Prince Of Atlanta

Prince Of Atlanta
Bab 5 Pesta Puteri


__ADS_3

 


Pertengkaran pangeran Sean dan raja Artem berujung dengan terpisahnya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.


 


Syakilla menyerahkan satu kristal putih yang berfungsi sebagai alat komunikasi keduanya.


Sea hanya menatap Syakilla dengan tatapan


enggan berpisah dia memeluk lama Syakilla hingga raja Artem berdehem kencang sambil menggelengkan kepala.


Setelah kepergian Syakilla, Sea kembali menjadi puteri cantik. Siang itu dia memakai gaun ungu dengan sulaman bunga di tepinya.


Sea menguap sambil membaca buku, mengusir kebosanan sekaligus rindu dengan Syakilla.


Rey hanya menatap Sea, dia ingin tahu apakah kakaknya sedang dalam suasana hati yang buruk? sebenarnya dia tidak ingin menemani Sea namun sebelum dia bisa melangkah pergi Sea sudah ada dihadapannya. Dia cukup trauma dengan suasana hati kakaknya akhir akhir ini. Sudah dua hari Sea selalu menyuruhnya yang tidak tidak, mulai dari memandikan macan sampai merebut tulang dari seekor anjing. Sea bahkan mengatakan jika itu tugas wajib calon tentara. Tidak hanya Rey, seluruh prajurit di bawah komando Sea pun merasakan hal yang sama. Mereka mengalami frustasi mendalam karena Sea selalu menantang mereka untuk berduel. Mereka ditinggalkan dengan luka luka disekujur badan.


Sedangkan para pelayan menjadi tempat murka Sea setiap kali mereka tidak sengaja melakukan kesalahan. Semua orang di kediaman pangeran Sean melihat Sea seolah melihat dewa kematian. Setiap dari mereka akan berusaha keras menghindari pertemuan dengan Sea, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.


Rey berusaha meminimalisir keberadaannya dia mempertahankan keheningan sebisa mungkin. Ia berharap dewi keberuntungan akan berpihak padanya, ya... setidaknya sekali saja!.


Sea mengalihkan pandangannya dari buku kemudian memandang Rey. Dia mengernyit heran melihat Rey yang tengah duduk kaku sambil bersila. Postur duduknya seperti para pertapa yang tengah meminta pencerahan.


" Ada apa dengan cara dudukmu?"


Rey terlonjak kaget mendengar suara Sea, dia terjungkal ke depan mengenai batang pohon yang menjadi sandaran beberapa bunga.


" Kenapa? kenapa kau begitu kaget?"


Rey bangkit dan menepuk tanah di celananya

__ADS_1


" Tidak, aku hanya sedang melamun "


" Melamun? apa yang sedang kau lamunkan Rey?"


" Aku hanya sedang menghitung domba milik pangeran mahkota mungkin saja pangeran yang gemuk itu akan memakan semua dombanya tahun depan"


" Kenapa kau memikirkan hal yang tidak penting? apa tugas dariku belum cukup?"


Rey menggeleng cepat, bisa tepar jika Sea menambah tugasnya.


" Atau kau perlu hiburan Rey? Aku punya macan yang begitu agresif sangat menantang jika kau mau memandikannya"


Rey membelalakkan matanya terus menggeleng kuat kuat


" Yakinlah kakak aku sama sekali tak butuh hiburan! aku hanya sedang iseng lagi pula aku tak terlalu suka memandikan macan!"


Sea menopang dagu nya dengan tangan lalu menatap jauh ke arah Rey


" Mmm bagaimana dengan serigala? Aku rasa kau akan suka"


" Benarkah? atau singa? singa peliharaan ku lucu lucu! mereka sangat menggemaskan"


Rey memandang Sea seolah melihat hantu, dia mengutuk seluruh spesies kucing dan keturunannya. Dia ingin menebas semua kucing besar peliharaan Sea. Ia rasa ia cukup membenci kata kucing. Rey menghela nafas dia harus mencari cara agar bisa kabur dari kakaknya, kalau tidak ia meragukan sampai mana kewarasannya dapat bertahan. Rasa rasanya dia akan gila jika terus berada di dekat kakaknya.


