
Di tengah terik matahari seorang gadis cantik dengan surai hitam tengah mengayunkan pedangnya, tebasan demi tebasan dia arahkan ke pohon besar meninggalkan suara desingan nyaring bilah pedang.
Dia melompat ke sana ke mari menyingkapkan gaun biru muda yang dipakainya.
Dibalik gaun itu kulit putih mulus mengintip malu malu meninggalkan kesan lembut bagi siapa pun yang memandangnya.
Sementara itu surai hitam panjangnya mengalir indah dengan sematan tiara bertahtakan berlian merah.
Bibir tipis gadis itu terbelah sempurna meninggalkan warna semerah delima.
iris mata sebiru lautan mengintip sempurna di balik bulu matanya yang panjang.
Gadis menawan itu kembali menebaskan pedangnya bergerak lincah ke sana ke mari menampilkan bayangan demi bayangan.
Di kejauhan seorang lelaki paruh baya duduk dengan seorang laki laki muda, keduanya menatap ke arah gadis itu. Mereka tak lain adalah pangeran Sean dan Rey.
Rey menatap malas ke arah sang kakak yang melampiaskan emosinya, dia menghela nafas panjang, mau dilihat dari manapun fisik kakaknya tidak mencurigakan sama sekali tidak heran jika banyak putera bangsawan yang tertarik dengannya.
Wajah menawan itu bisa membuat siapa pun jatuh hati, jika saja dia jadi mereka belum tentu dia akan percaya diri mengatakan bahwa dia tidak tertarik dengan sosok secantik kakaknya.
Di lain sisi pangeran Sean menghembuskan napas kasar dia bahkan tidak percaya jika di hadapan nya adalah seorang pemuda, andai dia tidak mengetahui jenis kelamin anaknya yang sebenarnya mungkin dia juga terkecoh sama seperti kebanyakan orang.
Sosok putera pertamanya bahkan lebih cantik daripada isterinya ketika muda.
Darah timur yang mengalir di nadinya membuat Sea memiliki kontur wajah lembut bagai peri hutan.
Berbeda jauh dengan putera keduanya yang mendapat gen dominan dari dirinya, fitur wajah Rey lebih kasar dan maskulin seperti khas laki laki di kerajaan syam.
Warna rambut keduanya pun berbeda, Sea memiliki rambut hitam dengan kesan menawan sementara Rey memiliki rambut coklat yang sedikit bergelombang.
Pangeran Sean menatap kearah Sea, kemarin dia diberi tahu oleh raja bahwa putera pertamanya membuat onar di kediaman menteri pertahanan.
Anak laki laki sang menteri mengalami luka yang cukup parah bahkan beberapa aset di rumah itu ada yang rusak.
Pangeran Sean cukup murka dan menghukum Sea dengan keras namun bukan Sea namanya jika dia menyerah, berkali kali pangeran Sean menghukumnya sebanyak itu pula dia akan mengerling manis ke arah ayahnya.
Entah lupa atau bagaimana pangeran Sean bahkan tidak sadar jika Sea sejatinya merupakan seorang pemuda bukan gadis lemah layaknya penampilan luarnya, sang ayah pasti akan terus mentolerir kesalahan Sea jika dia sudah bertingkah manja hal ini lah yang membuat Rey agak skeptis dengan pikiran ayahnya.
__ADS_1
Bahkan burungpun tahu jika sang kakak lebih ganas dari harimau di hutan namun ayah mereka memperlakukan layaknya gadis kecil yang sangat lemah?
" Ayah coba lihat puteri kecilmu dia tengah menghancurkan pekarangan dengan pedangnya" pangeran Sean menoleh ke arah putera keduanya
" Jika kakakmu mendengar julukan itu bukankah dia akan mati karena marah?"
" Dia pasti akan mengayunkan pedangnya ke arahku "
keduanya pun tertawa mengingat sentimen Sea terhadap panggilan yang berbau feminim.
