Prince Of Atlanta

Prince Of Atlanta
Bab 4. Pemuda yang Menggemparkan Kota


__ADS_3

 


Melihat interaksi ayah dan adiknya, Sea melemparkan nafas kasar. Dia kembali menatap kearah Syakilla, senyum tipis menggantung indah dibibirnya. Sea memandang wajah cantik Syakilla, dia teringat dengan gadis kecil itu. Meski telah dewasa senyum dan matanya tak pernah berubah. Sea selalu suka melihat mata Syakilla yang segelap langit malam, seolah tak berdasar dan menariknya untuk memandang lebih. Begitupun dengan surai hitam bergelombang yang Syakilla miliki meninggalkan kesan lembut setiap kali Sea membelainya. Sea menyukai semuanya, dia hanya ingin menyimpan Syakilla untuk dirinya sendiri. Sea meraih pinggang Syakilla membawanya mendekat, Wangi tubuh Syakilla memenuhi hidungnya. Jantung Sea berdetak kencang dia tergoda melakukan hal lebih untuk memenuhi hasratnya.


 


Melihat pandangan Sea yang mulai menggelap, Pangeran Sean tiba tiba waspada dia menendang Rey agar membuat suara. Rey hanya berteriak pasrah, menyadarkan Sea dari pemikirannya. Sea terbatuk singkat kemudian melepaskan Syakilla dia menjauh sebentar untuk menenangkan dirinya.


" Bisakah ayah tak mengorbankan ku?"


Rey berteriak keras sambil memegang bokongnya, dia ditendang hingga jatuh oleh ayahnya bahkan dengan sangat keras, menyebabkan sakit memar yang entah kapan akan hilang. Rey melihat gumpalan awan agaknya tadi matahari sudah memberkati hidupnya bagaimana mungkin dia kembali sial? atau jangan jangan dia tidak sengaja disumpahi kerbau ketika berjalan ke rumah temannya? atau malah seekor semut mengutuknya tadi pagi? mengapa dia begitu sial?


" Jika kita tak menghentikan kakakmu apa yang akan terjadi? kau ingin melihat bagaimana kakak mu memberimu keponakan?"


Sea melotot ke arah ayahnya sementara Syakilla hanya menunduk dengan wajah merah.


" Ayah! ayah vulgar sekali! ingat aku masih anak anak" Pangeran Sean menjitak kepala Rey dia bahkan menggunakan setengah tenaganya.


Rey hanya bisa menangis darah dia tahu betul berapa banyak memar yang dideritanya untuk satu hari ini. Rey mengamit tangannya kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan itu menyisakan tiga orang dalam keheningan.


" Ehm aku akan pergi ayah"


" Eh kamu mau kemana dengan penampilan itu?"


" Aku akan jalan jalan sebentar, aku janji kembali cepat"


" Tapi......"


" Ayah"


" Ya sudahlah sesuka hatimu lagi pula dilarangpun kau tak akan mematuhi ku"


Sea membungkuk kearah ayahnya yang cemberut kemudian menggenggam tangan Syakilla berjalan pergi dari ruangan itu.


 


Di sudut bangku sebuah kedai teh mewah sepasang muda mudi tengah duduk dengan santai. Sang lelaki yang tak lain Sea mengaduk cangkirnya dengan perlahan, Dia menikmati hangatnya teh sambil sambil memandang gadis di depannya. Syakilla pura pura tidak melihat tatapan Sea, dia cukup malu karena Sea terus memandangnya. Sea terbatuk singkat menyerahkan secangkir teh lain untuk Syakilla.


 


Sementara disisi lain beberapa gadis menatap malu malu kearah Sea, mereka begitu terpesona dengan ketampanan Sea. Setahu mereka tak ada seorangpun laki laki muda dengan rambut hitam dikota itu. Mereka berpikir kalau Sea pasti seorang pendatang.

__ADS_1


Beberapa gadis bahkan memandang Syakilla dengan permusuhan, mereka sadar baik gadis maupun pemuda dihadapan mereka jelas bukan penduduk asli Syam. Keduanya memiliki wajah timur yang kental bahkan si pemuda terlihat cantik dan menawan berbeda jauh dengan lelaki di Syam, kebanyakan mereka memiliki postur tegak dengan rahang tegas bahkan terkadang terkesan keras dan kasar.


Sea dan Syakilla tidak memperhatikan tatapan gadis gadis itu, mereka fokus meminum teh dalam keheningan.


