POWER INFINITE

POWER INFINITE
POWER INFINITE | CHAPTER 29. Kegilaan Steven


__ADS_3

Hutan lebat seperti hutan tropis, ada begitu beragam hewan-hewan unik yang memanjakan mata. Begitu juga dengan tumbuhan-tumbuhan, ada beberapa yang pernah mereka lihat dan ada juga yang tidak pernah mereka lihat tumbuh subur dengan ukuran yang sangat besar.


Karena hal tersebut, para Hunter malah merasa nyaman hingga tanpa sadar mengurangi kewaspadaannya. Mereka tidak tahu, monster yang sebenarnya mereka tunggu sejak tadi sudah mengawasi mereka.


"Aku baru pernah melihat katak dengan warna seperti ini, apakah ini merupakan spesies katak pohon" Salah satu Hunter laki-laki, mendekati seekor katak dengan warna ungu polkadot.


Sudah 1 hari mereka berada di Dungeon dan tetap tidak menemukan satu monster pun yang muncul. Dan menyenangkannya, pemandangan indah ini sangat memanjakan mata.


"Tempat ini lebih bagus dari yang ku kira, maksudku sepertinya kita cukup beruntung karena masuk ke tempat ini."


"Menurut ku juga begitu."


Para Hunter terlihat lebih bahagia dari biasanya, mereka memetik buah-buahan untuk mengganjal perut di perjalanan.


Malam akan segera tiba, dan sekarang bukan saatnya untuk bermain-main seperti ini. Noah yang merasa aneh dengan tempat ini pun memutuskan untuk menggunakan kekuatan barunya.


[Anda mengaktifkan skill Burung Kertas LV 1]


[Efek: Memungkinkan player untuk mengetahui apapun dalam radius 800 meter. 1 MP akan dikonsumsinya setiap menitnya]


Seolah memiliki 1000 mata, Noah dapat tahu apapun yang berada di sekitarnya tentu dalam radius 800 meter. Untuk sementara ia merasa tidak ada yang mengkhawatirkan. Karena MP Noah lumayan banyak, maka ia tidak perlu khawatir akan kehabisan MP jika menggunakan skill burung kertas dalam waktu lama.


Seorang Hunter yang baru saja berkeliling mengambil buah-buahan datang dan membagikannya kepada mereka.


Ketika Noah menyentuh buah itu, notifikasi sistem muncul.


[Buah Lalabi]


[Deskripsi: Buah yang hanya bisa dikonsumsi oleh suku Llabi, yang merupakan suku asli dimensi ini. Bisa menyebabkan kematian jika dikonsumsi oleh manusia]


Noah tersentak, ia langsung merebut buah Lalabi yang hendak di makan oleh Wawan dan juga Naomi.


"Kak ada apa?!" Wawan yang terkejut mendongak ke arah Noah yang sudah berdiri.


"Jangan makan dan muntahkan itu!" Semua orang memandang Noah tidak mengerti, "apakah ada sesuatu yang salah dengan buah apel ini?" tanya salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Itu buah beracun," jawab Noah singkat, akan tetapi orang lain hanya meresponsnya dengan datar. Tidak ada yang peduli sampai seorang tiba-tiba menjerit kesakitan.


"Agkkkkkhhhh!"


"Hei, apakah kau baik-baik saja?"


Tubuh Hunter itu berubah menjadi ungu dengan pink polkadot, terlebih lagi keluar akar dari tubuhnya dan hanya dalam waktu satu menit, mayat Hunter itu berubah menjadi tumbuhan aneh.


"Apa yang baru saja terjadi?" Naomi mendekati Noah karena terkejut. Tidak hanya itu, rekan-rekannya yang juga sudah mengkonsumsi buah-buahan itu juga mengalami hal yang serupa.


"Oi, Steven apa yang harus kita lakukan sekarang, ha?"


Berbeda dengan ekspresi takut mereka, Steven menunjukkan wajah senangnya. Rupanya ia tidak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk membunuh 3 Hunter sekaligus.


"Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Biarkan saja." Ia menjawab dengan santai, tanpa memperdulikan bagaimana perasaan rekan-rekannya.


"Kau sudah tahukan kalau buah itu berbahaya, itu sebabnya kau tidak mau memakannya!"


