
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...S...
...E...
...M...
...U...
...A...
🥀.
mencari pekerjaan.
...*...
...*...
...*...
menit ke menit telah berlalu, kini bel masukpun berbunyi. sebagai murid baru disekolah ini, Angela harus bisa ramah dan saling mendekatkan diri kepada mereka semua.
saat Angela masuk kekelas, nampak banyak orang terkejut dan senang melihat Angela masuk kekelas mereka.
"ehhh dia dikelas kita nih?."
"seperti nya."
kira-kira begitulah omongan para murid yang baru melihat Angela masuk. namun walau begitu, Angela nampak biasa saja.
dirinya harus bisa menahan diri menjadi wanita yang anggun...
__ADS_1
Angela hanya bisa membalas dengan senyuman manis yang membuat semuanya terpesona.
"cantik sekali..."
"senyumannya manis bad dah, kalo beli obat pahit auto jadi manis lihat ini."
"apakah ini jodoh saya?."
Angela yang mendengar itu hanya menggeleng kepala dan guru mereka yang melihat anak muridnya begitu malah ikutan menggeleng kepala.
"anak-anak kebiasaannya, lihat cewek cantik aja langsung suka." ujar pak guru yang ikut stres melihat muridnya begitu.
disisi lain lagi, terlihat sebuah bandara pesawat. lihat sekelilingnya penuh dengan orang-orang dan juga pesawat diluar. kalian bayangkan saja untuk melihat nya....
sesaat setelah itu, terdapat sebuah pesawat yang baru mendarat di bandara sana. saat pesawat sudah mendarat, terlihat seorang pria baru saja turun dari sana.
ia mengenakan pakaian serba hitam, saat dia dibandara, semua orang tertuju padanya. ya dia adalah Doni Alexsan, pria yang baru saja pulang dari Australia.
dia kembali kesini, karna paksaan dari kedua orang tuanya. padahal saat dia disana, dia baru saja berhasil mendapatkan pekerjaan.
namun siapa sangka karna kedua orang tuanya memaksa, kini dia harus menolak tawaran kerjaan itu dan memilih pulang.
"Daddy dan mamah lumayan keterlaluan, anaknya sudah bisa mencari kerja dia malah menyuruh kembali kesini. ha....apa yang harus aku lakukan???." ujar Doni yang terus menerus menghela nafas.
setelah ia menghela nafas, tak lama kemudian tiba-tiba muncul seseorang dari balik keramaian. seorang pria mengenakan jas hitam, membuat Doni langsung mengenalnya.
"tuh kan bener dugaan gua..."
sesaat itu juga, dia langsung berteriak memanggil Doni. dengan segera Doni mengacungkan tangannya walau dari raut wajahnya penuh dengan kebosanan.
"Doni...gimana kabar lu bro?."
"ye nggak usah segitunya juga kali, santai bro...santai...Daddy lu baru aja nelpon dan bilang jemput lu dari bandara."
"udah gua duga, Daddy gua bakal nyuruh lu kesini buat jemput gua. btw gimana kabar yang lain?."
"baik aja, ehhh iya lu dah dapet pekerjaankah disana?."
"baru mau dapat, tapi apa daya kalo gua dipaksa pulang. alhasil gua nganggur lagikan!!."
dengan wajah datar dia terus menerus meluapkan kekesalannya pada Daddynya itu.
merekapun dengan segera berjalan ke parkiran dan menuju sebuah mobil. saat mereka masuk, Doni akhirnya membuka percakapan.
"btw disini ada pekerjaan baru nggak?."
pria yang ditanyanyapun kebingungan harus menjawab apa, karna dikantor Daddynya sudah penuh dengan orang.
kemudian setelah ia ingat-ingat lagi, terdapat sebuah sekolah yang masih kekurangan guru.
ia malah merekomendasikan untuk Doni....
"mending jadi guru aja, dijamin para murid auto kesemsem Ama kamu."
"ye...serius lah gua ngomong yang bener nih. ya kali gua jadi guru, mana cocok?."
