
" Kenapa kalian diam? bukankah tadi kalian begitu antusias membicarakanku? kenapa sekarang malah diam seperti kucing yang diinjak gajah" Semua gadis terdiam, mereka menunduk tak berani menatap Sea. Dalam pandangan mereka Sea merupakan jelmaan iblis cantik yang dikirim tuhan untuk menyiksa mereka.
Seorang gadis dengan rambut pirang kemudian melangkah maju dia tersenyum sambil merangkul Sea, " sepupu mengapa kau begitu galak? mereka hanya bercanda tak perlu seperti itu?"
Sea mendengus sambil menepis rangkulan gadis itu, dia adalah puteri kedua raja.
Puteri ketiga hanya menatap skeptis kearah kakaknya, semua orang tahu bahwa puteri kedua dan puteri ketiga memiliki hubungan yang lumayan buruk.
" Kakak seperti baru kenal Sea saja! atau kakak sengaja menguji kesabaran Sea?"
" Kau jangan salah sangka adik! bagaimana aku bisa berbuat seperti itu?"
" Mana tahu" puteri kedua hanya menggertakkan gigi sambil tersenyum sinis. Dia berharap bisa melenyapkan wajah angkuh adiknya. Dari kecil ia begitu iri dengan saudari ketiganya. Selain memiliki wajah cantik adiknya itu juga dikaruniai pangkat yang lebih tinggi daripada dirinya.
Dia sadar sebagai anak selir dia hanya akan mendapat tempat di bawah adik ketiganya.
" Adik aku tahu kau tak begitu menyukaiku namun kau seharusnya tak menyudutkanku"
puteri ketiga menjerit dalam hati dia mengutuk kefasihan lidah wanita ular di depannya.
Dia melirik Sea, Sea hanya mengangkat bahu sambil melirik pedangnya. Puteri ketiga menarik nafas ingin rasanya dia memukul kepala Sea. Bagaimana mungkin seorang puteri harus mengangkat pedang untuk menyelesaikan masalah? tak ada puteri yang segila Sea ok? oh meski dia tahu Sea bukan seorang puteri tulen.
Puteri ketiga menampilkan senyum mempesonanya, dia bahkan mengedipkan sebelah mata kearah puteri kedua " kakak bagaimana mungkin aku tega menyudutkanmu? kau adalah saudaraku aku tak mungkin begitu"
Puteri kedua menyeka air mata dengan sapu tangannya kemudian beralih kepada Sea
" sepupu kau tak akan menyudutkanku juga kan?" Sea melihat malas puteri kedua, dalam hati dia mengutuk semua ayam dan keturunannya, sekaligus puteri ketiga karena berkat gadis itu dia bisa ada disini.
" Aku tak pandai menyudutkan orang jadi kau tak perlu khawatir kakak" Puteri ketiga menarik sudut bibirnya sedikit, seperti yang dia ketahui Sea tak akan membiarkan siapapun bermain barang sedikit saja. Dia cukup puas dengan jawaban Sea. Dia kemudian melirik beberapa gadis disamping puteri kedua.
" Bukankah kau tadi bertanya dimana Sea? sekarang Sea di sini! kau bisa mengatakan semua keluh kesah mu padanya"
gadis itu hanya menunduk tak berani melihat siapapun.
Sea menatap bosan kedepan, dia begitu benci menghadiri pesta seperti ini. Semua gadis di pesta ini jelas menyembunyikan beberapa hal di hati mereka. Boleh jadi salah satu diantara mereka ada yang berniat untuk menyelakai nya.
Ini yang Sea benci dari semua gadis bangsawan, mereka cenderung menampilkan hal manis di wajah mereka namun memiliki pikiran busuk di hati. Sea tak pernah suka berinteraksi dengan para gadis bangsawan terutama mereka yang berasal dari kediaman ratu.
__ADS_1
Sea menguap melihat sekeliling aula, dia mengamati satu persatu orang yang lewat hingga akhirnya pandangan Sea jatuh pada sosok pemuda gagah dengan jubah menteri.
Sea menepuk bahu puteri ketiga sebagai isyarat dia akan pergi.
" Kau mau kemana?" bisik puteri ketiga
" Kau lihat pemuda di seberang sana?"
puteri ketiga melihat kearah tatapan Sea kemudian mengerutkan kening
" Kau tertarik pada pemuda itu?"
