PGK (PAK GURU KESAYANGAN)

PGK (PAK GURU KESAYANGAN)
CHAPTER 8


__ADS_3

...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...S...


...E...


...M...


...U...


...A...


🥀.



Rencana Pertunangan.



...*...


...*...


...*...


menit ke menit telah berlalu, kini mereka akhirnya sampai dirumah. disitu sudah terlihat kedua orang tuanya yang sudah ada didepan rumah menunggu mereka pulang.


Doni yang melihat itu seketika menghela nafas dan mengeluarkan tatapan tajamnya.


"aku tidak suka hal ini." bathin Doni yang terus menerus menghela nafas.


Ryan yang paham hanya terkekeh kecil, dia merasa Doni sedikit kesusahan kali ini.


"yaudah yok turun."

__ADS_1


"yoklah."


merekapun segera turun, walau begitu mereka berdua tetap disambut hangat oleh maid dan juga kedua orang tuanya.


"Doni, kamu baru saja sampai disini, kenapa sudah pergi lagi?."


"bosan dad, masa aku dirumah terus."


"ya kan bukan berarti kamu bisa jalan nggak jelas sampai hampir malam gini."


"jalan nggak jelas kata Daddy, dad, apakah Daddy pernah mikirin gimana perasaan aku?, Daddy pernah nggak mikirin gimana bosannya aku?."


mendengar hal itu justru membuat ayahnya terdiam dan tak berkata apa-apa lagi. Doni yang melihat itu seketika kesal dan masuk begitu saja.


dia masih terlihat kesal dengan sikap Daddynya itu, namun sebelum dia kembali ke kamar, sang adiknya sudah berteriak memanggil dirinya.


"kakak...."


teriakkan itupun mengundang perhatian dari Doni, diapun langsung menoleh kebelakang dan terlihat seorang dua anak perempuan yang seumuran dengan Angela.


mereka berdua adalah Alisya Alexsan sekaligus Andrea Alexsan. mereka berdua sepasang anak kembar, selain itu ternyata mereka juga sekelas dengan Angela.


"kalian ngapain disini, udah belajar belum?."


"ya yang malah ditanyain belajar, tanya kabar kek atau apa gitu. ihhh kakak mah nggak seru banget."


"kalo kalian baik-baik saja, itu sudah sebuah kesenangan bagi kakak. lebih baik kalian istirahat sana, daripada kecapean."


"siap kak."


mereka berduapun langsung pergi kekamar, Doni yang akan segera naik keatas seketika terhenti karna Daddynya kembali mengangkat bicara.


"aku nggak pernah dendam sama Daddy, sebenarnya yang bikin kita menjauh adalah sifat Daddy yang selalu menyembunyikan.


aku tau Daddy pasti akan ngomong sesuatu keaku, sekarang karna sudah jelas katakan yang sebenarnya." sahut Doni yang sudah hafal dengan sikap Daddynya.


dari dulu hingga sekarang, ketika Daddynya akan membahas sesuatu, pasti akan terjadi perdebatan kecil diantara mereka.


ntah kesalahan siapa, mereka berdua akan mengungkitnya hingga akhirnya mereka lelah sendiri.


"sepertinya kamu memang benar-benar memperhatikan Daddy, baiklah Daddy akan katakan, kamu sebentar lagi akan bertunangan dengan seseorang."


Doni yang mendengar itu seketika kaget dan juga ternganga, dia tak percaya dengan semua itu.


"dad, jika ingin berdebat denganku lagi mendingan tidak untuk sekarang."


"Daddy tidak bohong ataupun ingin berdebat denganmu. Daddy berbicara yang sebenarnya, saat kamu pergi tadi Daddy mendapatkan telpon dari teman Daddy.


dia bilang anaknya sudah ada disini selama beberapa hari, jadi kami sudah menentukan dia untukmu."


mendengar hal itu sontak Doni kesal dan terus menggigit bibirnya. dia kesal kenapa harus disaat seperti ini dia baru dijodohkan.


"lebih baik aku menolak, aku tidak tau dia siapa, dan satu hal lagi kenapa kalian melakukan hal ini disaat situasi yang seperti ini."


