POWER INFINITE

POWER INFINITE
POWER INFINITE | CHAPTER 08. Kekacauan di Ibu Kota


__ADS_3


Melihat keadaan yang sepi dan sunyi, Noah pikir ini sudah sangat larut dan jam pulang kerja sudah berakhir. Namun, tempat ini lebih sepi dari biasanya, seolah-olah tidak ada keberadaan manusia.


“Bukankah ini Ibu Kota? Tidak biasanya sesepi ini,” gumana Noah sambil memperhatikan sekeliling. Keadaan sangat berantakan seolah-olah orang-orang pergi dengan tergesa-gesa. Noah menghela napas, membuang semua pikiran merepotkan yang singgah di kepalanya. Saat ia mengambil jalan berbelok dan masuk ke pusat Ibu Kota, seorang memanggilnya.


“Kau yang di sana!”


Noah menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, terlihat seorang tentara dengan senjata di tangan. Tentara itu melangkah mendekati Noah dan menatap Noah dengan sangat serius.


“Apa yang sedang Anda lakukan di sini? Tidakkah kau mengerti jika sekarang Ibu Kota sedang tidak aman?”


Noah terperangah. Begitu mendengar Ibu Kota sedang dalam keadaan tidak aman, keadaan adik perempuannya adalah hal pertama yang ia khawatirkan.


“Apakah terjadi sesuatu?"


“Bagaimana bisa kau menanyakan hal yang jelas seper-“ Tentara itu seketika diam saat menyadari penampilan Noah yang berantakan. Pakaian yang lusuh dan sobek di beberapa bagian dan pisau hitam yang patah.


“Oh, ternyata kau seorang Hunter. Katakan dong sejak awal,” ungkapnya riang.


Ia pun menuntun Noah ke tempat kekacauan yang terjadi, ia juga menjelaskan bahwa beberapa tetoris baru saja melakukan pemberontakan dengan memanfaatkan terbukanya gate yang tidak terdeteksi oleh Asosiasi Hunter.


Noah tersentak, “Apa bagaimana bisa?” tanyanya, yang mendapat gelengan kepala dari tentara tersebut. Sesampai di pusat Ibu Kota, suara bising terdengar nyaring dan keramaian seketika menyapanya. Di belakang batas kuning, para warga terlihat sedang sangat antusias mengambil gambar untuk diposting di media sosial.


Para tentara terlihat kesulitan menertibkan orang-orang, sedangkan para Hunter yang bertarung melawan monster dari Gate sudah mencapai batas kekuatan mereka. Terlihat jelas kelelahan di wajah-wajah mereka.


“Apakah bantuan belum tiba?”


“Mereka mengatakan sedang dalam perjalanan ke sini, dan Hunter lain yang sedang sibuk menaklukan gate itu,” jawab salah satu dari mereka.


Hanya ada Hunter 4 Hunter C dan 7 Hunter D di lokasi saat ini, bagaimanapun ini adalah situasi yang sangat tidak menguntungkan. Jika mereka tumbang sekarang, maka orang-orang yang tidak punya kekuatan lah yang akan menjadi korban.

__ADS_1


Noah menatap layar ponselnya, setelah menerima pesan dari adik perempuannya bahwa ia baik-baik saja, membuat Noah bernapas lega. Ia menoleh ke arah Monster yang sedang mengamuk, di lihat dari manapun itu terlihat sangat menyeramkan Rank D, tapi yang mengherankan adalah kekuatannya sangat tinggi hampir mendekati monster Rank C. Tidak heran banyak Hunter yang terluka parah dan kelelahan, Noah menatap sekitar. Ada banyak mayat monster di mana-mana, gedung yang rusak parah dan beberapa kendaraan juga tidak terkecuali.


“Sangat aneh,” guman Noah, ia tetap tenang mengamati situasi dari arah belakang. Tidak ada rasa takut sama sekali.


Badum!


Monster kera putih yang sedang mereka lawan tiba-tiba saja menghamtamkan 2 pukulan ke bawah, membuat ledakan besar dengan guncangan. Beberapa orang terhuyung, meskipun jarak mereka cukup jauh, tapi Noah dapat merasakan betapa kuatnya monster kera putih itu.


Keo-heok!


