Prince Of Atlanta

Prince Of Atlanta
Kesatria Pangeran Atlantis


__ADS_3

Rey dan pangeran Sean menatap iba tiga pemuda yang tengah belajar ilmu pedang dengan Sea. Tiga pemuda itu di penuhi dengan keringat dan luka luka disekujur tubuh. Rey teringat kembali dengan pengalamannya ketika pertama kali belajar seni pedang dengan Sea. Sea selalu memarahinya mengatakan gerakan yang ia buat salah.


Tak hanya sampai di situ, Sea bahkan memukul setiap kali dia melakukan gerakan yang salah. Alhasil tiga bulan berlatih Rey sudah terampil menggunakan pedang. Itu semua berkat latihan kejam yang Sea berikan. Semua tentara di bawah komando Sea akan tahu bagaimana rasanya berlatih pedang dengan taruhan fisikmu sendiri.


Kamu harus rela beberapa anggota tubuhmu memar. Meski begitu hasilnya cukup memuaskan. Semua tentara di bawah komando Sea terkenal dengan ketangkasan mereka. Para prajurit elit biasanya lahir dari batalion ini. Karena itu banyak anak muda di Syam berharap bisa masuk kebatalion yang dilatih oleh Sea.


Edward melemparkan pedangnya, dia cukup kesakitan. Sea selalu memukul nya bahkan disertai tendangan tendangan. Dia tak pernah menyangka tubuh halus pengerannya bisa menyimpan kekuatan sebesar itu. Dia pikir kekuatan Sea hanya sedikit lebih besar dari mereka, tak tahunya isi jauh sekali dari sampulnya.


Pangerannya bahkan lebih kuat dari ayahnya. Sungguh Edward rasanya ingin pingsan karena lelah.


" Kai aku rasanya ingin mati saja!"


" Ed kau pikir aku tidak? tubuhku di penuhi memar! tulang tulangnya retak! selama enam belas tahun hidupku, baru kali ini aku melakukan olahraga fisik yang begitu berat".


Berbeda dengan keduanya, David diam saja. Bukan karena kondisinya lebih baik dari mereka.


Hanya saja dia sudah tidak memiliki tenaga untuk sekedar berbicara. Diantara ketiganya, Davidlah yang paling menderita. Sea bahkan tak membiarkan dia bernafas sebelum memukul dan menendangnya.


" Kenapa kesatria Atlantis begitu lemah? apa kalian yakin bisa melindungiku dengan fisik yang sedikit lebih kuat dari wanita?"


David menyemburkan darah dari hidungnya setelah mendengar ucapan Sea, dia menangis keras dalam hati. Bukan mereka yang lemah ok? tapi Sea yang terlalu kuat.

__ADS_1


David mengerang, dia sama sekali tak menyangka jika kejadian hari ini akan ada dalam hidupnya. Dulu dia berfokus untuk menguasai semua jenis mantera sihir, dia ingin menjadi prajurit terkuat di Atlantis. Dia berharap bisa membuat kagum pangerannya, jika dia tahu standar Sea setinggi ini dia akan berusaha membujuk ayahnya untuk mengirim saudaranya yang lain.


Dia teringat bagaimana persaingan untuk memilih kesatria terpilih. Bagaimana lelahnya dia belajar setiap malam, memaknai setiap mantera mulai dari yang lemah hingga paling kuat. Andai dia tahu pangeran terpilih Atlantis merupakan manusia setengah darat, dia akan belajar pedang dari dulu. Bukan malah menghabiskan waktu dengan tongkat bodoh itu. David menggeleng lemah, tak ada satupun dari mereka bertiga memprediksi peristiwa ini.


Di kejauhan puteri Helda menelan ludah ngeri melihat cara putera pertamanya melatih prajuritnya. Dia sama sekali tak menyangka metode anaknya sangat kejam. Ini bahkan lebih kejam dari metode suaminya. Jika dulu saja banyak prajurit pasifik yang tepar akibat ulah suaminya, maka jika itu Sea sudah dapat di pastikan para prajurit itu akan menangis darah.


