-siap, kita akan menyerang
bersama!"
Aiko mengangguk, menarik pedang panjangnya yang berkilau di
bawah sinar matahari gurun. "Ayo!"
Kira berdiri agak jauh dari pertempuran, menyadari bahwa dia
memiliki peran penting dalam mengontrol situasi. Dengan jurus bayangannya, dia
berhasil membatasi gerakan golem pasir, menjebaknya dalam belitan bayangan
gelap. Monster itu berjuang keras untuk melepaskan diri, tetapi Kira terus
menjaga kendali.
Sementara itu, Lily dan Aiko sudah siap untuk serangan
mendalam. Dengan sinar matahari gurun yang memantulkan cahaya di pedang Aiko,
mereka berdua bergerak bersama. Dengan gerakan yang terkoordinasi, mereka
menebas golem secara vertikal, memotong pasir keras yang membentuk tubuh
monster itu. Sisi golem pasir terpisah, membuka celah yang dalam di tubuhnya.
Serangan itu menghasilkan efek yang luar biasa. Golem pasir
bergetar dan tampak terluka. Meskipun bukan pertarungan mudah, kerja sama tim
petualang ini membawa mereka mendekati kemenangan.
"Akhirnya selesai juga," ucap Lily, mengusap
keringat yang ada di keningnya. Mereka semua terlihat lelah setelah pertempuran
sengit melawan golem pasir dan scorpion di lantai gurun ini.
__ADS_1
Sera mengangguk setuju. "Tidak ada yang pernah bilang
bahwa dungeon ini akan mudah."
Kira menatap sekeliling, tetap waspada. "Kita harus
terus bergerak. Monster-monster di lantai ini mungkin hanya sedikit kesempatan
untuk istirahat."
Aiko, yang juga memeriksa sekitar, mendeteksi keberadaan
pintu keluar dari lantai ini. "Ada pintu di sana. Mari kita segera pergi
sebelum monster lain datang."
Mereka semua berjalan menuju pintu keluar, tetapi saat sudah
dekat pintu, mereka dikejutkan oleh sebuah penampakan mengerikan. Di hadapan
mereka, muncul seorang monster yang sangat besar dan menyeramkan.
Monster ini adalah 'Sandscale Goliath,' sejenis golem pasir
yang jauh lebih besar dari golem-golem sebelumnya. Tubuhnya terdiri dari pasir
padat yang mengkilap di bawah matahari gurun, dan mata merah yang berkilat
dengan ganas. Serangannya kuat dan sangat mematikan.
"Yah, tentu saja kita akan disambut sesuatu seperti ini
bukan," ucap Kira, ekspresinya menunjukkan rasa malas dan lelah akibat
pertempuran sebelumnya.
"Kita memang tidak bisa dibiarkan bersantai di
sini," ucap Aiko dengan tekad. Mereka semua bersiap pada posisi
masing-masing, siap menghadapi Sandscale Goliath.
Sandscale Goliath, boss gurun yang mengerikan, telah
sepenuhnya terwujud. "Kita mulai," ucap Lily dengan tegas, dan dia
bergerak dengan cepat, diikuti oleh Aiko yang bersiap dengan pedangnya.
pergerakan monster tersebut. Dia fokus pada jurus bayangannya yang kuat.
Sementara itu, Sera merapalkan buff sihir untuk meningkatkan kekuatan serangan
teman-temannya.
Disisi lain
Di lantai 30, yang bertema gunung berbatuan dengan
pemandangan yang menyerupai danau di bawahnya, atmosfer dipenuhi oleh kabut
tebal dan awan yang mengambang. Di tengah pemandangan yang memukau ini, seorang
pemuda berambut putih tampak berjuang melawan sekumpulan monster.
Pemuda itu memegang dua pedang hitam yang berkilau di
tangannya, dan ia berdiri kokoh di hadapan monster yang menyerangnya. Monster
ini adalah Raging Stone Golem, makhluk besar berbadan batu dengan tangan yang
keras seperti baja. Kulit golem ini penuh dengan paku-paku tajam yang berfungsi
sebagai senjata alaminya.