" Syakilla"


Sea membuka mulutnya menghancurkan keheningan setelah dua puluh menit berlalu.


" Ya"


" Apakah kamu akan kembali?"


Sea menyingkirkan cangkir dihadapan nya dan meraih jemari Syakilla. Dia menggenggam lembut seolah takut menghancurkan jari putih itu.


Syakilla menatap pemuda di depannya, dia membalas genggaman tangan Sea.


" Ya, ayah mungkin sudah sibuk mencariku"


" Kamu tidak memberitahu ayahmu?"


Syakilla menggeleng " Itu tidak mungkin, kutukan ini jelas rahasia leluhur ibuku"


" Ibumu bahkan tak memberitahu ayahmu?"


Sea merapatkan tubuhnya pada Syakilla dan berbisik lemah " Syakilla kamu harus berjanji padaku suatu hal"


" Apa itu?"


" Berjanjilah apapun yang akan aku katakan kau tidak akan meninggalkanku"


" Apa itu berita buruk?"


" Cukup buruk"


" Katakan Sea"


Sea membuang muka dan melanjutkan dengan lemah " Aku mengetahui itu dari ibuku, Syakilla leluhur ibuku merupakan keturunan pangeran Atlantik yang melarikan diri ratusan tahun lalu"


"Apa kamu pernah melihat sinar perak di lautan?"


Syakilla mengangguk " Apa kamu tahu arti sinar itu?" Syakilla menggeleng " Itu adalah pertanda telah dipilihnya putera mahkota Atlantik, Atlantik telah menjadi kerajaan kutukan puluhan tahun namun kali ini atlantik telah memberikan sinyal kebangkitan"

__ADS_1


" Kamu tahu apa artinya itu Syakilla?"


Syakilla menatap Sea dengan heran, tak adalagi raut menggoda di wajah Sea yang tersisa hanyalah tatapan serius. Sea seolah menyimpan beban berat yang sulit ia pikul.


Syakilla mengulurkan tangan dan mengusap punggung Sea, berusaha menenangkan gelisah di hati pengerannya.


Sea meraih tangan Syakilla lalu mengecupnya


" Aku takdir Atlantik Syakilla, aku harap kau mau menerima ku"


" Apa yang membuat mu berpikir aku tidak akan menerima mu?"


" Bukankah kau membenci Atlantik"


" Atas dasar apa kamu berpikir begitu?"


" Kutukan itu"


Syakilla tersenyum manis mengusap rambut Sea yang sehalus sutera. Dalam hati dia mengutuk bagaimana bisa Sea lebih cantik daripada kebanyakan wanita? untung pemuda cantik ini pasangan jiwanya kalau tidak dia pasti akan merusak wajah mulusnya itu. Syakilla tersenyum senang di dalam hati sambil terus merasakan sosok sempurna Sea.


Sea yang mendapat perlakuan Syakilla hanya mengernyit tanpa mengatakan apa apa.


" Syakilla?"


" Mmm..."


" Kamu sedang apa?"


" Eh! tidak hanya mengagumi kulit pangeran Sea yang lembut ini. Apa tuhan tidak salah ketika memberi jenis kelamin untukmu dulunya? bagaimana kulit ini bahkan lebih lembut daripada kulit ku?"


" Yakin??"


" Apanya?"


" Aku pikir kulit puteri Syakilla sangat lembut, kulit ini bahkan menggodaku untuk menyentuh lebih" Syakilla membelalakkan matanya menjauh dari jangkauan Sea. Sea hanya tertawa melihat wajah pucat Syakilla, dia bahkan merapatkan tubuhnya lebih dekat diikuti hembusan nafas di telinga Syakilla.


Syakilla memukul lengan Sea dengan manja, wajahnya sudah mirip dengan kepiting yang biasa direbus oleh koki di istananya.


Rona merah itu membuat Syakilla terlihat semakin cantik hingga beberapa pemuda di kedai itu terpesona. Melihat tatapan mereka Sea merangkul Syakilla dengan posesif.


Dia bahkan melotot garang ke arah pemuda pemuda itu. Melihat tatapan Sea, para pemuda itu bergidik ngeri. Dalam hati mereka seperti melihat harimau yang mengamuk.

__ADS_1


Mereka serentak memalingkan wajah berjanji untuk tidak mencari masalah dengan pemuda seganas harimau lagi.


__ADS_2