
" Wah sudah pagi." ucap Sakaru .
" Selamat pagi Tuan." ucap Sifa.
"Pagi, Sifa." ucap Sakaru.
"Oh, kalian ternyata sudah bangun." ucap penduduk desa.
"Maaf sebelumnya pak, ngomong-ngomong nama bapak siapa ya?" tanya Sakaru kepada penduduk desa.
"Nama saya adalah Rudi,dan juga saya adalah kepala desa di desa ini." ucap Rudi kepada Sakaru.
"Salam kenal pak, saya adalah Sakaru dan dia adalah Sifa." ucap Sakaru kepada Rudi.
"Oh begitu , kalau begitu kalian sarapan lah terlebih dahulu." ucap Rudi kepada Sakaru.
Sakaru dan Sifa pun segera sarapan. Setelah Sarapan Sakaru dan Sifa segera berangkat untuk berlatih menggunakan Chi...
"Terimakasih atas makanannya, kalau begitu kami akan segera pergi untuk berlatih di dalam bukit." ucap Sakaru kepada Rudi.
" Kalau begitu hati-hati di jalan." ucap Rudi kepada Sakaru.
Sakaru dan Sifa pun segera pergi menuju ke bukit untuk berlatih menggunakan Chi.
"System, bagaimana caranya agar aku bisa menggunakan Chi?" tanya Sakaru kepada System.
[Tuan bisa berlatih dengan cara menyerap kekuatan alam.]
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa menyerap kekuatan alam?" tanya Sakaru kepada System.
[Tuan harus bisa merasakan kekuatan alam terlebih dahulu.]
"Baiklah, aku akan mencobanya." ucap Sakaru kepada System.
Sakaru pun mencoba sekuat tenaga untuk merasakan kekuatan alam.
"Percuma , aku tidak bisa merasakannya. System apakah ada cara lain agar aku bisa merasakan kekuatan alam?" tanya Sakaru kepada System.
[Tuan harus memfokuskan diri, bayangkan saja kalau udara yang Tuan hirup itu adalah kekuatan alam.]
Sakaru pun mencoba kembali untuk mencoba merasakan kekuatan alam, dan akhirnya Sakaru pun mulai bisa merasakan kekuatan alam.
"Aku sudah bisa merasakannya, setelah itu bagaimana System." ucap Sakaru kepada System.
[Coba Tuan bayangkan semua energi itu terkumpul menjadi 1 titik.]
Sakaru pun mencoba untuk membayangkan semua energi itu terkumpul menjadi 1 titik. Sakaru pun mulai bisa menggunakan Energi Spiritual Chi sedikit demi sedikit.
"Wah, aku berhasil Sifa coba lihat ini."
"Wah,Tuan memang hebat." ucap Sifa kepada Sakaru.
__ADS_1
" Tapi ,bagaimana caranya agar energi ini menjadi sebuah elemen?"tanya Sakaru kepada System.
[Tuan bisa membayangkannya menjadi sebuah elemen.]
Sakaru pun melakukan apa yang diberitahu oleh System.
"Wah benar-benar menjadi sebuah api, tapi mengapa bentuknya sangat kecil?" tanya Sakaru kepada System.
[Tuan belum bisa menyerap energi dari alam ,jadi Tuan belum bisa membuat api yang lebih besar dari ini.]
"Kalau begitu apa ada cara yang lebih cepat agar aku bisa menyerap energi dari alam?" tanya Sakaru kepada System.
[Sebenarnya ada sebuah artefak yang berada di dalam bukit, artefak itu memungkinkan Tuan agar bisa menyerap energi Chi dengan mudah.]
"Kalau begitu, dimana lebih tepatnya?" tanya Sakaru kepada System.
[Tidak diketahui.]
"Tidak mungkin, bagaimana aku harus mencari artefak itu di dalam bukit yang luas ini?" ucap Sakaru .
"Tuan, sebenarnya aku dapat merasakan keberadaan artefak itu, tetapi jarak nya jauh terkubur di dalam tanah." ucap Sifa kepada Sakaru.
"Kalau begitu , ayo kita cari artefak itu." ucap Sakaru .
Sakaru dan Sifa pun mencari artefak itu, tetapi ada sesuatu yang mendekat ke arah Sakaru
[Peringatan, ada sebuah objek yang mendekat ke arah kita.]
"Apa kalian mendapatkan sesuatu yang bagus?" ucap Laura kepada Golem.
"Laura, mengapa kamu ada di sini?" tanya Sakaru kepada Laura.
"Master, apakah benar kamu adalah master?" tanya Laura terkejut.
"Iya,aku adalah mastermu. Terlebih lagi mengapa kamu ada di sini?" tanya Sakaru kepada Laura.
