
"Kalian berdua, bangun. Ayo kita pergi berlatih." ucap Sakaru .
"Oh Tuan , selamat pagi." ucap Sifa kepada Sakaru.
"Master, selamat pagi. Hari ini kita akan melakukan latihan untuk apa?" tanya Laura kepada Sakaru.
"Hari ini kita akan melakukan latihan untuk mengumpulkan energi Chi. Oh iya juga, Laura bagaimana kamu bisa membuat Golem di dunia ini?" tanya Sakaru kepada Laura.
" Aku hanya melakukannya seperti biasa kok menggunakan Skill Pembuat Golem." ucap Laura kepada Sakaru.
"Oh begitu ya." ucap Sakaru kepada Laura.
"Ini aneh, mengapa semua Skill ku menghilang? Apa karena aku kembali kedalam tubuhku yang asli? System bagaimana menurutmu?" tanya Sakaru kepada System.
[Sepertinya itu benar, Tuan.]
"Yasudahlah." ucap Sakaru didalam hati.
"Kalau begitu ayo kita pergi berlatih agar bisa memaksimalkan penggunaan energi Chi." ucap Sakaru.
Mereka bertiga pun pergi ke dalam bukit untuk mengumpulkan energi Chi.
"Lalu bagaimana cara menggunakan cawan ini, System?" tanya Sakaru kepada System.
[Tuan harus membayangkan kalau cawan itu berisi dengan energi Chi dan Tuan harus segera meminumnya.]
"Kalau begitu aku akan mencobanya." ucap Sakaru .
Sakaru pun segera membayangkan bahwa cawan tadi berisi dengan energi Chi, dan setelah itu Sakaru pun meminumnya.
"Wah, tubuhku terasa penuh dengan energi Chi." ucap Sakaru.
Cawan tersebut pun hancur karena sudah terpakai.
"Mengapa cawan ini tiba-tiba hancur, System? tanya Sakaru kepada System.
[Sepertinya artefak itu hanya bisa digunakan sekali.]
"Kalau begitu, apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Sakaru kepada System.
[Tuan harus menunggu , energi Chi yang berada di tubuh Tuan akan bertambah dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.]
"Kalau begitu, apakah ada kota di sekitar sini?" tanya Sakaru kepada System.
[Kota yang paling dekat dengan lokasi saat ini adalah kota Serlan.]
"Seberapa jauh lokasi kita dengan kota Serlan?" tanya Sakaru.
[17 KM ke arah barat.]
"Kalau begitu ayo kita berangkat." ucap Sakaru.
Merekapun menempuh perjalanan yang sangat panjang dan merekapun akhirnya tiba di kota Serlan.
"Fiuh, akhirnya kita sampai juga." ucap Sakaru.
"Tuan , aku lapar." ucap Sifa kepada Sakaru.
"Iya juga, apa sebaiknya kita menjual Laura saja ke tempat perdagangan budak." ucap Sakaru bercanda.
"Jangan jual aku ,master. Aku masih ingin bersama denganmu." ucap Laura sedikit sedih.
"Tidak, aku hanya bercanda. Sebaiknya kita mencari uang untuk membeli makanan." ucap Sakaru .
" Apakah kamu memiliki sesuatu untuk dijual,Laura?" tanya Sakaru kepada Laura.
__ADS_1
"Di bukit tadi sebenarnya aku menemukan sebuah batu yang bersinar ketika terkena cahaya matahari." ucap Laura kepada Sakaru.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menjual batu itu agar kita bisa membeli makanan." ucap Sakaru kepada Laura.
"Kalau begitu, ini batunya." ucap Laura sambil memberikan batu.
"Kalau begitu ,ayok kita ke toko yang ada di sebelah sana." ucap Sakaru .
Mereka pun pergi ke sebuah toko yang menjual berbagai macam batu-batuan.
"Permisi, apakah disini kami bisa menjual batu ini?" tanya Sakaru kepada pemilik toko.
"Mana sini oe liat dulu ha, wah ini batu mahal la." ucap pemilik toko.
"Harganya berapa bah?" tanya Sakaru kepada pemilik toko.
"Oe beli 3 juta rupiah dah ." ucap pemilik toko.
"Kalau begitu ini batunya." ucap Sakaru kepada pemilik toko sambil mengambil uang yang diberikan pemilik toko.
"Nah dengan uang ini kita dapat membeli makanan." ucap Sakaru kepada Sifa.
Mereka bertiga pun pergi ke sebuah rumah makan untuk membeli makanan.
"Permisi, kami ingin membeli 3 set nasi bungkus." ucap Sakaru kepada Pemilik rumah makan.
"Oh, tunggu sebentar ya akan saya siapkan dulu." ucap pemilik rumah makan.
Setelah menunggu beberapa lama ,makanan mereka pun telah siap.
"Berapa harga dari 3 set nasi bungkus ini?" tanya Sakaru kepada pemilik rumah makan.
" Harganya hanya 45 ribu rupiah." ucap pemilik rumah makan.
"Kalau begitu ini uangnya." ucap Sakaru sambil mengambil makanan.
"Ampun, ampuni saya. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi." ucap Mikazu ketakutan.
"Jangan berbohong lagi anak kecil. Sudah jelas bahwa kamu yang setiap hari mengambil apel yang saya jual." ucap penjual apel.