Pertempuran antara pemuda berambut putih dan Raging Stone
Golem berlangsung sengit. Pemuda itu dengan lincah menghindari serangan
monster, sementara pedang-pedang hitamnya bergerak dengan cepat untuk menyerang
bagian-bagian yang lemah dari golem tersebut. Setiap kali pedangnya menyentuh
tubuh golem, terdengar dentingan logam yang menggema di sekitar.
Kabut dan awan yang menyelimuti lantai ini menambah kesan
misterius pertarungan ini. Pemuda berambut putih menunjukkan keberanian dan
kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi monster berbahaya ini, sementara
Raging Stone Golem adalah penjaga setia lantai ini yang siap menjaga rahasia di
__ADS_1
balik kabut dan kabut yang mengendap di danau gunung batu ini.
"Haruki, apa kau tidak kelelahan?" tanya seorang
gadis dengan mata emas yang berkilau dan rambut panjang berwarna putih. Yuki,
begitulah nama gadis itu, berjalan mendekat ke arah Haruki sambil mengusap
keringat di dahinya.
"Terima kasih Yuki, tapi aku tidak apa-apa," ucap
Haruki sambil menahan tangan Yuki yang sedang membersihkan keringatnya.
"Apa kamu masih kuat?" tanya Haruki khawatir.
"Tentu saja, karena kamu yang melawan semua monster itu
sendiri, Haru," ucap Yuki sambil melihat ke belakang, di mana banyak
sisa-sisa monster yang hancur berserakan.
"Baiklah, ayo kita lanjutkan turun ke bawah, dan ambil
artefak itu," ucap Haruki kemudian melompat ke bawah. Matanya yang
sebelumnya berwarna merah cerah sekarang tampak lebih gelap.
Yuki tersenyum dengan ekspresi yang benar-benar misterius.
"Tentu saja, Haru~" Kata-katanya diikuti dengan lompatan elegan
menuju danau.
Disisi lain,
"Akhirnya selesai juga," ucap Lily, merasa puas,
merenggangkan tubuhnya untuk melepas kelelahan.
"Ayo kita masuk," ucap Aiko. Dia membuka pintu dan
memasuki dalamnya, diikuti oleh teman-temannya yang lain. Mereka memasuki
lantai 30 dengan perasaan campuran antara keterkejutan dan antisipasi.
Saat mereka tiba di lantai ini, Sera tak dapat menahan diri.
"Suasanya sangat berbeda dari yang sebelumnya," ucapnya sambil
menghirup udara yang terasa menyegarkan.
Aiko membenarkan, semangatnya tidak kendur meski mereka
telah melewati banyak lantai. "Kau benar, mari kita lanjutkan."
Kira menanyakan kepada Sera, "Artefak yang kamu cari
ada di sini kan, Sera?" Sera mengangguk dan menunjuk sebuah danau yang
terlihat sangat jauh di bawah mereka, meskipun tertutup oleh kabut. Meskipun
demikian, dia merasa yakin dia menunjuk ke arah yang tepat. "Benar,
artefak itu ada di danau itu."
Lily, mencoba memandang sekeliling dengan heran, mencoba
menyusun gambaran tentang apa yang ada di balik kabut tebal itu.
"Sepertinya tidak terlihat ada danau atau apapun itu?"
Kira, merasa frustasi dengan komentar Lily, memperingatkan,
"Apa kau bodoh? Sudah jelas tertutup oleh kabut. Kamu tidak bisa
melihatnya dengan jelas dari sini. Kita harus turun perlahan."
"Iya, aku paham. Ayo bergerak!" ucap Lily dengan
semangat, memimpin langkah mereka saat dia berjalan di depan.
"Huh, ayo," ucap Kira dengan nada kesal, mengikuti
Lily. Mereka berjalan dengan hati-hati di tengah kabut tebal yang menyelimuti
lantai ini, dengan harapan untuk menemukan artefak yang mereka cari.
‘Tunggu saja kami, Haru. Kami akan menemukanmu,’ ucap mereka
semua dalam hati dengan perasaan yang berbeda-beda.
__ADS_1