"Aku juga tidak tahu , tapi yang pasti ketika aku akan menghubungi Dewa Kebijaksanaan. Tiba-tiba saja penglihatanku menjadi gelap, dan tiba-tiba saja aku berada di sini." ucap Laura kepada Sakaru.
"Oh begitu ya ternyata kamu juga. Kalau begitu berarti semua Dewa-Dewi juga berada di sekitar sini." ucap Sakaru.
"System apa di sekitar bukit ini ada tanda-tanda kehidupan selain kami?" tanya Sakaru kepada System.
[Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain kalian, Tuan.]
"Oh begitu ya." ucap Sakaru .
"Kemungkinan besar para Dewa-Dewi tersebar ke seluruh penjuru Dunia. Kalau begitu pasti Ekki Sang Dewa Kegelapan sekarang ini sedang berada di suatu tempat." ucap Sakaru di dalam hati.
"Apakah kamu mengetahui sesuatu tentang artefak yang sedang kami cari, Laura?" tanya Sakaru kepada Laura.
"Artefak? Apakah itu adalah sebuah ukiran kayu yang berbentuk cawan yang ku temukan di dalam tanah?" tanya Laura kepada Sakaru.
__ADS_1
"Sepertinya itu adalah artefak yang sedang kucari, dimana benda itu sekarang?" tanya Sakaru kepada Laura.
"Sebenarnya aku membuang cawan itu di sebuah gua." ucap Laura kepada Sakaru.
"Kalau begitu ayo kita segera mengambilnya sebelum orang lain mengambilnya ." ucap Sakaru kepada Laura.
Mereka bertiga pun segera pergi ke dalam gua, sesampainya di depan gua.
"Bukankah ini gua yang berada dekat dengan Lembah Kematian? Mengapa bisa ada di sini?" ucap Sakaru di dalam hati.
"Aku membuang cawan itu tepat di dalam gua itu." ucap Laura kepada Sakaru.
"Aku juga merasa kita semakin dekat dengan artefak itu." ucap Sifa.
Mereka pun masuk kedalam gua itu. Setelah mereka masuk ...
"Bukan kah kamu orang yang kesini waktu itu? Mengapa kalian berada di sini?" tanya Riski kepada Sakaru.
"Oh ,manusia gua yang waktu itu." ucap Sakaru di dalam hati.
"Kami sebenarnya sedang mencari sebuah cawan. Apakah kamu memiliki nya? tanya Laura kepada Riski.
"Oh aku tadi menemukan sebuah cawan, mungkin itu adalah cawan yang kalian cari." ucap Riski kepada Laura.
"Sebenarnya itu cawan milikku. Aku tidak sengaja membuangnya karena aku tidak tahu bahwa cawan itu berharga." ucap Laura kepada Riski.
"Oh begitu ya, kalau kalian mau mengambil kembali cawan itu beritahu aku mengapa saat aku keluar tadi, yang ada bukanlah sebuah tanah kosong yang aku biasa lihat ,melainkan hutan yang sangat lebat." ucap Riski.
"Apa kau tidak mengetahuinya, kita ini bukan berada di dunia yang sebelumnya loh. Kau ini benar-benar manusia gua ya." ucap Sakaru kepada Riski.
"Begitukah, aku tidak mengetahuinya karena aku tidak pernah menginjakan kaki keluar gua selama aku hidup." ucap Riski kepada Sakaru.
"Kalau begitu sesuai janjiku tadi aku akan memberikan kalian cawan itu." ucap Riski kepada Sakaru.
"Baiklah kalau begitu." ucap Sakaru kepada Riski.
Mereka pun mendapatkan artefak yang berbentuk sebuah cawan dan mereka kembali ke desa Ranku. Karena hari sudah gelap mereka bertiga pun menumpang tidur di rumah pak Rudi.
"Kalau begitu,bagaimana kalau kita segera tidur?" ucap Sakaru .
"Dimana aku akan tidur? Disini hanya ada 2 kasur. Kalau begitu aku akan tidur bersama master." ucap Laura kepada Sakaru.
"Tidak kamu tidur saja di kasur yang satunya, aku yang akan tidur di sebelah Tuan." ucap Sifa kepada Laura.
"Tidak ,aku yang akan tidur di sebelah master." ucap Laura.
"Tidak, aku yang akan tidur di sebelah Tuan." ucap Sifa.
"Kalian berdua, tidurlah." ucap Sakaru.
Mereka bertiga pun tidur di dalam kasur Sakaru.
__ADS_1
"Mengapa jadi seperti ini? Yasudahlah lagian aku juga sudah mengantuk." ucap Sakaru sambil menguap.