"Betapa liciknya dirimu!"


Snap!


Sebuah belati tajam baru saja terbang dan menancap pada pohon, menggores wajah Hunter yang baru saja berteriak kepada Steven.


"Kau pikir siapa kau berhak marah kepada ku, ha?"


Para Hunter menatap Steven dengan takut, bagaimanapun Steven adalah satu-satunya Hunter yang paling kuat di tempat ini, jadi meskipun mereka bersatu itu hanya akan berakhir dengan sia-sia.


Tidak ada hal baik yang akan terjadi, jika mereka mencoba melawan Steven. Setelah kejadian itu, suasana di kelompok berubah. Mereka tidak lagi mengambil buah-buahan di hutan, mereka hanya memakan bekal yang mereka bawa.


Tidak terasa sudah 3 hari berlalu, bekal yang mereka bawa sudah habis dan mereka mulai merasa kelaparan.


"Oi, lakukan sesuatu atau kita akan mati di sini!" Seorang Hunter dengan rambut cepak menghampiri Steven yang sedang tiduran sendirian di belakang pohon.


"Sebagai seorang ketua kau sangat tidak berguna, bukankah seharusnya kau melakukan sesuatu agar kita bisa keluar dari tempat ini?" Hunter itu terus berteriak, sedangkan yang lainnya terlihat tidak terlalu ambil peduli.

__ADS_1


Mereka tahu bagaimana sikap Steven yang sesungguhnya, laki-laki itu tidak akan segan-segan membunuh orang yang membuatnya merasa terganggu.


"Tidak ada makanan di sini, kita semua akan mati cepat atau lambat karena kelaparan!"


Steven membuka kedua matanya, "benar-benar seekor binantang yang berisik. Kau menggonggong dengan keras pada majikan mu, karena kelaparan."


Steven bangkit dan membuat Hunter dengan rambut cepak itu secara refleks berjalan mundur menjaga jarak. "Kau benar, cepat atau lambat kita akan mati di sini, karena itu..."


Srash...


Darah segar menciprat saat sebuah belati tiba-tiba menancap tepat di kepala seorang Hunter yang sedang duduk meringkuk.


Kyaaaaaa!!!


Jeritan ketakutan dari seorang Hunter wanita yang duduk di dekatnya menggema. Semua orang yang berdiri di sana terkejut bukan main.


"Apa yang baru saja kau lakukan?" Noah melemparkan kembali pisau yang semula Steven arahkan kepada Wawan. Beruntung Noah sudah menjadi kuat, jika tidak mungkin Wawan m sudah tergeletak tak bernyawa di sebelahnya.


Steven menyeringai, "aku? Aku hanya menyiapkan makan malam untuk orang-orang."


"Orang lemah tidak dibutuhkan di sini."


"Oi, apa kau gila? Dia adalah teman kita, bagaimana bisa kau melakukan itu?" Wawan yang baru saja menetralkan rasa terkejutnya segera menghampiri Steven dan menarik kerah pria itu.


"Lalu dari mana aku harus mendapatkan makanan yang tidak beracun, ketika satu-satunya yang kita punya di sini adalah daging manusia?"


Steven melirik ke arah Hunter dengan rambut cepak, "cepat masak orang itu."


Meskipun takut, pria dengan rambut cepak itu tidak bisa menolak. Ia sudah terlalu lapar untuk berpikir, ia tidak ingin mati di tempat ini. Jadi, ia segera menghampiri orang yang sudah dibunuh oleh Steven itu, mengeluarkan pedang besar miliknya dan mulai memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian.


"Kau monster!" Wawan melepaskan cengkeramannya di kerah pakaian Steven, ia kemudian memutuskan kalau ia akan pergi sendiri. Bertanya siapa yang akan ikut dengannya untuk meninggalkan kelompok.


Wawan, Noah dan Naomi. Tiga orang itu memutuskan untuk pergi meninggalkan tim, tidak masalah untuk Steven, karena ia juga tidak terlalu terburu-buru untuk membunuh mereka. Lagi, pula ditangannya atau bukan, 2 orang itu tetap akan mati.


...****************...

__ADS_1


Like


__ADS_2