
" Apa kau masih tidak percaya kalau ini aku?"
Harris menggeleng cepat takut tuannya marah.
Sea hanya menatap datar Harris, kemudian meraih sebuah perkamen.
" Bagaimana keadaan istana?"
" Semakin buruk pangeran, banyak pejabat korup yang masuk selain itu fraksi ratu mendominasi kementerian terutama perpajakan dan administrasi negara"
" Lalu apa solusinya?"
" Menurut hamba untuk saat ini kita tidak boleh bergerak dulu karena mata mata ratu terlalu banyak. Setidaknya tunggu sampai
mereka melemah" Sea mengangguk setuju lalu membubuhkan beberapa kata diatas perkamen kemudian menyerahkannya kepada Harris.
" Bawa itu pada Eld, katakan padanya usahakan tentara dibawah komandonya untuk tidak membuat pergerakan yang disadari ratu. Lakukan misi serahasia mungkin"
Harris menunduk takzim mengambil perkamen itu dari Sea, memberi hormat lalu keluar untuk melakukan tugasnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*¥¥\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Tiga pemuda dengan baju zirrah tengah menatap kristal perak yang terus berkedip kedip. Mereka melihat kearah sinar perak yang dipantulkan kristal itu. Ketiganya saling pandang dan mengangguk bersamaan.
"Edward menurutmu apakah mungkin pangeran berada di daratan itu?" Seorang pemuda dengan rambut coklat bertanya kepada temannya yang berambut pirang.
" Kai aku yakin pangeran memang ada di sana"
" Aku juga berpikir begitu, karena tongkat sihirku bisa merasakan darah keturunan Atlantis yang kental dari sana" seorang pemuda dengan rambut hitam ikut menimpali, dia sibuk merapalkan mantera kearah tongkat yang dipegangnya. " Jika yang dikatakan David benar itu artinya pangeran merupakan salah satu keturunan campuran"
__ADS_1
" Memangnya kenapa? bukankah itu bagus? artinya pangeran bisa mempunyai dua kekuatan sekaligus. Kekuatan fisik dan sihir! Atlantik akan berjaya jika dipimpin orang seperti itu"
" Edward benar! kita harus cepat menemukan lokasi pangeran. Kalian ingat sumpah kita pada leluhurkan? jika kita tidak menemukan pangeran hingga bulan purnama maka kita akan berubah jadi naga perak. Oh meski naga itu lambang kesatria atlantis tapi tetap saja menjadi hewan besar itu cukup menjijikan"
" Kau benar Dav, ayo kita bergerak cepat!"
Ketiganya memacu kuda mereka dengan cepat ke arah barat menuju Syam.
Sea melihat waspada ke arah tiga pemuda yang menghalangi jalannya. Dia baru pulang dari istana, Sea sendiri masih mengenakan gaun merah yang dikenakannya tadi. Sementara itu Kai dan yang lainnya memandang heran ke arah bola kristal yang bersinar terang, cahaya peraknya menyelimuti tubuh Sea. Edward menggaruk tengkuknya, bingung dengan fenomena aneh di depannya.
Harusnya mereka menemui seorang pangeran bukan puteri. Tapi sial kristal itu malah berhenti di tubuh gadis cantik dihadapannya. Tidak seperti Kai dan Edward, David lebih tenang. Dia melihat dengan hati hati ke arah Sea, lalu memindai dengan saksama.
David mengernyit lalu terbatuk singkat. Memandang ke segala arah lalu membungkuk cepat " salam pangeran Atlantis!"
Sea terbelalak lalu menarik ketiganya menjauh dari sana
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*¥¥¥¥\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Belum selesai dari keterkejutannya, dia kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa gadis cantik tadi ternyata laki laki.
Kai mengutuk naga perak yang sudah mati, bisa bisanya pangeran atlantis memiliki wajah semenawan itu. Setahu nya dalam sejarah, Atlantis terkenal dengan kecantikan puterinya.
Meski begitu tak ada yang mengatakan pangeran Atlantis juga berwajah rupawan.
Dibanding rupawan mereka malah cenderung standar. Jika bukan karena kekuasaan dan harta mereka, mana mungkin puteri puteri cantik itu mau menikah dengan mereka?
