Prince Of Atlanta

Prince Of Atlanta
Berita dari Atlantis


__ADS_3

" Maksud ibu apa? kami harus membuka baju di depan paman mesum ini?"


" Siapa yang kau katakan mesum bocah? Aku masih normal tidak mungkin tertarik dengan pria besar macam kalian!"


" Pria besar? paman yakin kakakku bisa disebut sebagai pria besar?"


Panglima Darwis memandang ke arah Sea lalu menggeleng takzim " Kau benar bocah! kakakmu benar benar tanpa cela"


" Jadi apa ibu setuju membiarkan paman mesum ini melihat punggung kak Sea?"


" Bisakah kau tidak memanggilku mesum bocah! kenapa kau begitu menjengkelkan?"


" Sea apa yang kamu lakukan nak?"


Pangeran Sean berteriak nyaring ketika melihat putera sulungnya mananggalkan satu demi satu pakaiannya. Puteri Helda bahkan menahan nafas ketika melihat kulit putih anaknya tengah mengintip dibalik gaun yang menggantung dipinggang.


Sementara kedua orang tuanya berteriak kaget Sea sendiri telah menyingkapkan punggungnya, ditengah punggung putih itu terdapat lambang kerajaan Atlantik yang bersinar keperakan.


Semua mata di ruangan itu tertegun terutama panglima Darwis dan puteri Helda, mereka begitu syok melihat tanda Atlantik di punggung Sea. Mereka sama sekali tidak menyangka setelah lebih dua ratus tahun menghilang akhirnya tanda itu muncul kembali.


" Kakak! bukankah ini lambang Atlantis? artinya Sea adalah putera mahkota itu?"


Panglima Darwis mengangguk dia cukup terpana dengan apa yang ia lihat.


" Kalau begitu bukankah ini buruk? Arktrik jelas tak akan membiarkan Atlantik bangkit kembali, dan sudah pasti mereka mengincar penerus Atlantik yang secara tak langsung berarti nyawa Sea dalam bahaya. Ini jelas lebih serius daripada ancaman raja Alex"


" Ibu, Ibu tak perlu khawatir Sea bisa atasi semua ini sendiri. Ibu harus yakin Sea akan lalui semua ini dengan mudah"


" Kamu benar nak"


" Jadi apa rencana paman?"


Panglima Darwis menggeleng melihat itu Sea melirik ke arah ayahnya. Pangeran Sean melangkah tegap menarik Sea ke belakang lalu memandang kakak iparnya


" Aku tak membiarkan kau membawanya kak!


Aku tak ingin kau membawa puteraku"


" Hei Sean aku tak akan membawanya namun cepat atau lambat anakmu harus memenuhi takdirnya sebagai pewaris takhta Atlantis"


" Kenapa harus Sea? kalian bisa pilih Rey,


Aku tak rela jika itu Sea!"

__ADS_1


Rey membulat tak percaya mendengar kata kata ayahnya dia ingin mengutuk seluruh ikan di danau karena membuat dia sial.


" Ayah bisakah ayah menjaga hati ku sedikit? apa ayah tidak tahu telingaku sudah berdarah karena mendengar ucapan ayah"


" Sayangnya Atlantik memilih Sea bukan Rey


kau harus belajar ikhlas karena suatu hari nanti Sea akan berlama lama di bawah lautan.


Dan kau Sea aku ingin kau segera belajar sihir karena hidup di kedalaman lautan tanpa sihir itu cukup merepotkan"


" Paman bolehkah aku ikut belajar sihir juga?"


" Tentu kau akan berguna untuk mendampingi kakak mu"


" Ya paman aku tidak akan pernah membiarkan kak Sea terluka setidaknya sampai Atlantis kembali berjaya"


" Tekad yang bagus anak muda"


 


Setelah percakapan diruang itu Sea pergi ke dalam kamarnya, dia menatap sebuah bola sihir berwarna biru muda ia teringat dengan masa kecilnya di pasifik. Saat itu dia baru berusia lima tahun, Karena masalah internal kerajaan Syam ayahnya kemudian mengirimnya untuk tinggal dengan neneknya di pasifik. Saat itu dia begitu senang melihat keindahan kota bawah laut, hingga tak sengaja menabrak seorang gadis kecil. Gadis itu begitu manis dengan senyum ceria yang tersemat di wajahnya. Dia bahkan tidak menangis atau menyalahkan Sea dia hanya tertawa dan menepuk pundak Sea kemudian berlalu pergi.


