
...“Kerja kerasmu hari ini akan menjadi kebahagiaan mu di masa depan nanti.”
...
...…....
Sekembalinya dari kafe, Noah segera menuju kamarnya. Ia langsung meminta sistem untuk mengecek status dan inventori.
[[Nama: Noah]
[Lever: 42]
[Job: -]
[Title: Beast Killer]
[HP: 13500 | MP: 14500]
[Strength: 10700 | Vitality: 10800 ]
[Agility: 11450 | Intelligence: 12800 ]
[Dexterity: 9800 | Luck: 5703]
[BP: 9873500 | Sense: 14100]
Ada beberapa perubahan angka yang terjadi, tapi itu tetap tidak mengubah situasi bahwa sekarang ia sangat lemah. Noah sedikit bingung, karena ia tidak bisa terus seperni ini. Ia pun teringat dengan sebuah item kunci yang ia dapatkan dari hasil melakukan misi harian 2 kali lipat.
Noah pun segera membuka iventory dan mengecek item kunci yang dapatkan.
[Item: Kunci Dungeon Slomo]
[Kelangkaan: B]
[Jenis: Kunci]
[Memungkinkan player untuk membuka Dungeon Slomon yang terletak di tempat khusus. Pergilah ke Taman Hujan di Kota Huan untuk mengakses Dungeon]
__ADS_1
Noah menyentuh dagunya, ia perlu ke luar kota untuk mengakses Dungeon, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan adiknya sendirian di saat orang-orang scarlet sedang mengincar dirinya.
“Ugh, apa yang harus ku lakukan?” Noah mengacak rambutnya frustasi, ia harus pergi untuk menjadi lebih kuat, tapi ia juga perlu melindungi adik perempuan satu-satunya.
Mungkin lebih baik dimulai dengan berbicara dulu.
…
“Ke Kota Huan? Jadi kita akan liburan ke luar kota?” Lea berseru semangat tentang salah paham ini, Noah tidak pernah mengatakan bahwa mereka akan pergi bersama, tapi Lea dengan senang hati menambahkan kata “bersama” di perkataan Noah.
“Bukankah lebih baik kau fokus dengan sekolahmu? Kau sebentar lagi akan menghadapi ujian dan perlu mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi.”
“Duh, Kak. Mengurung diri bersama tumpukan buku-buku itu sangat melelahkan kau tahu, setiap harinya aku hanya bisa melihat angka dan huruf. Belum lagi teori dan perhitungan yang sangat menyebalkan, sekali-kali aku juga ingin beristirahat sejenak,” jelas Lea. Ia menceritakan bagaimana mengerikannya kehidupan siswa kelas 3 yang perlu mempersiapkan ini itu. Belum lagi ia harus mengikuti kelas tambahan dan latihan praktik setiap harinya, sangat memuakkan.
“Kerja kerasmu hari ini akan menjadi kebahagiaanmu di masa depan nanti.” Noah menanggapi dengan bijak. Heran saja dengan anak-anak seumuran adiknya, di saat orang-orang bersusah payah untuk mendapatkan pendidikan, mereka malah dengan gamblangnya menganggap remeh hal itu.
Banyak orang di luar sana yang harus merelakan pendidikan mereka untuk bekerja demi melanjutkan kehidupan. Mereka harus melepas cita-cita mereka yang seharusnya mereka perjuangkan, jangankan orang-orang yang sudah pernah merasakan pendidikan, lantas bagaimana dengan mereka yang belum bisa merasakan pendidikan sekolah?
Jangankan masuk sekolah, mereka bahkan tidak berani untuk berharap dan memiliki cita-cita tinggi. Mereka hanya berharap bisa memiliki makanan untuk hari ini, itu sudah cukup.
Karena Noah pernah dalam situasi itu.
Karena gaji pekerjaan biasa tidak dapat mencukupi semua hal itu, Noah memutuskan menjadi Hunter. Awalnya Lea sangat tidak setuju dengan hal itu, akan tetapi Noah tetap pada keputusannya. Meskipun sangat sulit dan berbahaya, ia berusaha untuk bertahan dan hidup.
