POWER INFINITE

POWER INFINITE
POWER INFINITE | CHAPTER 22. Pak Tua Menyebalkan


__ADS_3

Bukankah akan sangat menyenangkan saat melihat bagaimana seseorang memakan kembali apa yang dikatakannya?


......................



......................


Di sebuah pondok di atas bukit, Noah dan lainnya tengah menikmati dessert.


“Aku tidak menyangka ada tempat sebagus ini di atas bukit tidak dikenal,” ucap Wawan, ia sangat menikmati makanan penutupnya.


“Hoho, kalian tidak akan pernah merasakan hal ini di tempat lain,” jawab Edmu, ia baru saja selesai membuat teh untuk menjamu para tamunya. Setelah pembincangan singkat di jalan, Edmu memutuskan untuk mengajak Noah dan lainnya mampir ke tempatnya.


Tujuan Edmu mengajak Noah dan lainnya ke rumahnya adalah untuk mencari tahu lebih banyak tentang Noah, apa hubungan dua orang dengan kekuatan yang sangat bertolak belakang ini. Jika, keberadaan Noah akan membahayakan Lea, maka Edmu akan dengan senang hati melenyapkan Noah.


Namun, saat Edmu mengetahui bahwa Noah dan Lea adalah saudara kandung ia merasa melenyapkan Noah sekarang adalah hal yang tidak baik. Karena itu, ia akan menyusun rencana untuk membuat Noah mengungkapkan niat aslinya.


“Apakah kalian seorang Hunter?” Edmu menarik kursi rotan dan duduk. Ia menyesap teh bunganya yang masih mengepulkan asap, karena baru diseduh.


“Ya, kecuali gadis itu.” Wawan menjawab dengan tangan terentang menunjuk Lea.


“Aduh,” pekiknya, ia segera menarik tangannya dan mengusap bagian yang terasa sakit karena dipukul Lea.


Mendengar jawaban Wawan, ia mengangkat sebelah alisnya bingung, “Kau bukan Hunter, Nak?”


“Ya, hanya gadis SMA biasa.” Bukan Lea yang menjawab, melainkan Noah. Sungguh, ia benar-benar ingin segera pergi dari tempat ini. Noah benar-benar tidak menyukai Edmu yang secara terang-terangan membencinya dan menganggapnya sebagai seorang penjahat.


“Kenapa kau tidak menjadi Hunter? Padahal kau memiliki potensi untuk itu, jika kau menjadi seorang Hunter, kau mungkin berada di Rank A atau lebih kuat dari itu.” Tidak ada kebohongan yang terselip pada kalimat Edmu, ia sangat yakin rentang kekuatan Lea itu lebih dari itu. Ia mungkin saja akan menjadi Hunter yang melebihi Hunter Rank S, karena ia tahu betul kekuatan seorang Kesatria Cahaya itu melebihi kapasitas kekuatan seorang manusia biasa.


“Apa Anda yakin, Kek?” tanya Wawan antusias, bahkan Lea tengah mengulum senyum mendengar hal itu, ia yakin jika ia menjadi Hunter, Lea pasti bisa membantu dan melindungi Noah saat kakak tersayangnya berada dalam bahaya.


“Tentu sa-“


“Berhentilah bicara omong kosong yang tidak berguna,” potong Noah. Ia benar-benar kesal sekarang, bisa-bisanya orang asing sepertinya ingin membuat Lea terlibat dalam bahaya dengan membuatnya mendengar hal-hal yang tidak berguna.


Edmu beralih menatap manik hitam Noah, ia tahu kalau ia baru saja membuat kesal Noah. Karena itulah yang ia inginkan.


“Lalu bagaimana dengan kalian? Tingkat berapa seorang Hunter seperti kalian?”

__ADS_1


“Aku Ranc C!” Wawan menjawab antusias.


“Dan kakak adalah Hunter Rank F,” lanjutnya.


“Rank F? Tidak mungkin itu ada. Setiap Hunter yang terbangun, kekuatan mereka akan diukur dan kemudian dikelompokkan menjadi beberapa tingkatan. Dari E sampai S, dan jelas Rank E adalah Rank paling rendah dan Rank S adalah Rank paling kuat. Mereka yang tergolong dalam Rank E adalah sampah yang hanya sedikit lebih kuat dari manusia biasa, dan kau bilang Rank F? Bukankah jelas itu berarti ia lebih buruk dari sampah?”