Puteri Helda tersenyum lemah lalu berjalan perlahan menghampiri Sea


" Sea" Sea berbalik, tersenyum manis melihat ibunda tercintanya


" kau harusnya tak terlalu keras melatih mereka, bagaimanapun kekuatan fisik prajurit laut tak seperkasa prajurit darat. Pelan pelan saja kalian masih memiliki waktu untuk berlatih"


" Mmm tapi mereka harus mahir dengan cepat karena kami harus segera mencari mahkota raja Atlantik. Lagi pula mereka tak boleh terlalu lemah karena jika mereka lemah siapa yang akan membantuku?"


" Eh kau tidak setuju denganku adik?"


" Tentu saja tidak! lalat buahpun tahu kenyataan perbedaan fisik antara kami dengan manusia air. Tapi kakak membuat seolah itu tidak ada!" David dan yang lainnya diam diam membenarkan ucapan Rey dalam hati. Mereka berharap Sea dapat berpikir secara terbuka seperti adiknya.


" Tapi aku memang menuntut sempurna mereka, setahuku mereka kesatria bukan puteri raja yang harus ditolerir kelemahannya"


Rey mengutuk dalam hati, dia ingin membongkar isi kepala kakaknya. Ia ingin tahu apa sih pola pikir kakaknya ini, sampai selalu berbeda dari kebanyakan manusia.

__ADS_1


Pangeran Sean terbatuk singkat, dia menunjuk ke arah pintu yang terbuka lebar. Sea dan yang lainnya memindahkan fokus mereka kearah pintu, di pintu itu berdiri seorang pemuda gendut. Wajahnya bulat, dia hampir seusia Sea. Pemuda itu tersenyum lebar lalu mendekati pangeran Sean


" Paman siapakah empat orang lelaki ini?"


tunjuknya kearah Sea dan kesatrianya secara bergantian. Pangeran Sean berdehem


" Perkenalkan pangeran ini adalah East dan mereka bertiga merupakan pengawal pribadi East. East ini sepupu Sea dari Pasifik, sepupu jauh ya... sepupu jauh. Dan East ini putera mahkota kerajaan Syam, Pangeran Liam "


Sea melangkah secara alami kearah pangeran Liam, dia membungkuk sambil memperkenalkan diri. Dia bersikap seolah baru pertama kali bertemu dengan putera mahkota.


" Salam pangeran, aku East sepupu Sea dari Pasifik"


" Oh ya? sepertinya kau mirip dengan Sea, kau juga sangat pandai menggunakan pedang. Bukannya biasanya para manusia bawah laut menggunakan tongkat sihir ketika bertarung?"


David dan dua lainnya mengangguk setuju, tak ada sejarahnya manusia laut menggunakan pedang. Ya tentu saja pangeran Atlantis adalah pengecualian.


" Mmmmm ini hanya kebiasaan yang didapat dari Sea, pangeran "


" Ya ya ya tak masalah! Aku juga tidak terlalu peduli. Tapi dimana Sea? kemana gadis cantik itu pergi?" Kai yang tengah meminum air tersedak setelah mendengar ucapan putera mahkota.


Dia tak menyangka jika pangeran nya akan di panggil gadis cantik. Pada dasarnya itu merupakan penghinaan bagi laki laki, namun sepertinya pangeran Atlantis tak menghiraukannya. Sea bahkan tersenyum manis, meskipun didalam hati ia sangat ingin menendang bokong pangeran gendut itu.

__ADS_1


Pangeran Sean yang mendengar pertanyaan putera mahkota melirik kearah Sea. Bagaimanapun dia adalah seorang ayah, tentu dia tahu suasana hati puteranya saat ini. Menarik nafas panjang ia pun menjawab pertanyaan putera mahkota " Sea sedang ada tugas, pangeran. Mungkin tak akan kembali selama seminggu. East di sini untuk menggantikan Sea selama dia bertugas. Jadi harap pangeran mengerti"


" Tidak apa apa paman, aku akan kembali lagi jika Sea sudah pulang. Kalau begitu aku pergi dulu paman"


__ADS_2