
......"Ini hangat, karena rasanya benar-benar seperti sebuah keluarga."......
......................
“Apa kau tidak lelah tersenyum terus?” Noah mengambil ransel yang dibawa Lea dan menaruhnya di rak bagasi sedangkan Lea mengambil tempat terlebih dahulu.
“Hehe, ini akan menjadi hari bersejarah.” Lea terus menyunggingkan senyum, ia menatap para penumpang terlihat tertib di stasiun. Sangat ramai dan menyenangkan.
“Bukankah itu terlalu berlebihan?” Noah duduk di depan gadis itu, ia melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan arah pandangannya ikut menatap pemandangan di luar dari jendela kaca yang tebal.
Ini tengah hari, akan tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi para pengunjung stasiun. Entah mereka sedang menunggu keberangkatan menuju kota tujuan atau mungkin telah sampai di tempat tujuan mereka.
“Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu weekend seperti ini. Ayah menghilang, Ibu tidak pernah bangun dan Kakak selalu sibuk bekerja, sedangkan aku hanya duduk dan menikmati jerih payah Kakak. Kadang aku berpikir untuk menghilang saja, agar tidak perlu menjadi beban untuk Kakak.”
Raut wajah Lea berubah sedih. Bukan sekali dua kali ia berpikir seperti itu. Setiap kali Noah kembali dengan keadaan penuh luka dan sering masuk dan keluar rumah sakit, Lea yang tidak bisa melakukan apa-apa merasa sangat bersalah. Jika, ia tidak ada, Noah pasti akan hidup lebih baik, ia bisa menikmati kehidupan sekolahnya dan menjalani kehidupan normal.
“Apa kau merasa bersalah dan tidak nyaman?” tanya Noah.
Lea mengalihkan pandangannya, menatap manik hitam Noah yang sedang menatapnya lembut dengan ekspresi serius.
“Tentu saja,” jawab Lea dengan jujur tanpa menyembunyikan apapun.
“Aku sangat ingin bisa berguna untuk Kakak,” lanjutnya, membuat sudut bibir Noah tertarik ke atas.
Ia tidak boleh tertawa, tapi bagaimana? Wajah serius Lea terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
“Kalau begitu hiduplah dengan baik, capai cita-cita mu, makanlah makanan yang sehat, dan terakhir… kau harus bahagia, Lea.” Noah tersenyum tulus.
Senyuman mempesona yang membuat pipi Lea seketika merona layaknya kepiting rebus. Sial, bagaimana bisa kakaknya menjadi setampan ini.
Saat Lea yang menahan malu menoleh ke samping, ia tidak sengaja melihat gadis-gadis yang juga ikut terpesona dengan senyuman Noah. Ia menatap gadis-gadis itu dengan tatapan nyalang membuat gadis-gadis itu langsung mengalihkan muka, meskipun terus mencuri pandang kepada Noah.
“Jangan tersenyum, Kak!” ujar Lea dengan wajah cemberut.
“Apakah senyum ku aneh?” Noah memiringkan kepalanya, apakah wajahnya sangat jelek sampai-sampai adiknya tidak sudi melihatnya?
“Pokoknya Kakak tidak boleh tersenyum!”
Meskipun bingung, Noah tetap menuruti keinginan adiknya. Karena apapun yang membuatnya bahagia, Noah akan melakukan segalanya.
…
Setelah menghabiskan 3 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kota Huan. Lea terlihat sangat bersemangat sekali.
__ADS_1
“Akhirnya, duduk selama 3 jam benar-benar memuakkan.”
“Bukankah kau harusnya sudah biasa?”
Benar, Lea harusnya sudah biasa, karena biasanya 1 mata pelajaran di sekolahnya akan menghabiskan waktu 4 jam di ruangan. Sangat mengerikan.
“Tetap saja.”
“Akhirnya kalian tiba.”
Seorang pemuda dengan hoddie abu-abu menghampiri Noah dan Lea dengan senyuman lebar.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Noah kepada Wawan.
“Tentu saja untuk berlibur. Aku juga sudah membuat list tempat yang akan kita kunjungi di sini, tapi sebelum itu biarkan aku membawa kalian ke penginapan.” Wawan dengan gamblangnya bicara dan menuntun mereka menuju mobil mewah yang sudah terparkir di belakangnya.
Lea menarik kemeja kotak-kotak yang Noah kenakan, “Kak siapa orang aneh itu?” tanya bingung.
Noah tidak tahu harus menjelaskan dari mana, jadi ia hanya menggarung pipinya bingung.
“Dia kenalanku,” jawab Noah akhirnya.
