
Tanpa sepengetahuan siapapun akhirnya Vella memutuskan untuk mengakhiri apa yg menjadi beban hatinya saat ini.
dan akhirnya dia sadar dendam yang membara akan membakar dia sendiri di kemudian hari.
Vella mengerti, memang sakit yang ia alami perlu di lepaskan. tapi dengan cara membunuh orang yang memberikan luka itu tak akan membuat semuanya kembali seperti semula.
dia sadar yang harus di singkirkan adalah hatinya yang sedang di kotori oleh dendam dan amarah.
Di ruangan yang cukup luas nampak orang sedang berkumpul dengan tegangnya menantikan sang monster yang dengan gampangnya menggoyahkan kekuasaan mafia Asia.
bisikan orang orang makin menggema dengan datangnya pria yang mengaku sebagai jenderal perang tengah menyeret seseorang yang masih terikat dengan kursi kayunya.
malam yang gelap makin mencekam ketika Bram yang di seret ke tengah kerumunan.
matanya kian membola di saat melihat sang atasan yang menunduk tak berdaya di depan orang yang menyeretnya tadi.
"apa yang sebenarnya terjadi? bukankah kalian akan membantuku? lalu kenapa aku harus terikat seperti ini."
" diam bodoh. kau tak bilang bahwa orang yang akan kau ganggu itu adalah orang yang dekat dengan kelompok silhouete.
__ADS_1
dan sekarang kau tanggung akibatnya, karna mereka yang sudah merajai Asia dan Amerika."
mendengar itu Bram bergetar ketakutan, tak menyangka niatnya mengganggu Vella malah akan menyebabkannya hancur ditangan geng yang paling berkuasa di Asia tersebut.
" sial, bagaimana bisa aku malah berurusan dengan iblis seperti mereka, apa kaitannya anak sialan itu dengan mereka, sampai mereka melakukan ini semua demi gadis murahan itu"
pintu aula itu terbuka dan nampaklah gadis cantik nan elegan memakai topeng yang menutupi dua bola mata indahnya.
Jimi tersenyum dan menghampiri gadis tersebut dengan senyum menawannya.
"Selamat datang Queen, sebenarnya kau tak harus melakukan exsekusi ini sendiri.
gadis itu tersenyum manis pada semua orang yg menatap dirinya heran.
wajar saja karna mereka tak pernah tau siapa dia sebenarnya, dikarenakan semua pekerjaan selalu di bawah perintah Jimi.
"Tak masalah Jim, aku hanya akan menyelesaikan urusan yang belum selesai dengan tuan Bram lingga" walaupun Vella mengatakan itu semua dengan senyum manisnya, tapi di mata semua orang yang berada di sana itu semacam ancaman yang membuat mereka merinding.
"Ok, kalian seret dia ke ruang bawah."
__ADS_1
"Dan kalian semua, Queen adalah pimpinan kita.
dan semua yang dia katakan adalah perintah mutlak, jikalau ada yang membantah akan habis di tangan ku."
"Stop Jim, jangan buat mereka mati ketakutan.
malam ini aku mengumpulkan kalian di sini untuk ikut merayakan kebahagiaan ku,
dan untuk seterusnya Jimi yang akan mengatur segala sesuatunya yang ada dalam kelompok ini" sesudahnya Vella melenggang masuk menuju ruang bawah tanah di mana Bram akan menghadapi karmanya.
Di ruangan yang gelap hanya bercahaya kan lampu kuning, Bram terikat dan terus meronta.
ia sadar telah berurusan dengan orang yang salah, ia kurang lebih tau apa konsekuensinya karna menyinggung orang petinggi kelompok.
bahkan bos nya saja harus tunduk di depan Jimi, apa lagi dirinya yang hanya sekedar mengikuti saja.
Bagai mana, apakah masih penasaran apa yang kan terjadi.
yang jelas siapin tisu ya,
__ADS_1
mana tau ada bawangnya ntar....