 


Ketika Sea sadar dari keterpakuannya dia melihat sebuah bola sihir biru tergeletak di tanah, Sea mengambil dan menyimpannya sampai saat ini.


" Little princess aku datang apa kamu merindukan ku?"


" Ha ha ha bagaimana kamu merindukan ku? jelas hanya aku yang terkesan dengan pertemuan kita. Little princess aku ingin tahu kamu sebenarnya siapa? mengapa senyum tulusmu begitu menawan? Aku benar benar tidak sabar bertemu lagi denganmu"


Sementara itu di luar kamar Sea


" Siapa itu little princess? apa kakak pernah bertemu dengan seorang gadis kecil dulu?


kenapa ayah diam saja"


Dibalik pintu dua orang tengah berjongkok sambil menempelkan telinga pada daun pintu


satu berpikir kritis sementara satu lagi tercengang


" Ayah tidak tahu? kenapa menatapku begitu? Aku juga tidak tahu!"


" Aku serius ayah! jangan menatapku seolah aku mencuri harta ayah"

__ADS_1


" Bukannya kamu selalu mengikuti kakakmu?


katakan pada ayah gadis mana yang telah mengambil hati putera kecilku?"


" Ayah tidak lupakan kalau tahun ini kakak sudah berusia lima belas tahun?"


" Diam lah! bagi ayah kakakmu masih sekecil dulu"


Reydian menggeleng tak percaya dengan ucapan ayahnya, harus ia akui terkadang dia merasa tak adil dengan kasih sayang kedua orang tuanya namun lambat laun dia akhirnya mengerti mengapa demikian.


Sekarang pun ia merasa tak rela jika kakaknya harus diambil orang lain.


Entah mengapa dia tidak pernah rela kakaknya yang cantik harus diambil orang meski di alam bawah sadar dia mengerti bahwa sang kakak tidak secantik dan selembut yang terlihat.


" Ayah, meski aku selalu mengikuti kakak namun harus ayah tahu kakak tak pernah secara gamblang menampilkan emosinya


lalu bagaimana aku bisa tahu?"


Pangeran Sean tak lagi menggubris puteranya dia memfokuskan telinganya untuk mendengar kalimat selanjutnya.


Sementara itu Sea sama sekali tak menyadari kehadiran keduanya dia terus mengoceh sambil mengungkapkan isi hatinya. Sesekali dia akan tertawa dan menggerutu sambil memandang bola sihir itu.


" Ah aku penasaran secantik apakah dirimu kini


little princess? apakah kamu masih mengenalku? atau kau bahkan tak pernah menyimpanku dalam memorimu? kamu harus menjawabku little princess!"


Gerutuan demi gerutuan sampai ketelinga pangeran Sea dan Rey, mereka saling pandang menelisik reaksi satu sama lain.


" Apa ayah memikirkan apa yang aku pikirkan?"


" Apa yang kamu pikirkan?"


" Aku rasa ini ada hubungannya dengan Atlantik, tidak maksudku mungkin saja gadis yang disebut little princess ini berasal dari salah satu kerajaan bawah laut"


" Apa mungkin itu dari pasifik? karena seingat ku dulu aku pernah menitipkan Sea di rumah nenek kalian"


" Aha itu mungkin ayah! karena hanya pada waktu itu semua hal tentang kakak tidak bisa aku selidiki"


" Jika memang seperti itu ayo selidiki identitas gadis itu"


Keduanya pun meninggalkan pintu kamar Sea sambil menyimpan baik baik apa yang harus mereka lakukan.


Didalam hati mereka berjanji untuk menyelidiki secara diam diam kalau perlu mereka akan mengancam gadis itu agar meninggalkan Sea.

__ADS_1


Ah mereka bukannya jahat hanya saja mereka terlalu takut untuk kehilangan Sea dalam waktu dekat.


__ADS_2