Rey melihat diam diam ke arah Sea, dia berdiri dengan perlahan kemudian berlari kencang meninggalkan Sea. Sea yang melihat kelakuan Rey hanya bisa tertawa lemah, dia juga tidak tega terus menahan Rey. Sea hanya tersenyum dia cukup terhibur dengan tingkah adiknya, meskipun dia dan Rey kakak beradik keduanya cukup jarang menghabiskan waktu bersama. Selain karena posisi Sea dalam militer, Rey dulunya juga takut berdekatan dengan Sea.


Namun syukurlah selama setahun belakang keduanya cukup dekat. Rey bahkan tak lagi menampakan wajah takut jika berhadapan dengan Sea. Entah hanya perasaan Sea atau tidak dia seperti melihat Rey yang dulu dua hari ini. Jadi dia memutuskan untuk memperhatikan Rey sebentar. Awalnya Sea agak bingung tapi lama kelamaan dia malah merasa lucu dengan tingkah adiknya. Hingga Sea pun mencoba menggoda Rey alhasil Rey malah lari tunggang langgang.


Ditengah tawa Sea tiba tiba seorang gadis pelayan memberikan sebuah gulungan yang merupakan titah raja. Sea meraih gulungan itu dan membukanya, wajah Sea menggelap kemudian melangkah cepat ke kediamannya.


 

__ADS_1


Di taman istana para gadis bangsawan tengah berbincang sambil memamerkan penampilan masing masing. Mereka saling unjuk kecantikan. Ada pula yang memperbincangkan laki laki terpanas di ibukota. Beberapa gadis bahkan saling memperlihatkan perhiasan di tubuh mereka.


 


Di ujung istana puteri ketiga raja menopang dagu bosan. Dia menunggu sepupunya yang paling menawan, Sea. Dia mengabaikan beberapa gadis yang berusaha mencari perhatiannya. Dia mengerut tidak suka ketika salah satu gadis menjelek jelekkan sepupunya.


" Aku rasa puteri Sea tidak akan pernah datang" seorang gadis muda bergaun toska menutup kipasnya sambil tersenyum maklum.


Dia merupakan puteri perdana menteri, ia cukup tidak menyukai Sea karena kekasih dan kakak lelakinya selalu membandingkan dia dengan Sea.


" Mmm mungkin puteri Sea tidak mau bergaul dengan kita, bukankah puteri Sea merupakan gadis tercantik di negeri ini?"


seorang gadis bergaun putih ikut menimpali, dia juga salah satu yang tidak suka dengan Sea. " Maksudmu puteri Sea mengira kita tidak pantas berteman dengannya?"


" Boleh jadikan? bukankah selama ini puteri Sea selalu dingin kepada kita?"


" Aku juga mengira begitu!"


Seorang gadis cantik dengan gaun hijau ikut mengomentari, dia merupakan sepupu puteri ketiga dari jalur ibunya. Dia dan saudaranya sudah lama membenci Sea karena Sea terlalu angkuh dan sombong. Selain itu Sea juga menolak mentah mentah lamaran dari keluarga mereka. Penolakan itu berubah menjadi dendam yang tak berujung. Keluarga ratu selalu mempersulit Sea dan pangeran Sean. Hal ini membuat geram pangeran Sean sehingga pecahlah propaganda yang menewaskan putera tertua dari kediaman sang ratu.


Raja Alex hanya bisa menenangkan mertuanya karena dia tahu betul tabiat adik dan keponakannya.


" Kakak sepupu kau tidak bisa menuduh Sea begitu!"


" Puteri apakah yang hamba katakan salah? puteri sudah lupa apa yang dilakukan puteri Sea pada paman tertua?"


" Kakak itu bukan salah Sea, dia hanya membalas apa yang paman tertua lakukan padanya!"


" Hamba tahu kedudukan hamba tak setara dengan kalian tapi...."


Puteri ketiga hanya memutar mata tak peduli, Ia sejujurnya tak terlalu menyukai kerabat dari pihak ibunya. Meski begitu sebagai seorang puteri kerajaan ia harus berpura pura di depan mereka, sungguh melelahkan!.

__ADS_1


" Jika puteri Sea tak seperti itu, bukankah seharusnya dia datang?"


" Aku disini! apa yang kalian bicarakan tentangku??"


__ADS_2