
Semua mata memandang ke arah pintu, tempat hilangnya bayangan gemuk pangeran Liam. Sea tersenyum masam dalam hati, dia menyayangkan nasib kerajaan Syam jika memiliki pewaris macam itu. Pangeran Liam terkenal sebagai playboy serta suka sekali menghamburkan kekayaan negara. Dia juga tidak pernah memberikan konstribusi yang berarti bagi Syam. Semua bangsawan bersikap diam hanya karena di balik pangeran bodoh itu ada ratu dan keluarganya. Jika tidak! dinding pun tahu bagaimana nasib pangeran gendut itu.
Bahkan terkadang raja pun dibuat geram oleh nya. Kebiasaan pangeran Liam dalam bergonta ganti gadis begitu terkenal bahkan ke negara tetangga. Semua puteri dan pangeran di sekitar kerajaan Syam menganggap putera mahkota Syam sebagai lelucon. Ada juga yang berpendapat jika pangeran bodoh itu akan menjadi titik awal kehancuran Syam. Sea menghela nafas gusar meski ia ditakdirkan untuk atlantik, Syam tetap tanah kelahiran nya. Ia tentu tak mau melihat Syam hancur begitu saja. Karena itu tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk kedua orang tuanya, Sea dan puteri ketiga merencanakan untuk mengganti semua infrastruktur pemerintahan di kerajaan Syam. Mereka juga berencana memilih ulang putera mahkota. Setidaknya mereka akan bergerak secara perlahan. Lebih tepatnya mereka harus mematangkan semua strategi sebelum benar benar mempublikasikan rencana mereka.
Ditengah lamunan Sea tiba tiba tongkat sihir di pinggang David bersinar keperakan. David meraih tongkat itu dan merapalkan sebuah mantera. Sinar itu semakin terang hingga akhirnya redup meninggalkan refleksi bayangan seorang pria paruh baya. David tersenyum canggung ke arah Sea dan yang lainnya, dia tak menyangka ayahnya akan menghubunginya saat ini. Ayah nya memang memiliki satu kebiasaan aneh. Dia akan menghubungi David jika merasa gelisah, jika waktu lain David pasti akan senang melihat wajah ayahnya namun pada saat ini dia sedang bersama pangeran atlantis. Dalam hukum kesatria atlantis, seorang prajurit tidak diperbolehkan menerima pesan apapun di hadapan tuannya. Jika melanggar dia akan di hukum berat dengan cambuk perak atlantik.
Sea memandang refleksi itu kemudian mengernyit. Ia cukup heran dengan teknologi manusia bawah laut. Walaupun ia sudah lama tahu cara komunikasi manusia laut dan manusia darat berbeda. Ia tetap saja merasa takjub sekaligus bingung. Sea mengalihkan pandangan nya ke arah David, Sea kembali mengernyit mendapati wajah pucat prajurit nya itu.
" kenapa kau begitu ketakutan?"
Suara Sea mengagetkan David, dia jatuh tersungkur ke lantai sambil menunduk dalam. Tubuhnya menggigil ketakutan, Ia begitu takut membayangkan sakitnya terkena cambuk perak legendaris dari atlantik.
" hei hei kenapa bocah ini ketakutan?"
Sea bertanya kepada Edward dan Kau Kai.
Kedua nya saling pandang sebentar
" maaf pangeran mungkin David ketakutan karena telah melanggar peraturan atlantis"
" peraturan atlantis?"
" benar pangeran, atlantis memiliki sebuah aturan untuk setiap pengawal pribadi pangeran atau puteri. Semua prajurit itu dilarang menerima pesan dari siapa pun selama bersama tuan mereka "
__ADS_1
" ya pangeran, David tadi tidak sengaja menerima pesan ayahnya jadi secara tidak langsung dia telah melanggar hukum atlantik"
Sea menggeleng tak berdaya ke arah keduanya, dia tidak besar di atlantis jadi tidak tahu mengenai peraturan itu. Selain itu atlantis telah hilang ratusan tahun.yang lalu, bagaimana bisa peraturan itu tetap terpelihara di kalangan keturunan kesatria atlantis? dia sungguh salut dengan kesetiaan mereka terhadap atlantis. Mungkin suatu saat nanti dia akan berterima kasih atas semua pengorbanan mereka untuk negeri .