"maksud ucapanmu itu apa, kamu jangan mengigau, lagian ini semua demi kebaikan kamu."


"beneran untuk kebaikan aku, tapi apakah Daddy pernah mikirin gimana perasaanku sekarang."

__ADS_1


"Daddy tau nak, tapi ini adalah hal yang harus kita lakukan. Daddy pernah berjanji dengan mereka, suatu hari salah satu dari anak Daddy akan bersama dengan anak dia."


"bukankah ada Alisya sama Andrea dad, kenapa nggak mereka aja. aku masih butuh kebebasan, ditambah aku sendiri nggak kenal sama dia.


yang ada bukannya bagus malah bikin susah, lagipun kami berdua belum tentu kenalan. sifat kami apakah sama juga, nggak kan?, jadi maaf dad aku menolaknya."


"jika kamu menolaknya sekarang, apakah kamu masih pria sejati. pria sejati tidak takut apapun itu, bahkan melawan isi hatinya sendiri dia bisa menghadapi."


"baiklah, aku akan menyetujuinya, tapi dengan satu syarat, selama sebulan dia nggak bisa buat aku jatuh cinta maka maaf aku akan mengakhiri hubungan itu."


"oke, Daddy akan bilang sama mereka."


"deal..."


setelah perdebatan besar hingga akhirnya anak dan Daddy itu sepakat untuk melakukannya. Doni yang sudah pasti bersiap akan hal itu justru punya niat lain.


ya dia ingin membuat wanita itu membencinya, agar perjodohan itu berakhir.


"aku harus membuatnya menjauh dariku." bathin Doni yang sudah menyiapkan segalanya.


karna merasa penasaran, Doni pun akhirnya bertanya dengan kedua orangtuanya itu.... "dad, kapan kalian akan pergi kesana?."


"malam ini, aku tau kamu sudah tak sabaran untuk membuat dia menjauh darimu." ujar Daddynya sambil berbisik pelan ditelinga Doni.


"Daddy memang hebat jika soal menebak pikiran."


mereka berdua seketika saling bertatapan dan tersenyum tipis, ntah apa yang sekarang mereka pikirkan.


mungkin saja rencana demi rencana sudah dirancang sejak tadi, demi hal ini Doni harus bisa bersikap kasar dan dingin.


karna yang dia tau, wanita pasti benci dengan pria yang seperti itu....


"anak ini benar-benar ingin menjauh darinya, aku harus cepat memberitahu dia untuk membuat rencana sempurna agar mereka bisa bersatu."


setelah berlama-lama memikirkan, kedua orang itu seketika pergi tanpa ada kata-kata apapun. Doni yang langsung naik ketangga dan juga Daddynya yang langsung duduk di sofa.


anak dan Daddy itu justru mengundang heran dari kedua orang yang daritadi hanya terdiam melihat mereka berbicara.


"menurut kakak ipar, Doni akan benar-benar menyetujuinya begitu saja?."


"tidak, anak itu cukup susah diatur, mungkin saja sekarang mereka berdua sudah memikirkan banyak cara."


"kalo begitu apakah terasa sulit?."


"tergantung perasaan mereka, karna yang pasti sekarang perasaan mereka berdua sama-sama dalam kecewa."


"jika begitu apa yang harus kita lakukan kakak ipar?."


"kita lihat saja nanti, ketika mereka mendapatkan kesusahan baru kita maju untuk membantu. kamu terus awasi Doni jangan sampai dia kesal apalagi nekat melakukan hal diluar nalar."


"pastinya kakak ipar, tapi kalo melakukan hal begitu kayaknya dia nggak bisa. dia aja takut ketinggian."


"walau takut, nekad sudah bulat itu yang paling bahaya."


"oke-oke, aku pergi naik keatas dulu."


mamah Doni pun mengangguk kepala, Ryan yang paham langsung pergi keatas dan menyusul Doni dikamar.

__ADS_1


disisi lain lagi, disebuah rumah mewah, terdapat beberapa keluarga termasuk para maid.


ya rumah itu adalah rumah Angela, dia juga sama halnya terkejut akan hal itu....


__ADS_2