Prince Of Atlanta

Prince Of Atlanta
Pemuda yang Menggemparkan Kota


__ADS_3

 


Setelah kejadian itu ibu kota Syam digemparkan dengan munculnya pemuda berwajah cantik. Semua gadis membicarakannya termasuk puteri ketiga raja yang dikenal sebagai maniak laki laki tampan. Lukisan pemuda itu tersebar dengan cepat, para lelaki begitu geram karena gadis pujaan hati mereka terpikat dengan pemuda lain.


 


Sementara itu sang fokus pembicaraan tengah merayu kekasihnya agar tinggal. Hari ini merupakan hari dimana Syakilla dan ayahnya kembali ke pasifik. Sea tengah mengedipkan mata sambil meyakinkan Syakilla, dia bahkan nekat meminta raja Pasifik untuk meninggalkan Syakilla disini.


Raja Artem hanya menggelengkan kepala dia tidak mungkin meninggalkan puterinya disini. Bisa bisa sampai di istana dia akan dilumat habis oleh isteri nya. Karena seperti yang semua orang tahu Syakilla adalah puteri raja dengan ratu Pasifik, kedudukannya di Pasifik bahkan lebih tinggi daripada selir.


Raja Artem memandang curiga kearah pemuda disamping puterinya, Ia bisa melihat pria muda ini agak mirip dengan kakak isterinya yang tertua. Ia bahkan curiga kalau pria ini sepupu jauh puterinya.


" Kamu bukan anak El?"


Sea menggeleng, dia jelas putera pangeran Sean bukan El yang dimaksud raja Artem.


" Tapi kamu mirip dengannya, apa kamu putera saudara isteriku yang lain"


Sea menatap bingung kearah raja Artem.


" Bukan! dia puteraku Artem"


Dari arah belakang pangeran Sean menyela dengan marah, wajahnya merah karena kesal kenapa tak ada yang percaya bahwa dia ayahnya Sea?


" Putera mu? bukankah kamu hanya memiliki satu putera?"


" Siapa bilang? aku punya dua putera! Sea adalah putera pertamaku"


" Tapi Alex bilang"


" Kau tahu tabiat kakakku kan?"


" H ho ho jangan bilang kau menyuruh anakmu memakai gaun? Aku tak menyangka puteri kecilmu yang cantik ternyata laki laki"


Sea mendengus dalam hati jika tidak mengingat raja Artem adalah ayah Syakilla mungkin dia akan segera merobek mulut itu.


" Hei hei itu karena darurat! lagi pula puterimu saja tidak masalah bagaimana kamu bisa melihatku dengan tatapan seperti itu?"

__ADS_1


" Puteriku? jangan bilang kalian berdua sudah"


Raja Artem menatap tak percaya ke arah puterinya. Yang ditatap hanya menganggukkan kepala dengan wajah menunduk malu. Raja Artem mengutuk semua ikan dilaut Pasifik, dia tak menyangka akan berbesan dengan pangeran Sean yang notabenenya adalah saingan abadinya.


" Bagaimana bisa? kenapa harus anak Sean?"


" Memangnya kenapa jika anakku?"


" Kau lupa dengan kata katamu hari itu Sean? kau bilang kalau seandainya salah satu anak kita saling menyukai kau akan menghalangi mereka untuk bersatu"


Sea yang mendengar itu memelototi ayahnya ia tak habis pikir ayahnya akan mengatakan itu


" Nak jangan marah ok! Itu hanya selingan diwaktu muda. Mana mungkin ayahmu akan menghalangimu, ayah jelas pelopor sejati kebahagianmu"


" Eh bukannya kau bilang....."


" DIAM!!"


Raja Artem memandang pangeran Sean dengan skeptis, dia seperti melihat orang lain karena Sean yang dia kenal jelas sangat keras kepala.


Jangankan mengalah memberi kesempatan orang lain berbicara saja tidak pernah. Namun entah mengapa dia melihat Sean berhati hati ketika datang pada putera pertamanya.


Syakilla menatap ayahnya dengan mata berkaca kaca, Raja Artem yang melihat sorot mata puterinya menghela nafas lembut.


" Aku tidak pernah membatasimu puteriku, aku selalu mendukung siapapun pilihanmu"


" Benarkah ayah?"


" Ya" Syakilla memeluk ayahnya dengan sayang meninggalkan rasa cemburu dihati Sea.