Melihat wajah sedih Lea, Noah pun menjelaskan lebih detail tentang Wawan.
Lea menghela napas, ia benar-benar tidak suka melihat teman kakaknya di sini, tapi ia juga tidak bisa membuat Noah khawatir. Ia pun mengandeng lengan kekar Noah agar segera masuk mobil karena Wawan sudah sangat berisik di dalam sana.
…
“Selamat datang, Tuan Muda.” Pelayan itu memberi hormat kepada Wawan, setelah membukakannya pintu mobil.
“Ini bukan penginapan,” ucap Lea begitu ia keluar dari mobil.
“Memang bukan, tapi tempat ini lebih baik dari pada penginapan.” Wawan memberikan isyarat kepada pelayan itu membawakan barang-barang mereka masuk ke dalam, sedangkan ia mengajak Noah dan Lea untuk masuk dan makan siang.
“Apakah kau menyewa tempat ini?” Lea tidak bisa menyembunyikan betapa ia terpukau dengan manshion mewah ini. Ada banyak sekali barang-barang mewah dan antik di sini. Apakah kenalan kakaknya memang sekaya ini?”
“Tidak, Ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke 2 tahun.”
Deg.
“Ha-hadiah ulang tahun? Kau yang berumur 2 tahun sudah dapat sebuah manshion?” Lea secara refleks berteriak. Astaga, bahkan jika ini sebuah lelucon, maka hal ini sama sekali tidak ada lucu-lucunya.
“Memangnya apa yang salah sih? Saat ulang tahunku yang ke 1 tahun saja aku dapat sebuah pulau, apakah bangunan kecil ini adalah hal yang luar biasa?”
Ingin sekali Lea menyumpal mulut sombong itu, tapi apalah daya. Ia harus menjaga image-nya di depan Kakaknya.
__ADS_1
“Pelayan sudah menyiapkan makan siang, kalian pasti lelah. Bagaimana jika kita makan siang terlebih dahulu dan setelah itu jalan-jalan.”
Melihat ketulusan Wawan, Noah hanya bisa menerimanya. Meskipun ia tidak nyaman dengan hal ini, tapi ia tetap tidak bisa menolak makan gratis, kan?
Benar. Ini adalah sopan santun.
…
Setelah makan siang selesai, Noah dan lainnya pergi jalan-jalan menikmati kota Huan. Perjalanan mereka sangat asik, karena Noah bisa melihat wajah bahagia dari orang-orang yang sangat ia sayangi. Yah, meskipun sangat sulit mendapatkan ketenangan selama perjalanan karena mereka sangat berisik dan terus bertengkar untuk masalah kecil.
“Kakak mari mengunjungi Museum Hunter, di sana ada banyak sekali harta dan fosil monste-“
“Tidak, mari mengunjungi alquarium. Katanya ada ikan langka yang sangat unik dan imut.”
“Heh, jangan memotong perkataan ku. Dan kita sudah pergi ke tempat yang kau inginkan tadi, sekarang adalah tempat yang ku inginkan. Benarkan, Kak?” tanya Wawan dengan muka memelas kepada Noah.
“Hey, siapa yang kau sebut Kakak? Kak Noah itu Kakak ku tau!”
Wawan melirik Lea, gadis cantik itu memasang wajah cemberut yang menyebalkan, “Dilihat dari umur, aku lebih tua dari mu-“
“Tidak aku hanya punya satu, Kakak!” tegas Lea, ia membuang wajahnya dengan ekspresi puas karena berhasil membuat Wawan kehilangan kata-kata.
“Apa hobimu itu memotong perkataan orang? Setidaknya biarkan aku menyelesaikan kalimatku!”
“Bwek!” Lea menjulurkan lidahnya, menyatakan kemenangan mutlak.
Noah yang sudah tidak tahan dengan tingkah mereka akhirnya melerainya. Bisa-bisa ia diperebutkan seperti ini.
“Kalian berdua, aku ada sebuah urusan. Jadi, akurlah saat aku tidak ada.”
“Apa? Kakak emangnya mau kemana? Bawa Lea, ok?”
“Dia benar, setidaknya Kakak harus membawa ku,” timpal Wawan, yang berhasil mendapatkan lototan tajam dari Lea. Kapan ia bilang gitu sih?
“Aku ada urusan di taman Hujan. Dan aku tidak bisa membawa kalian bersama ku.”
Ekspresi anak anjing yang sejak tadi mereka buat menghilang berganti dengan ekspresi tidak tertarik.
“Owh, tempat itu,” guman Wawan.
“Kakak selamat menikmati,” kata Lea.
Apakah ada yang salah di sini?
......................
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like dan komentar