Prince Of Atlanta

Prince Of Atlanta
Bab 11. Hari Kehancuran Atlantis


__ADS_3

Raja memandang ke segala arah, lalu menghembus napas pasrah. Dia akan menyerahkan semua ini kepada takdir, yang harus ia lakukan sekarang hanya berusaha seikhlas mungkin untuk menerima semua ini.


" Yang mulia mari kita bersiap"


Antonio berdiri tegap menghadap dua belas menteri yang masih menunggu, wajah mereka dipenuhi dengan raut kebingungan.


Setiap orang bertanya tanya apakah yang akan terjadi pada Atlantis? mengapa raja dan tuan Antonio dipenuhi dengan perasaan putus asa?


Seolah sesuatu yang buruk akan terjadi? mereka menggeleng pelan, hal ini seharusnya tidak terlintas dalam pikiran mereka.


Bagaimanapun sebagai abdi setia Atlantis mereka seharusnya mengharapkan hal yang paling baik untuk Arlantis.


Duarrrr!!!!!!


Suara ledakan menggema, beberapa pelayan istana menjerit ketakutan.


" apa ini??" teriak salah satu menteri, menteri itu berdiri dan bergegas keluar.


menteri yang lain saling bertukar pandang, mereka menghela napas, lalu kembali duduk diam, menunggu perintah raja.


Raja memasang ekspresi murung, lalu memberi perintah kepada jenderal untuk berjaga di pintu istana.


" yang mulia hamba disini" Han membungkuk memberi busur salam kepada raja Atlantis, tangannya menggenggam erat pedang, ketakutan ini sudah menjadi mimpi buruknya selama bertahun tahun.


Semenjak ayahnya memberi tahu tentang janji mereka kepada pangeran Atlantis yang hilang, ia sudah merasakan firasat buruk ini, firasat akan kehancuran Atlantis.


Han membelai pedangnya, jika mungkin ia akan membunuh semua musuh itu!


" Xuan Yihan, kesatria utama Atlantis, pewaris naga perak. Aku yakin kau sudah tau maksud keberadaan mu disini bukan?"


" ya yang mulia"


" apakah kau takut?"


" tidak"


" apakah kau menyesal?"

__ADS_1


" tidak"


" baik letakkan tangan mu di atas tanganku, aku akan memulainya. Ingat kau tak diizinkan untuk menyesal"


Han mengangguk, meletakkan tangan diatas tangan sang raja.


" Xuan Yihan kuharap kau mampu membawa kembali takdir Atlantis, jika kau bertemu dengannya nanti tolong ucapakan permintaan maafku padanya. Hei nak kau tak perlu memandangku seperti itu, yakinlah kau akan mengerti nantinya alasan aku mengatakan ini, putera mahkota Atlantis itu akan berbeda dari yang lainnya, ingat untuk menyanjung ku di depannya"


" Xuan Yihan selesaikan tugas ini dengan baik, aku harap kau bahagia"


Han menggepalkan tangannya, meskipun raja telah banyak membunuh musuh politiknya ia tetap orang yang ramah terhadap bawahannya.


Membayangkan akan berpisah dari tuan seperti itu Han merasa hatinya cukup tertekan.


Twisssstttttt.......shussshhhh.....


beberapa sosok memasuki aula dengan paksa, prajurit Atlantis terdekat menghadang mencoba mengulur waktu seperti yang diperintahkan oleh raja mereka.


" Minggir!! kalian prajurit bodoh, kalian pikir kalian masih bisa selamat, hei akan aku tegaskan sekali lagi ini akhir Atlantis!!!"


" Haha.... Selena kau terlalu percaya diri, apa menjadi ratu membuatmu bodoh?" Antonio menghadang melempar mantera ke arah Selena, ratu Arktrik.


" Selena kau wanita yang picik bukankah ini hanya kesalahan Pangeran Arz, mengapa kau menghancurkan Atlantis?"


" Kau lebih tahu alasannya daripada aku Antonio, meski tak ada dendam ini aku yakin Atlantis tetap akan hancur sesuai ramalan iya kan?"


Antonio terdiam, ya Selena benar ini takdir


takdir yang tak mampu ia ubah.


