Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria

Petualangan Di Dunia Lain Eclipteria
Chapter 16 : Lantai 30


__ADS_3

Tabrakan angin yang berteriak membelah padang pasir,


mengangkat butiran emas ke udara sebelum melepaskannya lagi dengan angkuh.


Lantai 29, lantai gurun yang tandus dan tanpa akhir, adalah dunia tempat


matahari tampaknya meleleh di langit biru yang tak berawan.


Pasir emas membentang sejauh mata memandang, gemerlap dan


panas di bawah teriknya sinar matahari yang menggulung, menciptakan kilauan


emas yang mencerahkan lanskap padang pasir yang tidak ada akhirnya. Dune-dune


pasir yang menjulang seperti bukit pasir memberikan sedikit teduh di tengah


terik, sementara langit biru yang bening membentang tanpa rintangan di atas.


Angin berdebu yang menerpa dari selatan mengangkat butiran


pasir ke udara dalam tarian yang tak ada hentinya. Mereka terlihat seperti awan


kecil yang melayang, menjelajahi langit gurun sebelum jatuh kembali ke bumi dan


menambah penampilan tanah ini yang tandus.


Kini, dalam cahaya terik gurun yang tak kenal ampun,


pertempuran hebat berkecamuk. Monster gurun yang menakutkan, seperti makhluk


pasir yang tersembunyi dalam pasir, scorpion raksasa yang menggigit, dan golem


pasir yang tak henti mengejar, menyerang dengan marah. Delapan petualang yang


berani berdiri bersama di antara puing-puing pasir, menghadapi ancaman ini


dengan senjata dan sihir mereka.


“Sera beri aku ‘Heal’.” Pinta Lily selagi mundur dari


serangan golem pasir, dan bertukar posisi dengan Aiko.


Sera mengangguk cepat, dan dengan cepat dia mengarahkan


tangannya ke arah Lily ’Heal’. Energi penyembuhan meleleh dari tangan Sera dan


membanjiri tubuh Lily, meredakan luka-luka kecil yang didapatnya selama


pertempuran. Rasa segar menjalari tubuh Lily ketika cahaya penyembuhan meresap.


Sambil menerima penyembuhan dari Sera, Lily berbicara dengan


Aiko yang telah mengambil posisinya. "Aiko, siap-siap, kita akan menyerang


bersama!"


Aiko mengangguk, menarik pedang panjangnya yang berkilau di


bawah sinar matahari gurun. "Ayo!"


Kira berdiri agak jauh dari pertempuran, menyadari bahwa dia


memiliki peran penting dalam mengontrol situasi. Dengan jurus bayangannya, dia


berhasil membatasi gerakan golem pasir, menjebaknya dalam belitan bayangan


gelap. Monster itu berjuang keras untuk melepaskan diri, tetapi Kira terus


menjaga kendali.


Sementara itu, Lily dan Aiko sudah siap untuk serangan


mendalam. Dengan sinar matahari gurun yang memantulkan cahaya di pedang Aiko,


mereka berdua bergerak bersama. Dengan gerakan yang terkoordinasi, mereka


menebas golem secara vertikal, memotong pasir keras yang membentuk tubuh


monster itu. Sisi golem pasir terpisah, membuka celah yang dalam di tubuhnya.


Serangan itu menghasilkan efek yang luar biasa. Golem pasir


bergetar dan tampak terluka. Meskipun bukan pertarungan mudah, kerja sama tim


petualang ini membawa mereka mendekati kemenangan.


"Akhirnya selesai juga," ucap Lily, mengusap


keringat yang ada di keningnya. Mereka semua terlihat lelah setelah pertempuran


sengit melawan golem pasir dan scorpion di lantai gurun ini.

__ADS_1


Sera mengangguk setuju. "Tidak ada yang pernah bilang


bahwa dungeon ini akan mudah."


Kira menatap sekeliling, tetap waspada. "Kita harus


terus bergerak. Monster-monster di lantai ini mungkin hanya sedikit kesempatan


untuk istirahat."


Aiko, yang juga memeriksa sekitar, mendeteksi keberadaan


pintu keluar dari lantai ini. "Ada pintu di sana. Mari kita segera pergi


sebelum monster lain datang."


Mereka semua berjalan menuju pintu keluar, tetapi saat sudah


dekat pintu, mereka dikejutkan oleh sebuah penampakan mengerikan. Di hadapan


mereka, muncul seorang monster yang sangat besar dan menyeramkan.


Monster ini adalah 'Sandscale Goliath,' sejenis golem pasir


yang jauh lebih besar dari golem-golem sebelumnya. Tubuhnya terdiri dari pasir


padat yang mengkilap di bawah matahari gurun, dan mata merah yang berkilat


dengan ganas. Serangannya kuat dan sangat mematikan.


"Yah, tentu saja kita akan disambut sesuatu seperti ini


bukan," ucap Kira, ekspresinya menunjukkan rasa malas dan lelah akibat


pertempuran sebelumnya.


"Kita memang tidak bisa dibiarkan bersantai di


sini," ucap Aiko dengan tekad. Mereka semua bersiap pada posisi


masing-masing, siap menghadapi Sandscale Goliath.