Edward manggut manggut saja dia sudah cukup bingung jadi tak mau memikirkannya lagi. Yang terpenting adalah mereka sudah menemukan pangeran Atlantis dengan begitu kutukan naga perak sudah tak akan menghantui mereka lagi.
" Pangeran, kami siap melindungi anda kemanapun anda pergi! kami tiga kesatria pewaris atlantis datang untuk memenuhi sumpah kami! hidup dan mati kami sepenuhnya milik anda, pangeran" Sea menatap tak mengerti kearah ketiganya, dia sendiri bingung mengapa mereka mengangkat tongkat sambil mengucap sumpah.
__ADS_1
Setahunya sumpah kesatria dilakukan menggunakan pedang bukan tongkat.
Seolah membaca pikiran Sea, Edward menyikut David agar memberikan penjelasan.
" Maaf pangeran, kami merupakan kesatria Atlantis. Para kesatria kerajaan bawah laut biasanya bertarung menggunakan tongkat sihir. Kami tidak menggunakan pedang karena itu bukan keahlian kami"
" Jadi kalian tidak bisa menggunakan pedang?" ketiganya menggeleng serentak, Sea hanya mendengus.
Baginya tiga pemuda ini bukan kesatria tapi penyihir yang diberi baju perang.
Bagaimana mungkin kerajaan bawah laut begitu bodoh? mereka meninggalkan pokok penting dalam seni berperang. Jika perang diibaratkan tubuh maka pedang adalah otak yang mengontrol tubuh. Bisa bisanya mereka malah menggunakan tongkat sambil merapalkan mantera, apa itu masih disebut perang?.
" Aku tidak mau tahu, jika kalian memang kesatria Atlantis yang akan mengikutiku maka aku mengharuskan kalian belajar seni pedang. Aku tidak menerima penolakan!"
Kai yang ingin protes langsung bungkam, dalam hati dia mengangguk mengiyakan kata kata ayahnya.
Pangeran yang satu ini memang ditakdirkan kejam. Lebih tepatnya sangat kejam. Kura kurapun tahu jika fisik manusia lautan tak sekuat manusia darat, bagaimana mereka akan belajar pedang jika pada dasarnya mereka diajarkan merapal mantera?.
" Maaf pangeran, apa kami harus belajar pedang? kami rasa itu percuma karena suatu saat nanti kita akan berperang di kedalaman laut jadi...."
" Apa kamu pikir seni pedang tidak efektif jika di dalam air?"
Edward menutup mulutnya rapat rapat, dia mengutuk kebiasaan ceroboh nya.
" Ed tidak bermaksud begitu pangeran, hanya saja bukankah berlatih pedang memerlukan waktu yang lama? kita sama sama tahu bahwa waktu kita tak banyak untuk menemukan kembali mahkota raja Atlantik"
" Tak masalah, aku bisa mengajari kalian dengan cepat! ingat aku tak menerima penolakan!"
David menelan ludah frustasi kemudian memandang dua temannya. Keduanya menggeleng tanda tak tahu lagi cara menolak perintah Sea. Dalam hati mereka mengutuk seluruh keturunan naga perak karena telah mengirim mereka untuk mengabdi pada tuan yang cukup kejam.
__ADS_1
Sea mengabaikan mereka, dia terus menatap kristal perak ditangan Edward. Dia bisa melihat lambang naga perak yang melingkari sisi kristal itu. Naga itu seolah menatapnya, Sea tertegun merasakan dorongan kekuatan yang lumayan besar didalam dirinya. Sea berusaha tenang, dia menyalurkan sebagian energinya kedalam pedang perak di tangannya.
Sea menghela nafas, akhir akhir ini dia cukup sering merasakan gejolak kekuatan didalam inti tubuhnya. Terkadang kekuatan itu berusaha lepas dari kontrolnya. Sea takut jika kekuatan itu lepas maka banyak musuh akan mengetahui keberadaannya. Sea tak terlalu cemas akan dirinya hanya saja dia tak ingin membawa masalah untuk keluarganya. Karena itu sebisa mungkin untuk saat ini, Ia harus meminimalisir keberadaannya dulu.