Yah, itu masa lalu yang pantas untuk dikenang. Karena sekarang, Noah sudah mendapatkan hadiah dari usaha dan kerja kerasanya di masa lalu.
“Jadi, kapan kita akan berangkat?” tanya Lea.
Mereka sedang berada di dapur untuk makan malam. Tidak ada lauk yang mewah, hanya masakkan rumah biasa, gulai, telur goreng, sambal terasi dan tahu goreng. Bagi Lea dan Noah itu sudah cukup mewah, yang penting mereka tidak hanya makan nasi dan garam.
“Karena kau memutuskan untuk ikut, maka aku kita akan berangkat di Sabtu siang ini. Pastikan kau membereskan semua barang-barang yang kau butuhkan.”
Lea tersenyum lebar sampai-sampai memperlihatkan lesung pipinya. Astaga, bagaimana bisa adiknya semanis ini?
…
“Ke Kota Huan?!”
Noah secara refleks menutup kedua telinganya, saking kerasnya suara Wawan, sistem sampai memberikannya peringatan ada bahaya di dekatnya.
__ADS_1
Astaga, suaranya sendiri saja sudah mengurangi 2 HP Noah. Memang Hunter Rank D tidak bisa diremehkan.
“Bagaimana bisa Kakak sejahat itu meninggalkan aku sendiri di Kota ini?” Wawan memeluk Noah dengan uraian air mata, oh jangan lupakan dengan ingus yang menempel di jaket olahraga Noah. Menjijikan.
“Siapa yang kau sebut kakak? Aku tidak ingat punya adik menyedihkan sepertimu.” Noah menjauhkan tubuh Wawan agar tidak menempel kepadanya.
Noah sengaja menyuruh Wawan untuk menemuinya di taman untuk memberitahukan bahwa ia akan pergi ke Kota Huan untuk liburan. Tidak, sebenarnya ia datang untuk pergi menaklukan Dungeon Instan yang disediakan oleh sistem.
“Berapa lama kau akan pergi, Kak?” tanya Wawan, ia menyeka air mata dan ingusnya. Ia sudah lebih baik sekarang.
“Tidak lama, aku akan pergi selama 2 hari. Siang ini aku akan berangkat bersama adik perempuanku dan pulang di Minggu malam karena ia tidak boleh melewatkan sekolahnya.”
“Astaga, kau sudah seperti orangtua jahat yang memaksa anaknya untuk terus belajar sampai mati,” kata Wawan tidak habis pikir.
“Oh, jadi di mata mu aku orang seperti itu?” Noah mengeluarkan belati hitamnya, membuat Wawan langsung panik ketakutan.
“Haha aku cuma bercanda kok, Kak. Kau adalah kakak yang sangat baik.”
“Lalu apakah kau sudah melist tempat-tempat apa saja yang akan kau kunjungi?” tanya Wawan saat ia sudah tidak melihat keberadaan belati hitam milik Noah.
Noah yang sedang memeriksa inventory-nya menoleh ke arah Wawan, “apakah itu perlu?” tanyanya dengan wajah polos.
Wawan menangis dalam hati, Kota Huan adalah kota wisata. Ada banyak tempat yang bisa indah dan menakjubkan yang harus dikunjungi.
“Bagaimana bisa Kakak semasa bodoh itu, sudah jauh-jauh ke sana harusnya Kakak menikmati liburan yang menyenangkan dengan mengunjungi tempat-tempat hebat di kota Huan.”
“Aku sudah menentukan tempat yang ingin ku kunjungi.”
“Begitu.” Tidak ada ketertarikan dari Wawan, ia sedang sibuk memikirkan sesuatu.
“Kak aku teringat ada hal yang perlu ku lakukan, jadi aku akan pergi sekarang.”
Belum sempat Noah membalas ucapan Wawan, pemuda sudah berlari masuk ke dalam mobil mewahnya. Mobil mewah itu melaju dengan sangat cepat, sampai Noah salah paham dan berpikir sepertinya Wawan sudah sangat kebelet untuk buang air. Padahal ada toilet umum di taman, yah meskipun kau perlu bayar 2000 agar bisa menggunakannya.
Memang toilet sendiri lebih baik karena kita tidak harus mengeluarkan uang.
Bersambung...
Tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komentar
__ADS_1