Antonio menyerang Selena, ia merapalkan mantera demi mantera ke arah ratu Arktrik itu, seperti yang Selena katakan ini takdir yang tak bisa dihindari jadi karena ini takdir mutlak tentu ia harus menyerang sesuai takdir, ya..... meski pada akhirnya ia dan yang lainnya akan dimakamkan disini.


Tidak masalah, jika kematian mereka mampu mencegah ditaklukkan nya Atlantis dia rasa itu sepadan.


Karena tugas utama mereka saat ini adalah melindungi raja dan Han, setidaknya mereka harus bertahan sampai raja selesai merapalkan mantera nya.


" Apa sih yang kalian lakukan, kalian paham kan perlawanan yang kalian kerahkan tidak akan ada gunanya, sekarang lebih baik kalian minggir dan biarkan aku mendapatkan mahkota Atlantis"

__ADS_1


" Maaf tapi kami tak akan mundur"


" Dasar bodoh!! apa kau cari mati hah!!"


Selena mengayunkan tongkatnya menjatuhkan lima prajurit yang mencoba menghadangnya.


" Bodoh!! bodoh!! Jack, Jane habisi prajurit bodoh ini!"


" Sesuai perintahmu Ratu"


Dua kesatria terkuat Arktrik berpencar ke semua penjuru Aula merobohkan satu demi satu prajurit Atlantis.


Antonio menghela napas memandang raja dan Han dikejauhan, sebentar lagi bisiknya pelan.


" Kesatria Atlantis, ayo angkat tongkat mu, meski perang akan menghancurkan kita, jangan pernah biarkan Atlantis takhluk! baik mari kita berjuang! ".


" Ya" Gema itu memenuhi seluruh aula, itulah kesatria Atlantis, kesatria paling tangguh di seluruh lautan, tekad mereka membara, keyakinan dihati mereka tercermin dalam sorot mata yang mereka tampilkan.


Hanya satu keyakinan dihati mereka Atlantik tak boleh takhluk


" Ah apa apaan ini Antonio kau terlalu tercela aku tidak akan melepaskan mu"


Selena bergerak cepat menyerang titik mematikan tubuh Antonio, tentu saja pada langkah ini semua orang akan tahu bahwa ia berniat membunuh menantu sekaligus penasehat raja Atlantis itu.


Antonio menghindar dengan elegan, mantera kelas menengah ini tak terlalu berguna untuknya, ia bisa saja membunuh ratu bodoh ini namun ia paham jika itu terjadi hal yang mengerikan akan menimpa Atlantis, setidaknya kehilangan sementara Atlantis jauh lebih baik daripada karma buruk karena mengubah takdir.


Bagaimana pun dampak mengubah takdir cukup buruk, kutukan itu..... Antonio menghela napas, baiklah dia hanya perlu bertahan sebentar lagi.


Selena kembali melemparkan mantera, kali ini ia menyerang dua menteri yang mencoba menyerangnya dari belakang, gaun merah yang dikenakannya melambai seiring gerakannya.


Antonio terdiam, ratu ini baru berusia delapan belas tahun namun bakat nya terhadap sihir cukup tinggi, jika tidak mana mungkin gadis seusianya mampu merapalkan mantera tingkat menengah tanpa jeda seperti itu.


Sebenarnya Antonio ingin mengutuk pangeran Arz dengan kencang, jika lelaki sialan itu tidak mencari masalah dengan menghamili seorang gadis lalu mencampakannya, masalah rumit ini tidak akan pernah terjadi.


Entah mengapa ia merasa pangeran Arz mungkin sangat marah karena menyesal sekarang, bagaimana pun dia tidak hanya gagal menjadi mertua raja Arktrik tapi juga menjadikan Atlantis negerinya di ambang kehancuran.


*Antonio tersenyum dalam, biarlah meski hari ini Atlantis ditakdirkan hilang ia yakin suatu hari nanti tanah kebanggaanya akan menemui cahayanya kembali.

__ADS_1


untukmu pangeran terpilih aku sungguh berharap kau tidak akan mengecewakan kami*


__ADS_2