Meskipun penampilan Sea begitu menipu namun orientasi seksualnya tidak bisa di bohongi, bahkan dia telah memiliki jakun meski kecil dan tak terlihat, namun sayangnya suara Sea selembut suara gadis bahkan mungkin lebih lembut dari kebanyakan gadis di kerajaan syam.
Semua faktor inilah yang kemudian mendukung aksi penyembunyian identitas Sea selama lima belas tahun terakhir.
Tak ada seorang pun yang tahu mengenai siapa Sea sebenarnya kecuali hanya beberapa bahkan para pelayan kediaman pangeran Sean tak ada yang tahu karena semua kebutuhan Sea di urus langsung oleh ibunya.
Sea hanya bisa pasrah dengan rencana orang tuanya dia tahu betul bahaya apa yang akan menimpa nya jika sampai identitas aslinya bocor.
Persaingan politik diantara keluarga kerajaan cukup mengerikan jika dia ikut terjun ke ranah ini sudah bisa dipastikan hidupnya tidak akan lagi tenang karena itu dia hanya bisa memasang protes di dalam hati.
" Ayah dan Rey sedang membicarakan ku kan?"
Pangeran Sean tersedak teh yang dia minum menoleh ke arah putera pertamanya
" Kami hanya berbicara beberapa hal yang sudah banyak di ketahui orang, dan hei ada apa dengan tatapanmu aku tidak akan membohongimu"
" Ayah selalu bilang begitu tapi apa ayah lupa bagaimana ayah selalu menganggapku sebagai gadis belia?"
"....."
" Aku benarkan?"
";....."
" Kenapa ayah diam?"
Pangeran Sean menghindari tatapan Sea dan memberi pandangan minta tolong ke arah Rey.
__ADS_1
Rey pura pura sibuk dengan tehnya dan mengabaikan sang ayah.
Demi apapun dia cukup takut dengan kakaknya, kakaknya bahkan lebih ganas dari pada buaya terkuat di kerajaan Syam bagaimana dia bisa menanggung amarah kakaknya nanti?
Dia pasti akan habis dilumat oleh kakaknya jika membantu sang ayah.
Pangeran Sean terbatuk lama berusaha mengalihkan perhatian harimau jantan yang mengamuk, sebagai ayah dia tahu betul bahwa anak pertamanya ini jika sudah marah akan membuat petaka yang cukup merepotkan.
Dia sudah lumayan lelah membersihkan kekacauan demi kekacauan dia ingin beristirahat dengan tenang minimal hari ini saja.
" Nak kau tahu tak baik mencurigai ayahmu sedemikian rupa, aku tak mungkin mengatakan hal buruk tentangmu"
" Tapi aku sedikit tak percaya karena seingatku terakhir kali ayah bilang seperti itu besoknya dua belas pemuda datang ke sini
aku cukup trauma ayah"
" ......."
Pangeran Sean mengacak rambutnya, dia agak frustasi menghadapi mata penuh intimidasi dari Sea.
" Ok kali ini kamu cukup mempercayai ayah, ayah janji hal itu tidak akan terjadi lagi"
" Maaf pangeran seorang utusan kerajaan Asra datang untuk meminang Puteri Sea"
" ....."
Suara prajurit menggema mematahkan janji yang di lontarkan oleh pangeran Sean, pangeran Sean menatap tajam ke arah prajurit itu dia merasa bahwa dia lebih baik menghajar prajurit itu sampai mati sementara di sebelahnya Rey menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak.
Ia diambang kegalauan antara melepaskan atau menahan tawanya.
Jika ia memilih opsi pertama jangkrik pun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya mengingat harimau jantan masih duduk di hadapannya namun jika ia memilih opsi kedua perutnya akan sakit dan sudah pasti pada akhirnya dia akan kebablasan juga.
Karena tak sanggup akhirnya Rey lari terbirit birit, melihat itu Sea hanya mengernyit kembali menatap ayahnya.
Pangeran Sean menarik napas gusar dan memandang anak sulungnya
" Beri ayah waktu Sea, ayah akan menyelesaikan masalah ini untukmu "
__ADS_1