Sandscale Goliath, boss gurun yang mengerikan, telah


sepenuhnya terwujud. "Kita mulai," ucap Lily dengan tegas, dan dia


bergerak dengan cepat, diikuti oleh Aiko yang bersiap dengan pedangnya.


pergerakan monster tersebut. Dia fokus pada jurus bayangannya yang kuat.


Sementara itu, Sera merapalkan buff sihir untuk meningkatkan kekuatan serangan


teman-temannya.


Disisi lain


Di lantai 30, yang bertema gunung berbatuan dengan


pemandangan yang menyerupai danau di bawahnya, atmosfer dipenuhi oleh kabut


tebal dan awan yang mengambang. Di tengah pemandangan yang memukau ini, seorang


pemuda berambut putih tampak berjuang melawan sekumpulan monster.


Pemuda itu memegang dua pedang hitam yang berkilau di


tangannya, dan ia berdiri kokoh di hadapan monster yang menyerangnya. Monster


ini adalah Raging Stone Golem, makhluk besar berbadan batu dengan tangan yang


keras seperti baja. Kulit golem ini penuh dengan paku-paku tajam yang berfungsi


sebagai senjata alaminya.


Pertempuran antara pemuda berambut putih dan Raging Stone


Golem berlangsung sengit. Pemuda itu dengan lincah menghindari serangan


monster, sementara pedang-pedang hitamnya bergerak dengan cepat untuk menyerang


bagian-bagian yang lemah dari golem tersebut. Setiap kali pedangnya menyentuh


tubuh golem, terdengar dentingan logam yang menggema di sekitar.


Kabut dan awan yang menyelimuti lantai ini menambah kesan


misterius pertarungan ini. Pemuda berambut putih menunjukkan keberanian dan


kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi monster berbahaya ini, sementara


Raging Stone Golem adalah penjaga setia lantai ini yang siap menjaga rahasia di

__ADS_1


balik kabut dan kabut yang mengendap di danau gunung batu ini.


"Haruki, apa kau tidak kelelahan?" tanya seorang


gadis dengan mata emas yang berkilau dan rambut panjang berwarna putih. Yuki,


begitulah nama gadis itu, berjalan mendekat ke arah Haruki sambil mengusap


keringat di dahinya.


"Terima kasih Yuki, tapi aku tidak apa-apa," ucap


Haruki sambil menahan tangan Yuki yang sedang membersihkan keringatnya.


"Apa kamu masih kuat?" tanya Haruki khawatir.


"Tentu saja, karena kamu yang melawan semua monster itu


sendiri, Haru," ucap Yuki sambil melihat ke belakang, di mana banyak


sisa-sisa monster yang hancur berserakan.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan turun ke bawah, dan ambil


artefak itu," ucap Haruki kemudian melompat ke bawah. Matanya yang


sebelumnya berwarna merah cerah sekarang tampak lebih gelap.


Yuki tersenyum dengan ekspresi yang benar-benar misterius.


"Tentu saja, Haru~" Kata-katanya diikuti dengan lompatan elegan


menuju danau.


Disisi lain,


"Akhirnya selesai juga," ucap Lily, merasa puas,


merenggangkan tubuhnya untuk melepas kelelahan.


"Ayo kita masuk," ucap Aiko. Dia membuka pintu dan


memasuki dalamnya, diikuti oleh teman-temannya yang lain. Mereka memasuki


lantai 30 dengan perasaan campuran antara keterkejutan dan antisipasi.


Saat mereka tiba di lantai ini, Sera tak dapat menahan diri.


"Suasanya sangat berbeda dari yang sebelumnya," ucapnya sambil


menghirup udara yang terasa menyegarkan.


Aiko membenarkan, semangatnya tidak kendur meski mereka


telah melewati banyak lantai. "Kau benar, mari kita lanjutkan."


Kira menanyakan kepada Sera, "Artefak yang kamu cari


ada di sini kan, Sera?" Sera mengangguk dan menunjuk sebuah danau yang


terlihat sangat jauh di bawah mereka, meskipun tertutup oleh kabut. Meskipun


demikian, dia merasa yakin dia menunjuk ke arah yang tepat. "Benar,


artefak itu ada di danau itu."


Lily, mencoba memandang sekeliling dengan heran, mencoba


menyusun gambaran tentang apa yang ada di balik kabut tebal itu.


"Sepertinya tidak terlihat ada danau atau apapun itu?"


Kira, merasa frustasi dengan komentar Lily, memperingatkan,


"Apa kau bodoh? Sudah jelas tertutup oleh kabut. Kamu tidak bisa


melihatnya dengan jelas dari sini. Kita harus turun perlahan."


"Iya, aku paham. Ayo bergerak!" ucap Lily dengan


semangat, memimpin langkah mereka saat dia berjalan di depan.


"Huh, ayo," ucap Kira dengan nada kesal, mengikuti


Lily. Mereka berjalan dengan hati-hati di tengah kabut tebal yang menyelimuti


lantai ini, dengan harapan untuk menemukan artefak yang mereka cari.


‘Tunggu saja kami, Haru. Kami akan menemukanmu,’ ucap mereka


semua dalam hati dengan perasaan yang berbeda-beda.

__ADS_1


__ADS_2