Diam.


Tidak ada respon dari ketiga orang tersebut, Wawan sedang menahan kesal karena mendengar Edmu menjelekkan Noah dan Lea yang baru tahu tentang itu, tentu sangat terkejut. Pantas saja Noah selalu kembali dengan penuh luka dan sering keluar masuk rumah sakit.


Lalu?


Bagaimana dengan Noah?


Ia tidak peduli dengan anggapan itu, diremehkan sudah menjadi hal sehari-hari baginya, jadi ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Yah, mungkin dulu ia hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa, tapi sekarang berbeda.


Bukankah akan sangat menyenangkan saat melihat bagaimana seseorang memakan kembali apa yang dikatakannya? Dirinya yang sekarang akan sangat mudah membungkam mulut orang-orang seperti Edmu, tapi tidak sekarang.


….


Mobil hitam mewah melaju kencang membelah jalanan di malam hari. Tidak seperti di kereta, perjalanan dengan mobil membutuhkan waktu lebih lama karena jalur yang harus mereka lewati itu memutar.


Jam menunjukkan pukul 23 malam, bertepatan dengan hal itu, mobil sedang melewati area hutan yang sepi. Suasana sunyi dan mencekam, sampai akhirnya dari kejauhan terlihat orang yang sedang melambaikan tangannya.


Ketika mobil yang Noah tumpangi itu semangkin dekat, barulah terlihat sebuah mobil sedang berhenti di tengah jalan.


Supir menghentikan mobilnya, dan seseorang mendekat dan mengetuk kaca.


“Maaf mengganggu, tapi apakah kami bisa meminta bantuan?” tanya orang itu, setelah supir menurunkan kaca mobil.


“Apa yang bisa saya bantu?”


Bukannya menjawab langsung, orang itu malah mengintip ke tempat penumpang. Seolah sedang memeriksa sesuatu.


Setelah ia memastikan sesuatu, ia pun menunjukkan smirknya.


Tanpa sepengetahuan sang supir, pria itu mengeluarkan sebuah belati yang ia sembunyikan dalam jaketnya. Dan…


Bugh!

__ADS_1


Tanpa aba-aba orang itu sudah terbaring di aspal dan tidak bernyawa.


[Sistem mendeteksi bahaya kecil. Harap Player waspada]


“Kau baik-baik saja?” tanya Noah dari arah belakang, tentu saja Noah tidak sedang tidur. Ia sejak tadi terjaga karena ia takut sesuatu seperti ini mungkin akan terjadi.


Dan sebelum Supir itu menjadi korban, Noah dengan segera menyerang orang asing itu dengan kekuatan hitam.


“Saya baik-baik saja, tapi apakah orang itu baik-baik saja?” tanya supir itu bingung, karena tiba-tiba saja orang asing itu terbaring tidak sadarkan diri.


“Kau tidak harus mengkhawatirkannya, tetap di sini dan kunci pintu mobilnya.” Noah melepas sabut pengaman dan langsung turun.


“Eh, tuan apakah ada masalah?”


“Kak kenapa kau turun?” Wawan yang terbangun karena suara berisik, sedikit terkejut saat melihat Noah keluar dari mobil.


“Tetap di sini. Aku akan segera kembali,” tegas Noah, ia berjalan mendekat ke arah segerombolan orang yang sedang menginginkan nyawanya.


Noah jelas tahu apa keinginan mereka dan sistem tidak akan memberikan Noah peringatan kalau musuhnya hanyalah orang-orang sekelas preman pasar. Sudah pasti di antara mereka, pasti seorang yang hebat.


“Bukankah ia gila?”


“Tidak ku sangka, si Rank F yang keluar. Padahal aku sudah bersiap untuk melawan Rank C.”


“Mungkin ia bisa menjadi pemanasan untuk kita.”


“Kita? Apa kau bercanda? Bukankah satu orang sudah cukup mengalahkannya?”


Semangkin Noah mendekat, semangkin jelas Noah mendengar gonggongan anjing.


“Apakah Scarlet yang menyuruh kalian?” tanya Noah tanpa basa-basi.


Seorang pria kurus dengan rambut duri maju ke depan dengan sombongnya. Ia menatap Noah dari atas sampai bawah, kemudian tertawa remeh.


“Kamu nanyaaa?”


......................


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2