"Ada apa ini?" tanya Sakaru .
"Anak ini setiap harinya selalu saja mengambil apel yang saya jual tanpa membayar." ucap penjual apel kepada Sakaru.
"Sudah, sudah . Kalau begitu berapa harga apel itu, biar saya yang membayarkan nya." ucap Sakaru kepada penjual apel.
"Baiklah, total apel yang diambil anak itu adalah 79 buah. Jadi harga yang harus dibayar 2,3 juta rupiah." ucap penjual kepada Sakaru.
"Ba-baiklah a-akan Saya ba-bayar." ucap Sakaru terkejut mendengar harga tersebut.
"Buset, banyak sekali apel yang dia ambil." ucap Sakaru di dalam hati.
"Ini uangnya." ucap Sakaru kepada penjual apel.
Penjual apel itu pun pergi meninggalkan Mikazu.
"Terimakasih kakak karena telah menyelamatkan ku." ucap Mikazu berterima kasih kepada Sakaru.
"Oh tidak apa-apa, jadi apa alasanmu mengambil apel milik pedagang tadi." ucap Sakaru bertanya kepada Mikazu.
"Sebenarnya aku mengambil apel itu untuk adikku, Ekki." ucap Mikazu kepada Sakaru.
"Ekki? bukankah dia adalah Sang Dewa Kegelapan." ucap Sakaru didalam hati.
"Kalau begitu, dimana adikmu sekarang?" tanya Sakaru kepada Mikazu.
__ADS_1
"Kalau begitu ikuti aku." ucap Mikazu.
Sakaru pun mengikuti Mikazu dan setelah Sakaru mengikuti Mikazu...
"Disini tempatnya." ucap Mikazu kepada Sakaru."
"Dimana adikmu berada, Mikazu?." tanya Sakaru kepada Mikazu.
"Adikku berada di dalam kardus ini." ucap Mikazu sambil membuka sebuah kardus.
"Apakah kakak membawa kan ku apel?" tanya Ekki kepada Mikazu.
"Iya, kakak membawakan apel kesukaanmu." ucap Mikazu kepada Ekki.
"Ekki, ada yang ingin ku tanyakan kepadamu. Apakah kamu itu adalah Sang Dewa Kegelapan?" tanya Sakaru kepada Ekki.
" Itu benar, bagaimana kamu tahu bahwa aku adalah Ekki Sang Dewa Kegelapan?" tanya Ekki kepada Sakaru.
"Lucu sekali, anak ini." ucap Laura sambil mengangkat Ekki.
"Bagaimana bisa kamu menjadi seperti ini? Bukankah kamu itu adalah Dewa?" tanya Sakaru.
"Sebenarnya saat aku dan kakak ku mikazu sedang berpatroli di dunia bawah, tiba-tiba saja penglihatanku menjadi gelap, dan setelah aku sadar tiba-tiba saja tubuhku menjadi seperti anak kecil." ucap Ekki kepada Sakaru.
"Bukankah kamu memiliki kekuatan yang sangat hebat? Mengapa kamu tidak menggunakan kekuatanmu itu untuk menguasai kota ini?" tanya Sakaru kepada Ekki.
"Sebenarnya kekuatanku sebagai Dewa Kegelapan telah hilang." ucap Ekki kepada Sakaru.
"Oh begitu ya." ucap Sakaru .
"Ini aneh, mengapa kekuatannya bisa menghilang sama seperti kekuatanku." ucap Sakaru di dalam hati.
" System, bagaimana menurutmu?" tanya Sakaru.
[Tidak Tahu.]
"Kalau begitu, apakah kalian memiliki tempat untuk tinggal?" tanya Sakaru.
"Selama ini aku dan adikku tinggal di dalam kardus ini." ucap Mikazu kepada Sakaru.
"Kalau begitu , bagaimana kalau kalian ikut dengan kami?" ucap Sakaru .
"Bolehkah?" tanya Mikazu kepada Sakaru.
"Iya tentu saja." ucap Sakaru.
"Kalau begitu, mari kita cari penginapan terlebih dahulu karena hari sudah mulai gelap." ucap Sakaru.
Merekapun mencari penginapan dan menyewa sebuah kamar.
"Berapa harga ruangan per malam di sini? tanya Sakaru .
"Harga per malamnya hanya 50 ribu rupiah. Berapa lama anda akan menginap di sini?" tanya pemilik penginapan.
"2 malam saja, ini uangnya." ucap Sakaru kepada pemilik penginapan."
"Kalau begitu, ini kuncinya. Biar saya yang mengantarkan kalian menuju ke kamar." ucap pemilik penginapan.
Merekapun sampai di dalam kamar.
"Kalau begitu, karena di kamar ini hanya ada 2 tempat tidur, aku akan tidur dengan Sifa dan Laura di kasur ini, sedangkan kalian tidur di kasur satunya." ucap Sakaru.
"Mengapa kamu sangat baik kepadaku,padahal aku pernah menyerangmu dulu." ucap Ekki kepada Sakaru.
"Kita itu harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan, saat aku berada di dunia ini juga, ada penduduk desa yang menolong kami." ucap Sakaru kepada Ekki.
__ADS_1
"Oh begitu ya." ucap Ekki.
Mereka berlima pun segera tidur untuk mengisi energi untuk hari esok. Keesokan harinya...