Sea memandang puteri ketiga seolah melihat hantu " Aku masih normal!"
puteri ketiga tergelak, sejujurnya dia tahu bahwa Sea tak akan pernah berpikir begitu karena bagaimanapun dia juga laki laki.
" Memangnya ada apa dengan pemuda itu?"
" Dia salah satu orangku?"
" Maksudmu kau memata matai ayahku?"
Puteri ketiga menghela nafas perlahan, mengakui kata kata Sea.
Dia tahu ayahnya bahkan tak pandai mempertahankankan kerajaannya. Jika bukan karena campur tangan diam diam Sea dan pangeran Sean, mungkin Syam sudah lama tinggal nama. Dan adiknya pun tak layak disebut putera mahkota.
" Bagaimana dengan adikku?"
" kita bisa apa?"
Puteri ketiga mengutuk katak yang melompat terhadap pertanyaan yang Sea lontarkan. Dia membayangkan adiknya yang manja dan gemuk suatu hari nanti menggantikan ayahnya. Puteri ketiga bergidik dia tak ingin membayangkannya lagi, semua deskripsi pangeran tampan berkuda putih akan lenyap jika disandingkan dengan putera mahkota negeri Syam.
" Aku tak akan ikut campur apapun yang akan kau lakukan tapi ingatlah agar semua ini tak diketahui oleh ibuku dan keluarganya"
Sea mengangguk setuju, Ia cukup mempercayai puteri ketiga karena bersama sepupunya inilah dia diam diam mulai mengontrol politik dalam istana. Tujuan keduanya sederhana mereka hanya tak ingin pemerintahan Syam dimonopoli oleh keluarga ratu.
Bukan tanpa alasan keduanya bertujuan begitu karena ayam pun tahu jika keluarga ratu mengincar takhta yang seratus tahun lalu lepas dari leluhur mereka.
__ADS_1
" Kau tenang saja, hanya saja aku perlu bantuanmu untuk mengalihkan perhatian para gadis ular ini. Aku harus menemui Harris sekarang"
" Serahkan semuanya padaku"
Puteri ketiga berbalik, menjauh masuk kekerumunan para gadis. Dia membuat heboh semua gadis bangsawan, di tengah pekikan terkejut mereka Sea berjalan menjauh.
Sea melangkah perlahan menuju pemuda tadi, dia memasang tatapan serius sambil menatap pemuda itu. Pemuda yang tak lain Harris berusaha tenang. Jujur baru kali ini ia ditatap gadis secantik Sea. Dalam hati dia bersyukur pada tuhan karena telah mengirim bidadari rupawan ke hadapannya.
Sea menatap heran Harris kemudian tersadar.
" Jangan bilang kau tak mengenaliku?"
Harris terkejut mendengar pertanyaan itu, dia berusaha mengingat ingat apakah dia pernah bertemu Sea sebelumnya.
" Astaga! kau benar benar tak mengenaliku?"
" Naaf nona kalau boleh tahu anda siapa?"
Sea menendang kaki Harris, dia sungguh kesal karena tangan kanannya sama sekali tak mengenalinya. Sea bahkan telah berencana menghukum Harris memandikan singa kesayangannya. Harris mengaduh, dia merasa seolah melihat tuannya.
Karena hanya tuannya yang tahu titik paling lemah di kakinya.
" Kau bilang aku nona? dengar namaku dengan benar bodoh! Aku Sea! Sea"
Harris terbelalak, dia tak percaya jika gadis ini adalah tuannya.
" Ada apa dengan tatapanmu itu? Aku bisa buktikan! aku akan mengganti pakaianku! tunggu aku di ruang yang disediakan puteri Sena"
" Baik tuan"
Lima belas menit berlalu, Sea telah kembali ke penampilan aslinya. Harris hanya menatap tak percaya pada tuannya. Ia tak menyangka bidadari cantik tadi ternyata pemuda kejam di depannya.
Ia sungguh ingin tahu apa tuhan adil? bagaimana ada laki laki yang akan begitu sempurna ketika memakai pakaian gadis? atau tuhan salah memberikan jenis kelamin pada Sea? tentu saja Harris hanya bisa mengeluh dalam hati. Dia tak akan berani mengatakan langsung pada Sea, kecuali dia berniat untuk mati.
maaf semua aku baru muncul lagi
jadi sampai sini gimana ceritanya?
__ADS_1
jangan lupa like dan komen ya
Biar aku makin semangat nulis nya:-)