Sea berusaha tidak merubah wajahnya, dia bahkan menyematkan senyum manis. Pangeran Sean hanya melirik anaknya dia tiba tiba bergidik. Sebagai ayah dia tahu betul tabiat puteranya, Senyum itu jelas bukan senyum biasa. Jika prediksinya benar senyum itu merupakan senyum yang biasa ditampilkan Sea sebelum menebas kepala lawannya.


Pangeran Sean terbatuk singkat, Syakilla hanya menatap heran sementara raja Artem sudah berkerut tidak senang.


" Apa urusanmu menggangguku dengan puteriku?"


" Aku bermaksud baik mengingatkanmu tapi kau malah memarahiku? dasar tidak tahu diri!"

__ADS_1


" Apa? kau berani menghinaku Sean? kau tahkan kalau aku merupakan raja Pasifik? tapi kau dengan santai menjelekkan ku? apa kau tidak takut dimarahi rakyat Pasifik?"


" Takut apa? aku bahkan bisa menebas semua tentaramu!"


" Hahaha apa kau tak trauma dengan sihir para tentara Pasifik?"


Mendengar itu Pangeran Sean terdiam dia teringat dengan kejadian tujuh belas tahun lalu dimana dia dan isterinya pertama kali bertemu. Waktu itu Pangeran Sean tengah memimpin perang propaganda ke Arktrik dia bekerja sama dengan pangeran tertua Pasifik yang tak lain adalah raja Artem. Pangeran Sean muda begitu keras kepala dan sombong ia meremehkan kemampuan fisik tentara Pasifik yang terlalu lemah. Mendapati cercaan pangeran dari daratan beberapa tentara Pasifik sangat geram. Karena marah akhirnya mereka meminta bantuan seorang gadis muda yang terkenal sebagai bakat sihir di Pasifik.


Keduanya pun bertempur satu menggunakan pedang sementara yang lain menggunakan tongkat sihir, mereka bertarung sangat sengit.


Saat itu puteri Helda menutup wajahnya dengan selendang, hal itu dilakukan atas perintah raja Artem. Semua orang di Pasifik mengetahui bahwa Helda adalah gadis cantik lain selain tunangan raja Artem. Gadis itu juga merupakan temen baik tunangan raja sehingga tak satu pun yang menginginkan Helda menjadi bagian dari kerajaan di daratan.


Raja Artem sudah mewanti wanti agar Helda tidak melepaskan selendangnya, namun takdir berkata lain. Setelah dua jam berlalu pertarungan itu meninggalkan keduanya dengan kekuatan seimbang. Tak satu pun dari mereka yang mau mengalah sehingga pertarungan itu lambat laun menguras tenaga keduanya.


Disaat pangeran Sean mulai lelah tiba tiba puteri Helda merapapalkan sebuah mantera sehingga mengenai punggung pangeran Sean.


Karena terkejut pangeran Sean reflek meraih selendang yang menutupi wajah puteri Helda,


akhirnya wajah menawan puteri Helda terungkap. Pangeran Sean kemudian terpesona dan tanpa sadar melukai dirinya sendiri.


Akibat peristiwa itu Pangeran Sean mengalami luka berat dan dikembalikan ke Syam. Dia menjalani pengobatan selama setahun sebelum sembuh total.


Sementara di Pasifik puteri Helda merasa bersalah dan terus mendesak kakaknya untuk bertemu dengan pangeran Sean. Karena tak tahan dengan desakan sang adik akhirnya panglima Darwis mengajukan permohonan kepada raja agar adiknya diijinkan ke daratan untuk menemui pemuda yang ia lukai.


Semenjak itulah cinta bersemi dihati keduanya.


Hingga keduanya memutuskan menikah setahun kemudian lalu Sea lahir ditahun berikutnya.


" Bagaimana Sean apa kamu sudah ingat? kamu sadarkan bagaimana dahsyatnya sihir Pasifik!" Pangeran Sean mendengus kemudian menatap garang kearah raja Artem


" Itu ceritanya lain!"


" Hahaha akui saja kau takut! kau harus sadar betapa hebatnya para penyihir Pasifik!"


Maaf reader gantung ya?


emang sengaja sih biar dapet feel pas lanjutin nya.

__ADS_1


Sampai sini gimana ceritanya?


komen ya!!!


__ADS_2