" sudahlah David, aku tak akan menghukum mu. Lanjutkan pesan dari ayah mu boleh jadi itu penting. Dan untuk seterusnya kalian tak perlu sungkan menerima pesan di hadapan ku. Aku tak masalah dengan itu asalkan kalian tetap menjaga loyalitas kalian terhadap atlantis"
" ya pangeran" David berdiri lalu membungkuk dalam ke arah Sea. Dia mengucapkan terima kasih berkali kali.
David menatap kembali tongkat sihirnya, mengucapkan mantera terakhir untuk terhubung kepada ayah nya.
Sea melihat refleksi laki laki paruh baya itu bergerak perlahan lalu tersenyum.
" hallo Dav, bagaimana keadaan mu disana? apa kau dan teman mu sudah menemukan pewaris atlantis? bagaimana rupanya? apakah dia seperti raja pertama atlantis yang tidak menarik itu? berapa usianya? apa dia sudah tua?" David menelan ludah gugup, diam diam mengamati ekspresi wajah Sea. Sea ingin tertawa kencang melihat raut antusias laki laki di refleksi itu. Ekspresi bersemangatnya sangat kontras dengan fitur wajah garang itu. Terlebih lagi dia berbicara sambil melompat lompat, persis seperti anak kecil yang akan dibelikan permen.
Lelaki yang di panggil Alvaro itu mengalihkan pandangan dari puteranya dan melihat ke arah pangeran Sean. Dia mengernyit sebentar lalu kemudian melompat girang
" ho ho ho ternyata itu kau Sean! dimana puteri kecilku yang cantik? kau tega membawa nya hingga aku merana sendiri"
" tutup mulut mu pak tua! kau sudah punya anak dan isteri jangan ganggu isteri ku lagi!"
" tapi Helda tetap cinta pertama ku"
" pak tua kau ingin ribut dengan ku lagi!!"
__ADS_1
Pangeran Sean mengambil ancang ancang, dia akan menebaskan pedang nya saat Sea menangkis sambil mengerutkan kening.
" Ayah ini hanya virtual, siapa yang ayah ingin serang?" Pangeran Sean terdiam, Ia kemudian tersadar. Alvaro tertawa terbahak bahak, dia hafal betul bagaimana reaksi mantan saingan nya itu jika sedang cemburu.
" Ayah sudahlah apa ayah tak malu dengan pangeran?" David menegur ayahnya, dia sangat malu dengan kelakuan ayahnya yang memprovokasi ayah dari pangeran atlantik.
" Pangeran siapa? Sean maksud mu? Aku tidak pernah menganggap dia pangeran, kenapa aku harus malu?" David mengutuk ayah nya yang tak pernah sadar dengan kode yang dia berikan. David menenangkan amarah nya, dia harus sabar menghadapi pak tua ini. Dia harus ingat pelajaran berbakti kepada orang tua.
#jangan pernah mengutuk ayah mu meskipun kau ingin, karena jika kau kutuk dia kau secara tak langsung mengutuk diri sendiri#.
David menghela nafas panjang, tergesa gesa menghampiri refleksi ayah nya
" aku tak berbicara mengenai pangeran Sean ayah! Aku berbicara tentang pangeran atlantis! apa ayah tidak malu bertengkar di hadapan pangeran atlantis?"
" Pangeran atlantis? memangnya di sana ada pangeran ?" raut wajah jenaka Alvaro sekejap berubah menjadi serius, dia memandangi putera nya dengan lekat.
" aku sudah mengingat kan ayah lewat mata beberapa kali tapi dasar ayah tidak peka!"
Alvaro menunduk dengan rasa bersalah kemudian bertanya dengan nada lemah
" Jadi pangeran atlantis yang mana?"
" itu! Dia adalah putera pangeran Sean! pangeran Eastsea Rowland Syam"
__ADS_1
"apa???"