"cocok, lagipun IQ lu lumayan, jadi termasuk cocok kalo jadi pengajar. apalagi kalo soal matematika..."
"kalo matematika pastinya gua bisa, tapi apa pada murid bisa?."
__ADS_1
"tentu bisa, apalagi dengar-dengar ada SMA yang bagus banget, terus ditambah disana murid-muridnya itu cerdas semua. bukan hanya cerdas bahkan ada yang cantik loh.
mungkin aja kamu mau suka sama salah satu disana nanti, jadi nggak sering ditanyain Ama ortu lu. udah nikah belum?, udah dapat inceran belum?, udah dapat pasangan yang cocok belum?." ujar pria itu sambil mengejek Doni.
"berani bad lu ngomong gitu?."
"ya beranilah, gua aja paman lu."
ya orang yang sedang menjemputnya itu adalah paman dia sendiri. walau ia masih muda, tapi sudah jadi paman.
namanya Ryan Alexsan, dia adalah adik Daddy Doni.
walau mereka berdua seumuran, tetap saja karna dia pangkat lebih tinggi jadi harus memanggil paman. namun tidak dengan Ryan, dia malah sedikit tidak setuju dengan panggilan itu.
dia selalu saja mengomentari seseorang yang akan memanggilnya dengan sebutan paman. bahkan ketika Doni memanggilnya begitu, dia akan terlihat kesal.
"tumben berani nyebut kata lu paman gua."
"ye kan gua jujur, walau gua rada kurang suka dipanggil gitu. btw gua nyalain mobil ya, biar kita cepet sampai."
"iya iya gas ken wae!!!."
merekapun dengan segera pergi dari sana, menit ke menit telah berlalu....
selama diperjalanan, mereka berdua tidak pernah berbicara sama sekali.
mereka nampak diam dan terlihat Doni hanya fokus kepada ponselnya saja. berbeda dengan Ryan, dia malah fokus dijalanan, karna dia adalah pengendara.
namun karna merasa sepi, akhirnya Ryan membuka suara agar Doni menjawab pertanyaannya itu.
"Don, btw lu dah punya crush belum sih?."
"kagak punya, gua males mikir gituan. gua lebih mementingkan kerja sama pendidikan gua."
"hati-hati loh, dengar-dengar katanya anak dari teman Daddy lu udah pulang juga kesini."
"terus gua harus bilang apa?, kalo dia pulang yaudah apa urusannya sama gua?."
"lu nggak paham maksud ucapan gua itu apa?."
"bodoh amat!!!."
"lu tau nggak, kalo lu masih belum punya pasangan, katanya lu mau dijodohin sama anak temen Daddy lu itu. katanya sih udah dari kecil kalian berdua sudah mau dijodohkan."
"apa????, gila kali tu orang, gua mana mau sama orang yang lebih muda dari gua."
"bukannya bagus ya punya pasangan yang lebih muda, lebih menarik lagi kebanding yang seumuran. terkadang yang seumuran sangat langka jika dia masih polos."
"jangan kira dengan dia yang masih muda, bukan berarti dia termasuk gadis polos."
"ehhh kenapa kita malah bahas kayak gini sih?, ganti yang lain. btw lu mau kagak jadi guru?."
"terserahlah, lagipun gua termasuk cerdas jadi bolehlah kalo kerja jadi guru."
"nice bro, nanti urusan lainnya biar gua yang urus."
"thanks, owh iya lupa, lu dari tadi nanya kerjaan gua, sekarang gua yang nanya balik, lu kerja dimana?, dan posisi lu jadi apa disana?."
"susah bad dah pertanyaan lu, gua jawab satu-satu dulu. jujur gua kerja disalah satu perusahaan Daddy lu, terus kalo soal posisi atau jabatan, gua dijadiin direktur sama Daddy lu."
__ADS_1
"pilih kasih bad Cok, masa anaknya malah disuruh nyari kerja sendiri. padahal saudaranya aja dikasih kerjaan sama jabatan tinggi."