Tanker yang berhadapan langsung dengan kera putih berlutut di hadapan monster itu, ia baru saja memuntahkan seteguk darah segar.


“Bukankah Tanker itu adalah Hunter Rank C, bagaimana ia bisa terluka melawan monster Rank D?” suara ketakutan dari orang-orang membuat keadaan menjadi kacau karena kepanikan, tentara berusahan menenangkan orang-orang, sedangkan para Hunter semangkin terdesak karena bantuan tak kunjung datang.


Akhirnya, para Hunter yang tersisa memutuskan membuat sebuah formasi untuk melakukan serangan kombinasi.


“Mungkin aku bisa memberikan sedikit bantuan,” pikir Noah, ia pun mengambil langkah mundur tanpa menarik perhatian. Setelah melihat bagaimana serangan para Hunter tidak terlalu berpengaruh kepada monster kera putih, Noah pun berpikir ia bisa membuat celah dengan melukai monster itu sedikit dengan serangan yang cepat dan dapat menembus apapun.


Noah yang menyadari hal itu malah kincep, ia tidak bermaksud untuk membunuh monster itu, tapi monster kera putih itu berhasil ia kalahkan. Orang-orang mulai bersorak karena ancaman telah berakhir, Noah yang tidak ingin menarik perhatian segera meninggalkan tempat.


Di sisi lain, terlihat seorang gadis dengan seragam SMA mengamati dari atas gedung. Ia melihat segalanya yang dilakukan oleh Noah. “Apa-apaan orang itu?” gumannya. Setelah monster kera putih itu lenyap, sebuah kertas muncul di hadapannya dan kemudian hancur. Pada tiupan angin yang lembut, ia pun lenyap.



Hari ini akhirnya tiba, setelah menghabiskan waktu selama 2 minggu di rumah sakit, akhirnya Noah sudah di izinkan untuk kembali ke rumah. Karena barang-barangnya hanya sedikit, ia pun tidak terlalu kesusahan, meskipun sang adik juga ikut bersamanya.


“Mas Noah, apakah akan pergi sekarang?” seorang perawat menyapanya di lorong rumah sakit, Noah tersenyum dan mengangguk, sedangkan Lea mencibir di belakang.


“Ah, pada akhirnya hari ini tiba juga, ya.” Ekspresi wajah perawat itu seketika murung, bagaimana tidak?


Tempat satu-satunya mereka untuk cuci mata telah hilang, karena masa perawatan Noah sudah berakhir. Jika senggang atau lelah para perawat kadang akan mengunjungi Noah sekedar untuk mengobrol ataupun menikmati wajah tampannya. Noah pemuda yang ramah dan baik hati, juga enak di ajak mengobrol membuat orang-orang sangat senang dengan dirinya.

__ADS_1


“Mas Noah apakah tidak keberatan jika memberikan nomor, Mas?” tanya perawat itu dengan muka malu-malu. Lea yang mendengarnya melotot, sedangkan Noah yang berpikir kalau mungkin saja ada pemeriksaan yang akan dikirimkan kepadanya pun dengan senang hati memberikan nomornya yang membuat perawat itu menjerit tertahan.


“Kak tidak ku sangka kau adalah seorang yang seperti itu,” kata Lea menatap Noah dengan ekspresi jijik.


“Apa maksudmu?”


“Sejak kapan kau menjadi seorang playboy?”


Plak!


Sebuah pukulan pelan mendarat di kepala Lea, “jaga bicaramu. Aku bukan orang seperti itu.”


“Duh, ini adalah aset berharga, bagaimana jika rusak karena pukulanmu itu,” kesalnya sambil mengusap kepalanya.


“Itu hanya pukulan ringan.”


“Pukulan ringan pun juga disebut sebuah pukulan, dan lagi mana ada orang yang mau menyerahkan nomornya begitu saja.” Lea mencebikkan bibirnya, terlihat sangat lucu.


“Apa salahnya, lagi pula itukan untuk pemeriksaan, memangnya untuk apa lagi perawat meminta nomorku?”


“Sekarang aku malah kasihan dengan perawat itu,” guman Lea prihatin.


.


.


Bersambung..


Mohon dukungannya dengan memberikan like dan komentar 🤗


Satu villain muncul, kira-kira kelanjutannya bakalan gimana

__ADS_1



__ADS_2